
Ckiit...
Sebuah mobil berhenti di tempat parkir sebuah restoran mewah. Restoran Prancis yang menjadi tujuannya.
Tanpa berbasa-basi lagi, pemilik mobil yang tak lain adalah Meng Ruona segera keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa seperti takut ketinggalan sesuatu.
Drap... Drap... Drap...
Sepatu hak tinggi yang di kenakan dibawa menghentak tempatnya berpijak hingga menimbulkan suara derap langkah yang berisik. Karena perbuatannya itu pula, tak jarang beberapa pasang mata menengok kearahnya lantaran kebisingan yang dibuatnya.
Tapi, Meng Ruona tidak peduli sama sekali. Di pikirannya hanya ada Ye Huan dan kesempatan yang dimilikinya saat ini. Dia tak mau melewatkan barang sedetikpun peluangnya untuk bertemu dengan Ye Huan. Meskipun dia tahu Ye Huan sudah menikah, tapi kabar yang simpang-siur ini membuatnya berpikir bahwa ada celah untuknya mendapatkan apa yang dia inginkan sejak lama.
Tanpa berpikir bahwa cinta sepihak tidak akan membuahkan hasil apapun.
Langkah cepatnya membawanya masuk ke dalam restoran. Dia segera ke bagian reservasi. Disana dia bertanya tentang keberadaan Ye Huan yang dicarinya, berharap pria itu masih ada disana.
"Permisi, apakah Tuan Muda Ye ada sini?"
Pegawai reservasi menatap bingung pada wanita cantik didepannya ini. Namun, meski begitu dia tetap menjawab dengan sikap profesionalnya. "Benar, Nona. Tapi, tamu beliau sudah datang. Jadi, saya pikir anda pasti bukan tamu beliau."
Bukan bermaksud apa-apa pegawai tersebut mengucapkan kata-kata demikian. Itu memang salah satu tugasnya yang harus memastikan kenyamanan pelanggan. Seperti saat ini, siapa yang tidak kenal Ye Huan? Dia sebagai pegawai biasa juga mengenal sosok tersebut. Hal itu sama pula dengan mengetahui kalau Ye Huan sudah menikah.
Dia bahkan tahu seperti apa wajah istri sang pria idaman.
Hari ini, pria itu melakukan reservasi ruang VVIP untuk sebuah meeting penting dengan klien dari luar negeri. Menurut daftar nama, Ye Huan hanya menterterakan nama pria itu sendiri dan kliennya. Oleh karena itu, melihat seorang wanita datang bertanya pegawai itu segera waspada. Apalagi tujuannya adalah Tuan Muda Ye.
Tak peduli apa alasan wanita itu mencari Tuan Muda Ye. Bagi pegawai tersebut, wanita cantik itu tidak memiliki namanya terdaftar di buku reservasi mereka. Karena itu, dia jadi waspada.
Tampaknya, pegawai tersebut tidak mengenal Meng Ruona.
Meng Ruona yang masih terengah-engah akibat berlari tergesa-gesa kedalam restoran menyadari kalau dia mulai dicurigai. Tak ingin rencananya gagal, wanita itu memilih segera berakting.
"Oh, tidak. Saya bukan tamunya. Hanya temannya. Tadi, tidak sengaja melihatnya masuk sehingga saya hanya ingin tahu apakah dia masih didalam atau tidak." walau dalam hati menggerutu, Meng Ruona tetap mempertahankan sikap dan ekspresinya sebagai sosok yang bereputasi baik.
"Oh begitu rupanya. Baiklah, akan saya beritahu. Tuan Muda Ye memang masih didalam. Apa perlu saya beritahukan?" si pegawai mengajukan diri tanpa maksud apapun. Dia murni karena keprofesionalannya.
Tapi, Meng Ruona justru tegang dibuatnya. Dia tahu seberapa dinginnya Ye Huan terhadap perempuan-perempuan yang tidak ada hubungannya dengan dia. Baik tua maupun muda, kecil maupun besar, tidak ada yang masuk ke matanya. Maka dari itu, tawaran pegawai reservasi mengejutkannya.
Dia bisa kehilangan kesempatan bila Ye Huan tahu dia membuntutinya sampai kesini.
Meng Ruona lantas segera menggelengkan kepalanya menolak. "Tidak perlu, aku bisa menunggunya di sini sembari makan siang. Jadi, terimakasih sudah mau membantuku." topeng ramah-tamahnya selalu sukses mengelabui orang lain. Seperti sekarang.
Sang pegawai mengangguk formal seraya tersenyum sopan. "Sama-sama, Nona."
Setelahnya, percakapan berakhir. Meng Ruona segera berbalik dan berjalan ke bagian depan restoran, mengambil tempat duduk dengan posisi strategis untuk melihat Ye Huan saat pria itu keluar nanti.
Jantung wanita itu masih berdegup kencang sampai sekarang. Telapak tangannya jadi basah karena gugup dan bahagia. Gugup, sebab khawatir ini tak berjalan lancar dan bahagia, karena pengorbanannya dalam merayu orang dalam sukses sehingga dia ada disini saat ini.
Alhasil, sembari menunggu Meng Ruona memesan makan siang. Dia tak sempat makan siang setelah mendengar kabar itu.
Di tempat yang sama posisi berbeda, tepatnya disalah satu ruang pribadi yang ada di Restoran Prancis tersebut terdapat 4 pria yang salah satunya sedang keluar sejenak guna mengangkat telepon yang masuk.
Akan tetapi, hal itu tak mempengaruhi suasana bagus diantara para atasan tersebut. Mereka bahkan sampai bercengkrama dalam bahasa Inggris sambil menyantap makanan pesanan yang disajikan dengan khidmat.
"Tuan Muda Ye, kemarin saya mendengar kabar saat akan datang kesini kalau anda sudah menikah dan itu secara mendadak. Jujur saja, saya cukup terkejut mendengarnya, apalagi anda tidak mengadakan pesta besar untuk momen luar biasa ini. Banyak spekulasi yang bermunculan karena keputusan tak terduga anda. Jika, boleh saya tahu. Sebenarnya, bagaimana semua itu bisa terjadi?" tutur pria bule yang usianya diatas Ye Huan atau bisa dibilang berusia seumuran ayah Ye Huan.
Tapi, dia masih tetap memiliki kesadaran diri untuk membatasi apa yang seharusnya dibatasi.
Ye Huan yang tak lain adalah Ye Zi Xian melirik pria bule didepannya yang sudah menampilkan ekspresi penasaran yang luar biasa. Meskipun Ye Zi Xian tidak suka praduga yang disebutkan, tapi Ye Zi Xian tahu dia -bule itu- tidak terlibat karena berani bertanya fakta yang sebenarnya disaat banyak orang mengutamakan pendapat mereka sendiri tentang pernikahan dadakannya.
Dengan santai dan terselip hawa cinta saat menceritakan momen bahagianya bersama pujaan hatinya dapat dirasakan oleh pria bule didepannya yang langsung memfokuskan diri pada mendengarkan pernyataan yang sebenarnya dari orangnya langsung.
__ADS_1
Jujur saja, pria bule beserta sekretarisnya itu agak tercengang kala melihat bagaimana Ye Zi Xian menyatakan kebenarannya tanpa perlu berkata-kata. Kedua pria bule itu bisa melihat kalau pernikahan dadakan tempo hari memang dilakukan dengan cinta. Lihat saja, bagaimana terasa kasmarannya ekspresi Ye Zi Xian yang dikemas dengan kepribadiannya yang dingin dan tak tersentuh.
Ini benar-benar momen langka. Kapan lagi, bisa melihat Ye Huan menunjukkan betapa dia mencintai perempuan yang dinikahinya itu.
Ingin rasanya diabadikan. Mungkin bila dijual, keuntungan bisa didapat. Haha...
"Kami menikah dengan cinta. Karena tak mau menundanya. Jadi, kami meresmikan pernikahan dulu. Soal pesta yang anda tanyakan, saya tidak terburu-buru. Itu bisa dilakukan kapan saja selama istri saya menginginkannya." jelas Ye Huan dengan wajah bahagia walau ekspresinya tetap datar.
Pria bule itu tak bisa tidak kagum dengan pria didepannya ini dalam mengekspresikan perasaan cintanya.
Bibirnya lantas menyunggingkan senyum yang menandakan dia turut bahagia. Sebagai seorang pria dari generasi sebelumnya yang juga pernah jatuh cinta. Pria bule itu cukup memahami dan dia juga memiliki sifat kebapakan sehingga kelembutan yang tegas layaknya seorang ayah mampu membuat Ye Huan bisa sedikit lebih hormat pada pria bule tersebut.
"Jadi, begitu. Kalau demikian, saya ucapkan selamat untuk pernikahan anda. Semoga menjadi pasangan yang saling mencintai hingga akhir hayat." tulusnya.
Dengan senyum tipis yang masih dapat dilihat, Ye Huan menjawab dengan nada bangga yang tidak disamarkan. "Terimakasih untuk doa dan harapannya." nadanya masih dingin, beruntung semua itu tersamarkan dengan ketulusannya menerima doa tulus pria bule itu.
"Jadi, apakah kalian akan langsung melakukan program kehamilan?" tanya pria bule itu lagi saking penasarannya sampai-sampai dia lupa kalau mereka hanya rekan kerja yang lumayan dekat.
Sambil menyuapkan dirinya sendiri, Ye Huan melirik sekilas sebelum menjawab. "Ya."
"Itu bagus. Jangan menunda-nunda hal baik seperti itu. Apalagi, di usia mu yang sudah kepala 3. Baiknya disegerakan." petuah pria bule itu yang langsung diterima oleh Ye Huan tanpa ragu. Karena, menurut Ye Zi Xian mereka berdua sepemikiran.
Lagipula, Ryura tak akan menolak jika dia ingin. Hanya sedikit ditunda hingga masalah menyebalkan yang tiba-tiba terlintas dibenak Ye Zi Xian terselesaikan.
Ditengah-tengah percakapan keduanya, Sekretaris Lai kembali setelah menerima telepon dari ponsel pribadinya. Ye Zi Xian tahu karena dia yang menyuruh bawahannya itu untuk tidak mencampur urusan kantor dan kehidupan pribadi.
Alhasil, bawahan seperti Sekretaris Lai Zouji pun memiliki dua ponsel ditangannya.
Sekretaris Lai yang baru saja masuk lantas segera mendekati Tuan-nya guna membisikkan sesuatu.
Didekati telinga Ye Zi Xian.
"Tuan, Nyonya muda Ye meminta anda langsung kembali bila pertemuannya sudah selesai."
Sepenggal kalimat itu saja cukup bagi Ye Zi Xian untuk menyadari kalau pasti ada sesuatu yang akan terjadi.
Pasti ada sesuatu.
"Hm. Siapkan saja mobilnya. Setelah ini kita kembali!" tukas Ye Zi Xian mutlak.
Sekretaris Lai sejenak mengedipkan matanya tak menyangka kalau Tuan-nya tak banyak bertanya. Dia tak tahu bagaimana harus menanggapinya. Jadi, ia hanya melakukan tugasnya meski dalam kebingungan.
Mungkin, inilah yang disebut pasutri yang terikat batin.
Meng Ruona menunggu dengan gelisah dan tak sabar. Sesekali dia melihat kearah bagian dalam restoran, berharap bisa melihat Ye Huan keluar. Dia nyaris tak bisa menunggu lagi.
Diatas meja tempat dia menunggu sudah terdapat beberapa cangkir kopi susu setelah sebelumnya usai makan pelayan segera membersihkannya dan menggantinya dengan pesanan yang lain, yaitu kopi susu.
Kini total 3 cangkir kopi susu sudah berjejer rapi di mejanya dengan yang terakhir tinggal setengahnya.
"Apa masih lama?" gumam tanya Meng Ruona pada diri sendiri seraya memeriksa waktu. Lalu, dia menggerutu. "Ini sudah lewat jam makan siang!" Meng Ruona berulang kali menenangkan hatinya atau dia akan gagal meraih kesempatan.
Tak lama setelah dia berperang dengan pikirannya, sosok yang di tunggu-tunggu pun muncul. Segera, Meng Ruona bangkit hendak mendekati Ye Huan. Tapi, siapa sangka kalau sesuatu menghalanginya.
Sreet!
"DIA PACAR BARU KU!" pekik seorang perempuan berambut blonde seraya menyambar lengan Meng Ruona yang sukses mengejutkan si empunya tangan.
Tidak, tepatnya semua yang mendengar pekikan itu terkejut.
Perempuan mengakui perempuan lain sebagai pacarnya dimuka umum?
__ADS_1
Itu tak terbayangkan!
Seketika, semua mata menatap kearah mereka. Meng Ruona yang ditatap segera menunduk guna menyembunyikan wajahnya, tak lupa dia memutar tangannya sendiri untuk melepaskan diri dari perempuan yang dianggapnya gila lantaran mengaku dia sebagai pacarnya.
Siapa yang tidak syok?! Jika, yang berbicara laki-laki masih bisa diterima. Tapi, bila perempuan...
Sejak kapan dia belok!
Meng Ruona jadi ingin menguliti dua perempuan berpakaian smokey yang memiliki kelainan seksual itu. Berani-beraninya menyeretnya bersama mereka. Kalau ada yang mengenalinya sebagai putri keluarga Meng bagaimana? Hilang sudah mukanya, citranya, reputasinya.
Hilang sudah...
"APA! Jangan bercanda! Pacarmu itu aku!!" kata perempuan berpenampilan lebih tomboy itu seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Mengabaikan tatapan ngeri dan bergidik jijik dari para pengunjung yang ada.
"Tidak! Kau nakal! Aku tidak suka! Aku akan cari yang baru!" perempuan berambut blonde itu mengancam balik dengan cara merajuknya seraya mengeratkan pelukannya pada lengan Meng Ruona yang kian menambah kadar jijik bagi orang-orang sekitar.
"Aku nakal?! Kapan aku nakal?!"
Nyatanya, mereka sudah ingin mengusir dua orang tak jelas itu yang entah sejak kapan munculnya agar tidak merusak suasana makan enak mereka. Tapi, disisi lain mereka juga tak ingin melewatkan kesempatan untuk menonton pertunjukan yang menarik.
Meng Ruona sendiri yang merasa sangat sial berusaha keras untuk lepas dengan sesekali melihat Ye Huan yang ternyata hanya meliriknya sekilas sebelum terus melanjutkan langkahnya pergi dengan acuh tak acuh.
Peluangnya...
Wanita bermarga Meng itu panik melihatnya akan pergi semakin menjauh. Hal itu membuatnya semakin kuat memberontak.
"Lepaskan aku!" kini ia geram lantaran terganggu dengan kemungkinan kesempatannya gagal total. "Dasar manusia menjijikkan! Aku masih normal! Jadi, enyahlah!" seru Meng Ruona geram sambil menghentak-hentakkan tangannya tak sabar.
"Kau lihat! Dia tak mau denganmu! Jadi, cepat ke sini. Kau milikku!" tukas perempuan tomboy itu tanpa malu dan tanpa mau dibantah namun juga santai, dia sama sekali tidak peduli dengan amarah Meng Ruona.
Dia seperti sudah tahu kalau Meng Ruona hanya orang yang di ambil kekasihnya secara acak demi mengakhiri hubungan dengannya.
"Tidak mau! Aku akan ikut dengannya!" menoleh kearah Meng Ruona yang sudah dikuasai kekesalan dan amarah. "Ayo, kita pergi!"
Saat akan menarik Meng Ruona pergi, wanita yang selalu menjaga citranya itu malah berteriak keras hingga mengejutkan semua yang menyaksikan.
"AAAAAARRRRGGGHHHH! LEPASKAN! LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" dia berteriak seraya meronta-ronta hingga terlepas, lalu melayangkan tatapan mautnya ke sepasang lesbian tersebut, kemudian mengumpat. "DASAR ORANG GILA!" setelahnya, ia beranjak pergi dari sana dengan langkah seribu sebelum benar-benar menghilang dari restoran.
Akhirnya, restoran kembali hening dengan segala kebingungan orang-orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. Tapi, sebelum para pengunjung tersadar dari kejadian tak terbayangkan itu, suara tawa menggelegar menyentak semua orang hingga memusatkan perhatian mereka kepada 2 orang perempuan yang menjadi objek kejadian sebelumnya.
Entah mengapa keduanya tertawa. Bahkan sampai sepasang lesbian itu pergi meninggalkan restoran begitu saja, semua orang masih dibuat bingung oleh kejadian aneh yang terjadi hari ini.
Diluar restoran, sepasang lesbian itu masih terkikik puas melihat Meng Ruona kalang kabut dibuatnya.
"Kau lihat wajahnya tadi?"
"Ya, seperti roti gosong. Mengerikan! Hahaha!"
"Aku puas sekali!"
"Benar! Sahabat kita itu benar-benar tahu bagaimana caranya menyenangkan kita. Mainannya luar biasa! Bwahahahaha!"
"Ckckck... Dasar pelakor! Dia pantas mendapatkannya!"
"Betul itu! Nanti aku akan minta bermain lagi pada Ryura. Permainan Nyonya muda Ye memang tidak pernah mengecewakan! Hahahaha."
Ya, jika ada yang menebak itu mereka? Benar, itu memang mereka dengan merubah penampilannya guna menjalankan permainan.
Dan permainan yang dipilih adalah menjadi pasangan lesbian yang sedang bertengkar dan menarik target untuk ikut bermain.
Dan targetnya adalah Meng Ruona.
__ADS_1
Kejahilan yang luar biasa dari duo R.