
"BERHENTI!"
Pedang yang hampir mengenai leher Pangeran Kedua Li Fang Ye seketika terhenti begitu mendengar seruan dari seseorang itu.
Seruan yang begitu lantang dan berani sampai-sampai orang-orang disekitar pemilik suara spontan menahan nafas mereka. Cukup takut untuk membayangkan bagaimana Kaisar Li akan bertindak setelah ini.
Rakyat semuanya yang ikut mendengar itu langsung menoleh ke asal suara tersebut. Termasuk Pangeran Kedua yang juga terhenyak kaget. Ada rasa syukur di hatinya, saat mata pedang milik algojo itu di bawa menjauh dari lehernya.
"Permaisuri, terima kasih..." lirihnya dalam hati.
Sebagai pemilik suara dan pelaku hanya tampak biasa saja, justru saat ini ia tengah menatap dalam, datar, dan serius kepada pemilik mata yang kini membalas tatapannya.
Mereka adalah pasangan suami-istri yang tak lama lagi akan berpisah. Reychu sebagai pelaku dan Kaisar Li sebagai pengamatnya.
Ditatapnya datar dan tak suka pada tindakan Reychu yang menghentikan proses eksekusi mati untuk Pangeran Kedua Li Fang Ye. Ia merasa kalau Reychu sedang membela adiknya yang telah berkhianat.
Sedikit kecemburuan mencuat dari dalam hatinya di barengi rasa trauma akan pengkhianatan yang belum lama ini ia rasakan.
"Jangan ikut campur, Reychu!" desis Kaisar Li tidak senang. Suasana hatinya sudah dari kemarin tidak ada bagusnya, kini Reychu seperti tak peduli dengan keadaannya. Meski ia sudah mulai mencintai gadis didepannya ini, tapi karena situasi saat ini sedang tidak baik, Kaisar Li hanya bisa mengabaikan hal itu.
Paling tidak, sebisa mungkin ia tak sampai menyakiti gadis itu lagi.
Cukup itu dulu. Ia tak ingin lagi.
"Ikut campur? Tidak! Aku tidak sedang ikut campur. Tapi, sedang ingin meluruskan bagian yang salah dalam masalah kali ini." jedanya berani. "Pikirkan baik-baik, Yang Mulia Kaisar Li yang terhormat! Dalam hal ini, Pangeran Kedua Li Fang Ye juga seorang korban. Aku yakin kau sudah mengetahui semua fakta itu dari bawahan mu yang secepat kilat menyelidiki semua itu untuk mu. Jadi, sudah seharusnya kau tahu bahwa Pangeran Kedua tidak akan mengkhianati mu jika saja tidak terus-menerus di goda oleh wanita yang baru saja mati itu." gamblangnya seraya mengarahkan ibu jarinya kearah panggung eksekusi, tepatnya kearah mayat Gong Dahye yang masih teronggok di atas sana bersama mayat ayah dan kakak laki-lakinya.
Pria penguasa Negara Api itu diam membenarkan bahwa ia sudah tahu kebenarannya. Memang, tak sepenuhnya adiknya di salahkan. Karena, menurut penjelasan dari sumber terpercaya, adiknya itu pernah menjauhi selirnya. Tetapi, pada dasarnya wanita itu saja yang terlalu mengerikan hingga berani bermain api dengan menyeret serta adiknya.
Meski begitu, bukan berarti sakit hatinya bisa terbayarkan hanya dengan demikian. Ia terlampau sakit.
"Dan lagi... Jika, Pangeran Kedua mati siapa yang akan mengurus bayi itu? Aku ragu kau masih mau mengurusnya setelah mengetahui semua ini. Apalagi, istri Pangeran Kedua... Mungkin saja dia mendadak kehilangan kewarasannya dan menjadi gila karena tak terima harus kehilangan suaminya. Kau juga ingin mengurus orang yang gila?" cetusnya santai dengan sedikit ledekan.
Reychu selalu senang melakukannya.
Suasananya mendadak membeku layaknya di terjang badai es dengan suhu terendah dari yang paling rendah.
Puk!
Rayan di sisi lain hanya bisa menepuk keningnya lelah dan pasrah. Sahabatnya itu memang sudah begitu diri. Tak ada gunanya untuk mencegah mulutnya yang tak punya kunci.
"Cari mati!" gumamnya yang masih dapat didengar oleh Ryura yang berdiri diam di sebelahnya. Meski begitu, ia juga ikut melihat aksi Reychu yang ada di sana.
"Dia sangat gegabah! Bagaimana kalau kepergian kita malah tertunda atau bahkan tidak bisa pergi sama sekali?! Aku akan manghajarnya! Dasar! Bisanya mengacau saja!" gerutu Rayan tak henti. Ia greget di buatnya oleh Reychu sahabatnya itu.
Disela kekesalannya, secuil kata yang keluar dari mulut Ryura menghentikan tingkahnya.
"Tidak akan terjadi apa-apa!" suara tenangnya berpadu dengan wajah tanpa ekspresi seharusnya membuat siapapun yang mendengarnya tidak bisa begitu saja percaya, tapi sebagai sahabat yang sudah melewati pasang surut dan pahit manisnya kehidupan sejak dulu bersama-sama, tentunya ia tak perlu meragukan kemampuan sahabatnya itu.
"Benarkah?!" tanya Rayan dengan binar harapan yang tinggi. Ryura sekilas melihat itu sebelum kembali melihat Reychu dengan segala kelakuannya yang bagai roller coaster. Kadang tenang, kadang melonjak naik kemudian dihempas turun, lalu kadang juga berkelok-kelok dengan ganasnya dan semua itu dikemas dalam kekonyolannya yang hakiki.
"Hm..."
Hanya begitu saja, jangan banyak berharap.
Kembali ke pasangan yang kini sedang di landa suasana menegangkan.
Kaisar Li tampak terdiam mencerna perkataan Reychu.
Setelah dipikir-pikir, ada benarnya. Rasa sakit yang ada dihatinya akibat pengkhianatan dari orang-orang tercintanya membuat ia tak mau membiarkan apapun yang berkaitan dengan pengkhianat itu ada di sekitar hidupnya.
Keheningannya membuat Reychu angkat bicara. "Kau setuju, bukan?! Kalau begitu, tunggu apa lagi... Kau bebaskan dia atau ganti saja hukumannya. Saran ku, kau bisa mencabut gelarnya sebagai pangeran atau mengusirnya, bisa juga mengasingkannya. Tapi, yang pasti kau harus mengikutsertakan istrinya dan anaknya. Bagaimana?!" usulnya memberi saran.
__ADS_1
Orang-orang yang menyaksikan itu, masih merasa tulang punggung mereka patah. Bagaimanapun, yang terjadi kini sungguh menegangkan sekaligus aneh.
Dalam hati meringis atas keberanian Permaisuri mereka.
Setelah berpikir dengan penuh pertimbangan. Akhirnya, Kaisar Li angkat suara. "Lepaskan dia! Kaisar ini memiliki hukuman lain untuknya!" nada dingin, datar, dan terkesan asing itu masuk ke telinga semua orang. Pangeran Kedua Li Fang Ye yang mendengarnya bahkan sampai merasa sakit di hatinya. Tak pernah terpikirkan olehnya akan ada saat dimana mereka benar-benar menjadi orang asing satu sama lain.
Pangeran kedua Li Fang Ye hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Ini adalah konsekuensi dari apa yang ia lakukan, pikirnya. Jadi, ia harus menerima segalanya dengan lapang dada.
Melangkah maju mendekat ke pagar pembatas pendek yang menjadi pelindung bangunan untuk menonton bagi para orang-orang berstatus tinggi itu.
"Kaisar ini hanya akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik!" jedanya dengan dingin.
"Pangeran Kedua Li Fang Ye! Atas pengkhianatan yang telah kau lakukan! Kaisar ini tak bisa mentolerir nya! Hukuman mati adalah hukuman yang tepat untuk mu! Akan tetapi, Kaisar ini juga tidak mau berurusan dengan segala hal yang berkaitan dengan seorang pengkhianat! Karena itu..." terangnya dijeda sejenak.
Semua orang menjadi tegang menunggu kelanjutan dari pergantian hukuman tersebut.
Pangeran Kedua Li Fang Ye, tak bisa menahan senyum tipisnya saat ia mendengar ada harapan untuknya.
"Kaisar ini akan menggantikan hukuman mati mu dengan pengusiran!"
Deg!
Jantung Pangeran Kedua Li Fang Ye terkejut mendengarnya hingga rasanya seperti berhenti berdetak. Rasa sakit menyeruak di relung hatinya. Tapi, tak bisa apa-apa mengingat apa yang sudah ia lakukan.
"Bawa serta anak istri mu dan tinggalkan harta benda juga gelar mu. Karena, Kaisar ini telah mencabut gelar Pangeran Kedua dari dirimu. Kau sudah bukan lagi bagian dari Keluarga Kerajaan Huoli! Pergilah tinggalkan Negara Api dan jangan pernah kembali lagi, apapun yang terjadi! Negara dan kerajaan ku tak lagi menerima mu disini!" jelasnya yang semakin membuat jantung pria lusuh di atas panggung eksekusi itu teremas amat kuat. Sungguh menyakitkan rasanya.
Tak hanya orang yang diusir yang terkejut, seluruh pasang telinga yang mendengarnya pun turut terkejut. Tak hanya karena pergantian hukuman itu, tapi juga makna dari hukuman kedua. Yang artinya, Pangeran Kedua sudah tidak ada lagi kaitannya dengan Negara Api. Dia diusir dan tidak diizinkan untuk kembali.
Pemutusan hubungan keluarga adalah yang paling mengerikan kedua setelah hukuman mati.
Kaisar Li tak mempedulikan respon orang-orang yang menyaksikan semua itu. Baginya, semua sudah selesai.
Menoleh kearah prajuritnya. "Kalian!"
"Bawa dia dan biarkan dia bertemu dengan anak dan istrinya. Lalu, antar mereka ke perbatasan Negara Api. Tak peduli dimana pun itu, selama mereka keluar dari Negara Api ku! Mengerti!" lantangnya amat dingin dengan nada tak ingin dibantah.
"Mengerti, Yang Mulia!" serempak mereka menjawab. Tak ada alasan untuk tidak mematuhi perintah.
Segera setelahnya, beberapa prajurit berjalan menuju mantan Pangeran Kedua yang menunduk sedih sejak pergantian hukuman di jatuhkan.
"Yang mu..." panggilannya terputus kala teringat apa yang baru saja di umumkan, akhirnya prajurit yang nyaris keceplosan itu segera meralat ucapannya. "Ehem. Bangunlah, Tuan. Kami akan segera menjalankan tugas kami! Mohon kerjasamanya!" katanya kaku, ia canggung juga kikuk saat harus merubah panggilan yang selama ini sudah melekat terbiasa di lidahnya juga yang lain. Tapi, mau bagaimana lagi...
Menarik nafas dalam-dalam, Li Fang Ye tak memiliki alasan lagi untuk tidak mematuhi perintah kakak Kaisar nya. Setelah dipikir-pikir, ini lebih baik daripada mati. Bagaimanapun ia masih memiliki tanggungjawab yang harus ia pikul setelah ini.
Benar! Anak dan istrinya! Mereka akan menjadi prioritas utama dirinya kedepannya. Meski ia tahu akan sulit untuk hidup diluar sana terlebih hidup di negeri orang, mengingat ia tak lagi diizinkan untuk berada di Negara Api ini. Belum lagi tanpa membawa harta benda yang bisa menunjang hidup mereka.
Lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas saat ini. Sepertinya, membicarakannya dengan sang istri bisa mengurangi bebannya.
Diapun bangkit dari duduknya dan segera mengikuti para prajurit yang menuntun jalan untuknya. Sekilas ia menyempatkan waktu untuk melihat kearah kakak Kaisar nya yang bahkan tak melihat lagi kearahnya. Ia cukup tahu seberapa terlukanya sang kakak atas pengkhianatan yang ia lakukan.
"Maafkan aku, kakak!" gumamnya sebelum akhirnya kembali mengikuti para prajurit untuk pergi.
Keheningan menyelimuti lapangan Pengadilan Kerajaan Huoli. Tak ada yang berani angkat bicara. Tapi, tolong dikecualikan untuk tiga gadis yang ada disana. Mereka diam dengan alasan masing-masing.
Sampai akhirnya...
Prok...
Prok...
Prok...
__ADS_1
"MOHON PERHATIANNYA! INI BELUM SELESAI!" seru Reychu menyadarkan sekumpulan orang-orang yang mendadak hening setelah pengumuman secara langsung dari Kaisar Li.
Pria penguasa Negara Api itu segera menoleh menatap sulit pada Ahn Reychu, Permaisurinya atau bisa dikatakan calon mantan Permaisurinya untuk beberapa saat kemudian.
Seruan Reychu amat ia pahami. Gadis itu melakukan hal demikian karena tak ingin bagiannya di lupakan. Meski ia berharap begitu. Tapi, sayangnya istrinya itu tampaknya tak ingin lebih lama lagi berada di sisinya.
Huh!
Kaisar Li hanya bisa menghela nafas berat. Masalah kali ini lebih dari kata berat dan menyakitkan. Masalah kali ini sungguh kacau. Kacau untuk hati dan hidupnya.
"Jadi, Yang Mulia... Kau tak mungkin lupa, bukan?!" kata Reychu dengan sedikit ledekan. Sangat tahu kalau pria itu masih berharap untuk bisa menahannya di sisinya. Mendengar itu, Kaisar Li hanya menatap sendu calon mantan Permaisurinya dengan perasaan sedih dan kacau.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Reychu, Kaisar Li berujar pada sang Kasim. "Bacakan gulungan terakhir!" nada suaranya tertahan juga berat antara enggan dan tak mau untuk mengatakan perintah tersebut. Tapi, apa boleh buat. Dia sudah kalah.
"Baik, Yang Mulia!" patuh Kasim Kaisar, namun matanya jelas tersirat rasa prihatin dan iba pada junjungannya itu yang harus tampil menyedihkan di depan rakyat-rakyat nya karena kesalahannya dalam mengambil keputusan sejak awal.
Reychu menoleh kearah Kasim Kaisar, melihat pria itu dengan binar ketidaksabaran. Ia jelas sangat menggebu-gebu tentang itu. Kaisar Li hanya bisa terus memandangi wajah cantik istri sahnya yang sebentar lagi juga akan meninggalkannya. Meninggalkannya pun karena kesalahannya sendiri.
Di amati wajah itu dengan seksama seolah ingin merekamnya dengan baik di dalam memori ingatannya agar dapat selalu ia kenang kapanpun itu.
"Ehm... PERHATIAN SEMUANYA! INI ADALAH PENGUMUMAN TERAKHIR YANG INGIN DI SAMPAIKAN OLEH YANG MULIA KAISAR LI HANZUE!" di edarkan pandangannya keseluruh orang-orang yang hadir disana.
Dalam hal ini tak ada yang tahu perihal keputusan Kaisar Li yang satu itu. Hanya Ibu Suri dan Kasim Kaisar yang setia itu, yang tahu perihal dekrit perceraian antara Kaisar Li dan Permaisuri Ahn Reychu.
Reychu merasa degup jantungnya berpacu lebih cepat. Ia seperti sedang menantikan pengumuman kemenangan dari sebuah ajang kompetisi. Sangat menegangkan juga menyenangkan.
Kaisar Li memilih menutup matanya tak sanggup untuk mendengar apa yang akan dibaca Kasim nya. Tentu, yang di baca adalah apa yang ia tuliskan dan itu cukup menyesakkan dadanya.
"'DENGAN DEKRIT INI! SAYA KAISAR LI HANZUE MEMUTUSKAN DENGAN SEGALA PERTIMBANGAN YANG MATANG UNTUK MEMBEBASKAN PERMAISURI AHN REYCHU DARI POSISINYA SEBAGAI PERMAISURI DAN ISTRI SAH KAISAR KERAJAAN HUOLI!...'"
Keterkejutan kembali menghujam mereka semua yang mendengarnya. Tanda tanya besar menghujani pikiran mereka.
"'... PUTRI AHN REYCHU DI BEBASKAN, BUKAN DIASINGKAN! SEMUA ITU BENTUK DARI TANDA MAAF KAISAR INI ATAS APA YANG TELAH KAISAR INI LAKUKAN PADANYA! SEKIAN!'"
Isi yang singkat dari dekrit itupun selesai di bacakan. Semua orang mulai mempertanyakan apa yang terjadi saat ini. Selain orang dalam istana tak ada yang tahu apa yang di maksud tanda maaf tersebut.
Meski amat terkejut, para dewan pemerintahan Kerajaan Huoli memilih bungkam dan tidak mencoba berkomentar apapun. Mereka cukup tahu kekacauan apa yang sedang terjadi hari ini.
Paham betul seberapa berat masalah tersebut.
Reychu nyaris saja melompat kegirangan mendengar dekrit perceraian tersebut sungguh sesuai dengan apa yang ia inginkan. Segera dilemparnya senyum sumringah yang manis pada Kaisar Li yang mendadak terhenyak kala melihat senyum bahagia itu. Hatinya seketika teriris perih, berulang kali ia memaki dirinya sendiri dari dalam hati atas kebodohannya.
Cukup bodoh untuk membuatnya kehilangan sesuatu yang berarti.
Jika, waktu bisa diulang. Ia ingin mengukir kisah baru bersama Ahn Reychu...
Kisah yang selalu dihiasi dengan cinta...
huhuhu
mereka akhirnya pisah juga...
bagaimana sudah senang?
kalian ini seharusnya jangan nyuruh orang pisah. dosa lho... wkwkwkwk...
ok... Thor gk sabar buat tamatin S1 ini.
sebentar lagi gaess... cabar ae yooo...
__ADS_1
ditunggu aja.
πππ