
Ponsel ditangan wanita itu digenggam amat erat hingga jika bisa, sudah pasti ponsel tersebut akan remuk dibawah cengkraman tangannya.
Dia -Meng Ruona- tengah terdiam dengan mata menyorot penuh kecemburuan kedalam layar ponselnya yang menampilkan gambar mesra Ye Huan dan Ryura. Meski tidak memperlihatkan wajahnya dia tetap tahu, sebab akun tersebut hanya milik Ye Huan. Apalagi dengan kemampuan Ye Huan dalam bidang teknologi membuatnya mudah menyingkirkan akun-akun palsu yang mengatasnamakan pria itu. Sayangnya, hal itu tidak terjadi karena memang tidak ada yang bisa melakukan tiruan apapun menggunakan nama Ye Huan. Selain karena tidak memiliki keberanian.
Itulah sebabnya, akun dengan nama 'YZXRJ' bukan milik siapapun selain Ye Huan. Meskipun dia sendiri tidak tahu apa arti dari singkatan tersebut. Lagipula, siapa peduli selama akun tersebut milik Ye Huan yang lainnya tidak penting.
Hanya saja tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya, kalau Ye Huan yang terkenal dingin dan berjarak hingga suka mengasingkan orang-orang disekitarnya sesuka hati adalah sosok yang bisa menjadi bucin sekalinya dia jatuh cinta. Ini membuat kecemburuannya menjadi lebih besar. Karena, merasa bukan dia sosok yang dicintai dengan begitu besar oleh pria luar biasa itu.
Hatinya terbakar hingga rasanya menyesakkan. Belum lagi saat dia melihat sendiri bagaimana Ye Huan memamerkan hubungannya di akun pribadinya. Bukankah, tanda ini sudah jelas?
Meski dia tahu kalau saat ini Ye Huan sudah ada yang punya. Akan tetapi, jauh didalam lubuk hatinya dia tak terima. Selama ini dia berusaha menjadi sosok sempurna untuk Ye Huan yang walaupun tidak pernah dilihat, tapi bagaimana bisa dia menerima kemunculan wanita lain secara tiba-tiba dan langsung menerobos jalannya untuk mendapatkan Ye Huan?
Belum lagi itu masihlah wanita yang pernah berkonflik dengannya tempo hari.
Dia membenci kenyataan tersebut hingga sesuatu terlintas dipikirannya.
Jati jemarinya lantas bergerak di atas layar ponselnya. Menarik diri dari memata-matai akun Ye Huan dan beralih masuk ke ikon kontak, seketika deretan berbagai nama muncul kemudian dia mulai menggulirkannya sampai pada sebuah nama yang dicarinya...
Diapun segera masuk ke panggilan telpon guna menghubungi pemilik nomor.
Tiit...
Tiit...
Klik!
Tidak sampai nada sambung ketiga, panggilan sudah diterima. Keduanya pun tersambung satu sama lain.
"Halo, ini aku." tidak ada fluktuasi dalam nada suaranya. Itu datar dan dalam, namun kesuramannya tidak hilang.
"Yo... Lihat siapa ini yang menelpon ku? Hahaha... Sudah lama kita tidak saling berhubungan, ya...? Hm... Kupikir itu sudah lama sejak kelulusan kita di universitas. Aku tidak menyangka nomormu masih aktif. Beruntungnya aku lupa atau aku sudah menghapusnya sejak lama." orang diseberang jawab dengan nada serampangan dan liar seperti gangster.
"Ya, memang sudah lama. Bagaimana kabarmu dan yang lain?" Meng Ruona mulai berbasa-basi untuk membangkitkan nostalgia diantara keduanya agar tidak terdengar aneh bila nantinya dia meminta bantuan.
Yang diseberang dengan santai menjawab. "Hahaha... Baik, kami baik-baik saja. Sangat baik malah. Hahaha. Lalu, ada apa kau tiba-tiba menghubungiku? Tumben!" ada jejak sindiran di akhirnya seolah dia tahu sesuatu. Sayang sekali, Meng Ruona tidak menyadarinya dikarenakan pikirannya masih memikirkan cara untuk meminta bantuan teman lamanya ini.
"Hhh... Bukan apa-apa. Hanya ingin tahu apakah kau sudah menerima undangan reuni kampus kita?" tanya Meng Ruona sambil matanya bergerak penuh harap akan apa yang diharapkan sejalan dengan keinginannya.
Mendengar itu suara di seberang segera menjawab. "Ouh. Itu... Tentu saja. Bagaimana bisa aku tidak diikutsertakan. Mereka tidak punya nyali untuk melakukan hal itu. Jadi, apakah disini kau ingin mengatakan kalau kau akan datang? Wah. Hebat! Setelah berulang kali diundang tidak datang-datang. Akhirnya kau tercerahkan juga. Hahaha..." ledeknya.
Seketika Meng Ruona dibuat canggung olehnya. Dimasa itu siapa yang tidak tahu kalau Meng Ruona dikenal sebagai primadona kampus yang sulit didekati tapi disaat bersamaan mudah. Jadi, meskipun semua orang seangkatan di kampus kala itu mengenalnya, Meng Ruona cukup pandai bermain dalam menarik-ulur teman. Biasanya dia akan bercengkrama seolah-olah mereka dekat, lalu sewaktu-waktu akan bertindak seperti dia tidak membutuhkan siapapun selain orang lain yang membutuhkannya. Disini, bermakna latar belakangnya.
Hal inilah yang membuat dia merasa memegang kendali dalam superioritas. Akan tetapi, tampaknya dia lupa kalau tidak semua orang mudah dipermainkan seperti itu.
__ADS_1
"Ehm... Ya, aku pikir tidak baik jika terus menolak undangan reunian kita hanya karena kesibukan. Jadi, aku ingin menebusnya dengan datang kali ini." jedanya untuk langsung masuk ke intinya. "Tapi, aku tidak punya teman kesana. Dan lagi, di ponselku hanya menemukan namamu. Jadi, apa kau keberatan bila ku ajak pergi bersama?" hening sesaat dari seberang yang membuat Meng Ruona gugup seperti takut kalau maksudnya terlihat jelas. Sebab, pernyataan yang sebenarnya itu belum saatnya diungkapkan.
Tapi, beruntungnya...
"Oh. Maaf, aku terkejut saat kau bilang begitu. Tapi, baik. Kenapa tidak. Kebetulan sekali aku belum menemukan pasangan untuk kuajak pergi bersama." suara diseberang sana terdengar bersemangat.
"Hm. Baguslah kalau begitu. Karena sudah ditentukan, aku tidak akan mengganggu waktu mu lagi. Maaf ya, karena aku menghubungi mu tanpa melihat waktu. Nanti kita bisa langsung menentukan tempat kita bertemu sebelum ke acara reuni kampus " Meng Ruona sudah lega tujuannya tercapai sehingga dia lebih percaya diri untuk bermain peran seperti dulu lagi. Yaitu, bermain manis dan bersahabat.
"Tidak masalah, sama sekali bukan masalah. Jangan khawatir. Kalau begitu sampai ketemu dalam waktu dekat."
Klik!
Setelah sambungan diputus, wajah Meng Ruona yang sebelumnya penuh drama kini kembali datar dan dendam. Semua itu ditujukan kepada Ryura yang justru saat ini masih bermesraan dengan suaminya.
Di sisi lain, terdapat seorang pria yang tengah duduk santai di sofa tunggalnya bersama beberapa pria lainnya. Mereka sedang berkumpul.
Beberapa pria yang parasnya lebih kepada garang termasuk pria yang memiliki aura unggul diantara yang lain saat ini tengah berkumpul, tepatnya mereka adalah anggota gangster di kota tersebut dengan pria itu sebagai ketuanya.
Usai memutuskan hubungan telpon dengan Meng Ruona, pria itu terkekeh geli sambil terus menatap layar lebar ponselnya.
"Bo Kang, kenapa kau tertawa? Bukankah tadi ada perempuan cantik yang menelpon." nada meledeknya memecahkan tawa dalam kumpulan tersebut.
Pria yang dipanggil Bo Kang adalah pria yang juga dihubungi oleh Meng Ruona. Dia memiliki wajah sangar dengan potongan rahang petak, berkulit agak kecoklatan, dan seluruh tubuh memiliki tulang besar hingga dia tampak lebih sangar dan kejam. Dia juga seorang gangster di kota tersebut sejak dia duduk di bangku SMA.
Sebuah gangster yang cukup ditakuti didalam kota, karena sepak terjangnya yang menggegerkan kala pertama kali dia ingin menunjukkan kekuatannya. Belum lagi latar belakangnya yang juga mendukung. Siapa yang berani!
"Wow. Ini adalah kejadian yang langka! Apakah dia memiliki maksud lain?" tebak salah satu orang diantaranya.
"Aku pikir juga begitu. Siapa yang tidak tahu wanita seperti apa dia itu? Meskipun terlahir sebagai putri dari keluarga Meng yang kaya dia cukup mampu mempermainkan perasaan orang. Huh... Bila mengingat itu aku selalu merasa bodoh sendiri. Kenapa juga aku bisa-bisanya memuja dia dulu?!" yang lain menyahut dengan bahu bergidik memikirkan masa lalu.
"Itu wajar. Cukup banyak orang yang termakan permainannya. Kalau bukan karena Bos Bo yang menyadarkan kita, apa menurut kalian kita bisa seperti sekarang?! Mungkin kita akan menjadi seperti menggemar buta yang menggilai idola mereka tanpa tahu sifat aslinya." timpal yang lainnya lagi.
"Jadi, Bos. Kau sungguh akan pergi bersama dia?" tanya yang lain dan lainnya menunggu dengan fokus kearah Bo Kang.
Masih dalam posisi yang sama, dia menjawab. "Kenapa tidak? Aku hanya ingin tahu lebih jauh kira-kira apa yang dia inginkan. Tapi, kupikir aku sudah bisa menebaknya."
yang lain segera saling bersahutan seperti kumpulan katak yang tengah meminta hujan.
"Pasti terkait dengan Tuan Muda Ye itukan?"
"Iya, iya. Pasti!"
"Siapa yang tidak tahu seberapa gilanya ia pada Tuan Muda itu? Meskipun dia pandai menutupinya!"
__ADS_1
"Jangan bilang karena kabar pernikahan dadakan Tuan Muda Ye itu, dia mencoba melakukan sesuatu dengan meminta bantuan Bos Bo!"
"Sial! Kalau benar begitu, dia pikir dia siapa? Kalian ingat, bagaimana lihai dan halusnya dia menolak Bos Bo dulu dengan bertingkah seperti dia adalah gadis suci dengan pikiran bersih dan lurus!"
"Benar! Bos Bo sampai tak bisa berbuat apa-apa saat itu!"
"Itu juga alasan mengapa Bos Bo mampu menyadarkan kita!"
"Dan sekarang, dia dengan beraninya mencari Bos kita!"
"Sial! Tak bisa dibiarkan!"
Prok... Prok... Prok...
Suara semarak orang-orang disana yang sedang berkumpul, kecuali Bo Kang dan sahabatnya, segera terdiam kaku mendengar tepukan tangan ketua mereka yang menyela semangat gosip mereka.
Salah satunya sampai tak memiliki nyali untuk membuat alasan. "B..bo..bos..."
Mengibaskan tangannya dengan santai seolah dia tak peduli dengan apa yang baru saja dilakukan anak buahnya.
"Jangan khawatir. Aku bertepuk tangan bukan karena aku marah, justru aku sedang bahagia. Tidak sia-sia aku mendidik kalian agar menjadi lebih pintar dari waktu ke waktu, terutama dalam menghadapi perempuan. Memuaskan!" pernyataan ini menunjukkan kalau ia tidak membantah tebakan anak buahnya yang terdapat sahabatnya diantara mereka.
"Karena aku sedang senang saat ini. Kalian akan aku traktir makan malam, malam ini."
Seketika yang lainnya bersorak kegirangan mendengarnya. Sang sahabat bergerak mendekati ditengah sorak-sorai yang lain.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan ini?" merujuk pada rencana Meng Ruona yang terekspos bahkan sebelum pemilik rencana menyadarinya.
Matanya melirik sahabatnya sekilas sebelum kembali jatuh tepat saat ibu jarinya menggeser gambar foto pernikahan dadakan Ye Huan dan Ryura Jenna yang kala itu langsung terjun ke kantor catatan sipil sambil mengenakan pakaian pengantin tradisional.
Matanya berfokus pada wajah datar Ryura yang tidak kehilangan manisnya.
"Apalagi selain menunggu dan melihat. Apa yang dimau wanita itu."
"Pasti tidak jauh dari pria Ye itu?" timpal sahabatnya.
Sudut bibir Bo Kang ditarik usai mendengar celetukan sahabatnya yang dia setujui juga.
Kilatan penuh ejekan muncul dimatanya. "Bukankah dia terlihat seperti aku yang dulu?"
Mata sahabatnya segera terbelalak dan ikut melihat foto pernikahan dadakan Tuan Muda Ye dengan seorang perempuan yang mereka tidak kenal. Segera dia tahu maksud dari perkataan sahabatnya. Alhasil, tak ada yang lebih lucu dari ini hingga dia terbahak-bahak kemudian.
__ADS_1
maaf sayang lama...
selamat membaca yaaa...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️