3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TERJADI LAGI 2


__ADS_3

Drap!


Drap!


Drap!


Seorang pria tampan berambut gondrong kemerahan berlari cepat dan terburu-buru di sepanjang koridor rumah sakit setelah 20 menit yang lalu mendapatkan panggilan dari sahabatnya yang seorang dokter bahwa telah terjadi sesuatu pada pasien yang dirawat di bawah pengawasan mereka.


Pasien istimewa mereka tepatnya.


Sesampainya di kamar rawat VIP yang dituju, langkahnya mulai melambat sebelum benar-benar berhenti. Disana sudah ada dua orang lagi yang paling dikenalnya tampak sedang berbincang serius.


Tanpa kesopanan lagi dia langsung ikut bergabung dalam percakapan tersebut. Cukup tahu kalau pembahasannya tak akan melenceng dari 3 pasien yang di tangani langsung oleh sahabatnya yang seorang dokter hebat itu.


"Apa yang terjadi?" tanyanya begitu sampai didekat dua pria lainnya dengan nafas yang terengah-engah akibat berlari.


"Hal yang sama terjadi lagi." jawab pria berambut hitam pendek dan berkacamata dengan tubuhnya yang dibalut jas kedokteran.


"Sama seperti dua kejadian sebelumnya?" tanya pria berambut kemerahan itu lagi guna lebih memastikan.


Si dokter menganggukkan kepalanya membenarkan seraya mendorong kacamatanya keatas pangkal hidungnya untuk memperbaiki.


"Lalu, apa artinya itu? Mereka punya kesempatan kan?" serbunya lagi tak sabar.


"Tenanglah. Kita semua juga mengkhawatirkan mereka. Tapi, bersikap seperti ini sama sekali tidak akan membantu." kata pria berambut panjang keperakan mengingatkan sahabatnya seraya menepuk pundak si empunya.


Ia tahu pria berambut kemerahan itu mencemaskan salah satu dari pasien, sama seperti dia dan si dokter. Tapi, apa yang bisa mereka lakukan selain berusaha dan menunggu.


"Ini sudah 3 bulan berlalu. Kau tidak bisa menebak kapan mereka bangun?" tanya si gondrong masih belum menyerah.


Si dokter hanya bisa menjawab dengan sabar. "Kasus mereka berbeda. Aku tidak bisa menggunakan kemampuan ku untuk memberikan jawaban pasti. Tapi, seharusnya... Ini yang terakhir." jelasnya.


"Benar. Seharusnya sudah selesai." si gondrong menganggukkan kepalanya setuju. "Lalu, kira-kira berapa lama lagi kita akan menunggu?" tanyanya kemudian.


"Itu tidak bisa dipastikan." si gondrong menghela nafas lesu mendengarnya.


"Berhenti bersikap begitu. Sebagai seorang CEO, kau harus punya wibawa. Kemana perginya kewibawaan mu itu?!" kata si rambut keperakan dengan tatapan mengejek.


"Cih! Urus urusan mu sendiri. Lagipula, ini bukan jam kerja. Kenapa aku harus berwibawa... Kita sudah ada disini. Tidak ada banyak peraturan ketat seperti sebelumnya. Jadi, aku bebas melakukan apapun." terang si gondrong bangga diri.


"Baik. Terserah kau saja." si rambut keperakan lebih memilih untuk tidak meneruskannya. Sebab, ini bukan waktu dan tempat yang tepat.


"Kau sendiri, mengapa tidak gelisah? Sudah bosan dengan dia?" lantang si gondrong dengan beraninya.


Keberanian tersebut menyebabkan dia menderita kemalangan.


Plak!


"Si*lan! Hati-hati kalau kau bicara! Aku tidak akan pernah bosan, kau tahu. Hanya saja, aku terlalu percaya kalau dia tak akan meninggalkan ku." sungut si rambut keperakan kesal akan mulutnya yang buruk itu. "Sekali lagi kau bicara begitu, aku akan mengubur mu hidup-hidup!" ancamnya tidak main-main.


Yang diancam malah mendengus sebagai tanggapan.


"Sudah. Kalian ini..." menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata. "Cukup. Bila kalian ingin masuk untuk melihat mereka. Maka, masuk saja. Aku juga ingin masuk. Selamat tinggal!" ujarnya langsung sebelum berbalik pergi ke salah satu kamar inap VIP meninggalkan dua sahabatnya yang lain tanpa menunggu mereka membalas perkataannya.


Terlalu malas menonton pertengkaran tak berguna kedua sahabatnya itu.


Kedua pria lainnya juga tak akan tinggal diam setelah mengetahui hal itu. Alhasil, mereka semua memasuki kamar inap yang berbeda dan menghilang dibalik pintunya.

__ADS_1



Kembali ke zaman dinasti.


Saat ini Kaisar Agung Bai sedang memeluk Reychu diatas peraduan gadisnya. Dipeluknya dengan erat.


Hatinya kembali sakit melihat Reychu menjadi seperti ini. Ditambah kali ini, berarti sudah ketiga kalinya. Benar-benar menyesakkan dadanya.


Ini adalah hal yang selalu membuat dia merasa menjadi tidak berguna.


"Sayang... Reychu sayang... Bangunlah... Jangan menakuti ku dengan melakukan hal ini lagi. Kumohon bangunlah." isakan-isakan kecil terdengar dari bibir Kaisar Agung Bai ditengah-tengah lirihannya yang teredam di bahu Reychu.


Chi-chi yang melihatnya tak tahu harus berkata apa.


Setelah beberapa saat kemudian, barulah Kaisar Agung Bai menarik diri dari tubuh Reychu namun tidak benar-benar melepaskan Reychu dari pelukannya. Ditatapnya siluman bocah laki-laki kelinci yang telinga panjangnya terkulai layu, turut sedih untuk sahabat manusianya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa menjadi seperti ini?" tanya Kaisar Agung Bai berubah menjadi amat serius. Jelas, ada kemarahan bercampur kesedihan di dalam sinar matanya.


Yang ditanya menjadi gugup dibuatnya, namun masih berusaha untuk tetap menjawab dengan kepala tertunduk. "Aku juga tidak tahu, Yang Mulia. Kami tadi sedang sarapan seperti biasanya. Hanya, tiba-tiba Chu-chu memuntahkan darah tanpa peringatan. Aku sendiri tak bisa tidak terkejut tadi. Kemudian, saat aku kebingungan tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba aku menemukan ada sesuatu yang aneh dengan bau yang tercium dari muntahan darah itu. Itu seperti ada suatu kandungan racun. Jadi, pikiran ku langsung saat itu adalah penawar yang Nona Rayan berikan sebagai bentuk penjagaan kami. Kemudian aku mengambilnya dan membantu Chu-chu meminumkannya. Tadi, Chu-chu juga sempat tersadar setelah meminumnya sebelum kembali jatuh pingsan. Tapi, aku tidak tahu mengapa." jelasnya panjang lebar. Mengutarakan semua yang ia tahu walau dengan gelagat yang gugup.


Bagaimana tidak gugup kalau tatapan Kaisar Agung Bai sudah seperti akan memakan siapapun yang dilihatnya.


Huh... Jantungnya berdegup kencang karena hal itu.


Setelah mendengar cerita dari sudut pandang siluman tersebut.


"..." Kaisar Agung Bai terdiam mencernanya. Tak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkan pria penguasa Kekaisaran Utara itu. Yang pasti, saat ini ekspresi dan sorot matanya benar-benar dingin. Lebih dingin dari negeri yang ditinggalinya selama ini.


"Beraninya! Beraninya melakukan hal ini kepada Reychu ku tepat di bawah hidung ku! Siapapun yang berani meletakkan tangannya pada Reychu. Jangan berpikir untuk bisa lepas begitu saja. Lihat bagaimana aku akan membalasnya!" lugas Kaisar Agung Bai dari batinnya.


"Kau keluarlah dulu. Siaga di sekitar. Pastikan tidak ada yang tahu apa yang terjadi disini. Reychu hanya butuh waktu." titah sang Kaisar Agung Bai.



Seorang pelayan memasuki sebuah ruangan yang indah dan megah dengan langkah bersemangat. Dia datang membawa kabar yang pasti akan menggembirakan junjungannya. Segera dihampirinya sang tuan yang sedang Menikmati secangkir teh seorang diri tanpa merasa kesepian sedikitpun setibanya dia di dalam.


"Nona! Saya membawa kabar berita!"


"Apa kabarnya?" merujuk pada berita yang ingin dia ketahui.


Apa lagi kalau bukan kabar mengenai Reychu.


"Kabar baik, Nona. Seperti yang selalu diharapkan, gadis itu kemungkinan telah mati!" antusiasmenya dia saat mengatakannya terdengar jelas. Benar-benar budak yang patuh pada tuannya.


Yang bertanya juga menjadi tak bisa menahan seringai walau kecil usai mendengarnya. "Baik. Kerja bagus. Selanjutnya, untuk sementara jangan bicara terlebih dahulu mengenai hal ini. Biarkan tetap tak ada yang tahu. Bagaimanapun Yang Mulia pada akhirnya akan mengatakannya sendiri. Tapi, tetap awasi semua yang terjadi disana sampai mayat gadis itu dimakamkan." perintahnya begitu percaya diri.


Tapi, tidak ada yang paham mengapa dia ingin melakukan hal itu.


"Baik, Nona ku." si pelayan lantas beranjak pergi untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


Kini hanya tinggal gadis itu seorang.


"Ternyata hanya bisa seperti itu baru bisa menyingkirkannya. Dia benar-benar lawan yang menyusahkan." kata-katanya diucapkan dengan arogan, lalu kembali menyesap teh hingga kandas dengan perasaan puas dan bahagia.


Dia adalah Lim Qian Fei.


Belum jelas maksud dan tujuannya melakukan semua hal ini. Dia masih menjadi tanda tanya disini. Terlebih masih ada Lu Xiu Chi. Jadi, di mana sebenarnya mereka berdiri?

__ADS_1


Karena keputusan gadis itu, belum ada yang tahu mengenai kabar tersebut sehingga semuanya masih dalam keadaan tenang.



Di penginapan.


Baik Ye Zi Xian maupun Shin Mo Lan tak pernah meninggalkan sisi istri mereka. Sementara, Ruobin dan Furby diminta pergi kemana saja asal tidak mengganggu pasangan suami-istri itu.


"Kemana kita pergi?" tanya Furby bingung.


"Entah. Katanya kemana saja. Jadi, mengapa kita tidak mencari tempat makan sambil menunggu Rayan dan Nona Ryura siuman." usul Ruobin.


Keduanya pun segera pergi menuju rumah makan yang ada di seberang penginapan mereka.


Begitu mereka masuk, aroma makanan langsung tercium yang mampu menggugah selera makan keduanya yang sempat surut karena kondisi sahabat manusia mereka.


Kedua masuk dan langsung mencari tempat duduk yang nyaman bagi mereka, kemudian memesan menu.


"Tunggu sebentar..." seru Ruobin setelah sesuatu terlintas dibenaknya.


Menatap Furby yang balik menatap bingung dirinya, Ruobin berkata. "Ku tanya padamu. Berapa kali kejadian ini sudah terjadi?"


Paham kearah mana topik pembicaraan ini, Furby menjawab. "Kalau aku tidak salah ingat, sudah tiga kali. Kenapa?"


"Bukankah kejadian ini selalu mereka alami bersamaan?" tanya Ruobin lagi tanpa menggubris tanda tanya Furby.


Kuda Bulan berwujud manusia itu mengangguk membenarkan. "Ya. Kenapa kau bertanya? Ada apa sebenarnya?"


"Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya baru saja terpikirkan, kalau bila sahabat-sahabat kita jatuh tidak sadarkan diri saat ini. Maka, bisa dipastikan kalau Nona Ahn juga demikian, kan?!" jelas Ruobin yakin.


"'Aaa... Benar. Harusnya juga begitu. Kalau demikian, bagaimana kabarnya saat ini?" Furby baru sadar kejadian ini ada kemungkinan serupa seperti sebelumnya.


"Kita hanya berharap, baik-baik saja. Apa lagi. Lagipula, sudah ada Chi-chi dan Yang Mulia Kaisar Agung Bai. Sudah pasti tidak akan terjadi sesuatu yang buruk." yakinnya Ruobin bukan tanpa alasan. Dia yakin sebab Kaisar Agung Bai amat sangat mencintai Reychu, sudah pasti tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi lebih dari ini.


Kemudian, keduanya pun berbincang guna mengisi kekosongan saat ini. Tak lama, pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah mendapatkan yang mereka mau, keduanya siap untuk menyantapnya.


Ruobin sudah menyuapi dirinya sendiri dengan makanan yang tersedia, sedang Furby entah kenapa tiba-tiba berhenti bergerak seolah terganggu oleh sesuatu.


Benar saja, sebuah suara yang terdengar familiar memasuki indera pendengarannya membuat Furby menoleh ke arah suara itu berasal.


Seperti yang dia duga...


Furby mengenal pemilik suara tersebut.


Seketika, keningnya berkerut tajam sambil menatap diam-diam orang tersebut. Hawa permusuhan terpancar jelas sampai Ruobin didepannya mendongak guna menatap Furby saat merasa ada yang salah dengan siluman itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Ruobin sambil mencoba mengikuti arah mata Furby, namun masih tidak tahu kemana tepatnya. Jadi, dia tak mau terlalu memperdulikannya.


"Bukan apa-apa." kata Furby cepat dengan berusaha santai.


Dia tak bisa memberitahukan Ruobin mengenai hal ini. Orang yang tepat untuk tahu adalah Ryura.


Dengan pikiran berkecamuk, ia pun membatin. "Apa yang dilakukannya di sini?"



ALHAMDULILLAH... UP lagi... lagi...lagi...lagi...

__ADS_1


Ojo lali dukungannya yooooo...


__ADS_2