3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BERDUAAN


__ADS_3

Usai sesi malu-maluin tadi. Eh, malu-malu kucing maksudnya.


Ryura di bawa pergi oleh Ye Zi Xian ke paviliun Mutiara, tempat dimana ia selalu tinggal bila berkunjung ke kediaman Zhilli Shin. Sementara dua sahabatnya yang lain terlibat cerita mereka masing-masing.


"Tuan Duan, mari ikut saya." kata Dong Jia Zi sopan. Hendak mengajak Duan Xi untuk ke kamar lain yang berada di paviliun Mutiara.


Tujuannya jelas. Junjungannya tak ingin waktu bersama sang kekasih terganggu. Meski ia jelas tahu yang dilakukan Tuannya tidak benar, bagaimanapun mereka belum terikat pernikahan. Tapi, kekeraskepalaan Ye Zi Xian yang tak mau berjauhan dengan Ryura membuat Dong Jia Zi tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kalau Tuannya sudah menggunakan alasan kalau Ryura adalah gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Kemana? Aku belum melihat murid ku." Duan Xi tak bisa menahan protes saat terlihat jelas kalau dia tengah dihalangi. Tak peduli meski tahu orang seperti apa Ye Zi Xian itu, dia saat ini sedang berbicara tentang Ryura bukan yang lain. Jadi, tak ada alasan untuk Duan Xi takut.


Apalagi setelah ia tahu, Ryura memiliki arti di mata Ye Zi Xian.


"Saya tahu, Tuan. Maka dari itu, Tuan Ye sudah memberitahukan kepada saya kalau besok Tuan Duan dapat menemui Nona Ryura. Bukankah akan lebih baik kalau anda juga beristirahat saat ini. Anda sudah sangat mencemaskan Nona Ryura sejak tadi, ada baiknya kalau anda tidak sampai melupakan diri anda sendiri demi kebaikan bersama. Lagipula, Nona Ryura sudah baik-baik saja. Beliau hanya sedang tertidur." jelas Dong Jia Zi dengan sabar dan datar.


Berpikir sejenak, Duan Xi merasa ada benarnya. "Baiklah. Aku akan beristirahat dulu. Mohon tunjukkan yang tua ini jalan."


Setelah mereka pergi, mari mengintip ke dalam kamar Ye Zi Xian.


Di sebuah ranjang besar yang megah dan mewah, dua insan berlainan jenis berbaring bersama mengisinya.


Saat ini, sang pria sedang asik memandangi wajah polos gadisnya yang terlelap. Dalam keadaan seperti ini saja, Ye Zi Xian bahkan tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang berdegup amat kencang. Tapi, dia suka itu.


Sambil menopang sisi kepalanya dengan tangan kirinya seraya berbaring miring menghadap Ryura yang terlentang, Ye Zi Xian tak henti-hentinya mengagumi betapa manis paras Ryura yang sama sekali tak membuatnya bosan.


Tak peduli sang gadis terjaga atau tidak, sang pria hanya tahu bagaimana cara menikmati waktu berdua.


"Aku jadi teringat pertama kali kita bertemu. 'Ah, tidak! Tepatnya... Pertama kali aku melihat mu." senyum terukir tipis namun indah di bibir Ye Zi Xian sambil sorot matanya menerawang kembali ke saat itu.


"Selain karena petunjuk dari pedang pusaka itu. Apa yang ada padamu juga menarik perhatian ku. Bukankah itu benar-benar disebut takdir?!" tangan satunya memainkan rambut panjang sang gadis.


"Kau terlalu misterius. Justru, itu yang aku suka." matanya memancarkan cahaya cinta yang memanjakan kala ia menatap wajah tertidur Ryura.


"Aku sudah memutuskan saat aku menerima perasaan asing yang hadir dihatiku ini pada mu, walau dalam waktu singkat. Aku tidak akan peduli apapun tentang mu... Seperti latar belakang mu, kepribadian mu, dan apapun itu. Aku menerima apa adanya dirimu. Selama kau tidak menolak takdir yang diberikan pada mu untuk menjadi pendamping hidup ku. Aku akan menempatkan mu diatas segala-galanya. Kau akan jadi prioritas utama ku. Bagaimana menurut mu?" Ye Zi Xian mengatakan itu dengan tulus dan senyum yang lebih merekah dari sebelumnya, seolah begitulah cara dia membujuk Ryura agar tak menolak nya.


Padahal, nyatanya saat ini Ryura tak sedikitpun meresponnya.


Hening sejenak.


Tangannya yang semula memainkan rambut, kini beralih mengelus pipi mulus Ryura yang tidak chubby maupun tirus. Dielusnya dengan hati-hati seolah-olah pipi itu adalah porselen yang mudah pecah kalau dia tidak hati-hati menyentuhnya.


"Kau harus menerima ku!" rajuknya saat perasaan takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayap didalam hatinya.


Lebih kepada takut kalau Ryura sampai menolaknya dan tak ingin menjadi permaisuri dihidupnya. Dia frustrasi bila memikirkan hal itu.


"Aku sudah memikirkannya. Ku pikir kita akan melangsungkan pernikahan secepatnya. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kau tidak keberatan bukan? Ku harap tidak. Haha." akhirnya itu yang dia katakan guna mengalihkan rasa takutnya.


"Kau mau kapan? Tahun depan? Bulan depan? Minggu depan? Atau besok?" tanyanya yang mulai terdengar seperti melantur aneh.


"Kalau kau bertanya padaku. Aku lebih memilih besok. Itu bagus kan? Lebih cepat, lebih baik! Astaga..." usai berkata demikian, ia gemas sendiri hingga mengusel pipi Ryura dengan hidungnya.


Setelah itu, dipeluknya Ryura erat namun tidak sampai menyakiti si empunya tubuh. Ia memilih ikut menyusul Ryura ke alam mimpi atau kalau tidak dia akan terus mengoceh tidak jelas hanya untuk menenangkan hatinya yang antara senang dan gelisah.


Senang bisa berdekatan dengan Ryura dan gelisah membayangkan penolakan Ryura.


"Baiklah. Kita pikirkan itu nanti. Lebih baik aku juga tidur. Meski ini tidak pantas, tapi aku tak bisa menjauhkan pandangan dan diri ku darimu. Maafkan aku kalau membuat mu tidak nyaman, sayang... Cup!"


Kata-katanya merujuk pada perlakuannya terhadap Ryura saat ini yang dengan lancang menyentuhnya padahal keduanya belum memiliki ikatan apapun. Tapi, dia tak bisa lagi jauh dari Ryura. Jadi, mari abaikan sejenak hal itu.



Di paviliun Kristal. Tempat dimana Kaisar Agung Bai biasa tinggal saat berkunjung ke kediaman Zhilli Shin.

__ADS_1


Paviliun Kristal dan paviliun Mutiara dibuat layaknya kediaman keluarga sesungguhnya, hanya sedikit lebih kecil. Namun, masih di isi dengan beberapa kamar, ruang pertemuan dan ruang makan.


Dengan kata lain, paviliun Kristal diperuntukkan bagi Keluarga Kerajaan Bai dan paviliun Mutiara diperuntukkan bagi Keluarga Ye.


Kembali ke awal, tepatnya ke ruangan sebelumnya. Tempat dimana Reychu dan Ryura di rawat sebelum Ryura di bawa pergi begitu saja tanpa izin oleh pria tampan berambut putih keperakan.


Reychu bahkan sempat berceletuk spontan saat pertama kali melihatnya.


"Ya ampun. Kau sudah beruban?! Apa kau menua sebelum waktunya?"


Celetukan itu sukses mendatangkan amarah dalam diri Ye Zi Xian, namun segera di halangi oleh Rayan dengan menggunakan nama Ryura. Pada awalnya, Rayan tak berpikir itu akan ampuh. Tapi, siapa sangka pria tampan itu akan tunduk hanya dengan menyebutkan nama Ryura saja.


Hal ini membuat Rayan merasa ironis untuk Ye Zi Xian sampai berkata pada dirinya sendiri. "Beruntung yang disukainya adalah Ryura. Apa kabarnya kalau bukan Ryura?! Paras dan kedudukannya akan sia-sia karena terlalu tunduk pada cintanya. Dia bisa dimanfaatkan tanpa ampun. Ckckck!"


Bila Ye Zi Xian mendengar gumaman itu, sudah di pastikan kalau dia akan dengan bangga menyatakan bahwa betapa beruntungnya seorang gadis mendapatkan dirinya.


Kini hanya tersisa Reychu dan Kaisar Agung Bai.


Posisi keduanya saat ini tengah berdiri dengan situasi yang tidak jelas.


Atau tepatnya... Aneh!


Sambil bersedekap dada, Reychu berjalan mengelilingi Kaisar Agung Bai yang berdiri diam membiarkan gadisnya melakukan apa yang dia mau.


Si gadis masokis itu sudah tampak baik-baik saja setelah menelan pil yang diberikan sebelumnya.


Sebagai gadis yang tidak bisa diam, tentu Reychu pasti langsung bergerak.


Gerakannya yang cepat dan tiba-tiba beberapa saat lalu, sukses membuat Kaisar Agung Bai mengomel.


"Istirahatlah! Kau baru saja diberi obat. Jangan bertindak sembarangan!" serunya dengan kening mengernyit tidak senang.


Kembali ke saat ini.


Setelah puas berkeliling memutari Kaisar Agung Bai, Reychu pun akhirnya berhenti tepat di depannya.


Karena tinggi badan Kaisar Agung Bai cukup mengesankan, Reychu terpaksa lebih mendekat sebelum berjinjit guna mensejajarkan wajahnya pada pria itu. Tapi, apalah daya kalau itupun masih belum bisa membuatnya sejajar.


Memahami maksud dari perbuatan Reychu, Kaisar Agung Bai tidak bisa menahan kekehan karena merasa lucu.


"Sial! Kau ini tinggi sekali. Lihat, aku jadi tidak bisa mengintimidasi mu. Harusnya kau peka sedikit, kasihanilah aku yang pendek ini. Ck!" gerutu Reychu mengakui dirinya tanpa malu-malu.


Senyum Kaisar Agung Bai semakin merekah.


Meskipun sebelumnya dia sudah mendengar sedikit kelancangan mulut Reychu. Tapi ternyata, semakin ia mendengarnya semakin ia ingin mengikat Reychu menjadi miliknya. Bahkan sekilas, membayangkan mulut beracun itu mengalahkan perempuan-perempuan gatal yang bernafsu kepadanya di istana, pasti akan sempurna.


Ini sangat cocok menjadi Permaisurinya.


Soal, pengetahuan yang dibutuhkan oleh seorang permaisuri masih bisa menyusul nanti setelah mereka resmi menjadi pasangan suami-istri.


Membayangkan hal itu, wajah Kaisar Agung Bai menjadi jauh lebih berseri.


Dengan tatapan penuh cinta, Kaisar Agung Bai segera menuruti keinginan gadisnya.


"Seperti ini maksud mu?" tanyanya dengan nada menggoda seraya membungkuk mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Reychu.


Bila dilihat dari beberapa sudut pandang, itu akan terlihat seperti sedang berciuman. Bahkan saat ini mereka bisa saling merasakan deru nafas masing-masing.


Tapi, malangnya Kaisar Agung Bai.


"Kau terlalu dekat. Pandangan ku jadi buram. Kau mau aku buta." dengan tidak pekanya, Reychu meluncurkan serangan maut dari mulutnya.

__ADS_1


Kikuk seketika dirasakan Kaisar Agung Bai. Berharap ada adegan romantis seperti dapat melihat pipi sang gadis bersemu merah, ini malah...


Kaisar Agung Bai tak bisa berkata-kata. Tapi, sialnya hatinya malah semakin mendamba. Dia tidak bisa tidak mengumpati hatinya yang aneh.


"Kau ini." saking geram campur gemasnya, akhirnya Kaisar Agung Bai pun bergerak cepat mengangkat tubuh Reychu, menggendongnya hingga dia duduk di kedua lipatan tangan kekar Kaisar Agung Bai yang berada di pahanya.


Kini giliran Reychu yang menunduk guna melihat wajah tampan Kaisar Agung Bai yang saat ini masih belum bisa membuatnya jatuh cinta.


"Begini lebih baik?"


"Hmm... Bolehlah. Paling tidak yang sakit leher itu kau bukan aku. Hehe..." katanya gamblang yang langsung disambut dengan gelengan kepala sang Kaisar Agung Bai yang untuk pertama kalinya dia merasa tak berdaya.


Tapi, lagi-lagi dia suka ketidakberdayaannya dihadapan Reychu.


Oh, astaga...!


"Jadi, kau berencana melakukan apa dengan mendekat padaku, hm?" tanya Kaisar Agung Bai kali ini ke topik awal.


Tak lupa pria itu berjalan mendekati ranjang yang ditempati Reychu sebelumnya untuk mendudukkan dirinya disana dan membiarkan Reychu duduk di pangkuannya, menghadapnya.


Sebenarnya, ini adalah modus pria itu agar bisa bermesraan. Sedang Reychu yang tidak peka pada hal-hal berbau asmara hanya menurut dengan pikiran positifnya.


Berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan itu.


"Oh ya. Soal itu, aku hanya ingin bertanya..." sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kau menyukaiku ya?" nada itu sebenarnya kurang tepat bila digunakan untuk menanyakan soal perasaan.


Reychu tak sedikitpun tersipu malu atau canggung kala menanyakannya. Dia kelewat santai seolah itu bukan pembahasan yang membuat orang malu.


Jleb!


Sementara Kaisar Agung Bai nyaris merasa jatuh harga dirinya dihadapan sang pujaan hati.


"Oh, Reychu sayang. Apa kau tidak bisa menanyakannya sambil malu-malu? Setidaknya jangan menghancurkan harga diri ku sebagai seorang pria." gerutu Kaisar Agung Bai yang entah bagaimana tampaknya mulai tertular gaya Reychu. Dia bahkan tak sadar. "Dan ya, aku menyukaimu. Tidak! Aku mencintaimu! Cinta pada pandangan pertama! Kau puas!" geregetnya.


"Semudah itu?! Apa cinta seperti mencampurkan teh dan susu untuk membuatnya menjadi teh susu."


Krik... Krik... Krik...


Kaisar Agung Bai terdiam. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, 'apa hubungannya teh susu dengan cinta?'.


Tahu kalau Kaisar Agung Bai tidak memahaminya, Reychu pun menjelaskan. "Kau tidak mengerti? Haih... Maksud ku adalah menyatukan dua hal yang berbeda menjadi satu untuk menghasilkan sebuah kecocokan. Teh dan susu adalah perumpamaan yang cocok. Karena itu menjadi benar-benar enak untuk diminum."


Mengangguk paham, Kaisar Agung Bai akhirnya mengerti. Meski ia sendiri tak tahu seperti apa rasanya teh susu.


"Kalau begitu, ya. Cinta semudah itu untuk kita. Aku hanya perlu membuat mu mau mencampurkan antara teh dan susu untuk membangun kecocokan diantara kita. Bagaimana?" tak mau ambil pusing dengan istilah aneh itu, Kaisar Agung Bai hanya ingin kepastian dalam hal ini.


Memandangi wajah yang luar biasa tampan itu untuk beberapa saat.


"Ehem..ehem... Tapi, sebelum itu kau harus tahu sesuatu tentang ku dulu." melirik wajah tampan Kaisar Agung Bai yang kelihatannya sudah sangat menantikan.


"Sebenarnya, aku ini seorang janda."


BOOM!



yuhuuuu epribadeeeh


ni thor up lagi biar Klian gak lama2 nunggunya.


semoga makin suka yaaaa

__ADS_1


jangan lupa like vote tips dan komen sebanyak-banyaknya. Wokeh.πŸ‘ŒπŸ˜


__ADS_2