
Muncul ditengah-tengah anggota keluarga kerajaan tak membuat kakak beradik Ye lupa akan penghormatan sehingga mereka tetap melakukannya meski tidak terlalu intens. Hanya untuk menghormati keluarga kerajaan saja dan tidak lebih.
Pasalnya, secara tidak langsung kedudukan ketiga klan ini sama, yang membedakannya hanya kedudukan di mata rakyat Kekaisaran Utara.
Kemudian, dia mengambil tepat duduk baru dengan memberikan perintah kepada Dong Jia Zi sebelum akhirnya dia duduk bergabung dengan yang lain.
"Tuan Ye, kudengar baru saja kau mengatakan bahwa kami sedang membicarakan tentang kekasih mu? Apa itu artinya gadis itu tak hanya menjadi gadis pilihan dari pedang pusaka Keluarga Ye, tapi juga pilihan hatimu?" tanya Bai Min Wang meminta konfirmasi.
Mengangguk lugas namun santai adalah tanggapannya sambil menjawab tanpa keraguan. "Benar! Kau tidak salah mendengarnya."
"Ini mengesankan." celetuk Bai Lin Wang dengan nada suara datar tanpa jejak emosi apapun, akhirnya angkat suara juga. Itu wajar, faktanya dia dan keluarga Ye memiliki ikatan kekerabatan.
Keduanya sepupuan.
"Tentu. Memang sangat mengesankan!" akui Ye Zi Xian setuju.
"Lalu, dimana dia?" tanya Bai Lin Wang lagi.
Pertanyaan ini sama dengan yang ada dalam benak orang lain disana. Tanpa sadar kehadiran Ryura sangat diharapkan disini.
Mengedikan bahunya acuh seperti tidak peduli, lantas menjawab dengan santainya. "Tidak tahu. Dia bisa dimana saja."
Hampir semua alis orang-orang yang ada disana menyatu dengan ekspresi bingung menghiasi wajah mereka. Agak mengejutkan bahwa jawaban Reychu dan Ye Zi Xian memiliki kesamaan. Hal ini membuat mereka semakin merasa kalau jodoh Ye Zi Xian benar-benar misterius. Tetapi, disisi lain juga merasa kalau sosok gadis itu -Ryura- agaknya lancang dan tidak sopan lantaran berkeliaran seperti itu.
Ini membuat mereka merasa tidak dihargai.
Seandainya pemikiran tersebut didengar oleh Ye Zi Xian, sudah dipastikan mereka tak akan lepas dari amarahnya.
"Apa tidak apa-apa seperti itu? Kalian akan segera menikah!" tanya Bai Ning Wei setelah sedari tadi hanya menyimak. Sikap Tuan Ye ini membuatnya ragu kalau dia benar-benar memiliki perasaan terhadap takdirnya. Tapi, tak berani mengatakannya langsung.
"Tidak perlu memusingkannya. Dia akan datang tepat waktu saat waktunya tiba. Lagipula, dia milikku begitupun sebaliknya. Dan lagi, jika dia ingin datang kesini. Dia akan muncul. Jika tidak, maka tunggu sampai dia mau menemui kalian." terang Ye Zi Xian dengan nada tenang, tapi jelas makna didalamnya seperti menyatakan bahwa kekasihnya tidak membutuhkan formalitas apapun dengan orang lain dan meminta mereka membiarkan dia -Ryura- melakukan apapun yang dia mau tanpa menyulitkannya.
Arti kalimat ini agak tidak menyenangkan hati, tapi mereka memilih bungkam dengan hati kian penasaran akan sosok perempuan misterius yang terpilih menjadi pasangan Tuan Ye dari Sekte Salju Perak.
Mereka tidak tahu saja kalau sosok itu adalah sosok yang pernah berpapasan dengan mereka saat perjalanan menuju Kekaisaran Tenggara.
Terlebih lagi kini sosok itu tengah berjalan menuju paviliun tamu tanpa terdeteksi hawa keberadaannya. Sementara sekelompok orang asik bertukar kata didalam.
"Lalu, kapan tepatnya upacara pernikahan itu akan dilangsungkan?" tanya Bai Lin Wang entah karena benar-benar penasaran atau bagaimana. Yang jelas, dia mau mengajukan beberapa pertanyaan pada sepupunya itu.
"Tunggu masalah yang terjadi saat ini selesai." jawab Ye Zi Xian.
"'Aa... Bicara soal masalah. Aku sudah mendengarnya disepanjang jalan ke paviliun ini. Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bai Min Wang menyerbu karena penasaran.
Kelopak mata Ye Zi Xian langsung merendah menghalangi kilau tajam yang terpancar begitu masalah tersebut diungkit. Ada rasa jijik yang melintas sampai Ye Zi Xian sendiri berpikir, seandainya dia tidak ingat masih berutang kasih sayang pada Meng Pei Yun. Wanita itu sudah pasti mati sejak saat dia mengetahui kebenaran itu tanpa perlu menunggu proses penyelidikan atau apapun.
"Tak perlu repot-repot memikirkannya sekarang. Karena, semuanya akan segera terselesaikan dan saat itu kau bisa melihatnya langsung." nadanya agak dingin kala mengucapkan kalimat tersebut. Itu cukup sukses untuk membuat orang merinding.
Perasaan merinding itupun tak pelak juga turut dirasakan oleh Ye Xiao Nan. Sebagai orang yang paling tahu situasinya, dia tak bisa tidak merasa kasihan pada sang kakak. Meski begitu, dia tetap dia dan membiarkan kakaknya mengambil keputusan. Lagipula, Ye Zi Xian masih pemimpin dilingkungan ini.
Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan hanya melirik sahabat mereka tanpa berkata apa-apa. Mereka memilih diam, karena masalah ini jelas bukan ranah mereka hingga bisa ikut campur. Tapi, sebagai sahabat, mereka tetap siap kapanpun salah satu dari mereka membutuhkan bantuan.
"Umm... Baiklah..."
Saat ini, mundur adalah pilihan terbaik.
Mereka kembali melanjutkan bercengkrama dengan beberapa topik. Sementara diluar paviliun, Ryura tengah berjalan menuju paviliun dan kebetulan akan berpapasan dengan Rayan dan Shin Mo Yue.
"Aku tidak percaya kau memiliki keahlian yang sama dengan keluarga Shin kami!" seru Shin Mo Yue penuh antusiasme.
Dari nada bicara dan caranya berekspresi sudah cukup untuk Rayan mengetahui kalau adik kekasihnya itu sekarang tidak lagi ragu untuk memberikan restunya pada hubungan dia dan Shin Mo Lan.
Memikirkan itu, bagaimana Rayan tidak membalasnya dengan senyuman manis yang bersahabat.
__ADS_1
"Hm. Aku juga tidak menyangka sebelumnya. Ini kebetulan yang seperti sudah digariskan." timpal Rayan dengan keyakinan yang disembunyikan.
Mengangguk setuju. "Kau benar! Kalian sepertinya memang benar-benar berjodoh. Kalau begini, bagaimana aku tidak setuju. Aku tidak perlu khawatir kakakku memilih pendamping yang salah. Kali ini kakak ku tahu dengan siapa dia harus menghabiskan hidup bersama." lantangnya calon adik ipar Rayan yang mana membuat Rayan begitu bangga pada dirinya.
Jika dia pikir kembali, sepertinya ini juga tidak luput dari usahanya yang gencar mendekati Shin Mo Lan terlebih dahulu. Kalau tidak, calon adik ipar disampingnya ini tidak akan mungkin bisa menemukan kakak ipar seperti dirinya.
Rayan merasa senang sekaligus bangga dari dalam hati.
"Oh. Kakak ipar, kau harus mengajariku banyak hal lagi. Aku benar-benar butuh pembimbing. Guru di akademi terlalu sibuk. Aku butuh seseorang yang tidak sibuk seperti kakak ipar!" Rayan tidak tahu harus tertawa atau menangis kala merasa bahwa dirinya dianggap demikian oleh calon adik iparnya.
Tapi, mungkin tak masalah sama sekali.
"Baik. Saat aku punya waktu luang. Aku akan mengajarimu apa yang mungkin belum kau pelajari. Bagaimana dengan itu?"
"Itu baik."
Keduanya berjalan santai sambil sesekali bertukar kata sampai bayangan akrab terlihat dari sudut mata Rayan.
Dan dialah orangnya...
Melihat sosok Ryura muncul secara normal agak mengejutkan Rayan meskipun dia tahu ini sebenarnya adalah hal biasa bila di dunia modern. Sayangnya, Ryura cenderung seperti hantu selama berada di sini, didunia kuno. Jadi, tanpa sadar Rayan tak bisa tidak terkejut walau sedikit.
"Ryu... Kau kembali!" serunya yang langsung menembus kedalam pendengaran Shin Mo Yue hingga gadis itu mengikuti arah pandang Rayan dan segera matanya menubruk sosok dengan pancaran misterius yang menyelimutinya.
Rambut hitam yang dibiarkan tergerai bebas, hanfu kuning pucat yang polos namun bersahaja menjuntai sama bebasnya benar-benar bisa menjadi luar biasa saat dikenakan oleh gadis didepannya. Jangan lupakan wajahnya yang dikategorikan cantik namun cenderung manis meskipun tidak ada ekspresi apapun disana.
Tak perlu bertanya, tampaknya Shin Mo Yue bisa langsung menebak siapa sosok itu.
"Apakah itu calon Nyonya Ye masa depan?" tanyanya spontan.
Lantas Rayan menoleh kearah Shin Mo Yue saat dia bertanya. "Kau memiliki mata yang bagus." puji Rayan salut.
"Kalau begitu... Ayo, aku kenalkan kau dengannya!" ajak Rayan langsung melangkah menghampiri Ryura yang juga sedang berjalan kearah mereka atau tepatnya kearah paviliun tamu yang tepat berada di belakang kedua gadis itu, mengingat mereka belum lama keluar dari dalam sana.
Dengan ragu-ragu diawal dia berujar. "Kalian terlihat cukup akrab."
Seolah paham arah bicaranya, Rayan dengan senang hati menjelaskan. "Tentu. Kami bersahabat. Aku, dia, dan Reychu. Gadis yang masih di dalam." seraya menunjuk ke arah paviliun tamu. "Kami bertiga terikat persahabatan." lanjutnya.
"Wow! Itu hebat! Mirip dengan Mo Lan Gege, Yang Mulia Kaisar Agung Bai, dan Tuan Ye!" matanya berbinar kagum saat mengatakan itu. "Dan hebatnya lagi... Tiga sahabat perempuan berjodoh dengan tiga sahabat laki-laki! Betapa hebatnya!" dengan polos Shin Mo Yue berkomentar.
Rayan tentu saja menunjukkan senyum senang mendengarnya, tapi tidak dengan Ryura yang hanya diam dari awal hingga akhir.
"Ryura ini Shin Mo Yue. Adik Shin Mo Lan." jeda sejenak. "Apa kau kemari untuk bertemu dengan Tuan Ye?" Ryura mengangguk sekali sebagai jawaban. "Kupikir tadi aku melihatnya masuk ke paviliun tamu untuk bertemu yang lain. Datang saja kesana." jelas Rayan sama sekali tidak terpengaruh dengan diamnya Ryura.
Tanpa kata Ryura segera angkat kaki dari hadapan sahabatnya dan gadis asing disisinya.
Sambil melihat punggung tegap Ryura, Shin Mo Yue berceletuk tak tahan ingin berkomentar lagi. "Dia... Sulit mengatakannya..." memiringkan kepalanya bingung sendiri.
"Hm?"
"Dia terlihat dingin, tapi tidak. Bukan... Bukan dingin. Kupikir lebih kepada acuh? Itu juga rasanya kurang tepat. Huh... Aku benar-benar bingung. Apa dia memang seperti itu?" tanya Shin Mo Yue pada akhirnya setelah melewati segala jenis kebingungan yang tak berujung.
Mengangguk membenarkan seraya menatap punggung Ryura yang kian mengecil dari pandangan. "Ya, dia memang sudah seperti itu. Dia tidak dingin ataupun acuh. Hanya saja, dia lebih kepada tak memiliki emosi."
"Tidak memiliki emosi? Ada yang seperti itu?" tertegun si adik Tuan Muda Shin itu.
"Hm... Untuk lebih jelasnya, kau akan tahu setelah sering melihatnya. Kau bisa mengambil gambarannya sendiri. Aku juga agak kesulitan bila harus menjelaskannya." kata Rayan.
"Baik. Itu bisa diatur. Kalau begitu, mari kita lanjutkan apa yang ingin kita lakukan." melempar kebingungannya kebelakang kepala dan kembali ke tujuan awal dia dan Rayan.
"Ayo!"
__ADS_1
Di paviliun tamu, mereka semua masih bercengkrama dengan baik. Reychu juga tampaknya bisa membawa diri walaupun kehadirannya yang diklaim Kaisar Agung Bai sebagai kekasihnya masih jelas belum diterima oleh saudara-saudari Kaisar Agung Bai yang lain.
Hal ini bukan tidak disadari oleh Kaisar Agung Bai. Hanya saja, dia pikir ini masih di wilayah Ye Zi Xian. Jadi, dia putuskan akan bergerak setelah kembali ke Kerajaan Es.
Dari mereka semua, benar-benar tidak ada yang merasakan kehadiran Ryura yang berjalan dengan santainya kebelakang Ye Zi Xian. Tapi, sepertinya tanpa Ye Zi Xian sadari tubuhnya mengenali aura tak berasa dari sosok kekasihnya sehingga dia secara naluriah menoleh kebelakang tanpa tahu apapun.
Dan ia sejenak tertegun sebelum senyum menawannya segera terukir.
Suara percakapan yang lainnya seperti hilang entah kemana, sebab kini fokusnya hanya Ryura yang kian mendekat.
"Sayang!" panggilan yang tak hanya manis tapi juga penuh dengan aroma cinta didalamnya langsung memasuki telinga yang lain sampai mereka menghentikan dialognya untuk segera melihat asal panggilan itu berada.
Saat itulah mereka baru sadar, seseorang muncul secara tiba-tiba tanpa bisa mereka ketahui.
Kala yang lainnya tengah menebak-nebak siapa sosok itu. Sebuah suara imut yang kekanak-kanakan menggema menyela keheningan mendadak itu.
"Kau?!" menunjukkan jari telunjuknya kearah Ryura yang hanya menatap kosong bocah itu sebagai responnya. "Kau yang ku lihat dari dalam kereta waktu akan menuju ke festival perang di Kekaisaran Tenggara waktu itu, kan? Kau juga yang menjadi peserta itu kan? Benar!" pekik Bai Yi Wang ketika ingatannya tergerak.
Alis Reychu terangkat kala mendengarnya. "Eh? Kau baru menyadarinya? Kupikir kalian semua yang ada disini mengetahuinya. Bukankah kau dan yang lain menyaksikan festival tersebut?" kata Reychu penuh tanya merasa aneh.
Dia mungkin tidak tahu mereka ada atau tidak saat festival itu terjadi. Tapi, mengingat dia dan dua sahabatnya bertemu dengan tiga pria itu di acara itu sudah jelas tidak menutup kemungkinan kalau yang lainnya juga ada disana.
Hanya... Mengapa mereka tidak menyadarinya sejak awal?
Mendengar itu yang lainnya pun ikut mulai mengingat kembali ke beberapa hari yang lalu saat mereka masih berada di Kekaisaran Tenggara guna menghadiri undangan.
Mereka jelas ingat saat itu, Kaisar Agung Bai dan dua sahabatnya tiba-tiba undur diri dari sana dengan hanya meninggalkan Ahn Reychan sebagai penggantinya.
Mereka mungkin hadir untuk menyaksikan acara tersebut, tapi sebenarnya mereka lebih kepada tidak memperhatikan dan acuh saja sehingga mereka tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang pernah terjadi disana.
Bagaimanapun acara tersebut dianggap membosankan bagi sebagian besar mereka.
Dan mungkin Pangeran kecil itu sempat memperhatikan walau tidak keseluruhan. Benar saja, saat itu dia hanya memperhatikan Ryura karena dia ingat dengan jelas kalau gadis itu adalah sosok yang dilihatnya dari dalam kereta.
Siapa yang menyangka kalau dia akan melihatnya lagi disini dan itu juga dengan status yang berbeda.
"Jadi... Bisa dikatakan kalau kalian semua bertemu dihari itu juga? Benar-benar..." konfirmasi Bai Min Wang tak bisa berkata-kata atas takdir yang dimiliki kakak Kaisar-nya dan kedua sahabatnya.
"Hm." tanggapan tunggal Ye Zi Xian untuk pernyataan adik sahabatnya itu, lalu menuntun Ryura untuk mengambil tempat duduk didekatnya. "Kemari sayang. Aku sudah merindukanmu sejak kemarin."
Ryura masih dalam diam, namun tetap menurut. Jadilah, dia duduk di dekat Ye Zi Xian dengan mulus.
"Kenalkan, ini adik perempuan ku. Ye Xiao Nan... Xiao Nan, ini adalah calon kakak ipar mu. Aku berharap kalian bisa menjadi dekat." kata Ye Zi Xian memperkenalkan dua orang yang berarti untuknya.
Meski pendiam, Ye Xiao Nan bukan orang yang sulit bicara. Lain dengan Ryura yang meski juga tidak sulit berbicara, tapi emosinya yang kosong menyulitkannya untuk hanya sekadar berbasa-basi.
"Salam kenal, calon kakak ipar. Aku Ye Xiao Nan." gadis itu menundukkan kepalanya sedikit sebagai formalitas perkenalan.
Ryura pun turut melakukannya, seraya berkata. "Ryura."
Singkat, padat, dan jelas. Meskipun beberapa yang melihatnya tidak senang dengan respon kosong Ryura, tapi mereka jelas tidak dapat merasakan emosi apapun dalam diri gadis yang baru saja muncul itu.
Ye Xiao Nan tak terkecuali juga turut merasakannya. Akan tetapi, dia tak mendapati dirinya tidak menyukai calon kakak iparnya ini. Justru, dia merasa inilah keistimewaan Ryura.
Selanjutnya, perkenalan disusul yang lain.
Mereka kembali bercengkrama dengan Ryura yang tidak mengeluarkan kosa kata lebih dari sepuluh. Tapi, mereka jelas tak bisa mengeluh tak senang akan hal itu apalagi melihat Ye Zi Xian yang bucin luar biasa dan tak peduli bagaimana Ryura berinteraksi dengan orang lain. Karena, pada dasarnya jauh didalam hatinya dia merasa menang banyak.
Sebab, hanya dia yang tahu bagaimana kepribadian Ryura saat akrab dengan dia sampai intim.
Tanpa ada yang tahu, kalau Ryura diam-diam menatap sesosok gadis diantara sekelompok orang baru itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
up again!πππ