
Tiga hari sebelum festival dimulai. Hari ini tepat pada saat matahari berada di puncaknya. Cahaya terik memancar namun tidak terlalu terasa menyengat kulit atas panasnya. Itu membuat semua orang bersyukur karena merasa nyaman dengan keadaan alam kali ini.
Beberapa hari lalu setelah mereka tiba di Ibukota Lan-gang, satu persatu orang-orang berkedudukan tinggi datang ke sana untuk menghadiri undangan Kaisar Agung dari Kekaisaran Tenggara sekaligus Kaisar Kerajaan Langit.
Entah berapa banyak kereta kuda megah berbagai rupa dan bentuk datang silih berganti memasuki Ibukota Lan-gang dalam beberapa hari kedepannya saat itu. Baik Rayan maupun Reychu tak berniat menghitungnya. Hanya saja, diawal mereka sempat tertegun dan terpesona dengan suasana yang sebelumnya hanya mereka lihat di serial drama kolosal atau hanya pada saat festival sejarah di langsungkan.
Tapi, kini...
Tak hanya sekedar drama semata, melainkan nyata terpampang di depan mata mereka berdua.
Saat ini Rayan, Reychu, beserta yang lainnya telah selesai mengurus apa yang perlu di urus. Seperti halnya, Duan Xi yang menyelesaikan pendaftaran dan segala macam kebutuhan untuk Ryura nantinya bertanding dalam kompetisi. Sejak dia mulai meneguhkan hatinya untuk mempercayai Ryura, Duan Xi menjadi lebih tenang dan santai dalam mengurus segala sesuatunya.
Sedang Reychu, tak ada yang menduga kalau diam-diam gadis gila itu tertarik untuk ikut memeriahkan acara dengan mengikuti kompetisi yang sama dengan yang diikuti oleh Ryura.
Dia bahkan menyeringai bak psikopat dan bergumam untuk Ryura. "Sahabat ku tersayang, aku menantikan pertarungan kita didalam arena. Sudah lama tidak bermain bersama. Apakah masih terasa sama seperti di kehidupan yang lalu. Hehehe..."
Siluman kelinci yang mengikutinya sampai tak tahu harus berkata apa saat dia melihat Reychu mendaftar dan mempersiapkan apa yang perlu dia siapkan. Hingga bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Reychu? Tidakkah dia tahu kalau dia ikut dalam kompetisi maka akan ada kesempatan untuk bertarung dengan sahabatnya sendiri?
Tapi, pada akhirnya Chi-chi hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti.
Sementara, Ruobin dibuat kewalahan dengan Rayan yang bergerak riang kesana kemari mendatangi setiap toko aksesoris, sepatu, dan toko pakaian berbeda di Ibukota tersebut. Dia dengan penuh semangat membeli semua yang ia inginkan. Mungkin yang satu itu bukan sesuatu yang mencengangkan lagi bagi Ruobin mengingat ia lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Rayan hingga bisa dihitung dengan jari berapa banyak mereka terpisah untuk waktu lama.
Tapi, yang belum Ruobin ketahui adalah kemampuan Rayan dalam bermanis-manis tiap kali bertemu pria tampan mulai dari anak-anak sampai yang tua. Ruobin dibuat bertanya-tanya, mungkinkah ada kelainan dalam diri sahabat manusianya ini sampai-sampai dia bersikap begitu centil nan genit namun kekanak-kanakan pada setiap laki-laki tampan tanpa memandang usia.
Tidakkah cukup bila hanya menggoda yang muda saja. Hal itu berhasil mengukir kerutan dalam di antara kedua alisnya.
Belum lagi ketika dia mendengar langsung Rayan berkata dengan riang dan sedikit rasa geregetan dalam nada suaranya sambil mengguncang bahunya sendiri dengan manja.
"Ya Tuhan. Aku tidak menyangka kalau akan ada banyak laki-laki tampan di sini. Semuanya benar-benar mencuci mataku! Aku sungguh merasa senang!"
Bila yang lainnya berada dalam suasana hati yang baik. Maka tidak dengan Furby. Kuda Bulan itu malah menunggu dengan setia di gerbang Ibukota Lan-gang sejak beberapa hari yang lalu, hanya untuk memastikan bahwa ia tak akan melewatkan kesempatan untuk melihat kemunculan Ryura yang dia sendiri tidak yakin dapat melihatnya atau tidak mengingat Ryura yang tidak memiliki aura jelas menyulitkan siapapun untuk mendeteksi keberadaannya.
Furby hanya bisa menghela nafas berat, hatinya lesu dan sedih. Ia jelas tak ingin masalah ini berlarut-larut. Tapi, apa mau dikata jika semuanya bermula dari kebodohannya yang dengan berani meragukan Ryura dan merusak kepercayaannya.
Dia dengan lesu bergumam dalam hati. "Ryura... Kembalilah dan biarkan aku bertemu denganmu. Aku sungguh menyesal. Aku ingin meminta maaf padamu. Ryura...!"
Dari kejauhan gerbang Ibukota Lan-gang, deretan kereta kuda megah bahkan lebih megah dari kereta kuda yang datang di hari sebelumnya tampak mulai mendekat. Tak hanya megah, ukurannya juga sangat besar sampai harus di tarik dengan lebih dari 5 ekor kuda yang gagah. Bisa diperkirakan kalau ruang di gerbong kereta itu kemungkinan bisa di isi oleh lebih dari 5 dan kurang dari 10 orang. Belum lagi meja yang tersedia untuk menyeduh teh dan meletakkan camilan.
Didepannya terdapat beberapa penunggang kuda yang sepertinya adalah pada prajurit yang mengawal. Dibelakang kereta besar nan megah itu terdapat 3 gerbong kereta lagi yang ukurannya lebih kecil dari gerbong utama. Kira-kira dapat memuat 5 orang didalamnya dan tidak lebih.
Dari ketiga gerbong kereta terakhir, salah satunya digunakan untuk menampung perbekalan mengingat mereka datang dari jauh.
"Lihat kita sudah mau sampai." seru seorang bocah laki-laki dengan usia kisaran 10 tahunan.
Dia berpakaian menawan sama seperti beberapa pemuda lainnya di dalam kereta. Akan tetapi, dia dibalut dalam warna biru muda.
Meski kereta itu memuat cukup banyak orang. Ternyata hanya diisi oleh 5 pemuda dengan usia yang berbeda-beda. Faktanya, mereka adalah saudara meski dari ibu yang berbeda.
__ADS_1
Yang baru saja berseru adalah si bungsu atau saudara laki-laki kelima. Di sebelahnya tepatnya di tengah adalah saudara laki-laki keempat yang berusia 14 tahun dan disebelahnya lagi adalah saudara laki-laki ketiga yang berusia 17 tahun. Di hadapan mereka ada dua pemuda lagi yang salah satunya mengenakan pakaian lebih megah dengan warna hitamnya, jelas berbeda dengan saudaranya yang lain dimana mereka lebih mengenakan warna yang lebih hidup.
Lalu, yang berpakaian megah itu adalah yang paling tua, usianya sudah mencapai 25 tahun dan disebelahnya adalah saudara kedua dengan usia 20 tahun.
Didalam kereta itu terjadi perbincangan hangat antar saudara. Tanpa dibatasi dengan ke-formalan.
"Ini kedua kalinya aku datang untuk melihat perayaan ini. Tapi, mengapa di tempat kita tidak merayakannya?" tanya bocah itu dengan lugu.
"Itu karena pada dasarnya kita yang memenangkan peperangan. Hanya saja, Ayahanda masih bermurah hati untuk menawarkan perdamaian pada Kekaisaran Tenggara sebelum benar-benar memusnahkan pasukan dari Kekaisaran Tenggara." angkat suara dari pemuda ketiga dengan santainya.
"Untungnya, Kaisar Agung Kekaisaran Tenggara ini tidak bodoh untuk melewatkan kesempatan. Mereka setidaknya tahu keuntungan yang didapat dari usulan perdamaian ini." sambung pemuda kedua usai menyesap tehnya.
"Ooohhh. Begitu..." dia berseru sebagaimana seorang anak kecil. Dia bahkan menyempatkan diri untuk mengintip melalui jendela gerbong sambil berlutut di kursinya.
Suasana di gerbong itu tidak kaku ataupun canggung sama sekali, kelimanya tidak menggunakan tata Krama formal untuk satu sama lain. Padahal mereka adalah sekelompok bangsawan dari Kekaisaran Utara.
Kemungkinan besar, malah mereka adalah anggota Keluarga Kerajaan.
Di tengah-tengah perjalanan, si kecil tanpa terduga melihat sesosok gadis berpakaian putih polos dengan rambut tergerai tanpa ikatan ataupun hiasan yang berjalan seorang diri dengan santainya sambil membawa benda panjang di tangan kanannya.
Si kecil itu terpesona sekaligus bergidik ngeri ketika gerbong berjalan melewati gadis itu, membuatnya dapat melihat dengan jelas wajah datarnya yang tak terganggu sedikitpun dengan gemuruh langkah kaki kuda yang melaju 4 meter jauhnya di samping gadis itu.
Lebih tertegunnya si kecil kala dengan jelas ia melihat kalau gadis itu tak tertarik sedikitpun untuk melihat rombongannya datang.
"Waah. Dia dingin sekali. Mirip seperti hantu." celetuknya tanpa sadar yang ternyata dapat didengar oleh keempat saudaranya yang lain.
"Siapa yang kau maksud?" tanya pemuda keempat yang berada tepat disampingnya sambil menoleh kearah si kecil.
Karena penasaran pemuda keempat itupun ikut mengintip dan ternyata benar, tapi ada sesuatu yang mengejutkannya. Tak lama ia kembali ketempat duduknya.
"Ada apa dengan wajah mu?" tanya pemuda kedua yang duduk dihadapannya.
Ekspresi pemuda keempat tampak berpikir. "Tidak... Ini aneh..." ragu untuk berkata.
"Apanya yang aneh?" kali ini sang pemuda pertama pun angkat bicara setelah sekian lama diam karena bosan.
Suaranya menarik minat yang lain untuk melihat kearah pemuda keempat itu.
"Dia tidak tampak hidup." kata-katanya malah membuat tanda tanya di kepala yang lain, kecuali si kecil.
"Benar! Dia seperti bukan manusia! Bagaimana bisa manusia tidak memiliki aura kehidupan seperti itu?! Wajahnya juga datar!" timpal si bocah dengan antusias. Sebagai seorang kultivator, tentu saja ia mampu melihat hal-hal seperti itu.
Kernyitan tajam terbentuk di kening pemuda pertama. "Dia bukan musuh?" tanyanya yang usai mendengar penjelasan tersebut, ia langsung menggunakan kekuatannya untuk menyisir seluruh tempat itu guna mencari keberadaan orang asing yang mungkin sedang mengincar mereka. Tapi, sayangnya ia tak bisa merasakan apapun selainnya dari rombongannya.
Jelas, perkataan saudaranya membangkitkan rasa waspadanya walau kewaspadaan itu sebenarnya tak pernah luntur. Siapa tahu ada orang yang level kemampuannya lebih tinggi hingga bisa menyembunyikan auranya sampai dapat mengelabui orang lain.
"Em... Kurasa bukan. Dia berjalan lebih dulu dari kita. Sekarang kita belum lama melewatinya. Orang itu juga tidak terlihat tertarik pada rombongan kita. Padahal gerbong kita sudah sangat mencolok." terang si kecil.
"Menarik! Aku jadi penasaran siapa orang itu? Laki-laki atau perempuan?" tanya pemuda ketiga.
__ADS_1
"Dia perempuan." jawab si kecil dan pemuda keempat bersamaan.
"Wah. Ini semakin menarik. Belum pernah melihat perempuan jalan seorang diri tanpa pendamping terlebih tak memiliki aura dalam dirinya." seru pemuda ketiga semangat.
Pemuda kedua dan pertama hanya menggelengkan kepalanya malas. Bagi keduanya, selama bukan orang yang patut dicurigai mereka tidak peduli.
"Baiklah, kita lupakan sejenak tentang gadis itu. Sekarang kita ganti dengan topik lain." seru pemuda keempat yang tiba-tiba memiliki ide yang menurutnya brilian.
"Apa itu?" tanya si kecil lebih dulu antusias.
Melihat keempat saudaranya bergantian dengan senyum misterius diwajahnya. Tapi, siapa sangka momen itu di hancurkan oleh saudara keduanya.
"Singkirkan ekspresi mu itu. Langsung saja keintinya."
"Cih. Kau merusak segalanya saja." meski begitu ia tak membantah untuk langsung mengutarakan idenya. "Jadi, aku memberi usul untuk membuat taruhan!"
"Taruhan?!" terkejut ketiga lainnya kecuali saudara pertama mereka yang malah memilih tidur. Sangat tidak tertarik dengan permainan adik-adiknya. Kekanak-kanakan menurutnya.
"Ya." melirik sekilas saudara laki-laki yang pertama, lalu melanjutkan. "Kita bertaruh mengenai jodoh Kakak kita tercinta ini."
Mendengar itu spontan yang lainnya menoleh kearah pemuda pertama yang tak terganggu sedikitpun meski pembahasan saudaranya kali ini mengenai jodohnya yang tak kunjung ia dapatkan padahal usianya sudah 25 tahun.
Tanpa ada yang tahu, dibalik keacuhannya dia justru menangis getir tanpa air mata sambil terus menantikan kemunculan pujaan hatinya. Dia bukanlah tipe pria dingin hingga tidak ingin menikah. Hanya saja, ia belum menemukan yang mengena dihatinya. Meski bila ia mau, perempuan yang ingin menikahinya mampu ia tumpuk di dalam Harem miliknya.
Sayang sekali, dia hanya menginginkan satu perempuan dalam hidupnya. Tak peduli apakah perempuan itu bisa memberinya keturunan atau tidak. Karena, yang ia butuhkan adalah pendamping hidup bukan mesin melahirkan anak.
Ia juga berbeda dari sang ayah yang memiliki selir. Ia sudah bertekad untuk hanya memiliki satu pasangan hidup saja. Pengalaman Ayahandanya yang ia lihat selama ini membuatnya merasa bahwa memiliki pasangan lebih dari satu itu menyusahkan, terlebih bila menjadi suami tidak bisa adil.
Harem bisa menjadi tempat paling mengerikan yang pernah ada.
Dia menghela nafas dalam hati sambil membatin lesu. "Sayang... Kau dimana...? Aku sudah setua ini menunggumu, tapi kau tak juga ku temui. Tahukah kau betapa inginnya aku membawamu bersama ku sebagai teman hidup ku."
Lanjut ke adik-adiknya.
"Apa taruhannya?" tanya pemuda kedua yang tampaknya merasa itu menarik untuk dimainkan.
"Kita bertaruh, apakah kakak kita ini dapat menemukan Permaisurinya di sini atau tidak." jelas pemuda keempat mengutarakan secara lengkap idenya.
Tanpa ada yang tahu kalau disaat bersamaan gadis datar yang berjalan seorang diri itu mengarahkan pandangannya ke gerbong mewah nan besar paling depan yang kini semakin mengecil terkikis jarak.
Dari sorot matanya yang kosong, tak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan saat melihat gerbong tersebut.
maaf lama.
gimana... ada yang bisa nebak siapa mereka?
Thor bakal keluarin namanya di eps berikutnya.
__ADS_1
selamat membaca... readers sayang....
πππβ€οΈ