
Kratak...
Kratak...
Tubuh Wei Yan Jia pun habis terbakar dan hanya menyisakan tulang belulangnya yang hangus saja. Syok adalah perasaan yang saat ini menyelimuti semuanya.
Tapi, Reychu tak berniat menunggu mereka tersadar dari perasaan tersebut untuk melanjutkan niat membunuhnya ke korban berikutnya. Saat akan memulainya lagi, suara Kaisar Agung Bai menundanya.
"Sudah, sayang. Hentikan ini. Serahkan padaku. Biar aku yang menyelesaikannya." tuturnya lembut dan hati-hati. Dia tahu, kekasihnya sedang tidak menjadi dirinya yang sebelumnya.
Reychu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Pertama kalinya Reychu begitu padanya. Kaisar Agung Bai tak bisa menahan sedih karenanya.
"Sudah berakhir, kekasih ku sayang. Aku sudah tidak bisa berhenti lagi. Kalau kau tak sanggup melihat keluarga mu mati ditangan ku, maka lawan aku..." belum usai Reychu berbicara, Kaisar Agung Bai sudah lebih dulu menyela dengan nada pedih.
"Tidak! Jangan katakan itu! Aku tidak akan pernah bisa melakukannya!"
"Kalau begitu, diam saja ditempat mu dan lihat bagaimana aku akan melawan mereka yang masih ingin melawanku. Akhir dari pertarungan ini, hanya ada kematian. Siapapun yang mati diantara kami... Kau hanya perlu menerimanya." terangnya sambil tersenyum antara penuh cinta untuk Kaisar Agung Bai dan haus darah untuk aksi yang akan ia lakukan lagi.
Dan ini menjadi dilema terberat bagi Kaisar Agung Bai. Kedua belah pihak sangat berarti baginya.
Saat akan membalas lagi, suara pensiunan Kaisar Agung Bai menggema mengalihkan keduanya.
"KETERLALUAN! KAU ORANG HINA! BEGITU BERANI MELAKUKAN KEJAHATAN TEPAT DIDEPAN KU!"
Reychu yang mendengarnya menarik sudut bibirnya merasa lucu. "Keterlaluan?! Ini bahkan belum seberapa. Dia seharusnya tahu konsekuensi dari melewati batas."
Penuturan Reychu membuat berang yang mendengarnya.
"Sombong!" umpat pensiunan Kaisar Agung Bai dengan suara kecil.
Kemudian, Reychu melanjutkan. "Tapi, sebagai orang yang tidak pelit. Akan aku tunjukkan seperti apa itu keterlaluan yang sebenarnya."
"Apa yang..." kalimat protes pensiunan Kaisar Agung Bai terputus saat melihat tindakan sadis Reychu pada keponakan kesayangannya.
Kaki Reychu diangkat guna menggantikan tangannya yang menopang tubuh lemas Lu Xiu Chi agar tetap terduduk. Kakinya di letakkan tepat di pundak Lu Xiu Chi. Sementara kedua tangan lainnya digunakan untuk mengambil sepasang pedang kembar miliknya yang dia anggap sedang lapar akan darah.
Crasss...
Jleb!
Srak!
Gerakannya cepat dan gesit, lebih cepat daripada yang biasanya dia lakukan. Kelincahan dan kelihaian tangannya memainkan pedang pendek kembarnya dalam mencabik-cabik tubuh korban bukan main apiknya.
Tapi, tetap saja itu bukanlah hal yang sedap dipandang.
Tanpa sempat mengeluarkan reaksi penolakan, Lu Xiu Chi sudah di sayat tanpa ampun oleh Reychu. Kebenciannya terhadap Lu Xiu Chi sebagai orang yang dengan tak berhatinya ingin membunuhnya namun takdir justru menggantikan Reychu dengan Chi-chi sudah luar biasa menyayat hatinya.
Wajahnya rusak penuh sayatan, dadanya ditusuk beberapa kali dengan mudahnya, perutnya dibelah dan isinya dihancurkan. Reychu benar-benar tak main-main kali ini.
Dan penutupnya adalah memenggal kepala Lu Xiu Chi yang wajahnya sudah tak dapat dikenali lagi, lalu melemparkannya kebawah kaki pensiunan Kaisar Agung Bai dan Ibunda Permaisuri yang seketika itu juga tak tahu lagi seperti apa perasaan didalam diri mereka. Belum lagi saksi mata yang lain.
Penampakan ini terlalu mengerikan.
Seandainya, mereka tidak melihat sendiri bagaimana Lu Xiu Chi di bunuh hingga mati. Maka, kepala ini tak akan membuat mereka percaya.
Setelah puas melihat reaksi orang-orang, Reychu menendang pundak mayat Lu Xiu Chi kedepan kemudian membakarnya seperti yang ia lakukan saat membakar Wei Yan Jia sebelumnya. Semua itu berjalan dengan mulus hingga tak ada yang berani mengatakan apapun.
Darah dalam tubuh anggota keluarga kerajaan kecuali Bai Min Wang dan Bai Ning Xia mendidih tak terkendali. Sedang dua bersaudara itu masih memiliki pemahaman mengapa Reychu menjadi begini. Mereka berpikir juga akan seperti itu bila orang yang mereka cintai direnggut paksa nyawanya.
Reychu bisa merasakannya dari perubahan aura disekitar dan itu semakin memantik minat Reychu untuk segera meratakan semuanya yang ada di istana ini tanpa peduli lagi bahwa tanah ini berada dibawah pemerintahan Kaisar Agung Bai Gikwang, kekasihnya.
"YAAAAAARRRRGGGGGHHHH...!!!" tiba-tiba dari jauh sebuah suara penuh dendam menggema kian mendekat, bersamaan dengan itu semburan elemen es ditembakkan kearah Reychu tanpa peringatan.
Semua orang menoleh kearah orang tersebut dan mereka mengenalnya, ternyata dia adalah sang Perdana Menteri, Wei Han namanya. Dia baru saja menyusul untuk melihat-lihat kekacauan apa yang sedang terjadi sebelum akhirnya mendapatkan kabar kalau putrinya sudah tewas dibakar tepat didepan mata semua penghuni istana.
Siapa yang tidak mengamuk setelah mendengar hal itu. Karena itulah, Wei Han disini. Dia ingin melenyapkan Reychu untuk membalaskan dendam putrinya yang mati sia-sia ditangan Reychu.
Akan tetapi, Reychu cukup tepat waktu untuk menghindari serangan mendadak tersebut.
Kaisar Agung Bai yang melihatnya hendak maju, namun tangan Ryura yang diangkat ke depan dadanya menghentikannya.
"Minggir!" dinginnya Kaisar Agung Bai, tak lagi peduli kalau Ryura adalah istri sahabatnya. Di otaknya hanya ada Reychu dan keluarganya. Dia masih diselimuti kekacauan dan dilema batin.
"Tunggu. Belum waktunya. Bila kau maju saat ini. Kau hanya akan menjadi pengganggu!" tukas Ryura dengan tetap menatap pertarungan Reychu dan Wei Han, tanpa melihat bahwa wajah Kaisar Agung Bai sudah merah padam.
Melihat ekspresi sahabatnya itu, Ye Zi Xian segera angkat bicara. "Gikwang, aku tak akan biarkan kau macam-macam pada istri ku! Kau dengar?!" suara Ye Zi Xian berdesis tajam.
Itu cukup membuat Kaisar Agung Bai mendengus kesal dengan amarah yang belum juga reda. Demi persahabatan dia tidak menindaklanjuti.
Pikiran Kaisar Agung Bai berkecamuk, dia berpikir keras. "Akankah ini akhirnya?!" batinnya bingung.
BRUGH!
Mata pensiunan Kaisar Agung Bai memerah marah, melihat tubuh Wei Han si Perdana Menterinya ambruk begitu saja dan menjadi cangkang kosong. Menyaksikan kematian yang beruntun tepat didepan matanya membuat dia bertanya-tanya dalam hati.
"Bagaimana bila ini terus berlanjut? Berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan? Dan... Akan jadi apa negara yang di pimpin keluarganya bila terus begini?"
Ini semua salah Reychu, itulah pikirnya. Reychu bisa melihatnya dari sorotan tajam penuh dendam dalam mata pensiunan Kaisar Agung Bai dari tempatnya berdiri dan gadis itu tidak mengelak.
Benar! Reychu memang akan menghabisi semuanya tanpa sisa. Tak peduli apakah ditengah jalan akan ikut merenggut nyawa tak bersalah seperti yang baru saja terjadi. Sebagai seseorang yang daya pikirnya gila, kapan hukum kemanusiaan masih diterapkan?
Inilah Reychu Velicia.
"Bunuh aku segera atau aku yang akan membunuh kalian semua." seru Reychu pongah.
"HYAAAAAAGGGHHH... KEP*RAT KAU! RASAKAN INI...!!!" teriak ayahanda Kaisar Agung Bai seraya menghentakkan kakinya ketahan dan maju menyerang Reychu.
Melihat hal itu yang lainnya ikut maju. Bagaimanapun itu adalah ayah mereka, ayah negeri mereka yang bergerak. Kapan mereka berpikir untuk membiarkannya melakukannya seorang diri.
Kaisar Agung Bai semakin dibuat membeku ditempatnya. Dia tidak bisa berpihak pada salah satu diantara keduanya. Reychu belahan jiwanya, keluarga kerajaan adalah kerabatnya yang tak pernah berkonflik. Ini berat bagi Kaisar Agung Bai hingga tangannya hanya bisa terkepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih dan rasanya seperti kuku-kukunya siap untuk menembus telapak tangannya.
Momen menegangkan ini disaksikan oleh penghuni istana yang lain. Mereka tak tahu apakah harus maju atau tidak. Kedua belah pihak sama-sama kuat luar biasa. Apalagi sebagian besar mereka takut mati.
Tak peduli seberapa kuat ilmu beladiri mereka dan seberapa tinggi tingkat kultivasi mereka, pemandangan didepan mata ini membuktikan bahwa bila mereka maju hanya ada kematian yang menunggu. Karena pada dasarnya, kekuatan mereka belum sampai sehebat itu.
Ternyata keadaan kacau ini memberi Lim Qian Fei celah untuk mengambil kesempatan. Sayangnya, baru saja akan berbalik wajah datar Ryura sudah muncul tepat didepan matanya. Itu mengejutkannya, tak pernah terpikirkan olehnya kalau Ryura semampu ini.
Apakah dia tahu sesuatu? Pikirnya.
"Mohon menyingkir, Nyonya Ye. Saya harus kembali untuk mengumpulkan bala bantuan." tuturnya masih menjaga sisi elegannya dengan alibi.
Tapi, yang diajak bicara adalah Ryura. Pernahkah dia merespon? Tidak. Karena itu, Ryura tidak menjawab dan hanya menatapnya saja. Tatapan kosong yang seolah bisa menembus jiwa seseorang. Itu jelas-jelas mengganggu.
Itulah tatapan yang Ryura lakukan saat menatapnya dibeberapa kesempatan waktu lalu.
Keduanya diam dengan saling tatap. Lim Qian Fei mulai tak sabar. Sedang di tempat yang tidak terlihat sekelompok orang berpakaian hitam tengah mengintip menyaksikan kehancuran yang berlangsung.
"Tuan, kapan kita bergerak?" tanya salah satu bawahannya.
"Tunggu perintah." jawabnya dingin dan sarat akan dendam meski bukan ditujukan untuk bawahannya yang bertanya.
Itu karena, Sun Duo sudah melihat Ryura dari ia muncul. Dia tak menyangka musuh benar-benar selalu bisa ditemukan di persimpangan jalan.
Dia tak sabar untuk membalasnya, belum lagi melihat kini gadis itu yang entah bagaimana bisa muncul dibelakang gadis yang dia tak tahu siapa. Padahal sebelumnya pandangannya tak bergeser sedikitpun dari sosok Ryura. Tiba-tiba, gadis itu sudah pindah saja.
Keningnya berkerut tanpa kata.
"Seberapa kuat dia?" batinnya.
__ADS_1
Pertarungan tak terhindarkan oleh Reychu dan anggota keluarga kerajaan terutama pasangan penguasa sebelumnya. Pasangan itu terlihat sekali ingin menghabisi Reychu saat ini juga. Reychu pun tak lagi main-main, dengan kebrutalannya dia menyerang mereka yang maju kepadanya. Tak dipedulikan lagi siapapun itu.
Kaisar Agung Bai disisi lain menyaksikan semua itu dengan sedih. Bukan ini yang dia mau. Tapi, apa yang bisa dia lakukan bila pada akhirnya harus tetap begini.
Ye Zi Xian hanya fokus pada Ryura, tepatnya keselamatan Ryura. Tak ada yang luput dari penglihatannya bila menyangkut istrinya itu.
Disela-sela kekacauan yang terjadi Rayan, Shin Mo Lan, dan Ruobin tiba juga ketempat sahabat mereka berada. Pertama yang mereka lihat adalah aksi Reychu yang menyerang keluarga kerajaan. Karena, pertempuran itu terlalu mencolok.
"Sudah berakhir..." celetuk Rayan kala melihat Reychu menyerang tanpa ampun.
"Apa maksudmu, sayang?" tanya Shin Mo Lan agak kurang mengerti, meskipun ia tahu itu ditujukan untuk Reychu didepan sana.
Menunjuk Reychu dengan dagunya dan berkata. "Reychu sudah tidak bisa dihentikan. Satu-satunya cara menghentikannya hanyalah membunuhnya. Karena bila dia sudah dalam mode ini, tak ada kesempatan untuk mundur. Kenapa orang-orang suka mencari kematian?! Huuh..."
Menatap pertarungan itu dengan kening berkerut, Shin Mo Lan berkata. "Apa dia pernah dalam mode ini sebelumnya?" pertanyaan itu menarik perhatian Kaisar Agung Bai yang berada didepannya.
Telinga pria berambut merah itu segera berdiri tegak, siap mendengarkan.
Rayan mengangguk membenarkan. "Hm... Namanya Tina. Dia adalah adik angkat Reychu yang paling dia sayangi. Apapun akan Reychu lakukan untuk membahagiakannya. Reychu benar-benar totalitas bila mencintai seseorang. Sayangnya, nasib Tina tidak bagus. Dia diperkosa hingga mati oleh seorang baj*ngan. Begitulah Reychu kehilangan kesayangannya. Tapi, karena dunia kami memiliki hukum yang melarang pembunuhan terbuka. Reychu hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk membunuh pria itu."
Menoleh kearah Rayan. "Dia sudah membunuhnya?"
Lagi, Rayan menganggukkan kepalanya. "Em... Sudah. Itu juga adalah tugas terakhir kami sebagai pembunuh bayaran sebelum akhirnya kami terdampar di zaman ini." terang Rayan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Didepan Kaisar Agung Bai menyimak dengan seksama tanpa ada yang terlewatkan seraya menyaksikan pertandingan sengit Reychu dan keluarganya.
Apa yang baru saja didengarnya, membuat ia tak bisa serta-merta marah pada Reychu atas tindakannya saat ini hanya karena tidak bisa bertahan sedikit lebih lama. Bagaimanapun Reychu juga sudah mengingatkan semua orang sebelumnya. Sayang, orang-orang ini kebanyakan memiliki pikiran pendek.
BOOM!
DUAR!
Perpaduan antara api dan es menciptakan kabut asap yang seperti serpihan kaca, ledakannya tersebar hingga melukai siapa saja yang ada disana meski hanya luka gores.
Ledakan tersebut tercipta oleh pertarungan antara Reychu dan pasangan penguasa sebelumnya. Tapi, kekuatannya seimbang hingga kedua belah pihak sama-sama terluka. Akan tetapi, bila pasangan tersebut meringis kesakitan maka Reychu justru terkekeh seolah takjub dengan pencapaian pertarungan mereka hingga sampai pada tahap ini.
"Aku terluka?! Hahahaha... Ini benar-benar mengasikkan!" itu saja katanya.
Sebenarnya tak hanya pasangan itu yang terluka, anggota keluarga kerajaan yang ikut membantu pun turut terluka. Ada yang parah dan ada yang tidak hingga masih bisa bertahan.
"Kau gila!" desis Bai Lin Wang disela-sela rasa sakitnya.
"Ini bukan kali pertama kau tahu!" balas Reychu dengan nada mengejek.
Dendam Pensiunan Kaisar Agung Bai tak juga surut meski sudah sampai seperti ini. Dia masih ingin membunuh Reychu hingga dia hilang dari muka bumi ini.
"DENGARKAN AKU WAHAI RAKYAT KU! BERGABUNGLAH DENGAN KU UNTUK SEGERA MELENYAPKAN PEMBUNUH GILA INI! KALIAN YANG BERANI AKAN DIBERIKAN HADIAH BESAR BERUPA KESEJAHTERAAN SEUMUR HIDUP!" teriakan pensiunan Kaisar Agung Bai menggema bagai guntur, menyentak pikiran semua orang.
Mereka adalah orang-orang zaman kuno, tidak sulit untuk membuat mereka tergiur akan sesuatu yang menguntungkan bagi mereka.
Reychu hanya tersenyum miring mendengar pengumuman tersebut.
Hal itu juga masuk ke telinga para pembunuh bayaran. Hadiahnya pun cukup menarik. Sun Duo juga berpikir bahwa inilah saatnya untuk maju, dengan begitu tak akan ada yang curiga bila ada mereka di dalam lingkup istana karena terjadinya peperangan skala kecil di dalamnya dan pasti itu mengaburkan pandangan orang-orang tentang siapa yang kawan dan lawan. Sebab saat ini, orang yang diburu untuk dibunuh adalah Reychu.
Pengumuman itu pula menyentak Kaisar Agung Bai Gikwang dan yang lainnya. Mereka tak menyangka kekacauannya akan berkembang sejauh ini.
"Ini buruk! Bagaimana bisa Reychu melawan mereka semua?!" pekik Rayan dengan suara tertahan.
"Kau ingin membantunya?" tanya Shin Mo Lan meski ia tahu jawabannya.
"Ya! Sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya dalam keadaan sulit!" lugas Rayan penuh keyakinan.
Mendengar itu, Shin Mo Lan hanya bisa mengikuti. Dia juga tak bisa tinggal diam melihat istrinya bertarung sendirian. Begitu pula dengan Ruobin.
Ye Zi Xian tak perlu bertanya, karena Ryura sudah pasti akan turut bergabung. Jadi, dia hanya akan menyusul guna melindunginya bersama Furby yang juga tak tinggal diam.
Lim Qian Fei yang mendengar itu segera bertindak. Karena dia tahu, dengan kekacauan seperti ini serangannya terhadap Ryura tak akan menarik perhatian. Namun, dia terlalu meremehkan Ryura.
Pertarungan keduanya sama sekali tidak mencolok dibanding pertarungan sekelas Reychu dan keluarga kerajaan.
Disela-sela pertarungan beladiri keduanya, Lim Qian Fei berujar dingin. "Menyerahlah! Dan bawa temanmu itu enyah dari sini!"
Bugh!
Shaa...
Sheek...
Duk!
Ryura diam tanpa perubahan ekspresi dan ini adalah pertama kalinya Lim Qian Fei bertemu dengan gadis seperti itu.
Pertarungan keduanya menarik para pembunuh bayaran. Saat mereka memutuskan keluar untuk menyerang Ryura, Ye Zi Xian disisi lain yang tak pernah berhenti mengawasi ikut maju setelah melihat kemunculan mereka.
Dia sampai berdesis marah. "Mereka benar-benar mencari kematian!"
Akhirnya, tak ada yang tidak masuk kedalam peperangan kecil ini. Bahkan para penghuni istana lainnya yang sebelumnya memilih tidak ikut campur kini bergabung karena tergiur dengan hadiah yang dijanjikan. Mereka bisa membayangkan bila mereka mendapatkannya. Mereka tak akan mengalami kesulitan hidup untuk jangka panjang.
Ini sepadan dengan usaha mereka membantu melenyapkan Reychu. Tentu, tidak semuanya mau melakukannya
Rayan maju dengan pil peledak ditangannya bersama dengan suami dan Ruobin. Reychu menyerang tanpa henti seperti akan mengakhirinya hingga tetes darah penghabisan dan kini dibantu oleh Kaisar Agung Bai yang sudah memilih untuk berpihak pada siapa setelah melihat situasi genting saat ini. Sedang, Ryura kembali reuni dengan sekelompok orang yang pernah dibiarkan hidup bersama Ye Zi Xian dan Furby, usai Furby mengamankan jasad Chi-chi.
Diluar lingkup istana, tak ada yang tahu perihal kekacauan hebat tersebut, sebab sudah diisolasi dari dunia luar.
Namun, alam sepertinya menyambut tragedi tersebut hingga langit pun mulai menggelap dan bergemuruh, satu persatu kilatan petir menyambar seluruh negeri Es dengan kuatnya.
Fenomena alam itu membuat masyarakat diluar istana segera kembali merumah masing-masing untuk berlindung dari bencana alam yang bisa saja akan terjadi. Segera, ibukota mendadak sepi sehingga suara gemuruh langit menjadi semakin jelas.
Didalam istana, darah berceceran dimana-mana, bau amis bercampur di udara yang sebelumnya bersih kini telah terkontaminasi. Banyak mayat bergeletakan sembarangan, ada juga yang tidak ikut bertarung kini menggigil meringkuk disudut tempat yang mereka pastikan aman sebelumnya.
Itu dilakukan supaya berada jauh dari bahaya.
Reychu masih tampak bertarung tanpa jeda dengan anggota keluarga kerajaan beserta rakyatnya dibantu oleh Kaisar Agung Bai Gikwang. Hal itu membuat anggota keluarga kerajaan kecewa pada Putra Mahkota mereka yang sudah menjadi Kaisar Agung saat ini.
Begitu pun Ryura, peningkatan pesat kemampuan lawannya cukup merepotkannya. Akan tetapi, itu bukan masalah. Lagipula, Ye Zi Xian dan Furby terus berada sisinya.
Sama halnya dengan Rayan. Tak hanya bertarung, Rayan juga menggunakan pil untuk membantu menyingkirkan mereka yang tidak berkepentingan, dibantu oleh Shin Mo Lan dan Ruobin.
Tidak ada dari mereka yang tidak mendapatkan luka. Baik itu luka kecil maupun luka besar, semuanya tak luput dari hal itu.
Bahkan keluarga kerajaan dan penghuni istana banyak yang tumbang karena terluka.
Puncak pertempuran hebat ini, Ryura dan suami serta Furby berhasil membunuh para Organisasi Pembunuh Bayaran tersebut dan menyisakan Lim Qian Fei yang kelelahan dan terluka saja.
Rayan juga demikian, namun karena tidak ada musuh yang berarti disisinya, bagiannya hanya menyingkirkan mereka-mereka yang menjadi pengganggu tambahan.
Reychu disisi lain berada di posisi terberat. Dia masih melawan anggota keluarga kerajaan yang masih tersisa. Sebab, sebagian dari mereka telah tumbang dalam kondisi sekarat.
Adu kekuatan antar kultivator diantara keduanya masih berlangsung.
"Hebat sekali! Kau masih bisa bertahan hingga saat ini... Hah... Hah... Hah..." nafas Bai Lin Wang terengah-engah sembari menahan sakit pada luka disekujur tubuhnya.
Saat ini dia menggantikan pasangan pensiunan penguasa itu, karena sepasang itu juga tak pelak akan mendapatkan luka yang serius.
"Hentikan ini, Lin Wang!" pekik Kaisar Agung Bai dengan kondisi yang tak beda jauh. Dia lelah fisik dan batin, juga sakit fisik dan batin.
"Kakak Kaisar Agung, jujur saja aku kecewa padamu. Kami anggota keluarga mu, tapi kau lebih memilih melindunginya daripada kami. Memang apa yang sudah dia berikan hingga kau seperti ini. Apa itu tubuhnya?" sarkas Bai Lin Wang masih bisa mengatakannya.
"Bai... Lin... Wang!" eja Kaisar Agung Bai dengan marah. "Jangan sekali-kali kau menghinanya. Ini adalah konsekuensi dari kegigihan kalian untuk menjauhkan aku darinya. Kau masih bisa menyalahkan orang lain!" lanjutnya.
__ADS_1
"Huh! Kau juga sepertinya sudah ikut gila, kakak Kaisar Agung. Sampai-sampai kau lebih suka gadis gila daripada gadis normal. Padahal, kau bisa tinggal tunjuk untuk mendapatkan seorang Permaisuri yang lebih baik lagi darinya." kini Bai Fuwang yang bicara dengan nada tak gentar walau sudah kelelahan.
"Kau akan tahu saat kau sudah jatuh cinta, Fuwang. Kekurangan pasangan mu tak akan pernah menjadi nilai minus di matamu!" balas Kaisar Agung Bai tak kalah gentar.
BRUGH!
Percakapan mereka terganggu oleh dentuman keras itu. Saat mengarahkan pandangannya ke asal suara itu, mereka dapat melihat Lim Qian Fei disana. Tanda tanya besar tercetak jelas dibenak mereka.
Mengapa Lim Qian Fei diperlakukan seperti itu?
"Ukh!" rintihnya lebih kesakitan. Tubuhnya yang sudah terluka dan lelah dibanting dengan begitu tidak manusiawi benar-benar membuatnya bisa merasakan berkali-kali lipat rasa sakitnya.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Bai Fuwang bertanya pada Ryura yang ternyata menjadi pelaku pelemparnya.
Tapi, bukannya menjawab Ryura hanya melirik sekilas lalu berbalik kearah Reychu yang melangkah maju dengan biasa saja seperti tak pernah terluka, meski pada dasarnya tubuhnya dalam kondisi yang sama seperti yang lain.
Sakit dan lelah.
"Dia juga?" tanya Reychu langsung ke intinya.
"Hm." jawaban Ryura hanya itu.
Reychu pun menarik seringai mendengarnya. "Menjijikkan!" kata itu menarik perhatian Lim Qian Fei yang terduduk di tanah untuk mendongak menatap Reychu.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Lim Qian Fei seolah tak tahu apa-apa.
"Masih ingin bermain sandiwara? Tapi, maafkan aku. Aku tak berniat untuk bermain sandiwara bersamamu. Seorang gadis yang sudah memiliki tunangan namun masih berani memikirkan pria lain dan itu masih berada ditempat yang sama. Bukankah hal itu menjijikkan?" jelas Reychu.
Bai Fu Wang yang mendengarnya berkata dengan penasaran. "Apa maksudmu?" tubuh Lim Qian Fei sudah bergetar samar. Dia masih berusaha untuk tenang agar tidak terbongkar.
Menoleh kearah Bai Fu Wang dengan kata berpura-pura ikut prihatin. "Kau tidak tahu?! Dia..." menunjuk Lim Qian Fei. "... Mencintai Bai Gikwang ku. Berada diposisi terdepan dalam kegelapan untuk memprovokasi orang-orang agar membenciku. Setelah aku tahu, aku sudah berniat untuk menutup mata atas perlakuan kalian padaku. Tapi, sepertinya kebencian tak semudah itu di hilangkan hingga kalian menjadi semakin gencar untuk melenyapkan ku. Jadi, aku bisa apa selain menerima undangan permusuhan dari kalian?!" keterangan Reychu membuat tak hanya Bai Fu Wang saja yang terkejut, bahkan Kaisar Agung Bai sendiri turut terkejut. Sama sekali tak menyangka akan mendengar kabar tersebut.
Dan anggota keluarga lain yang masih memiliki kesadaran pun turut mendengarnya.
"Ti...tidak! Jangan percaya padanya! Dia mengarang cerita!" Lim Qian Fei berusaha membantah.
Bai Fu Wang tidak mendengarkan usaha bantahan itu, tapi dia langsung berujar. "Tidak heran. Kau masih baik-baik saja setelah aku mengatakan tentang untuk tidak terlalu berharap cinta padaku. Ternyata kau sudah menyiapkan hal ini..." Bai Fu Wang seperti sudah bisa menebak akan jadi apa kelanjutannya.
"Tidak! Dengarkan aku dulu!" Lim Qian Fei masih ingin membantah, tapi Bai Fu Wang sudah lebih dulu memalingkan wajahnya.
"Hahaha... Menyedihkan sekali." sarkasnya Reychu.
Akan tetapi, tiba-tiba keadaan berbalik...
"Menyedihkan?! Tidak!" nada suara Lim Qian Fei berubah. Seperti sifatnya yang misterius dan licik selalu memiliki rencana cadangan di sakunya.
Ryura hanya memandang kosong dan datar kearah gadis itu seperti sudah tahu ini akan terjadi.
Lim Qian Fei dengan susah payah bangkit hingga dapat berdiri kembali. Kemudian, menatap Reychu seperti Reychu adalah musuh bebuyutannya.
Reychu sendiri hanya menaikkan alisnya dengan santai.
"Kau terlalu membanggakan diri mu sendiri. Kau lupa bahwa masih akan ada yang lebih kuat lagi daripada dirimu." Reychu tak menjawab dan hanya menunggu kelanjutannya.
"Dan aku yang akan mengajari mu apa artinya bersikap rendah hati." nadanya sendiri tak bisa tidak lebih jelas kesombongannya dan dia malah ingin mengajari Reychu cara merendah.
Betapa konyol!
Setelahnya, sebuah kekuatan terkumpul di telapak tangannya. Orang-orang yang melihatnya menunggu apa yang akan terjadi setelahnya. Berbeda dengan anggota keluarga kerajaan yang tahu apa itu.
"KAU GILA!" Pekik Bai Fu Wang dengan ganas.
" Benar! Aku juga bisa gila!" membalas umpatan tunangannya, lalu berbalik lagi kearah Kaisar Agung Bai yang berdiri disebelah Reychu. Dia mulai menunjukkan ekspresi wajah yang tidak wajar. "Yang Mulia... Kau tidak seharusnya melihat dia. Aku yang paling dekat, kenapa harus menjadi dia?"
Reychu mendengus geli mendengarnya.
"Aku sudah lama menyukai mu. Tidak! Aku mencintaimu! Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak ketika aku dijodohkan dengan Pangeran kedua. Tidakkah Yang Mulia melihat betapa aku tidak menyukai hal itu. Seharusnya Yang Mulia memiliki belas kasih kepadaku. Seharusnya Yang Mulia mengasihani ku!" Lim Qian Fei terus melantur sembari mengumpulkan kekuatan di telapak tangannya yang ternyata adalah jurus terlarang.
Anggota keluarga kerajaan tak menyangka akan melihat jurus terlarang dipergunakan didalam istana ini.
"LIM QIAN FEI!" teriak ayahanda Kaisar Agung yang ternyata masih bisa bertahan, kecuali istrinya yang tengah dipeluknya.
Dia tak menduga, bahwa anak penasihat kepercayaannya juga mempelajari hal yang terlarang itu. Dia marah karena merasa dikhianati.
Tapi, Lim Qian Fei menulikan pendengarannya dan hanya fokus pada Kaisar Agung Bai.
"Dasar gila." gumam Reychu sama sekali tak terpengaruh dengan adegan mellow dramatisnya gadis itu.
Kekuatan itu kian membesar dan melahap tubuh Lim Qian Fei. Penampakannya pun kini menjadi mengerikan serta memberikan ancaman terhadap orang-orang yang juga berada disana.
Yang berada dekat dengan Lim Qian Fei mulai bergerak mundur dan menjauh. Mereka cukup waras untuk tidak mengorbankan nyawa sendiri.
Kaisar Agung Bai menyipitkan matanya saat melihat ada yang aneh pada cara kerja jurus terlarang yang digunakan oleh Lim Qian Fei.
"GAWAT! MENJAUH SEGERA! DIA MELAKUKAN KESALAHAN! JURUSNYA GAGAL!"
Teriakan peringatan dari Kaisar Agung Bai membuat orang-orang kalang kabut untuk berusaha melarikan diri. Bai Fu Wang pun memilih mundur untuk menyelamatkan diri. Siapa yang peduli dia tunangannya atau bukan? Dia pergi sambil menyeret saudara-saudaranya yang masih bisa diselamatkan.
Sementara Lim Qian Fei mulai kehilangan kesadarannya sebab tersedot oleh kekuatan terlarang itu. Karena semestinya bukan begitu cara kerjanya.
Jurus terlarang yang digunakan oleh Lim Qian Fei seharusnya hanya akan meledakan lingkungan sekitar dengan radius tertentu tergantung dengan seberapa jauh tingkat kultivasinya. Jurus ini menggunakan qi dalam jumlah besar dengan cara menghisap qi dari alam dengan teknik rahasia yang menjadikannya jurus terlarang, sebab menarik qi dari luar kedalam tubuh dalam jumlah besar bukan perkara mudah. Resiko bila tak dapat mengendalikan jalan masuknya qi akan mengakibatkan kesalahan fatal dan kesalahan itu adalah membuat dirinya ikut meledak dengan daya ledak yang lebih besar daripada saat jurus itu bisa di kontrol dengan benar.
Namun, apa boleh buat saat seseorang terlalu berambisi akan sesuatu tanpa mengukur batas kemampuannya.
Alhasil...
BOOM!
Tubuh Lim Qian Fei menjadi bom peledak yang langsung meluluhlantakkan sebagian besar istana. Ledakan itu pun mengakibatkan guncangan pada tanah hingga terasa seperti gempa besar dan ibukota adalah yang paling dekat untuk merasakan dampaknya.
Rakyat segera ketakutan.
Sementara didalam istana...
Tidak ada yang lebih memprihatinkan lagi daripada ini.
Sebagian besar bangunan hancur menjadi puing-puing tak berbentuk, bahkan bila dijadikan puzzle pun sudah tak bisa. Korban jiwa juga menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Termasuk beberapa anggota keluarga kerajaan dan diantaranya 3Ry, dua siluman mereka, dan para pria menjadi sekarat.
Akan tetapi, yang paling kecil kemungkinan untuk selamat adalah 3Ry. Mereka pada dasarnya, belum benar-benar menjadi seorang kultivator hebat. Hanya saja, kemampuan bawaan mereka dari zaman modern menjadi tameng mereka selama ini. Alhasil, dampak akibat dari ledakan pun tak bisa mereka hindari.
Hal itu menghancurkan perasaan tiga pria disana yang masih bisa berdiri walau sulit.
Kehancuran ini terlalu menyakitkan...
Alhamdulillah up lagi...
puas gak. ni aku bikin sampe 4k kata lho...
dan setelah ini kalian akan tidak sabar menunggu kelanjutannya.
spoilernya ya...
mereka berpisah!
eaaakkkk...
ditunggu say...
__ADS_1
ummuach...😘