
Selang 30 detik, penawar ampuh buatan Rayan pun mulai bereaksi. Perlahan tapi pasti, keaktifan Ryura mulai berkurang hingga berhenti dan jatuh tertidur.
Ye Zi Xian yang memperhatikannya sejak tadi akhirnya bisa bernafas lega. Tak ingin mengganggu istirahat kekasih hatinya, Ye Zi Xian segera merapikan pakaian Ryura yang sedikit terbuka lalu menidurkannya. Diselimuti tubuh Ryura dengan lembut penuh perhatian, setelahnya barulah dikecup seluruh bagian wajahnya mulai dari dahi, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir.
Ditempat itu dia mendiamkannya agak lama. Seperti tengah mencari tambahan kekuatan dari sana.
Baru kemudian, dia meninggalkan Ryura tertidur diranjangnya, sedang dirinya masih harus melakukan sesuatu yang penting.
Dengan wajah dingin nan tak tersentuh, ditambah amarah yang masih bersemayam di dadanya dan siap untuk meledak kapan saja, Ye Zi Xian beranjak dan keluar untuk kembali bertemu dengan yang lainnya. Pasalnya, dia masih ingin mengetahui kronologis kejadian yang sebenarnya.
Pantang baginya untuk diam saja, terlebih ini berkaitan dengan Ryura.
Ruang tamu di paviliun Mutiara.
Rayan dan Reychu terlibat percakapan rahasia, sementara yang lainnya hanya bisa memandangi keduanya dengan kening berkerut lantaran penasaran.
Isi percakapan kedua gadis bersahabat itu.
"Kau tampak gelisah. Kenapa?" tanya Reychu gamblang.
"Kecilkan suaramu!" pekik Rayan berbisik.
"Kenap..." belum usai ia berucap, mulutnya sudah lebih dulu di bekap.
"Kecilkan suaramu, Reychu Velicia!" tekan Rayan dengan sorot mata yang menunjukkan bahwa ia sedang tak ingin main-main.
Melihat itu, Reychu pun mau tak mau mesti ikut bekerjasama dengan sahabatnya ini.
"Baik! Akan aku ikuti mau mu! Sekarang katakan padaku. Ada apa?" tanyanya dengan suara berbisik hingga hanya bisa didengar oleh keduanya.
"Ryura!"
"Kenapa dengannya?"
Melirik jengkel, tapi tetap menjelaskan. "Dia baru selesai dengan hibernasinya, bukan?" tanya Rayan was-was.
Reychu mengangguk membenarkan. "Yup! Lalu, apa masalahnya?! ..." dia masih cukup santai saat mengatakan itu, tapi detik berikutnya matanya terbelalak lebar, baru kemudian dia segera menoleh kearah Rayan yang memberi tanda anggukan seolah paham betul apa yang tengah dipikirkan sahabatnya.
"Lantas, bagaimana...?" tuntut Reychu.
"Terlebih dulu. Kita harus membuat pertemuan ini berakhir dengan cepat. Aku khawatir kalau sampai terlambat..." cemas Rayan sampai tak melanjutkan kalimatnya.
"Berbahaya!" serunya tepat.
Lalu, dengan mata mengejek Reychu berceletuk ria untuk Rayan. "Heh! Kau bilang begitu, karena takut gagal menjadi bagian dari keluarga ini bukan?"
Cuiiit...
"Ouch. Kenapa mencubit ku?" keluh Reychu meski tak sakit ia sempat kaget sedikit.
Rayan sebagai pelaku mendengus kesal karenanya. "Berhenti cari masalah. Kita ini sedang dalam masalah besar." ingat Rayan dengan tegas.
Menghela nafas malas, Reychu memilih mengiyakan saja. "Baiklah. Apalah aku ini yang selalu ditindas." katanya mendramatisir dirinya sendiri.
Rayan yang melihatnya mengernyit jijik. Merasa jengkel juga melihat kelakuan sahabatnya ini.
Abaikan Ruobin dan Chi-chi. Kedua siluman itu memilih duduk anteng secara berdampingan sembari memakan camilan yang disediakan oleh pelayan atas perintah Kaisar Agung Bai.
Bukan tak peduli, dua siluman itu yakin kalau pada akhirnya mereka juga akan diberitahukan.
Sedang dua pria yang sejak tadi mengawasi tindak-tanduk kedua gadis yang ditaksir pun mulai angkat bicara diantara keduanya.
__ADS_1
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Kaisar Agung Bai bingung meski ia sudah sempat menguping menggunakan kemampuannya. Tapi, masih tidak paham arah pembicaraan mereka.
"Entahlah. Terlalu dirahasiakan." Shin Mo Lan yang juga penasaran hanya bisa bertahan agar tidak terlalu menunjukkan rasa ingin tahunya. Ia tak memiliki kemampuan seperti Kaisar Agung Bai, tapi dia tahu keduanya sedang membicarakan hal yang penting.
Tindakan Rayan dan Reychu walau samar nyaris tidak terlihat, dapat dengan mudah ditangkap oleh inderanya.
Selang setelah keduanya mengatakan itu, suara derap langkah kaki terdengar tegas namun kali ini sepertinya penuh dengan penekanan datang kearah mereka.
Tanpa permisi juga, dia langsung duduk di kursi yang kosong diantara yang lainnya.
"Gadis itu sudah baikan?" tanya Shin Mo Lan.
"Hm." deheman itu terasa dingin, apalagi saat ia benar-benar tak berniat berbicara panjang lebar dan memilih langsung menatap tajam kedua gadis didepannya.
"Katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak berminat berbelas kasih sekarang! Jadi, kalian harus tahu apa yang mesti kalian lakukan."
Kedua gadis itu, tak bisa menahan untuk tidak menelan ludah mereka masing-masing. Ini terlalu menegangkan. Bukan karena takut, lebih kepada tekanan yang diberikan. Cukup mengintimidasi.
"Zi Xian, jangan mengasari mereka!" suara Kaisar Agung Bai melayang penuh peringatan.
"Selama jawaban mereka membuat ku puas. Mereka akan aman!" membalas ucapan Kaisar Agung Bai sembari melirik tajam sahabatnya.
Mata itu seperti berbicara bahwa 'aku sedang serius!'
Menghela nafas tanda mengalah, namun tetap siaga. "Baik. Selama kau tidak melukai mereka." peringatannya.
Tak lagi membalas ucapan sahabat sekaligus atasannya, Ye Zi Xian kembali mengarahkan matanya kepada kedua gadis disana.
Ruobin dan Chi-chi tak kalah siaga disisi kedua sahabat manusia mereka.
"Kenapa diam?!" sarkas Ye Zi Xian benar-benar mampu mengurangi usia seseorang saking menakutkannya.
Beruntunglah, Rayan dan Reychu sudah terbiasa hidup antara kehidupan dan kematian.
Melirik sekilas Reychu, Rayan memilih ambil bagian. Dia tak ingin mulut Reychu membuat segalanya semakin runyam.
"Tuan Ye. Tolong percayakan ini pada kami!" kening Ye Zi Xian berkerut tidak puas. Jelas bukan ini yang ingin ia dengar.
"Apa kalian pikir aku tidak cukup mampu mencarinya sendiri?" daya tekan yang Ye Zi Xian berikan benar-benar mampu menyesakkan dada.
Isi kalimat itu bermakna bahwa kalau Rayan tidak mau buka mulut, Ye Zi Xian bisa dengan mudah menemukan kebenaran yang dia inginkan dengan kemampuannya.
"Saya tahu. Kami tahu itu. Tetapi, sungguh biarkan masalah ini kami yang tangani." lugas Rayan sembari menampik tekanan pria didepannya yang sudah memancarkan aura kegelapan nya.
Sejenak ia berpikir. "Pasangan yang Ryura pilih benar-benar sama mengerikannya!"
"Maksud saya. Biarkan kami menanganinya lebih dulu. Kalau seandainya masalah ini gagal kami tangani... Kami tidak akan melarang anda untuk bergerak."
"Itu membuang-buang waktu kau tahu!"
Mengangguk mengiyakan. "Ya. Kami sangat tahu. Tapi, Tuan Ye. Anda belum mengenal kami juga Ryura sepenuhnya. Pertemuan kita terlalu singkat untuk bisa saling memahami. Jadi, meskipun ini Anda lakukan atas nama dirinya. Bisakah untuk menjadi seseorang yang melindungi dari belakang saja? Kami terbiasa menyelesaikan masalah kami sendiri tanpa bantuan orang lain. Kehadiran anda... Baik kami ataupun Ryura butuh beradaptasi dengan itu. Terlebih lagi, bagi Ryura. Dia tak bisa di cegah meski anda mau. Saya yakin anda juga tahu kekurangannya yang tidak memiliki aura kehidupan, itu juga menjadi kelebihannya. Dia terbiasa bertindak seorang diri. Untuk bisa terbiasa dengan kehadiran dan perlindungan anda, dia tentu butuh waktu!"
Penjelasan panjang kali lebar dari Rayan ternyata mampu membuat Ye Zi Xian membisu. Amarahnya memang belum reda, tapi kesadaran dirinya menjadi lebih jelas. Benar! Dia memang belum mengenal betul sosok gadis yang sudah membuatnya tak bisa kehilangan dirinya, sehingga hal seperti ini bisa membuatnya kalap.
Meski belum puas dengan jawaban yang diberikan. Tapi, Ye Zi Xian sudah tak lagi menuntutnya. Setidaknya, dia masih bisa melakukannya sendiri, yaitu memata-matai kekasihnya. Lagipula, cepat atau lambat dia juga akan mengetahui kebenarannya.
"Baik. Aku akan menerima penjelasan itu. Tapi, ini bukan berarti aku lepas tangan." usai mengatakan itu, diapun bangkit dan segera beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya. Dia tak bisa meninggalkan Ryura lama-lama.
Selain karena tak ingin kekasihnya dalam bahaya lagi, dia juga sudah merindukannya.
Haish!
Bisa-bisanya!
__ADS_1
Diam-diam Rayan menghela nafas lega. Benar-benar berat menurutnya.
Kini giliran dua pria didepannya saat ini, pikirnya.
Sejenak ia mulai berpikir. "Ehem. Tuan Muda Shin... Yang Mulia Kaisar Agung Bai... Ini sudah larut, kami mohon undur diri dulu..." harap-harap cemas dengan kalimat yang ia ucapkan. Bukan bermaksud menghindar, tapi kegelisahannya... Ia takut akan terjadi.
Mengerutkan kening, Kaisar Agung Bai agak tak senang. Secara tidak langsung kalimat berpamitan itu menunjukkan bahwa keduanya tak ingin juga mengatakan kebenaran tersebut dan tak ingin berlama-lama bersamanya.
Tapi, setidaknya kata 'larut' benar adanya. Sehingga Kaisar Agung Bai tak punya pilihan selain membiarkan kedua gadis itu pergi.
"Huh! Baiklah. Kalian bisa kembali dan istirahatlah."
"Ya, tidak baik gadis tidur terlambat!" susul Shin Mo Lan sembari menatap lembut Rayan. Rayan jangan ditanya, dia sudah bersorak gembira didalam hatinya.
Tanpa membuang waktu lagi, dia segera menunduk hormat sebelum menyeret teman-temannya pergi. Ternyata disaat-saat seperti itu, Reychu dan Kaisar Agung Bai sempat saling bertukar pandang dengan Kaisar Agung Bai yang mengedipkan sebelah matanya dan Reychu yang menyipitkan matanya penuh peringatan.
Kaisar Agung Bai hanya bisa terkekeh tanpa suara melihatnya.
Kini tinggallah kedua pria itu disana.
Drap!
Drap!
Drap!
Dua orang gadis berlari dengan sangat kencang menuju suatu tempat. Didepan mereka ada seorang pria yang sepertinya sedang memandu mereka ke tempat tersebut dan di samping salah seorang gadis terdapat satu orang lagi anak laki-laki. Kedua lelaki tersebut memiliki ukuran tubuh yang berbeda.
Mereka adalah Reychu, Rayan, Ruobin, dan Chi-chi.
Di hari yang kian larut malam ini, seharusnya mereka kembali untuk beristirahat. Tapi, keadaan memaksa mereka harus lembur malam ini.
Kedua gadis itu hanya bisa berharap apa yang mereka takutkan tidak terjadi. Karena itulah, mereka disini. Berlari seperti orang yang sedang dikejar-kejar, sangat cepat hingga suara angin yang terbelah terdengar.
"Bin-bin, apakah masih jauh?" tanya Rayan tak sabar, dia gelisah.
"Sedikit lagi." jawab Ruobin hanya bisa membantu dengan ini.
Sebelumnya, setelah mereka meninggalkan para penguasa itu. Rayan segera meminta Ruobin untuk mencari keberadaan tempat yang sudah Rayan perhitungkan.
"Apa ini harus terjadi lagi?" tanya Reychu disela larinya.
"Tidak akan, seandainya tidak di pancing." jawab Rayan agak kesal.
"Si*lan!" umpat Reychu.
"Ini juga ulah mu!" kesal Rayan bila mengingatnya.
"Aku tahu. Tapi, bukan salahku kalau aku tidak tahu dampaknya akan seburuk ini. Lagipula, aku sudah terbiasa melempar apapun kepadanya." Reychu masih sempat membela dirinya sendiri.
"Itulah kebiasaan buruk mu!" sarkas Rayan.
"Aku tahu... Dan aku bangga dengan itu." balas Reychu tak kalah sarkas dengan seringai di bibirnya yang selalu mampu membuat Rayan jengkel setengah mati.
Mereka terus berlari hingga sampailah mereka di sebuah bangunan indah yang menjadi tempat tujuan mereka. Hanya saja...
Keterkejutan mendera keempatnya begitu memasukinya.
Menghela nafas berat, Rayan berseru lirih. "Kita terlambat..."
__ADS_1
Thor up lagi... selamat membaca gaess...πππ