
Suhu rendah memenuhi ruangan. Pria bersurai hitam pendek dan berkacamata tengah dalam suasana hati yang buruk. Wajahnya yang biasanya datar kini bercampur dingin sampai-sampai hawa disekitarnya pun ikut turun drastis.
Sekretaris Yi yang berdiri didepan Tuan-nya memilih diam, dia tak mau menambah kacau suasana hati Bos-nya yang sudah kacau lantaran sang istri mengakhiri masa bulan madu mereka dan memaksanya untuk kembali bekerja.
Shin Mo Lan tentu tahu apa yang menjadi alasan hal ini terjadi. Dia tak senang, tapi juga tidak berdaya. Baru saja kemarin dia menikmati hari pertamanya sebagai pengantin baru di zaman ini sudah harus diganggu dengan masalah yang masih berkaitan dengan kisah percintaan mereka bertiga pasangan.
Memikirkan siapa yang menjadi biang keladinya, Shin Mo Lan mengutuknya berkali-kali lipat.
Beraninya mereka mengganggu keharmonisan rumah tangga ketiga pria tampan itu. Eh! Dua dulu, ya!
Saat ini pria itu -Shin Mo Lan- larut dalam ketidaksenangannya hingga pekerjaan pun terbengkalai. Sekretaris setianya hanya bisa diam seraya mengawasi sang tuan kalau-kalau ada perintah untuknya.
Apa yang bisa dilakukan bawahan saat atasan mereka sedang tidak mood.
Kriiing...
Nada notifikasi panggilan video dari laptop Shin Mo Lan berbunyi memecahkan keheningan yang tidak mengenakkan didalam ruang kerja tersebut.
Shin Mo Lan yang mendengarnya tidak terkejut ataupun tersentak, dia justru acuh tak acuh kala nada tersebut menggema.
Niat hati ingin mengabaikan, tidak jadi saat mengingat bisa jadi itu adalah panggilan penting. Bukan dari kolega atau pun dari mereka yang bisa membuatnya menghasilkan uang, tapi dipikiran Shin Mo Lan hanya mementingkan istrinya.
Siapa tahu sang istri berubah pikiran hingga menghubunginya. Akan tetapi, yang mengganjal adalah...
Mengapa melalui laptop?
Ternyata, saat matanya mendarat dilayar, dia melihat nama penelpon yang tertera dilayar laptopnya adalah panggilan gabungan dari sahabatnya yang berarti kedua pria dari tempat berbeda memiliki sesuatu yang mengharuskan untuk dibicarakan bersama.
Segera, Shin Mo Lan meminta Yi Feng pergi dari sana menandakan adanya urusan pribadi yang tak bisa di katakan kepada orang lain bahkan bila itu orang kepercayaannya sendiri.
"Kau bisa keluar dan mengerjakan pekerjaan mu. Aku akan memanggil mu bila aku membutuhkan sesuatu yang lain." datar namun lugas.
"Baik, Tuan." kemudian diapun pergi meninggalkan Shin Mo Lan sendirian didalam ruang kerjanya.
Yi Feng tidak merasa tersinggung sama sekali, ini juga bukan kali pertama terjadi. Dia sudah terbiasa dan akhirnya beranjak pergi tanpa mau repot-repot memikirkan rahasia apa yang tengah dibicarakan oleh ketiga pria tampan idaman wanita itu.
Sepeninggalan Yi Feng, panggilan video diterima Shin Mo Lan dan seketika dua wajah tampan pria muncul. Satu berambut merah dan lainnya berambut putih, dua-duanya sama-sama panjang pula.
Akan tetapi, yang mencolok adalah ekspresi wajah mereka yang sama-sama lesu.
"Gagal bulan madu, heh?" ledek Bai Gikwang meski dirinya sendiri juga miris, namun paling tidak bukan karena ditinggal bulan madu.
Perkataan Bai Gikwang mendapatkan lirikan tajam dari dua sahabatnya yang sudah menikah.
"Tidak perlu bahas itu." sembur Ye Zi Xian dingin, jelas tidak dalam suasana hati yang baik.
__ADS_1
"Wajahmu begitu buruk, Zi Xian. Bukankah kau tahu ini lebih dulu?" tanya Shin Mo Lan datar tanpa minat, sebab mereka tahu dengan jelas mengapa pasangan mereka pergi.
Ye Zi Xian dikantornya hanya seorang diri dengan suhu sekitar yang rendah. Bisa jadi, bila ini masih zaman kuno dengan kekuatan spiritual Ye Zi Xian pasti sudah menciptakan es beku disekitarnya saking rendahnya suasana hati.
"Apa yang bisa kulakukan bila inilah yang terbaik untuk bersama?!" jawabnya tampak sekali ketidakberdayaannya.
Bai Gikwang dan Shin Mo Lan mengangguk membenarkan. Itu juga alasan mengapa mereka membiarkan 3Ry pergi mengurus hal-hal tersebut karena inilah pilihan yang terbaik untuk semuanya.
"Tapi, apa kita benar-benar tidak perlu membantu?" tanya Shin Mo Lan.
Sebelumnya, dia dan sang istri -Rayan-sempat berdebat setelah Rayan mengatakan rencananya bersama dua sahabatnya untuk berurusan dengan pengganggu rumah tangga mereka. Shin Mo Lan sebagai suami yang bucin, awalnya sama sekali tidak senang dengan rencana tersebut. Bagaimanapun, itu karena dia khawatir dan lainnya karena Shin Mo Lan merasa mereka bisa menggunakan metode paling cepat yang tak jauh dari pembasmian secara langsung.
Sayangnya, sang istri tidak menginginkan metode seperti itu. Alasannya tidak jauh dari karena tidak adanya sensasi untuk dinikmati.
Sedikit banyaknya, Shin Mo Lan paham bahwa sebagai pembunuh bayaran pasti lebih kurang akan membuat istrinya dan dua sahabatnya memiliki jiwa psikopat yang cenderung menikmati proses menyiksa target sampai mati.
10 tahun sudah Shin Mo Lan dan dua lainnya berada di zaman modern ini, sudah banyak hal yang mereka pelajari termasuk bidang psikologi. Jadi, cukup tahu kalau istri-istri mereka memiliki masalah yang dianggap bukan masalah dalam psikologisnya.
Belum lagi saat ingatan mereka melayang ke 3 bulan lebih yang lalu. Tepat saat kecelakaan itu terjadi. Mereka masih bisa merasakan jantung kesemutan dan berdebar dengan perasaan tidak mengenakkan.
Kondisi saat pujaan hatinya kembali kedalam pelukannya bukanlah saat yang baik dan dia tak ingin hal itu terulang kembali.
Jadilah, ketiga pria itu hanya bisa mengiyakan dan tentunya tidak lupa memberikan wejangan yang nyaris tidak ada habisnya hanya demi mengingatkan 3Ry kalau mereka sudah memiliki pasangan sehingga tidak bisa bertindak sembarangan apalagi sampai melukai diri sendiri.
"Meskipun perasaan ku tidak begitu, tapi aku akan tetap mengatakan untuk tetap tenang saja. Mereka bukan amatiran. Apalagi sudah pernah menjelajahi ruang dan waktu. Mereka sudah bisa dianggap lebih dari mampu. Terlebih lagi, kita bukannya lepas tangan, bukan? Jadi, kita tunggu dan lihat saja. Selama mereka dalam kondisi baik, kita tidak perlu turun tangan. Tapi, bila sebaliknya..." tukas Bai Gikwang dengan gaya Kaisar-nya kala membuat keputusan. Aura berwibawa dan berkuasanya terlihat.
Kalimat yang belum selesai itu mampu diteruskan oleh dua lainnya dalam hati mereka.
"Lantas, apa yang mereka lakukan saat ini?" tanya Ye Zi Xian yang masih memiliki ekspresi buruknya meski sudah ditenangkan.
"Entahlah. Reychu belum memberi kabar." jawab Bai Gikwang sambil mengangkat bahunya seperti acuh.
Shin Mo Lan dari layar terlihat seperti tengah melihat ponselnya, kemudian berkata. "Istriku baru saja mengabari kalau mereka sedang berada di mall."
Kening dua lainnya serempak mengerut aneh.
"Mereka berbelanja?" celetuk Ye Zi Xian, bukannya tidak suka kalau istrinya berbelanja. Tetapi, hanya merasa tidak mengerti mengapa mereka berbelanja padahal niatnya ingin mengurus para pengganggu.
Bai Gikwang paham maksud Ye Zi Xian, jadi dia diam saja karena kurang lebih itu juga yang dia pikirkan.
Shin Mo Lan pun tak paham. Tapi, masih menjawab dengan asal tebak. "Mungkin ini bagian dari rencana. Bagaimanapun hari ini mereka baru mulai. Tidak masuk akal bila langsung mendatangi pengganggu itu tanpa persiapan."
"Masuk akal." kata Bai Gikwang.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Shin Mo Lan. Bepergian ke mall memang salah satu rencana mereka.
Lihat saja saat ini, dimana ketiga wanita itu berjalan-jalan santai seperti benar-benar ingin shopping dengan penyamaran yang nyentrik.
Penampilan ketiganya meski menarik perhatian tidak ada satupun yang tahu kalau mereka adalah pasangan tercinta 'Three Royal Nobles' idola mereka.
Mereka seperti sekelompok cosplayer.
Rambut Rayan diwarnai dengan warna merah muda terang yang di kuncir dua tinggi hingga menyerupai tanduk, lalu di kepang dengan pita biru di sepanjang kepangan-nya. Riasan wajahnya tebal dengan warna yang mencolok, eyeshadow biru muda ber-gliter, eyeliner ungu lavender, softlens merah muda, tidak lupa dengan pernak-pernik kecil Swarovski yang di tempel disekitar tulang pipinya, dan terakhir lipstik berwarna nila sebagai sentuhan terakhir di wajahnya.
Pakaian yang dikenakan pun dalam warna yang sama. Jumpsuit ungu setengah paha, kaos garis-garis dua warna -biru dan merah muda-, nail art kristal bunga-bunga timbul di sepuluh jarinya, mengenakan stoking ketat warna merah muda dengan corak bintang warna-warni, dan terakhir sepatu kets ber-hak tinggi menjadi outfit yang dipilih Rayan.
Dia persis seperti lollipop berjalan.
Disebelahnya ada Reychu dengan mewarnai rambutnya merah. Niatnya jelas, dia ingin menyerupai kekasihnya. Kini rambutnya sudah jauh lebih panjang dari sebelumnya, hanya saja di buat kribo oleh Reychu. Wajahnya pun dirias dengan berani, yang riasannya tak lepas dari warna merah cetar.
Kalian bisa bayangkan dimana saja warna merah ditempatkan.
Dia benar-benar membuat dirinya serba merah.
Mengenakan kaos berpotongan pendek sepinggang berwarna merah juga yang serupa warna dengan celana training bergaya balon, dan diakhiri dengan sepatu sneaker merah.
Tampilannya membuat dia tampak seperti api yang berjalan.
Sedang Ryura disebelah keduanya memilih mengambil tema monokrom.
Berkat usulan Rayan, Ryura mendapatkan model rambut hitam putih yang dibagi dua dikedua sisi rambutnya tanpa merubah bentuk rambutnya, riasan smokey -area mata dan bibir gelap-, kemeja putih tipis yang tidak dikancing membiarkan tank top hitamnya terlihat dengan ujung kemeja yang di selipkan pada celana kulot hitam gantung-nya, diakhiri dengan sepatu boots hitam yang terlihat polos padahal terdapat berlian yang ditempel berjejer di sepanjang resletingnya.
Dia jadi terlihat seperti tokoh komik yang keluar dari dalam buku.
Cukup mencolok bukan?
Tapi, itu sukses untuk mengelabui mata orang-orang dari status mereka yang adalah 'Three Noble Consorts'.
"Kemana dulu kita?" tanya Reychu pada Rayan karena sahabat mungilnya itu yang menyusun rencana.
"Beli ponsel dulu. Kita jadi terlihat miskin karena tidak punya ponsel." tukas Rayan saat mengingat kalau benda penting semacam itu di zaman sekarang adalah yang paling di butuhkan.
Kecelakaan tempo hari membuat ketiganya kehilangan benda tersebut. Jadi, harus membelinya yang baru.
"Kau benar. Aku hampir lupa soal itu. Terlalu asik menggunakan milik Gikwang." terang Reychu sambil cengengesan.
Akhirnya, keputusan dibuat dan ketiganya memilih menuju konter HP lebih dulu dibawah tatapan mata semua pengunjung yang ada.
__ADS_1
selamat membaca sayang2kuuuuu ππβ€οΈ