3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
AKHIR 2


__ADS_3

Terkejut, bingung, dan terhina dirasakan oleh Chang Ni Er. Ekspresinya sampai tak bisa di sembunyikan.


Ia terkejut karena kekuatan Ryura yang masih cukup mampu menyerangnya walau orangnya sudah terluka. Ia juga bingung dengan perubahan sifat elemen yang tidak terduga dari Ryura. Yang terakhir, ia merasa terhina atas kemundurannya mengingat diawal ia begitu amat meremehkan kemampuan lawannya.


Walaupun begitu, apakah ia akan merendahkan dirinya sendiri untuk mengakui orang lain lebih hebat darinya?


Jawabannya, tidak.


Sambil menatap buas Ryura yang diam dalam kondisi pucatnya, dia mengumpat dari dalam hati.


"Si*lan! Tidak bisa seperti ini! Dia hanya murid yang dipungut asal oleh Guru Duan Xi. Bagaimana bisa dia melampaui ku?! Tidak! Ini hanya karena aku terlalu lengah! Benar! Gadis itu aneh dan aku sempat tergoyahkan karena hal itu! Benar begitu! Itu bukan karena aku tak mampu mengalahkannya! Dia masih bukan apa-apa bagi ku!" hatinya meronta tak terima, terasa panas dan mendidih.


Chang Ni Er marah lantaran tak terima bila sampai ia kalah.


Ryura yang di tatap sedemikian rupa tak bergeming sedikitpun. Yang dia rasakan hanya kantuk yang semakin menjadi dan itu menuntutnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.


Terlepas dari luka dan terkurasnya energi dalam jumlah besar, Ryura hanya tahu bahwa pandangannya kian memudar karena kantuk yang menyebabkan kelopak matanya memberat. Ryura sama sekali tidak merasakan apapun selain kantuk.


Dia butuh tidur sesegera mungkin.


Namun, pengabaian itu tidak membuat kepekaannya menurun.


Dari yang Ryura lihat, lawannya sekarang tampak mulai memanjangkan taringnya lebih dari sebelumnya. Artinya, dia marah dan terlihat sekali kalau tak ingin membuat pertarungan kali ini berakhir dengan mudah.


Terutama untuknya.


Sayangnya, siapa Chang Ni Er itu? Ryura tak berniat mengabulkan keinginannya. Ryura butuh tidur dan gadis Chang itu tak bisa menghalanginya.


Drap... Drap... Drap...


"Hyaaaa...k!" terjang Chang Ni Er cepat secepat kilat. Ia berlari sangat cepat. Kiri-kanan tangannya memiliki sesuatu yang akan ia gunakan untuk merobohkan Ryura.


Air yang berkumpul dikedua telapak tangan Chang Ni Er, bukan sembarang elemen air. Karena ia sudah kehilangan pedang airnya akibat di musnahkan oleh Ryura, akhirnya ia terpaksa memakai cara ini.


Dan cara yang digunakan Chang Ni Er adalah air hitam atau dengan kata lain air beracun. Warnanya hitam seperti namanya, tapi bila menyentuh kulit akan langsung meresap dan meracuni tubuh siapapun yang mengenainya.


Kecuali, penggunanya tentunya.


Sebenarnya, ia cukup kaget pada awalnya saat akan mengeluarkan kembali pedang airnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pedang air miliknya tak hanya di hancurkan tapi juga dilenyapkan. Pedang yang dia ciptakan dengan susah payah menggunakan inti spiritual air yang ia kumpulkan dari banyaknya hewan spiritual buruan miliknya lenyap begitu saja ditangan Ryura.


Tentu, itu menjadi pukulan berat baginya.


Bukan perkara mudah untuk membuat senjata pribadi. Apalagi dia yang belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan senjata pusaka.


Itulah yang membuatnya bertekad untuk membunuh Ryura dengan tangannya terlepas dari taruhan yang di lakukan kedua pria tua yang saling bermusuhan itu. Kini ia memiliki tujuan lain yang selaras.


"Aku akan membunuhmu!" geramnya dalam hati.


Dari atas, Ye Zi Xian yang melihatnya membelalakkan matanya lebar. Segera, keinginan untuk menghentikan Chang Ni Er pun muncul. Namun, saat ia benar-benar akan melakukan, tiba-tiba seseorang memegang bahunya dari belakang hingga membuatnya menghentikan niatnya. Tetapi, itu malah membuat ia kesal bukan main pada pelaku yang menghentikannya.


"Sial! Siapa yang berani menghentikan ku!" umpatnya dengan marah lalu menoleh dengan garang.


Dibelakangnya, ada seorang pemuda berpakaian hitam dengan sebagian wajah tertutupi oleh cadar atau masker yang warnanya senada.


Pemuda itu adalah...


"Dong Jia Zi... Beraninya kau!" Ye Zi Xian menggeram sampai urat-uratnya menonjol.


Menunduk hormat, pemuda yang bernama Dong Jia Zi segera angkat bicara. Dia tak terlihat takut sama sekali. Tampaknya, temperamen tuannya sudah sangat dikenalinya hingga ia kebal terhadapnya.


"Mohon maaf, Tuan ku! Saya menghentikan anda, juga demi kebaikan anda!" lugasnya.


Meski awalnya ia sempat dibuat kaget dengan perangai baru tuannya yang protektif pada seorang gadis asing, tapi ia cepat memahaminya.


Ternyata, Tuannya sedang jatuh cinta.

__ADS_1


"Kebaikan ku?! Kau tak lihat gadisku dalam bahaya! Dia Nyonya Ye masa depan, kau tahu itu!" kesalnya menggunakan nada suara rendah yang terdengar menggeram.


"Tuan, mohon di ingat. Seorang Nyonya Ye haruslah kuat. Bila beliau adalah takdir anda, maka sudah seharusnya beliau menjadi tak terkalahkan. Mohon bersabar, Tuan ku. Lihat dan perhatikan! Menurut pendapat bawahan ini, Nyonya Muda terlihat tak biasa. Bila bawahan ini tidak salah menduga. Seharusnya, beliau benar-benar tidak bisa dianggap remeh." jelasnya panjang lebar dengan ekspresi datar. "Anda pasti lebih jelas akan hal ini!"


Mendengar penjelasan tersebut, barulah Ye Zi Xian mulai kembali tenang. Pada dasarnya, dia bukannya tidak mengetahui akan hal itu. Hanya saja, cinta yang ia rasakan membuatnya tak ingin melihat pujaan hatinya terluka atau apapun yang menyakitinya.


Itu berdampak pada hatinya yang ikut merasakan sakit.


Tetapi, menilik dari latar belakangnya. Ryura-nya tentu harus menjadi perempuan yang kuat. Posisi istri sah Keluarga Ye tidak bisa hanya dia -suaminya- yang menjaganya agar tetap menjadi milik istrinya, itu tergantung pada siapa yang memegang posisi tersebut.


Meski, anak laki-laki dari Keluarga Ye yang terpilih harus menikah dengan perempuan pilihan pedang pusaka tersebut. Bukan berarti posisi sang pasangan -istri- sudah di anggap kokoh.


Dia juga memiliki tugas yang tidak kalah banyak seperti suaminya untuk dapat membantunya mempertahankan posisinya.


Semakin kokoh posisinya, semakin kuat kendali di tangannya. Bila seperti itu, dia akan menjadi urutan kedua setelah suaminya dalam memegang penuh kuasa atas Sekte Salju Perak.


Menenangkan pikirannya, ia kembali melihat kearah Ryura-nya yang akan di serang oleh lawannya. Meski sudah mulai tenang, tapi tak dipungkiri kalau hatinya masihlah merasa gelisah dan cemas. Apalagi setelah melihat betapa pucatnya wajah manis gadisnya.


Akan tetapi, tidak sampai dia berlarut-larut dalam kecemasannya di detik berikutnya mata keemasan miliknya tak bisa tidak terbelalak lebar sampai mau keluar.


Dan itu juga, disusul dengan teriakan histeris para penonton yang lebih terdengar sebagai teriakan mengerikan.


"Tuan ku..." seru Dong Jia Zi pelan. Ia juga tak bisa menahan rasa terkejutnya hingga ekspresi datarnya hilang seketika begitu melihat apa yang baru saja terjadi.


"Aku tahu..." jedanya tenang, setelah menetralkan keterkejutannya. "Seperti yang kau katakan... Untuk menjadi Nyonya Ye masa depan haruslah sosok yang kuat." barulah, usai mengatakan itu sudut bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman bangga.



Kembali ke beberapa saat sebelumnya.


Kedua belah pihak mulai merasakan ketegangan yang tak bisa dijelaskan.


Duan Xi yang mendukung Ryura seorang diri, mengingat yang lainnya sedang menangani Reychu dibuat ketar-ketir melihat Ryura yang tampak dimatanya kian melemah.


Tubuhnya yang pendek berdiri geregetan di atas tempatnya duduk. Dia mengepalkan tangannya yang basah karena gugup. Degup jantungnya pun tak tau sudah secepat apa berpacunya.


Fu Xie sendiri mencoba tetap tenang dan tidak bertingkah berlebihan yang malah akan merusak citranya.


Dia masih sempat memikirkan itu rupanya...


Bibir mereka tak ada hentinya bergerak mengeluarkan kata-kata dukungan dan dorongan untuk Chang Ni Er. Mereka jelas berharap kalau rekan mereka yang memenangkan taruhan gurunya juga kompetisi ini.


Para penonton pun tak tinggal diam. Sebagian dari mereka mendukung Ryura dan sebagian lagi mendukung Chang Ni Er. Bahkan ada yang sempat-sempatnya memainkan taruhan uang untuk menyemarakkan suasana.


Tapi, tak ada sedikit pun yang berpikir akan jadi apa akhir pertandingan kali ini.


Karena, disaat-saat semua orang berfokus pada serangan Chang Ni Er yang sekuat tenaga dan ke-diaman Ryura dengan wajah pucat tak berdayanya. Tak ada yang tahu kecuali Chang Ni Er, bila ketika ia sudah sangat dekat dengan Ryura. Chang Ni Er melihat sendiri gerak bibir Ryura yang mengumumkan kata 'maaf' tanpa suara. Tapi, Chang Ni Er jelas masih mengetahuinya.


Kata 'maaf' itu tidak memiliki arti yang sesungguhnya, dilihat dari bagaimana seseorang mengatakannya. Itu sama sekali tidak bermaksud untuk benar-benar meminta maaf.


Dia bingung dan tak mengerti, namun tak membuatnya kehilangan konsentrasi.


Sayangnya, konsentrasi pun belum cukup bila berhadapan dengan Ryura. Sebab, bukan konsentrasi yang dibutuhkan tetapi kepekaan...


Jleb!


"Ha'hk!" suara tersendat terdengar begitu tubuhnya merasakan sesuatu yang tajam menembus ulu hatinya.


Dengan mata terbuka lebar, Chang Ni Er menatap Ryura yang masih tak berekspresi -sama seperti saat pertama kali ia melihatnya- dengan tatapan nanar dan tak percaya.


"Kh..Khau...hh... Hah... Ba..bha.. bagaimana bisa...h... Hah...?" ekspresi meringis bercampur tegang terpampang jelas di wajah Chang Ni Er.


Sementara, Ryura hanya menatapnya dengan mata mengantuk. Mendengar pertanyaan dari lawannya, Ryura pikir itu pertanyaan yang aneh.


"Kau lalai." hanya itu jawaban yang Ryura berikan.

__ADS_1


Bagi mereka yang pintar, sudah pasti memahaminya dengan sangat jelas.


Sejak awal, Ryura memang tidak pernah berniat bermain serius. Karena, kompetisi seperti ini pun masih belum bisa membangkitkan gairah membunuhnya. Rencananya, Ryura hanya akan mengalahkan murid musuh Duan Xi lalu selesai. Tapi, nyatanya dia justru harus dihadapkan dengan orang-orang yang suka membual.


Dari pertama mereka muncul, Ryura sudah tahu akan jadi apa nantinya kala berhadapan dengannya. Tapi, tetap saja itu masih belum cukup untuk membuat Ryura ingin membunuhnya.


Hanya saja, itu tidak terjadi sampai Ryura melihat betapa bangganya mereka pada diri mereka sendiri hingga menganggap remeh orang lain hanya karena dari awal kompetisi mereka yang ikut berkompetisi selalu berhasil mengalahkan lawannya atau bisa jadi hanya karena dia tidak berasal dari perguruan manapun.


Itu sama sekali tidak masuk akal baginya.


Hal itu sedikit mengusik jiwa liar Ryura yang haus darah. Belum lagi saat melihat betapa marahnya sang lawan kala beberapa kali berhasil di kalahkan olehnya.


Melihat itu, Ryura jadi ingin melenyapkan semuanya yang ada dalam diri Chang Ni Er tanpa berniat menyisakannya apapun.


Karena itulah, dia melakukan hal yang sukses membuat para penonton berteriak histeris lantaran terkejut bercampur takut.


Mengapa? Karena...


Creeehhhsss...


Tubuh Chang Ni Er perlahan-lahan mulai mengeluarkan kepulan asap yang sebenarnya merupakan asap dari proses penguapan.


Tusukan yang dirasakan Chang Ni Er adalah tusukan dari pedang yang dimiliki Ryura. Selalu sulit untuk menghindar dari serangan tak terduga Ryura bila lawannya tidak menggunakan kepekaan mereka.


Gerakan Ryura selalu cepat, maka lawannya haruslah lebih cepat bila ingin menang dari Ryura.


Dari tusukan tersebutlah penguapan terjadi. Sebagaimana alat yang terbuat dari besi kemudian dipanaskan, setelahnya dituangkan air dan dibiarkannya mendidih hingga habis tak tersisa.


Ryura pun begitu. Ia mengalirkan energi spiritual panas apinya pada pedangnya yang seketika mendidihkan darah dan kandungan air dalam tubuh Chang Ni Er.


Proses itu langsung membuat organ dalam Chang Ni Er matang seketika tanpa bisa dicegah. Tak hanya itu, kulit Chang Ni Er pun mengeriput karenanya.


Oleh sebab itu, lambat-laun Chang Ni Er pun mati tanpa bisa mengatakan kalimat terakhirnya.


Kematiannya mencengangkan sekaligus mengerikan. Tak ada yang tidak bergidik ngeri melihatnya.


Pihak Fu Xie juga kehabisan kata-kata. Mereka masih terpaku ditempat sambil memandang Chang Ni Er yang kini berdiri mati dalam keadaan menyedihkan juga dalam kondisi masih tertusuk pedang Ryura.


Mereka akhirnya tersadar saat tubuh itu membuat suara ambruk karena Ryura menarik kembali pedangnya.


Sreet...


BRUGH!


"CHANG NI ER...!!!" Fu Xie dan yang lainnya spontan berteriak sebelum berhamburan naik keatas panggung arena guna meraih Chang Ni Er yang sudah tergeletak mati.


Sementara Ryura, dengan santainya berbalik kemudian mengambil sarung pedangnya yang sebelumnya ia geletakan dengan sembarang di lantai panggung arena, lalu menyarungkan pedangnya kembali. Baru setelahnya ia turun dengan langkah pelan dan gontai seperti akan jatuh.


Dia hampir tidak bisa mentolerir rasa kantuknya.


Melihat muridnya berjalan turun dalam keadaan yang mengkhawatirkan, Duan Xi segera bergegas menghampirinya. Tetapi, sebelum ia sampai dan menangkap Ryura yang hendak jatuh, sesuatu lebih dulu melintas dari atas melewati kepalanya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat dan langsung menangkap Ryura kepelukannya.


Mengabaikan tatapan kaget Duan Xi, sosok itu dengan tudung menutupi seluruh kepalanya hingga hanya terlihat bagian bawah bibirnya memilih mengomeli Ryura yang sudah dengan pasrahnya bersandar pada sosok itu tanpa sedikitpun kewaspadaan yang biasanya.


Tapi, sepertinya Duan Xi mengetahui siapa itu melihat dari fitur sebagian wajahnya terkejut.


"Senang membuat orang lain ketakutan, hah!" sosok itu bergumam diatas kepala Ryura. Yang mana sosok itu masih dapat melihat sebagian wajah Ryura karena sebagian lagi bersandar pada dadanya.


Rambut panjang Ryura yang sebelumnya tergerai di sisipkan kebelakang telinganya oleh sosok itu dengan kehangatan yang mesra, hingga ia dapat melihat setitik tarikan kecil dari sudut bibir manis Ryura yang pucat tanpa membuka matanya. Melihat senyum manis nan amat tipis sampai tak terlihat itu membuat sosok itu juga ikut tersenyum walau tipis. Dengan dorongan hati, ibu jari sosok itu mengusap sudut bibir Ryura yang baru saja ditarik kecil oleh si empunya.



***maaf menunggu lama. Thor datang lagi...


ni buat hiburan Thor kasih visualnya. Thor gk tahan kalo Nemu yang sesuai. hehe***

__ADS_1



(sumber pinterest)


__ADS_2