
Pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari tampak memancarkan sinarnya. Gedoran pintu kayu di sebuah gubuk gudang berbunyi sangat keras. Saking kerasnya gadis yang tengah tidur di dalam sana dengan beralaskan tumpukan jerami pun akhirnya terusik.
DOK!
DOK!
DOK!
"Ergh... Berisik sekali!" gumamnya geram merasa tidurnya yang hanya sebentar itu di ganggu. Dengan terpaksa ia bangun dan berseru sedikit keras.
"AKU SUDAH BANGUN! BERHENTILAH, MENGGEDOR PINTUNYA! Ck!" Ia berdecak kesal dengan wajah yang kusut.
"BERANINYA KAU BERTERIAK PADAKU! DASAR ANAK HARAM!!" teriak suara pelaku penggedor pintu. "Hei, anak haram, ingat status mu! Bangun sekarang juga dan lakukan tugasmu seperti biasa. Jangan selalu di ingatkan!" cecar seseorang dari luar pintu yang dari suaranya terdengar masih muda. Menurut ingatan Yu Rayan itu adalah suara adik sepupunya.
Yu Mei Lin.
"Cih!" Rayan berdecih malas mendengar hinaan yang setiap hari di lontarkan, meskipun sebenarnya bukan benar-benar untuknya tapi tetap saja...
Dia berjalan ke arah pintu dan langsung membuka paksa pintu kayu itu dengan kasar hingga mengejutkan gadis yang lebih muda 1 tahun darinya yang masih berdiri di balik pintu itu.
BRAK!
Keduanya saling beradu pandang sesaat. Yang satunya tajam dan satunya terkejut.
"Minggir!" katanya tegas dan sarkas tanpa menutupi ketidaksukaannya.
Gadis di depannya terhenyak di buatnya. Dia memandang aneh sekaligus tak percaya, anak haram keluarga Yu yang selama ini tak pernah melawan apabila di perlakukan buruk kini bersikap demikian. Sungguh, membuatnya merasa terhina. Bagaimana bisa seorang yang hanya anak haram bisa bertindak lancang seperti itu kepada anak sah?!
Marah? Tentu.
Tak ingin membiarkan Rayan pergi begitu saja iapun segera menarik bahu Rayan kuat sampai membuat Rayan berbalik menghadapnya. Dengan garang dan sinis Yu Mei Lin berujar. "Dari mana kau belajar lancang, hah?! Apa kau sudah lupa apa status mu di keluarga ini?! Apa perlu ku ingatkan?!" melotot marah. "Maka dengar baik-baik. Kau disini HANYA-ANAK-HARAM... Paham?!" lanjutnya sambil menekan tiga kata di akhirnya.
Rayan yang di perlakukan seperti itu sedang berusaha untuk tidak terpancing. Jujur saja. Dia benar-benar ingin menjejalkan ramuan racunnya yang ia sempat racik walau sedikit semalam dari bahan-bahan yang di bawa kenalannya, sekaligus ingin menguji seberapa akuratnya racunnya di kehidupan kali ini.
Tangannya terkepal kesal. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung saja ia dorong tubuh gadis yang sejak awal terus mengatainya anak haram tanpa henti hingga terpental jatuh dengan bokong yang menghantam keras permukaan tanah, itu dapat ia dengar dari suaranya.
Bruk!
__ADS_1
Ia marah dan kesal. Ia tahu, sangat tahu tubuh ini aslinya memang anak haram di tambah dia di kehidupannya dulu yang bahkan sama sekali tak mengetahui siapa orang tuanya. Sungguh membuatnya merasa terhina dan tertohok. Baik Rayan Monica maupun Yu Rayan, keduanya tidak ada yang menginginkan untuk di lahirkan dalam keadaan seperti itu. Tidak dengan terlahir haram ataupun terlahir tanpa tahu apa-apa.
Tidak sama sekali!
Dadanya naik turun menahan emosi, jari telunjuknya di arahkan dengan lancang ke wajah adik sepupunya yang masih meringis sakit. Ekspresi nya amat tak peduli.
"Kau, dengarkan baik-baik yang aku katakan! Ini bukan sekedar peringatan untuk mu. Tapi, peringatan pertama dan terakhir tak hanya untuk mu tapi untuk seluruh keluarga Yu-mu ini!" desisnya tajam. Gadis itu -Yu Mei Lin- sampai tak berkutik. "Aku tak pernah ingin di lahirkan seperti ini! Tapi karena sudah takdirku. Maka perlu ku beritahukan padamu. Meskipun darah yang mengalir ini adalah darah keturunan Yu, tapi aku tetap bukan bagian dari 'Yu'! Kau tahu kenapa?! Karena aku tidak lahir secara sah. Yang artinya, di dalam namaku tidak seharusnya di sematkan marga 'Yu'. Jadi, apapun yang aku inginkan dan tidak aku inginkan adalah urusan ku. Kalian keturunan Yu tak punya hak untuk mencampuri kehidupan ku. Sudah cukup selama ini aku membiarkan diriku, tubuhku, jiwaku di perlakukan tidak semestinya. Karena mulai sekarang, aku yang akan menentukan segala tentang hidup ku. Dan jangan lupakan bahwa aku akan membuang marga Yu itu jauh-jauh, karena aku tidak butuh. Terakhir... Yang terpenting... Ingat aku yang sekarang bisa dengan mudah mengenyahkan siapapun yang aku inginkan dalam sekejap, jadi berhentilah mengusik ketenangan hidup ku!" serbunya dengan intonasi yang mengecil di kalimat terakhir dengan bisikan yang mengancam.
Berdiri tegap sambil memandang rendah sepupunya yang masih terpaku di tanah. "Jangan sungkan untuk memberitahukan pada seluruh penghuni kediaman ini! Karena itu akan jadi kabar bagus untuk ku!" usai mengatakan itu Rayan langsung berbalik dan pergi.
Yu Mei Lin masih membeku sambil memandang kosong punggung kakak sepupunya yang hanya lebih tua 1 tahun darinya.
"D..dia... Ba.. bagaimana bisa...?!" gagapnya linglung.
Lagi-lagi, sama seperti sebelumnya. Kabar mengenai Yu Rayan yang sudah berubah sikapnya menjadi berani itu telah menyebar luas ke seluruh kediaman Yu. Hal itu membuat anggota keluarga Yu mempertanyakan kebenarannya hingga mereka di kumpulkan di ruang keluarga dengan Yu Mei Lin sebagai sumber informasi nya.
Meski kasak-kusuk telah mengusik ketenangan kediaman itu, hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh untuk si objek pelaku. Satu-satunya orang yang kini asik senyum-senyum sendiri sembari memandang salah seorang penjaga pria yang tampak lebih tua beberapa tahun saja namun masih terlihat tampan atau tepatnya di kehidupannya dulu orang-orang sering menyebutnya baby face.
Ia memandangnya dari atas pohon dekat pagar tembok seraya bertopang dagu dengan kedua tangannya.
Dia kembali tersenyum memandang penjaga tersebut.
Di ruang keluarga keseriusan melanda.
Kepala keluarga yakni sang kakek Yu Rayan -Yu Zhao Yan- yang duduk di tengah atau tepatnya di singgasana keluarga Yu, sisi kirinya ada putra pertamanya beserta istri -Yu Ji Xu dan Ru Jinyu-, sisi kanannya ada putra keduanya beserta istri -Yu Chen dan Hwang Minsu-, di sebelah Yu Chen ada putra ketiga yakni ayah kandung Yu Rayan -Yu Ran Yuan- beserta istri nya -Lin An Lie-. Di sebelah Yu Ji Xu dan istrinya ada salah satu anak kandungnya yakni putri pertama keluarga Yu -Yu Ming Luo-. Di lanjut dengan 3 anak kandung Yu Chen -Yu Chan Yi, Yu Chang Ni, dan Yu Chun Yang-, kemudian di susul satu putri kandung sah Yu Ran Yuan yaitu Yu Ran Ran. Sedang Yu Mei Lin yang adalah anak kedua Yu Ji Xu berada di tengah-tengah ruangan karena saat ini ia tengah di tanyai perihal Yu Rayan.
Menurut urutan di atas. Bisa di tebak bukan di mana posisi Yu Rayan berada?
Tapi, perlu di ketahui bahwa Lin An Lie bukanlah ibu kandung Yu Rayan.
Brak!
Klak!
Pukulan keras di layangkan ke meja di depan pria tua yang rambutnya sudah putih semua hingga cangkir teh miliknya jatuh ke lantai dan terbelah menjadi dua dengan air didalamnya yang telah tumpah.
__ADS_1
Hal itu membuktikan bahwa pria tua yang adalah Tuan Besar Yu, bernama Yu Zhao Yan telah menunjukkan amarahnya setelah mendengar cerita dari cucu perempuannya mengenai anak haram di keluarganya itu.
"Yu Mei Lin! Kau jangan berbohong padaku! Anak itu tak mungkin bisa seberani itu! Tidakkah kau selalu melihatnya selama ini!"
"Kakek! Tapi, ini sungguh aku berkata yang sebenarnya! Yu Rayan itu telah berubah! Ia mengatakannya sendiri, bahkan aku di minta untuk memberitahu kan kepada seluruh penghuni rumah kalau dia tidak akan lagi berdiam diri!" ungkapnya jujur. "Aku tidak bohong kakek! Dia bahkan telah menjadi gadis yang kasar! Dia mendorongku hingga jatuh dan berani mengancam ku... Dia mengancam keluarga kita kalau dia bisa saja melenyapkan kita bila dia mau, kakek!" lanjutnya dengan membumbuinya dengan provokasi.
Meski yang di katakan Mei Lin benar adanya, tapi ia tetap saja tak ingin tinggal diam. Perlakuan anak haram itu sudah sangat menginjak harga dirinya, itulah mengapa dengan memprovokasi sang Tuan Besar Yu ia berharap Yu Rayan akan menanggung akibatnya. Memikirkan hal itu membuat hatinya bahagia.
"Anak itu!" desis Yu Zhao Yan marah. "Yu Ran Yuan, kau dengar itu!" giginya menggertak menahan marah sambil memandang tajam putra ketiganya yang hanya diam tanpa membalas tatapan sang ayah. "Lihatlah anak hasil perbuatan mu itu! Dia sudah berani memberontak pada keluarga Yu-ku! Benar-benar tidak bisa dimaafkan!" katanya dengan mata yang semakin berkilat marah. Sedang putra ketiganya, sama sekali tak bergeming seolah-olah ia telah menulikan pendengarannya bahkan tatapan tak terbaca dari istrinya sendiri pun tak juga membuatnya menoleh.
"Maaf... Aku tidak berdaya... Karena sikapku yang pengecut ini sudah membuat putri kita menjadi seperti sekarang ini... Maafkan aku!" lirih hatinya terasa perih namun tak berdarah saat bayangan seorang wanita melintas di benaknya.
"Ku harap, kau sedang tidak memikirkannya suamiku!" geram Lin An Lie dalam hati yang entah mengapa tiba-tiba saja rasa cemburu menjalar di hatinya.
Di saat-saat menegangkan seperti ini, seorang pelayan muncul tiba-tiba dengan tergesa-gesa.
Tap!
Tap!
Tap!
Mendengar ada langkah kaki di ruang keluarga di kediaman Yu membuat seluruh pasang mata menoleh ke asal suara tersebut.
Yu Zhao Yan yang masih marah malah semakin marah. Matanya melotot tak terkira. "LANCANG!" teriaknya. "Siapa kau berani mengganggu, hah?! Sudah bosan hidup kau ya!!!" sambungnya tanpa menurunkan kadar emosi nya.
Pelayan yang masuk tiba-tiba dalam keadaan terengah-engah menjadi takut seketika hingga ia segera membawa tubuhnya untuk berlutut dan menunduk sampai keningnya mencium lantai.
"A..ampun, Tuan Besar Yu... Sa..saya tidak berani untuk berbuat lancang... Ha..hanya saja... Di luar ada orang yang membuat keributan... Mohon ampun Tuan Besar Yu..." terangnya dengan terbata-bata tanpa sedikitpun mengangkat kepalanya, ia benar-benar di buat tak bisa bernafas di ruang yang sudah di penuhi atmosfer yang amat mencekam.
"Siapa yang berani membuat onar di kediaman ku!" tuturnya dengan suara rendah namun amat mengerikan untuk di dengar sambil tangannya terkepal kuat.
"Maaf ayahanda bila Jinyu lancang. Bila di izinkan, biarkan Jinyu saja yang pergi untuk melihat ada keributan apa di luar sana." pintanya izin pada sang ayah mertua dengan lembut dan sopan sampai membuat dua menantu lainnya hanya bisa berdecih dalam hati melihat bagaimana wanita yang adalah menantu pertama bersikap lembut hanya agar sang ayah mertua menjadikannya menantu kesayangan.
"Dasar penjilat!" umpat Hwang Minsu dan Lin An Lie kesal secara bersamaan.
"Ya... Lakukanlah menantuku! Ku serahkan padamu! Bila pembuat onar itu tak bisa kau tangani katakan padaku!" kata Yu Zhao Yan tegas.
"Jinyu mengerti ayah." dengan tersenyum tipis. "Kalau begitu Jinyu pamit." menoleh ke arah sang suami. "Aku keluar dulu, suamiku." Yu Ji Xu tersenyum mengiyakan.
__ADS_1