
Ye Zi Xian berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah tegas bersamaan dengan aura dingin yang menyelimutinya.
Setibanya didepan kamar, terlihat Dong Jia Zi disana yang masih berdiri dalam posisi yang sama. Tampaknya, kesetiaannya membuatnya menjelma menjadi boneka yang patuh pada tuannya.
"Semuanya baik-baik saja?" tanya Ye Zi Xian pada Dong Jia Zi. Ia tengah menanyakan keadaan saat Ryura ia tinggalkan sendirian didalam kamar.
Dengan menunduk hormat, Dong Jia Zi menjawab lugas. "Semuanya aman, Tuanku! Tidak terjadi apapun selama anda pergi!"
Mengangguk puas. "Bagus!"
Kembali ia langkahkan kakinya guna memasuki kamar.
Krieet...
Namun, apa yang terpampang didepan matanya saat ini justru bukanlah apa yang ia ingin lihat.
Diranjang itu, tidak ada siapapun yang berbaring disana. Didukung dengan kondisi tempat tidur yang tampak seperti tidak disentuh sama sekali. Rapi dan tertata.
Jelas-jelas, penampilannya kembali seperti semula saat Ryura belum menempatinya.
Suasananya bahkan sepi dan senyap. Seperti sudah ditinggalkan untuk waktu yang lama.
"Sial! Kemana dia?!" gumam Ye Zi Xian mulai panik.
"DONG JIA ZI...!!!" teriaknya.
Pria diluar yang mendengar namanya dipanggil dengan keras segera bertindak cepat untuk menghadap sang junjungan.
"Bawahan ini menghadap, Tuanku!" dia berlutut dengan satu kaki seraya menundukkan kepalanya penuh hormat.
Sedang Ye Zi Xian sudah melayangkan tatapan tajam bagaikan laser kearah Dong Jia Zi.
"Kau bilang semuanya aman?!" tanya dengan nada penuh amarah yang ditahan. Masih mencoba untuk mendengarkan penjelasan bawahan setiannya sebelum benar-benar memberinya hukuman karena membiarkan kekasihnya yang tak lain adalah calon Nyonya-nya menghilang.
Merasa pertanyaan tuannya agak aneh. Dong Jia Zi pun memberanikan diri untuk mendongak sedikit guna melihat sekitar, memastikan apa yang sebenarnya terjadi didalam kamar ini.
Siapa yang menyangka kalau penyebab tuannya berani berteriak keras dari dalam kamar, padahal sejak ada Ryura dia selalu bisa menahan diri untuk tidak membuat kekasih hatinya tidak nyaman adalah karena ketiadaan sang gadis didalam kamar ini.
Jelas, hal itu membingukan Dong Jia Zi sendiri.
"Ini..." mendongak memberanikan diri untuk menatap sang tuan. "Saya berani bersumpah, Tuan. Yang saya katakan tadi adalah kebenaran. Saya tentu tidak berani bertindak diluar perintah anda!" lugas dan bersungguh-sungguh.
Dengan nafas yang mulai memburu bersamaan dadanya yang naik-turun, Ye Zi Xian akhirnya mengingat apa yang dia ketahui tentang Ryura-nya.
Sambil menyipitkan mata, Ye Zi Xian membatin. "Tak heran kalau Dong Jia Zi tidak mengetahuinya. Kesayangan ku itu istimewa. Tapi, kemana dia sekarang?"
"Sudahlah. Aku percaya padamu. Tapi, sekarang kau punya tugas lain. Cari dia sampai ketemu, lalu laporkan padaku. Aku juga akan mencarinya!" titahnya pada sang bawahan.
Mengangguk paham. "Baik, Tuan." usai mengatakan itu, diapun langsung menghilang bagaikan asap.
Kini tinggallah Ye Zi Xian seorang diri.
"Ryura, kau dimana...?!"
Empat pasang mata disana tak bisa menahan untuk tidak terbelalak.
Apa yang tersaji didepan mereka benar-benar tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Disana, melewati pintu yang terbuka lebar, orang dari luar bisa langsung melihat apa yang terjadi di dalamnya. Tidak! Bukan hanya di dalam, tapi juga diluar.
Jelasnya. Di semua bagian di paviliun tempat seseorang tinggal sudah tak bisa di jelaskan lagi rupanya.
Dimana-mana darah berceceran, mayat bertebaran dalam berbagai kondisi mengenaskan yang mereka alami. Mereka semua didominasi oleh pelayan perempuan dan beberapa laki-laki yang sepertinya bertugas sebagai penjaga.
Tak ada satupun dari mereka yang selamat.
Beberapa dari mereka ada yang berakhir dengan kepala terputus dari badannya, ada juga yang tubuhnya terbelah menjadi dua, ada pula yang seluruh isi perutnya keluar. Tapi, tak sedikit juga yang hanya menerima tusukan dan sabetan panjang nan dalam dari pedang yang digunakan. Bahkan ada sebagian kecil yang malangnya menjadi korban mutilasi habis-habisan.
Bagai puzzle, setiap bagian tubuh itu akan sangat sulit untuk disatukan kembali.
Dua siluman yang melihatnya tanpa sadar menahan nafas saking syoknya. Mereka belum pernah melihat Ryura dalam keadaan seperti ini, hanya tahu gadis itu cukup mengerikan.
Sedang kedua sahabat Ryura, yang sudah tidak asing lagi dengan kengerian itu hanya bisa mencari celah untuk dapat menghentikan Ryura dari kebrutalannya.
Bahkan Rayan tak lagi memikirkan soal rencananya yang lalu. Kini baginya, menghentikan Ryura adalah yang utama.
Dari luar, keempat pasang mata itu melihat apa yang tengah dilakukan oleh orang yang amat mereka kenal.
Disana, orang tersebut sedang mengangkat tangannya yang terdapat pedang putih bersih bak kristal es dalam genggamannya tinggi-tinggi dan siap untuk di layangkan ke leher seseorang lainnya yang tersungkur di lantai dengan tubuh bermandikan keringat dingin, tubuhnya sudah bergetar hebat lantaran ketakutan melihat sosok tak berekspresi didepannya menjulang tinggi dengan tegapnya.
Pakaiannya pun sudah ternodai oleh darah para korban.
Air mata juga tak henti-hentinya mengalir keluar. Dalam hati, ia juga tak berhenti menjerit sejadi-jadinya. Tak berani dikeluarkan, karena takut gadis didepannya akan melakukan yang lebih buruk dari ini.
"Astaga!" pekik Reychu tak tahan.
"Tunggu apalagi! Hentikan dia!" perintah Rayan seraya bergerak maju lebih dulu untuk mencegah hal yang buruk terjadi dalam waktu berikutnya.
Hampir saja mata pedang itu mengenai leher gadis yang sudah kacau nan menyedihkan di lantai, bahkan ia tak bisa lagi berteriak dan hanya mengalihkan wajahnya karena refleks perlindungan diri, gerakan pedang pun terhenti tiba-tiba.
Tes!
Setitik darah menetes dan mulai disusul tetesan lainnya dari tangan seseorang yang mencengkram kuat mata pedang pusaka putih milik gadis yang mereka kenal, Ryura.
__ADS_1
Ternyata, mata pedang itu di tahan oleh Reychu langsung menggunakan tangannya mengakibatkan telapak tangan kirinya terluka dan berdarah banyak.
Sementara Rayan, ia bergerak memeluk dari belakang tubuh sahabatnya lalu menariknya agar mau menghentikan tindakannya.
Sejenak keheningan dalam kamar itu hanya diisi oleh deru nafas tersengal dari tiga gadis disana, selain Ryura pastinya. Ketiganya, masih berusaha menetralkan perasaan yang sempat berkecamuk tak menentu akibat kejadian yang tak bisa dijelaskan oleh mereka masing-masing.
"Berhenti, Ryu... Hah..hah... Kau akan dalam masalah bila melanjutkannya lebih dari ini... Huh..huh..hah..." seru Rayan dari belakang tubuh Ryura. Dia masih memeluknya erat, takut-takut kalau dilepas Ryura akan kembali bertindak melanjutkan apa yang tertunda.
Dari depan Ryura, Reychu malah mengacungkan jempolnya dengan bangga seraya tersenyum sumringah. Ekspresinya benar-benar menunjukkan kalau ia menyukai apa yang terjadi saat ini di tempat itu.
Gila memang!
"Hebat! Aku selalu suka caramu melakukannya, Ryu! Fyuuh...! Ini akan gempar besok! Boom!" gurau Reychu tanpa mempedulikan tangannya yang terluka, bahkan tampaknya dia tak merasakan apapun pada tangannya itu.
"Tapi, bisa di hentikan dulu sekarang? Dia belum boleh mati." sambil menunjuk Jiang Yu Na yang masih membeku ditempatnya. "Kemunculannya terlalu singkat. Kita bisa sedikit lebih lama bersamanya sebelum mengantarkan ke gerbang kematian. Hehehe..." tawanya mungkin terdengar biasa, tapi karena kalimat sebelumnya yang diucapkan membuat tawa itu menjadi mengerikan bak tawa psikopat.
Posisi Ryura belum berubah untuk beberapa saat kemudian. Perkataan kedua sahabatnya entah sedang dipertimbangkan atau tidak, yang pasti semua itu tidak dapat di lihat hanya dari ekspresinya. Karena, Ryura tidak memiliki ekspresi.
Tapi, mata yang kosong itu tidak bisa di tampik oleh Jiang Yu Na kalau mata itu begitu mengerikan. Persis seperti melihat hantu gentayangan.
Dia benar-benar tak menyangka kalau gadis yang ditempeli pria berambut putih keperakan adalah jenis orang yang seperti ini. Misterius nan mengerikan.
Dia sampai tak bisa melakukan perlawanan apapun terhadapnya.
Pedang tersebut tiba-tiba berubah pias menjadi asap sebelum akhirnya menghilang. Rayan dan Reychu yang melihatnya hanya menghela nafas lega juga sempat terlintas satu pemikiran.
"Wah... Kemampuan Ryura semakin meningkat saja! Kapan dia melatihnya?!"
Lalu, Rayan baru mau melepaskan pelukannya dan membiarkan Ryura berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun. Kemudian dia ikut menyusul setelah mengatakan sesuatu pada Jiang Yu Na yang ditimpali oleh Reychu sang ahli dalam memprovokatori segala sesuatu.
"Kalau kau ingin bersaing? Maka, bersainglah dengan sehat. Apa kau tidak bisa berhenti untuk meremehkan orang lain hanya karena orang itu tampak lemah? Aku yang cantik nan menggemaskan ini, tentu tak ingin sampai dikalahkan oleh orang seperti mu!" lalu Rayan pun pergi.
"Hehehehe... Jangan jadi perempuan pendendam atau kau tidak akan laku nanti. Kau itu termasuk cantik... Tapi, kenapa hati mu begitu busuk?!" Reychu terkekeh meledek. "Mau ku beritahu bagaimana cara agar dapat menarik perhatian seseorang?" menaik-turunkan alisnya.
Kemudian, sedikit mendekat lalu berbisik jail. "Jadilah seperti Rayan, gadis yang tadi... Kau akan lebih cepat mendapatkan kekasih. Karena dia jauh lebih memikat daripada kau. Hahaha!" usai mengatakan yang ingin ia katakan, Reychu pun tertawa sambil berlalu pergi menyusul yang lainnya.
Tak lupa ia juga sempat melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Jiang Yu Na yang sedari tadi tidak bisa bersuara pun menggertakkan gigi seraya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Sambil dalam hati mengumpat, memaki, dan menyumpah-serapahi ketiga gadis yang baru saja pergi meninggalkan kekacauan ditempatnya.
"Si*lan! Brengs*k! Sial. Sial. Sial...! AAARRGGHHH... Awas saja kalian! Aku akan membalasnya! Aku akan membalasnya berkali-kali lipat sampai kalian lebih memilih mati daripada berusaha untuk tetap hidup! Aku akan membunuh kalian semua!!! AAAAARRRGGGHHH...! AKU BENCI! AKU BENCI...! AAARRGGHHH...!!!"
Flashback on...
Mata Ryura terbuka sempurna sesaat setelah ditinggal pergi oleh Ye Zi Xian.
Gerak-geriknya tampak normal sebagaimana orang pada umumnya melakukan kegiatan mereka selepas bangun dari tidurnya.
Dia dengan santai dan tenang merapikan ranjang lalu berdiam diri setelah usai melakukannya.
Tak ada yang dapat didengar darinya.
Dan entah bagaimana cara Ryura melakukannya, yang pasti ia membuka jendela itu juga tidak sampai menimbulkan suara sedikitpun. Lalu, ia keluar dari sana setelah menutup kembali jendela tersebut dengan tetap tenang dan diam.
Sebelum daun jendela tertutup sempurna, wajah putih dengan matanya yang menyorot kosong dibingkai dengan rambut hitam panjangnya yang tidak diikat maupun di hias bergoyang terkena hembusan angin malam memberikan suasana mistis bagi yang melihatnya dari sudut pandang itu. Belum lagi, ketika membiarkan daun jendela tertutup dalam gerakan pelan dan membiarkan dirinya tenggelam dibaliknya.
Lingkungan sangat sunyi di malam hari. Beberapa bangunan yang ada tampak sudah gelap dan menyisakan beberapa obor yang memang sengaja di biarkan menyala di beberapa titik sebagai akses penerangan.
Di jalanan yang sudah sering di lalu banyak orang itu, terdapat Ryura yang berjalan dengan santainya tanpa alas kaki, meninggalkan jejak kaki yang tersapu angin setelahnya seolah cukup bekerja sama untuk menghilangkan jejaknya.
Rambutnya yang panjang itu berayun-ayun seirama layaknya sedang menari. Menyentuh ringan wajahnya yang datar dengan mata kosongnya.
Dia berjalan tanpa rasa bingung sedikitpun. Seolah-olah sudah sering melalui jalan tersebut, hingga sampailah dia di sebuah bangunan yang ada di area bawah. Dimana rumah para guru berada disana.
Tidak menoleh kesana-kemari dan hanya menatap ke satu bangunan yang memang menjadi tempat tujuannya.
Tak berniat berlama-lama, Ryura langsung melangkah masuk.
Hal pertama yang ia temui adalah penjaga. Beberapa penjaga itu tengah berjaga malam dengan berkeliling memastikan keadaan di kediaman Guru besar dalam keadaan aman.
Tapi, siapa sangka mereka akan bertemu dengan seorang gadis yang menyerupai hantu. Bahkan belum sempat mereka berteriak dan mengambil tindakan.
Splash...!
Sreet...!
Zruuk...!
Ryura sudah lebih dulu menyerang setelah tiba-tiba saja pedang muncul ditangannya, kemudian digunakannya untuk membunuh penghalang yang hendak menyerangnya hingga mereka mati dengan kepala dan tangan terlepas dari tubuhnya.
Ada juga yang ditebas secara sadis hingga tulang dan organ dalamnya terlihat mencuat keluar.
Genangan darah segera tercipta di bagian depan pintu masuk halaman paviliun saat itu juga.
Selesai dengan penghalang pertama, Ryura kembali melangkah untuk memasuki bangunan paviliun tersebut.
Bisa dilihat, betapa bagusnya bangunan didepan matanya saat ini. Tapi, bukan Ryura namanya kalau terpukau apalagi sampai memujinya.
Saat dia berjalan masuk, sudah ada beberapa pelayan perempuan yang berlalu-lalang. Tampaknya, mereka masih bekerja meski sudah malam.
Para pelayan itu ternyata belum menyadari kehadiran Ryura. Sampai salah satunya melihatnya dan berteriak hingga yang lainnya ikut mendengar.
Keberadaan Ryura pun segera diketahui.
__ADS_1
Kemudian, terjadilah aksi menegangkan disana.
Para pelayan yang tidak bisa apa-apa vs pembunuh sadis.
Dengan santai dan bahkan tampak seperti tengah menari, menggunakan pedang yang masih ia genggam. Ryura membungkam para pelayan disana dengan kematian.
Tidak butuh waktu lama sampai keadaan halaman paviliun menjadi kacau penuh dengan mayat dan darah di mana-mana.
Hebatnya, orang yang berada didalam kamar paviliun tersebut hanya mendengar teriakkan singkat itu sebelum memilih mengabaikannya.
Didalam, ada Jiang Yu Na yang masih menunggu laporan berikutnya dari pelayannya yang ia utus untuk mengawasi situasi bersama pelayan lainnya yang menemaninya saat itu. Pelayan utusannya itu belum kembali. Jadi, ia berpikir bahwa pelayannya tengah mengumpulkan informasi yang banyak untuknya.
Siapa yang menyangka, kalau saat-saat tenang berubah kala sosok Ryura muncul dihadapannya yang entah sejak kapan dapat menerobos masuk kedalam kamarnya tanpa disadari oleh siapapun.
"Kau! Siapa kau berani masuk ke kamar ku!" pekik Jiang Yu Na dengan marah lantaran tak senang sembari menunjuk Ryura dengan jari telunjuknya.
"PELAYAN...!!! TANGKAP DIA DAN BERIKAN DIA HUKUMAN KARENA SUDAH BERANI LANCANG TERHADAP NONA INI!" perintahnya di turunkan dengan angkuhnya.
Sayang sekali, tak ada perubahan sedikitpun pada Ryura selain menatap diam kearahnya.
Para pelayan sebenarnya dapat merasa hal ganjil dari diri Ryura. Tapi, apalah daya kalau mereka hanyalah seorang pelayan.
Mereka pun mendekat untuk menangkap Ryura dengan keberanian kecil sekaligus dibuat-buat. Namun, malang sekali...
Sreeet...
Jleb!
Srak!
Splash...!
Dugh!
Buagh!
Krak!
Blasss...
Menggunakan matanya sendiri untuk melihat apa yang tersuguh didepannya. Seketika itu juga, Jiang Yu Na terpaku membeku ditempat.
Aliran dingin segera menjalar di punggungnya. Jantungnya berdetak amat kencang beserta ketakutan yang bangkit. Butiran-butiran keringat dingin pun mulai bermunculan sebesar biji jagung. Telapak kaki dan ujung jari tangannya berubah dingin dan pucat seketika sama halnya dengan wajahnya yang langsung kehilangan warna.
Dia sudah mirip seperti kertas putih yang menyedihkan.
Didepan matanya, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang pembunuh sejati melakukan aksinya. Dia sampai benar-benar telah kehilangan suaranya. Meski hatinya sudah ketar-ketir ketakutan, lidahnya tetap tak bisa di ajak kompromi paling tidak untuk sekedar berteriak minta tolong. Sangat kaku seperti habis dibekukan.
Dia sudah tampak seperti orang bodoh yang tak bisa apa-apa.
Kemana perginya kesombongannya tadi?
Sring!
Tebasan terakhir mengakhiri nyawa orang terakhir yang ada disana. Kini habis sudah pelayan yang selama ini melayaninya.
Tapi, ia tak sempat untuk memikirkan para orang-orang rendahan itu. Karena, kini hidupnya pun perlu dipertanyakan.
Akankah masih bisa baik-baik saja?
Ketakutannya mencapai puncak.
Satu kata yang pasti...
Ia belum ingin mati. Alhasil, melarikan diri adalah apa yang terlintas pada setiap orang yang ingin selamat. Sama seperti Jiang Yu Na.
Tapi, apa bisa semudah itu?
Dengan gerakan cepat, secepat yang ia bisa. Jiang Yu Na memilih melarikan diri. Didalam pikirannya, dia sudah memikirkannya cara untuk mengadukan kejadian ini pada Tuan Besar Zhilli Shin dan meminta pembelaan darinya.
Bagaikan ada bunga padang rumput yang hidup di gurun pasir. Jiang Yu Na berpikir semuanya semudah itu, sampai dia melupakan bahwa tempatnya saja sudah menjadi tempat pemakaman.
Akhirnya...
BRUGH!
Diapun tersungkur jatuh akibat tersandung badan mayat yang tergeletak mengenaskan. Malangnya, dia hampir saja mencium potongan kepala mayat pelayan karenanya. Hal itu membuatnya menjerit seketika dan dengan kalang kabut mencoba kembali melarikan diri hingga lagi-lagi dia tersungkur.
Dan pada akhirnya kekuatannya sirna lantaran rasa takut berlebihan yang ia rasakan.
Sedang Ryura...
Melihat mangsanya sudah tak berdaya, Ryura pun mulai menghampirinya. Kemudian, berdiri tegak tepat didepannya.
Tanpa berkata-kata lagi, saat itulah dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi guna ingin menebasnya sama seperti yang lain.
Namun sayang, suara dan kesigapan kedua sahabatnya yang tiba-tiba datang menghentikan semuanya.
Flashback off...
hadirin sekalian. inikan yang kalian tunggu2. gimana2? puas gak?
Thor kejar tayang ini.... uuuuhhh hahaha ..
__ADS_1
tapi, maaf banget. review nya lama... huhuhu๐ฅฒ
๐๐๐๐๐คญ๐