3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MINTA IKUT


__ADS_3


Cover ***baru buatan author... yang sebelumnya sih juga buatan author... tapi author kurang sreuk... jadi di ganti... hehehe...


Selamat membaca, gaess***...


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Rayan memandang dengan serius sesuatu yang saat ini sedang berlangsung bersama Ryura yang hanya diam dengan sebagaimana dirinya tanpa melakukan apapun diluar kebiasaannya. Tapi, itu bukan masalahnya saat ini. Karena, yang menjadi pusat perhatian keduanya adalah perseteruan antara Reychu dengan seseorang yang baru saja di kenal oleh Ryura. Siapa lagi kalau bukan orang tua bertubuh pendek bernama Duan Xi.


Sorot mata keduanya saling menyorot tajam seolah baru saja mengibarkan bendera perang. Bila di gambarkan sebagaimana dalam komik maka sudah bisa di pastikan kalau di tengah keduanya sudah terpancar kilatan petir tanda permusuhan. Padahal masalahnya tidak sampai mengharuskan mereka seperti itu. Karena alasannya berada pada si 'manekin hidup', Ryura.


Bicara soal alasan tentang apa yang sedang terjadi, seharusnya Ryura ikut andil didalamnya. Tapi, lihatlah ia yang malah duduk tenang di sebelah Rayan sambil menikmati camilan kesemek yang tadi di beli nya sebelum akhirnya ia bertemu dengan kedua sahabatnya yang mulai mempertanyakan perihal pria tua pendek begitu melihat orang tua itu asik mengikuti Ryura dengan riang.


Kini, di sinilah mereka di sebuah rumah makan elite a.k.a restoran ternama di ibukota tepatnya di sebuah ruang VIP yang di pesan khusus oleh Duan Xi guna untuk menyelesaikan masalah yang ia sendiri tak tahu apa masalahnya. Karena tadi ia hanya tahu ketika dirinya di todong oleh banyak pertanyaan dari dua gadis yang mengaku sahabatnya Ryura, muridnya. Lantaran tak ingin memancing keributan di tempat umum maka dari itu ia pun berinisiatif untuk memesan satu buah ruang privat di lantai dua restoran ternama di ibukota negara api untuk mereka.


Kedua anak manusia berbeda generasi itu masih tampak bersitegang seolah tak ada niatan untuk berdamai sebelum mencapai kesepakatan.


"Tidak bisa. Aku yakin kau belum tuli, kakek tua!" sarkas Reychu geram karena sejak tadi orang tua pendek didepannya sangat amat keukeuh dengan pendiriannya. Jelas saja ia tak akan menerimanya begitu saja, Ryura sahabatnya bagaimana bisa main bawa saja.


"Dasar bocah kurang ajar! Aku memang tua tapi aku bukan kakekmu! Sejak kapan aku menikahi nenekmu, hah?! Lagipula aku tidak tuli! Pendengaran ku masih sangat berfungsi dengan baik! Kau dengar?!" ngamuk Duan Xi tak kalah sarkas. Ingin rasanya ia mencabik-cabik mulut gadis yang tak tahu sopan santun itu lalu membuangnya ke comberan yang penuh kotoran. Kesal sekali rasanya ia saat ini.


Sebenarnya ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang ikatan persahabatan diantara mereka. Tapi, yang jadi masalahnya adalah sikap overprotektif gadis bercadar yang tak tanggung-tanggung ini benar-benar menyulitkannya.


"Dan aku tak butuh persetujuan mu untuk mengangkat Ryura menjadi muridku!" lanjutnya.


Reychu mendengus seraya mendelik tajam kearah Duan Xi. "Tentu kau perlu persetujuan ku atau Rayan. Ryura milik kami! Kalau kau lupa!" desisnya di sela-sela giginya yang mengatup, tampak Reychu seperti menahan geram amarah yang ingin sekali ia salurkan langsung pada si biang memicu amarahnya. Kalau bisa ia bunuh saja sekalian.


"Terserah apa katamu! Yang penting Ryura sudah setuju untuk menjadi muridku. Jadi, kau tak perlu repot-repot melakukan semua ini. Uruslah urusan mu sendiri." balas Duan Xi dengan senyum penuh kemenangan sambil bersedekap dada seolah menunjukkan bahwa pernyataannya kali ini akan membuat gadis bar-bar di depannya ini bungkam.


Namun, sayang sekali. Fakta tak seindah ekspektasi. Nyatanya gadis yang baru saja ia ketahui bernama Reychu itu malah tertawa keras tanpa halangan yang mana membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merasa ngilu, takut-takut kalau pita suaranya rusak.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHA....!!!" tawa Reychu sampai membuat perutnya keram karenanya.


"Kau gila, ya! Apanya yang lucu, hah?! Dasar konyol!" umpat Duan Xi ketika ia mulai merasa tak nyaman dengan tawa keras Reychu yang terdengar tengah menertawakannya atas apa yang ia telah ia katakan dan dimananya yang lucu. Ia sendiri tak tahu.


"Huh... Haha...huh...huh... Ekhem!" dehemnya di akhir, berusaha menghentikan tawanya yang seperti sulit untuk di hentikan. "Heh, pak tua! Dengar yang kukatakan, mengerti?! Ini hanya sekali tidak untuk dua kali!" lugasnya tak terbantah, walaupun begitu Duan Xi masih bisa mengacaukannya.

__ADS_1


"Cih!" Duan Xi malah berdecih tak ingin dengar, dengan ekor mata sesekali melirik kearah Ryura yang terlihat tenang di tempat duduknya. Rasanya sangat tidak cocok bila gadis sepertinya bersikap demikian terlebih kepada gurunya. Benar-benar tidak bisa di percaya! Tapi, pertemuan singkat antara dirinya dan gadis berwajah datar itu lalu terlibat percakapan diantara keduanya membuat ia sedikit memahami karakteristik yang dimiliki oleh Ryura. Yaitu, damai dalam tenangnya yang menakutkan.


"Kami bertiga adalah satu dan satu adalah kami bertiga! Segalanya kami lakukan bersama apapun itu! Kami tidak bisa terpisahkan! Jadi, kalau Ryura pergi kami pun akan mengikutinya... Dan kau pak tua... Enyahkan niatmu yang ingin mengangkat Ryura menjadi muridmu, karena Ryura itu sepaket dengan kami. Ada dia, ada kami. Kalau tidak percaya, tanyakan saja langsung padanya!!" jelasnya panjang lebar seraya menaik-turunkan alisnya penuh percaya diri.


Duan Xi mulai disusupi rasa bingung dan mulai mempertanyakan kebenarannya sehingga ia memilih menoleh kearah Ryura yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di baca. Bahkan ia langsung dibuat bungkam begitu melihat anggukan kepala gadis datar itu, karena ia tidak bodoh maka ia tahu bila anggukan itu adalah jawaban untuk apa yang ia pertanyakan di benaknya. Seketika itu juga, bahunya merosot lesu seolah tak terima kebenaran itu.


Puas melihat orang tua pendek yang kalah pada akhirnya sukses membuat Reychu tertawa lagi. Duan Xi hanya bisa mendelik tak suka akan suara tawa Reychu yang amat kentara sekali kalau ia merasa telah berhasil menjatuhkannya.


"Diam kau, gadis jelek!" maki Duan Xi yang sama sekali tidak digubris oleh Reychu. "DIAM KATAKU..." teriak Duan Xi layaknya anak gadis yang kesal malah membuat Reychu menambah volume tawanya. Duan Xi geram bukan main, sampai akhirnya keduanya pun saling berlarian dan mengejar satu sama lain.


Melihat itu Rayan tak bisa bila tidak menggelengkan kepalanya. Menatap jengah dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Reychu? Baginya sudah biasa, memang begitulah gadis itu. Tapi, orang tua itu? ...


"Kau serius dengan keputusan mu?" tanya Rayan kepada Ryura tanpa mengalihkan pandangannya dari dua orang yang justru terlihat seperti sedang bermain kejar-kejaran.


"Hmm." deheman itu berhasil membuat Rayan menoleh kearahnya.


"Jadi, kau akan meninggalkan kami?" tanyanya lagi dengan nada yang terdengar berat dan serak seperti sudah menahan tangisnya. Cukup terlihat bila ia tak ingin di tinggal pergi oleh Ryura.


"Kalian ikut." final Ryura dengan masih asik menikmati kesemek yang tersedia. Ia tetap dalam ketenangannya.


"..." Ryura hanya diam. Tapi, Rayan yakin kalau gadis tanpa ekspresi itu kini tengah berpikir.


Rayan memutuskan untuk melanjutkannya. "Ryura, aku senang mendengar kita tak hanya akan menikmati hidup di negara api ini. Tapi, urusan kita disini belum selesai. Terlebih, Reychu. Tubuhnya milik permaisuri, sangat jelas bila ia tidak bisa pergi begitu saja sebelum masalahnya terselesaikan. Itupun kalau berakhir hidup. Hukum di jaman ini sangat tidak menguntungkan." tukasnya panjang lebar seraya kembali melihat kearah Reychu yang kini terlihat menertawakan orang tua pendek di depannya karena sudah kelihatan lelah.


"Kita bisa mengurusnya sepulang dari belajar." balas Ryura tenang. Rayan yang mendengarnya pun menoleh kembali.


"Itu artinya kita akan kembali kesini lagi." Ryura mengangguk sebagai jawaban. "Benar! Kita memang sudah seharusnya kembali. Begitu kita menjadi lebih kuat, kita akan kembali untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka limpahkan kepada kita. Akupun tak sabar untuk memberi seluruh keluarga Yu penderitaan yang sama seperti yang pernah mereka lakukan kepada pemilik tubuh ini." serunya yakin dengan segala rencana yang mulai berseliweran di benaknya.


"Tapi, waktu kita tidak banyak!" Pernyataan itu membuat Rayan terhenyak bingung.


"Maksudmu?"


"Hanya tersisa 5 bulan."


"5 bulan?! Lima bulan untuk bisa berada di negara api ini, begitu maksudmu?" Ryura mengangguk menjawabnya.


"Tunggu-tunggu... Lima bulan... Jadi, bisa dikatakan kurang lebih 2 bulan kemungkinan kita akan berguru dengan Tuan Duan Xi. Lalu, setelahnya kita kembali untuk menyelesaikan masalah kita yang ada disini. Sementara itu, aku yakin sekali tempat tujuan kita nanti membutuhkan waktu yang lama untuk di tempuh. Bukankah begitu?" jabar Rayan mulai mengurutkan langkah demi langkah yang mesti mereka jalani nantinya. Sedang Ryura hanya mengiyakan saja.

__ADS_1


"Apa cukup bagi kita untuk menyelesaikan semuanya. Masalah kita tidak hanya satu, Ryura! Tapi, tiga sekaligus!" tekan Rayan sedikit frustasi. Baginya, ini adalah kali pertama ia dan dua sahabatnya mendapatkan masalah yang terbilang rumit lebih dari satu. Apalagi minimnya pengetahuan mereka tentang keluarga masing-masing dalam artian mengenai apa yang sekarang ini dilakukan keluarganya bukan tentang siapa saja dan alasan mereka memusuhi pemilik tubuh mereka. Kalau soal itu ia sudah tahu.


"Sekarang kau jadi bodoh, ya..." celetuk Ryura yang mana berhasil membuat Rayan menoleh tertegun. Ia terlambat memahami.


"Eh! Apa maksudmu?!" otaknya mendadak lamban.


Dengan santai Ryura berujar. "Kau memiliki teman yang bisa di andalkan. Minta dia memata-matai mereka." singkatnya.


Perlahan Rayan mulai bisa mencerna dengan baik apa yang di katakan sahabatnya. "'Aahh... Kau benar. Aku punya Ruobin. Laki-laki misterius itu sudah menjadi teman dekat ku. Meskipun misterius dan aneh dengan segala tindakannya, ia cukup bisa untuk ku andalkan. Aku percaya padanya! Kau benar... Tapi, bagaimana kau tahu?" Rayan senang kala mendapatkan solusi tapi ia juga tak menyangka Ryura bahkan lebih dulu mengetahuinya.


Hal itu mengingatkannya pada masa lalu mereka di dunia modern. Dimana Ryura selalu selangkah lebih maju dari kedua sahabatnya yang lain. Tapi, meski begitu Rayan tidak iri sama sekali begitu pula dengan Reychu. Karena menurut mereka itu bukanlah masalah justru itu amat membantu dan mempermudah keduanya untuk bertindak bersama Ryura menyelesaikan tugas mereka sendiri.


"Aku pernah bertemu dengannya." dan saat itulah Rayan ingat ketika teman barunya itu datang malam-malam ke gubuk jeraminya yang entah dari mana masuknya, lalu membawakannya buah-buahan dan sedikit cerita tentang gadis yang katanya datar dan sulit di pahami. Rayan mengangguk paham, ternyata memang benar malam itu Ruobin bertemu dengan Ryura. Tapi, ...


"Ryura, bagaimana kau tahu dia itu adalah Ruobin, temanku?" tanya Rayan penasaran.


"Tebakan ku." singkat Ryura.


"Hanya tebakan?!" katanya tak percaya.


"Kau pernah bercerita." lanjut Ryura menjawab singkat dan tenang.


"Oh iya. Waktu kita saling bertukar cerita itu ya. Astaga... Bagaimana bisa aku lupa..." Rayan terkekeh namun sesaat kemudian ia terdiam dengan ekspresi meweknya. Ryura hanya melirik.


"Ryura..." rengeknya seraya menggenggam tangan sahabatnya. "Dimana aku bisa bertemu dengan dia. Sejak aku di seret Reychu, aku sudah tidak bertemu dengannya lagi." wajah Rayan yang imut itu semakin menggemaskan kala ia menampilkan wajah merana dan sedihnya.


Ryura hanya diam melihatnya. Jika orang lain akan merasa gemas terutama para pria, maka lain halnya dengan Ryura. Ia tak bergeming sama sekali.


"Akan kutanya Furby nanti!" usai mengatakan itu ia kembali lagi menikmati kesemek yang tersisa sedikit itu.


"Ya... Kau benar. Kau punya kuda ajaib itu. Meskipun aku masih meragukan keajaibannya. Tapi, aku percaya. Ryura-ku tak pernah berbohong." tuturnya manja sambil menggelayut lengan Ryura yang hanya di acuhkan oleh si empunya.


Tanpa Rayan sadari sikapnya itu membuat sepasang mata di seberang sana membulat tak percaya. Benaknya mulai dipenuhi tanda tanya.


Ya, dia salah paham... Si pendek tua Duan Xi itu salah paham.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ

__ADS_1


__ADS_2