3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SI MANIS BERDARAH DINGIN


__ADS_3

Sejak hari dimana semua orang menyaksikan kekejamannya dalam menghabisi salah seorang anggota keluarganya sendiri. Maka, sejak saat itu pula hidupnya tetap biasa saja. Maksudnya, bagi Han Ryura tak ada yang berubah. Lain halnya dengan sekitarnya, rasa takut dan tak ingin cari masalah dengan gadis manis itu lebih mendominasi. Sehingga dengan sendirinya bila mereka bertemu Han Ryura, maka mereka lebih memilih menyingkir. Padahal, hal itu tak perlu dilakukan. Karena, Ryura tak akan membantai orang yang tidak mengusik ketenangannya.


Bagi seorang Ryura Jenna. Ketenangan dan kenyamanan pribadi adalah yang utama. Ia paling tidak suka kalau kedua hal itu di ganggu. Tak peduli itu lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, kuat atau lemah, pintar atau bodoh. Baginya, pengganggu tetaplah pengganggu.


Seperti sekarang ini, ia menunggangi Furby berjalan menelusuri jalanan ibukota yang ramai. Tujuannya adalah untuk mencari sesuatu yang ingin mereka makan. Pertarungan tak penting tadi telah menguras banyak energinya dan membuatnya lapar sekarang, pikirnya.


Padahal belum ada sampai dari sehari, tapi bisik-bisik antar perorangan lebih cepat dari laju kuda. Lihatlah, seketika semua orang mengenali dia sebagai 'si manis berdarah dingin' padahal yang melihat jelas aksi sadisnya adalah orang-orang yang menyaksikan sendiri peristiwa itu. Tapi, ternyata lidah lebih sadis. Tanpa perlu menjadi saksi mata, siapapun bisa langsung mengetahuinya.


Kini seluruh ibukota kerajaan Huoli tahu siapa dia.


Tetapi, untuk kesekian kalinya di katakan. Dia adalah Ryura, bukan gadis lain yang akan peduli dengan hal semacam itu.


Setelah menempuh perjalanan panjang sembari memilah-milah kedai mana yang menjadi pilihan untuk mereka kunjungi sejenak guna mengisi perut yang sejak tadi sudah bergemuruh minta di isi. Sampailah, keduanya di sebuah kedai makanan yang menyediakan makanan berkuah.


Dia berjalan menuju salah satu kursi yang tersedia di bawah tenda, dimana tenda itu berguna untuk menghalangi terik matahari yang menyengat hingga akan menyebabkan pelanggan terganggu.


Didudukkan bokongnya di kursi tersebut dengan Furby yang berdiri tegak di sampingnya. Orang-orang yang tahu siapa dia, meski berdasarkan cerita dari mulut ke mulut tiba-tiba mendadak mengheningkan diri dari celotehan mereka sebelumnya. Takut-takut kalau suara mereka mengganggu gadis itu. Ryura.


Furby yang merasakan perubahan itu, mengedarkan pandangannya keseluruh area kedai makanan yang mereka kunjungi. Dapat ia lihat, kalau semuanya tidak ada yang berbicara. Kini mereka malah diam dalam kesunyian sembari terus menikmati makanannya, walau nyatanya rasa makanan itu tak lagi bisa di rasa sebab fokus mereka ada pada gadis yang tampak acuh di tempatnya.


Melihat itu, Furby hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa mau berkomentar. Lalu, kembali ke posisi semula.


Sedang sang objek penyebab, tak sedikitpun mau ambil pusing dengan sikap orang-orang itu kala ada dirinya. Membiarkan semua orang menyalahartikan kata 'mengusik ketenangan' bagi seorang Ryura.


Kebanyakan dari mereka berpendapat, kalau maksud dari mengusik disini adalah secara keseluruhan. Baik dalam hal suara sampai yang melibatkan fisik, walaupun itu tak berkaitan dengannya. Padahal kenyataannya, arti mengusik yang sesungguhnya bagi Ryura adalah jangan mencari masalah dengannya, seperti mengajaknya bertarung, mengata-ngatai dirinya sementara ia tak tahu apa-apa, dan membuat masalah dengan orang yang di anggap penting untuknya. Intinya mengusik yang mengarah padanya, kalau yang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Ryura tak pernah peduli seberisik apapun itu.


"Bibi!" panggil Ryura dengan suara acuhnya sembari mengangkat tangannya tinggi. Yang dipanggil pun datang dengan gugupnya sampai-sampai butiran keringat sebesar biji jagung menghiasi keningnya.


"I..iya, No..nona. Mau pesan a..apa?" tanyanya gemetar takut. Terlihat aneh sebenarnya, pasalnya ini pertama kali mereka bertemu.


Furby yang melihat itu dibuat menggelengkan kepalanya. "Buang-buang tenaga saja. Ryura bahkan tidak peduli dengannya." batinnya.


"Wonton satu porsi dan air minum biasa!" kata Ryura lalu menoleh ke arah Furby.


Tahu kalau sahabat manusianya ingin menanyakan keinginannya pun langsung bertelepati.


"Aku ingin daun selada."


"Daun selada. Bawakan yang banyak." sambung Ryura seraya memandang datar wanita yang ia panggil Bibi tadi.


Wanita itu justru tergagap sambil mengerjapkan matanya agak bingung. Tak lama ia pun baru merespon. "'Ah... Baik. Tunggu sebentar..." usai berkata begitu, wanita itu langsung bergegas pergi dari sana lantaran tidak bisa menahan ketakutannya yang sebenarnya tak berarti sama sekali.


"Ckckck. Kau lihat itu, Ryura! Kau terkenal seketika. Tanpa perlu repot-repot untuk berkoar meneriakkan namamu sendiri, kau sudah dibuat terkenal. Hahaha... Meski terkenal mengerikan." telepati Furby mengajak Ryura bicara.


Tapi, yang diajak bicara justru tak menyahut. Benar-benar irit bicara.


Tak lama makanan pun datang juga. Tanpa mau menunggu lagi, mereka segera menghabiskan makanannya. Usai itu, tanpa banyak bicara Ryura hanya mengeluarkan 5 keping tael perak lalu meletakkannya begitu saja. Setelahnya ia pun pergi.


Ternyata, tanpa sengaja wanita tadi yang tak lain adalah istri dari pemilik kedai makanan melihat Ryura meninggalkan 5 tael perak tanpa bertanya lalu pergi begitu saja pun bergegas hampirinya sesudah ia menyambar kelima tael perak tersebut.


"Nona, uangnya kebanyakan." kata wanita itu jujur. Mendengar itu Ryu menghentikan langkahnya lalu berbalik guna melihat siapa yang bicara.


Dilihatnya kalau wanita itu adalah orang yang melayaninya tadi, lalu beralih melihat tangan wanita itu yang hendak menyodorkan 2 tael perak yang diyakini adalah kembaliannya.


"Ambil untuk mu." pungkasnya kemudian berbalik lagi dan benar-benar pergi meninggalkan wanita itu dalam keterpakuannya kala 'gadis manis berdarah dingin' -begitu julukannya- dengan begitu mudah mengikhlaskan dua tael perak yang sangat jarang bahkan tak pernah terjadi begitu saja.


Setelah tersadar, ia segera mengeraskan suaranya dengan senang penuh syukur. "TERIMAKASIH, NONA!"

__ADS_1


Yang diteriaki tak peduli. Wanita itu pun tak merasa tersinggung karena terlalu senang. Jarang-jarang bisa bertemu orang yang dermawan.



Keduanya tengah menelusuri jalan menuju penginapan sebelumnya. Rasa lelah tak dapat di hindarkan oleh Ryura. Ia ingin tidur saat nanti ia sampai di penginapan.


Sepanjang jalan, tak lupa ia sempat mampir di beberapa kedai yang menjual camilan. Ia membeli beberapa jenis untuk ia santap nantinya. Kue bulan, bakpao isi, dan tanghulu menjadi pilihannya.


Akan tetapi, belum sampai ke penginapan seruan seseorang yang suaranya sudah ia kenali memanggilnya dengan lantang dari arah atas. Mendengar itu Ryura pun mendongak.


"RYURA!"


Seorang pria tua kecil dan pendek nampak menempelkan dirinya di bibir jendela. Tak tahu saja kalau ia menggunakan kursi tempat duduknya yang berada tepat di dekat jendela untuk menjangkau jendela dimana tadinya dari sanalah ia melihat sekilas keberadaan Ryura yang menunggangi Furby. Kuda itu tampak berjalan santai di tengah-tengah keramaian mengabaikan pandangan takjub kaum awam saat melihat ada kuda yang ukurannya lebih besar dari kuda pada umumnya.


Setelah mendapatkan respon dari orang yang di panggil, tanpa kata ia pun mengisyaratkan panggilan untuk menghampirinya dengan melambaikan tangannya pada Ryura dari atas.


Dan Ryura sendiri tak punya alasan untuk tidak menemui pria tua yang sudah berjasa menjadi Gurunya itu. Bagaimanapun ia tetap masih memiliki rasa hormat. Tentunya, untuk orang-orang yang menurutnya patut dihormati.


Ditepuknya leher gagah Furby yang ternyata juga sudah mengetahui keberadaan Duan Xi yang berada di lantai atas sebuah rumah makan elit di zaman itu.


Paham maksudnya, Furby pun membelokkan arah jalannya menuju ketempat dimana Duan Xi berada. Sesampainya didepan pintu, Ryura turun dan langsung meninggalkan Furby disana. Kuda bulan itu tak lagi tersinggung atas perlakuan Ryura padanya. Ia cukup memahaminya. Dengan sendirinya pun ia berjalan menuju tempat penitipan kuda yang berada di samping rumah makan tersebut dan memilih untuk istirahat lebih dulu.


Didalam rumah makan itu, Ryura berjalan santai sambil membawa belanjaannya tanpa mempedulikan bisik-bisik para pengunjung rumah makan itu yang sepertinya cukup mengenali siapa dia.


"Itu... Bukankah Nona Muda Bungsu dari Keluarga Han? Dia yang di kabarkan telah membunuh pamannya sendiri itu, benarkan?"


"Kurasa... Dilihat dari sikapnya yang datar itu, tidak salah lagi."


"Eh! Bukankah dia juga yang telah membunuh Han Fei Rong di jalanan ibukota di sebelah sana?!"


"Aku tak menyangka... Gadis semanis dia akan menjadi pembunuh mengerikan seperti yang di katakan banyak orang!"


"Kudengar orang-orang menyebutnya 'si manis berdarah dingin'!"


"Benar-benar kejam!"


Terus seperti itu, sampai Ryura menghilang termakan anak tangga yang membawanya ke lantai atas. Dimana ruangan VIP ada disana.


Dan, sampailah ia di depan sebuah pintu. Mengangkat tangannya ia gerakkan untuk mengetuk pintu. Sampai suara dari dalam mengizinkannya masuk terdengar.



Keduanya saling duduk berhadapan dengan meja bundar sebagai pembatas. Diatas meja itu tampak sebuah teko keramik juga dua cangkirnya yang sejenis. Duan Xi sudah memesan untuk menyiapkan semua itu untuk menyambut Ryura.


Jujur saja, meski gadis manis itu jarang berbicara dengannya. Tapi, ia tahu gadis itu menghormatinya.


Cuuur...


Suara air mengisi ruang cangkir kecil itu melenyapkan keheningan keduanya. Duan Xi menuangkan air teh untuk murid kesayangannya itu, lalu memberikannya pada sang murid.


Ryura pun tak hanya diam saja. Ia membuka bungkusan camilan yang ia beli, kemudian di letakkan di tengah meja. Memberi tanda kalau ia akan membagi miliknya.


Pria tua juga pendek itu seketika paham tanpa perlu bertanya lagi. Karena sudah ada izin, tanpa ragu di ambilnya bakpao isi yang sejak di buka bungkusnya sudah menarik minatnya.


Sambil terus makan, Duan Xi berujar memecah keheningan.


"Kau sudah mengotori nama baik mu, Ryura!" nada suaranya terdengar biasa namun dapat dirasa kalau suara itu mengandung peringatan dan nasehat.

__ADS_1


Ryura diam sembari meneguk teh yang disodorkan Duan Xi untuknya.


Melihat Ryura hanya diam, Duan Xi paham kalau perkataannya tidak cukup kuat untuk membuat seorang Ryura bicara. Ia sudah mengamati dan memahaminya sejak pelatihan tempo hari, sehingga ia cukup mengerti dan sadar diri untuk tidak memaksa gadis itu bicara dan lebih menggunakan kepintarannya dalam menyusun kata-kata agar bisa membuat gadis didepannya ini angkat suara dengan sendirinya.


Karena, seandainya dipaksa pun tak akan membuahkan hasil. Ryura tak memiliki emosi. Alhasil, sebelum membuat gadis itu bicara lawannya sudah lebih dulu emosi.


"Kau tahu! Aku terkejut mendengarnya." raut wajah Duan Xi terlihat syok. "Itu berita paling tak terduga yang pernah aku dengar." jedanya. "Bohong kalau aku bilang tidak pernah melihat aksi saudara membunuh saudaranya yang lain atau aksi sahabat membunuh sahabatnya sendiri, juga ada suami bunuh istri atau sebaliknya. Bahkan aku juga pernah mendengar dimana calon pendamping membunuh calon pendamping nya sendiri. Dan masih banyak lagi..." jedanya lagi guna memandang seksama muridnya. "Akan tetapi, baru kali ini aku melihat atau mendengar ada orang yang membunuh kerabatnya sendiri di muka umum dengan santainya tanpa rasa bersalah dan tanpa takut akan menjadi sasaran empuk hujatan atau bagian terburuknya adalah kau akan mati di hakimi oleh massa!" lanjutnya panjang.


Nyam...


Nyam...


Kembali mengunyah bakpao isi yang masih tersisa di tangannya.


"Dan kau telah melakukan sebagian dari yang aku katakan tadi!" tandasnya mengingatkan tentang Ryura yang tak hanya membunuh anggota Keluarga Kerajaan, tapi juga anggota keluarganya sendiri.


"Aku tidak tahu, apa sebelumnya kau sudah pernah membunuh atau belum. Tapi, tindakan menghilangkan nyawa anggota Keluarga Kerajaan itu cukup beresiko. Bersyukurlah kau tidak ketahuan." Menghela nafas berat. Berat bukan karena perkataannya di abaikan, melainkan berat kalau harus selalu berpikir keras hanya untuk memancing Ryura bicara.


Lanjutnya. "Hanya saja, keberanian mu melenyapkan anggota Keluarga Han yang tak lain anggota keluarga mu sendiri juga tidak bisa dianggap enteng. Mungkin, Kaisar Kerajaan Huoli bisa saja tidak ikut campur dalam urusan keluarga orang lain. Tapi, kau akan di anggap masalah besar bagi kebanyakan orang terutama kalangan bangsawan." jedanya. "Apalagi aku ingat, kau akan ikut Reychu memasuki istana untuk menemaninya mengurus masalahnya. Aku khawatir itu akan menjadi masalah besar untuk mu. Mereka akan terus mengawasimu demi menjaga keamanan Keluarga Kerajaan terlebih Reychu adalah permaisuri. Ini berat, kau tahu." jelas Duan Xi panjang lebar.


"Aku tahu!" akhirnya, ada juga yang keluar dari mulutnya itu.


"Lantas, kau akan berbuat apa untuk mengatasinya? Aku hanya ingin mengingatkan agar kau tidak asal bertindak. Keselamatan mu yang terpenting!" ujar Duan Xi tersirat kecemasan, bagaimanapun Ryura sudah menjadi kesayangannya. Ia tak peduli sekejam apa muridnya itu, baginya Ryura tetap kesayangannya.


Mendengar nada seperti itu selain yang sering kedua sahabatnya tunjukkan membuat ia memandang dalam wajah pria tua dengan janggut putihnya yang panjang.


"Aku tahu yang ku lakukan! Tidak perlu khawatir!" tandasnya santai sembari menyuapkan sepotong kue bulan kemulutnya.


Duan Xi menghela nafas dalam mendengarnya, lalu mengangguk. Seketika ia ingat, muridnya ini lain dari yang lain.


"Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi, ingat... Kau harus tetap menjaga dirimu dengan baik. Sehebat apapun kau, ada saatnya kau merasakan namanya jatuh." katanya bijak. Duan Xi tidak sadar dengan apa yang ia katakan karena sudah terlanjur dibuat khawatir dengan keadaan Ryura yang sekarang. Padahal, baru awal.


Tapi, siapa yang menyangka kalimat bijak itu membuatnya mendapatkan hadiah luar biasa langka dari Ryura, sampai-sampai membuat ia membeku di tempatnya dengan mulut menganga memperlihatkan sisa kunyahan bakpao yang belum tertelan.


Ternyata...


Ryura, tersenyum tipis menanggapi ucapan bijak sang guru untuknya.


Dan, Duan Xi melihatnya dengan jelas.



yuhuuu...


daku kembali lagi...


Monggo di baca. aku tunggu like, vote, dan komennya yooo...


OJO LALI...


Kalo gitu author kembali ke laman ketik mengetik, buat kelanjutan ceritanya... Wokeh.


author berharap dan berdoa, semoga kalian tetap terus menyukai karya author yang tidak bisa di bandingkan dengan yang lain. karena masihlah kalah jauh...


okok... sampai jumpa lageeeeee...


bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2