
Cuurrr...
Dua cangkir di sisi berseberangan mulai diisi dengan teh herbal yang dituangkan oleh pelayan rumah tangga Keluarga Zhilli Shin secara bergantian.
Saat ini mereka tengah berada dihalaman pribadi paviliun Lotus.
"Silakan diminum." Shin Mo Lan mempersilakan Rayan untuk menikmati secangkir teh herbal buatan keluarganya.
Sebagai keluarga Alchemist, Zhilli Shin lebih suka menggunakan herbal yang mereka tanam dan olah sendiri daripada membelinya di luar. Oleh karena itu, kebanyakan -makanan dan minuman- buatan Keluarga Zhilli Shin semuanya akan terasa berbeda namun khasiatnya luar biasa.
Tanpa canggung, Rayan mengangkat cangkirnya mendekati hidung guna untuk dicoba hirup aroma herbal yang tak pernah tidak dicintai oleh Rayan bila sudah mengatasnamakan herbal ataupun racun.
Suka dengan aromanya, Rayan jadi tidak sabar untuk menikmati tiap teguknya. Jadi, diapun segera meminumnya.
Shin Mo Lan hanya memandangi Rayan dengan senyum dimatanya sambil dengan elegan dan terhormat mengangkat cangkirnya ke bibir untuk meminumnya. Berbeda sekali dengan Rayan yang terlihat agak asal-asalan, namun sialnya begitu imut nan menggemaskan hingga membuat Shin Mo Lan cemas.
Cemas, kalau sampai dia tak bisa menahan diri lagi.
"Haaaahh... Luar biasa. Tuan Shin, apa ini herbal olahan sendiri? Benar-benar nikmat. Saya bisa merasakan kesegaran mengalir keseluruh tubuh saya." seru Rayan tak menutupi rasa penasaran dan kagumnya pada produksi rumahan dalam cangkir teh yang ia teguk ini.
Ia jadi membatin tanpa bisa di cegah. "Huh. Aku jatuh cinta. Tak hanya jatuh cinta pada teh herbal ini, tapi juga pada tuannya. Sungguh hebat!"
Usai meneguk beberapa tegukan terakhir, Rayan meletakkan kembali cangkir itu. Lalu, dengan santainya menyangga wajahnya dengan kedua tangan langsung sambil menumpu siku di atas meja.
Posturnya tampak seperti anak-anak yang terpesona akan sesuatu. Nyatanya, Rayan memang tengah terpesona oleh sesuatu.
Dan itu adalah Shin Mo Lan.
Sebagai target tatapan, untuk pertama kalinya Shin Mo Lan merasa tatapan Rayan begitu menembus pertahanannya yang selama ini terjaga dengan baik. Tak peduli secantik apapun perempuan itu, sulit baginya untuk tertarik. Tapi, Rayan adalah hal lain.
Dia nyaris gagal.
Rayan benar-benar melupakan keanggunannya, karena jatuh cinta.
Tak mau sampai kelepasan, Shin Mo Lan segera mengalihkan perhatian Rayan dengan topik yang sesungguhnya ingin ia bahas dengan Rayan sejak awal.
"Nona Rayan, ada yang ingin saya bicarakan. Ini mengenai kemampuan Nona dalam melakukan pengobatan."
Rayan mengangguk mendengarkan. "Ya. Silakan." kata-kata itu keluar dengan mulus seolah-olah dia tidak dalam keadaan sadar kala mengucapkannya.
Sepertinya begitu, karena diwaktu hampir bersamaan batinnya pun berbicara.
"Ya Tuhan. Aku jatuh cinta. Tolonglah aku. Kenapa pria ini bisa begitu mudah menerobos masuk kedalam hatiku?! Aku merasa lemas sekarang. Oh, pria tampan ku. Peluklah aku..."
Shin Mo Lan tahu Rayan memandanginya sebegitunya, tapi ia tak tahu kalau didalam sana itu yang di katakan oleh gadis Rayan tersebut.
Sudah dipastikan, kalau ia mendengarnya wajahnya akan memerah seketika. Mengalahkan merahnya akibat terbakar api.
"Obat penenang yang anda berikan pada teman anda tampaknya bukan sekedar obat penenang biasa. Apakah itu buatan anda?" tanya Shin Mo Lan sopan tanpa berniat untuk mencoba mengorek informasi lebih darinya tentang obat yang di konsumsi Reychu sebelum ia sadar dari tidurnya.
Bagaimana ia tahu? Ia bisa mencium aromanya meski dari hembusan nafas yang kecil. Saat itu ia sedikit terkejut dengan komposisi dari obat penenang yang di telan oleh Reychu. Obat itu sangat lain dari yang lain, aromanya membuat ia bisa menebak apa saja yang terkandung didalamnya.
Akan tetapi, sebagai orang yang jujur. Shin Mo Lan tentu tak akan mencoba meraciknya dari belakang tanpa sepengetahuan si pemilik sebenarnya hanya karena dia amat menyukai ilmu alkimia tersebut.
Alih-alih mencuri, Shin Mo Lan lebih suka mengajaknya bekerja sama. Ini adalah tindakan paling aman dan nyaman untuk semua orang.
Mendengar pertanyaan itu, Rayan mulai tersadar dari lamunannya yang tak ada henti-hentinya mengagumi Shin Mo Lan.
"Huh?!" bergerak duduk ke posisi tegak yang lebih sopan. Bagaimanapun mereka tidak terlalu dekat. "Ya, itu buatan saya sendiri. Saya sudah mempelajarinya sejak kecil. Saya begitu menyukai bereksperimen dengan herbal. Terkadang mencoba mencampurkan herbal yang belum pernah dicoba untuk dicampurkan dengan beberapa herbal lainnya. Atau terkadang, mencoba mengotak-atik apa yang sudah jadi untuk melihat akan jadi apa pada akhirnya. Itu menyenangkan." Rayan cukup antusias kala menceritakannya.
__ADS_1
"Kedengarannya cukup bagus."
"Ya, itu harus. Sebagai seseorang yang menyukai bidang ini akan sangat rugi kalau hanya berpatokan pada apa yang sudah ada dan hanya di kembangkan dalam penguatan. Padahal nyatanya, itu bisa dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Cukup perhatikan apakah menjadi baik atau buruk saat hasilnya keluar." kali ini Rayan tak lagi memikirkan soal hatinya karena sudah di alihkan ke hal yang sudah lama ia sukai.
"Oh begitu. Tidak heran kalau bisa menghasilkan sesuatu yang hebat. Anda luar biasa, Nona." puji Shin Mo Lan tulus, bahkan tanpa sadar tatapan matanya menjadi lebih lembut daripada sebelumnya saat ia menatap perempuan lain.
"Oh terima kasih. Saya jadi malu." jawab Rayan dengan tersipu-sipu. Pipinya yang chubby memerah hingga menambah tingkat kegemasannya.
Shin Mo Lan sampai terkekeh kecil melihatnya.
Tiba-tiba, di tengah-tengah perbincangan keduanya. Suara langkah kaki dari belakang Rayan terdengar mendekat kearah mereka.
Shin Mo Lan Langsung dapat dengan jelas melihatnya dari tempatnya duduk.
Sambil mengerutkan kening, ia bertanya pada pria yang berlari mendekat tersebut.
"Min Hwan, apa yang membuatmu datang kemari?"
Mendengar kalimat tersebut, Rayan spontan pun ikut menoleh guna melihat siapa yang datang.
Ternyata, apa pria tampan lainnya. Dalam hati dia bersorak. "Hebat! Dimana-mana ada pria tampan. Mataku benar-benar dimanjakan. Meski wajah Tuan Shin jelas tak ada tandingannya. Hehe..."
Dipandanginya wajah tampan pria bernama Min Hwan yang baru saja tiba itu. Dilihat dari wajahnya, Rayan bisa menilai kalau dia tipe 'maco'. Lihat saja dari betapa kekarnya dada itu.
Eits! Jangan salahkan Rayan. Min Hwan memakai pakaian dengan bagian dada sedikit terbuka. Dan lagi, bentuk dadanya sudah bisa di bayangkan meski hanya sekali lihat.
Ini jelas tidak akan disia-siakan oleh Rayan.
"Tuanku, anda kemana saja? Saya sudah menunggu cukup lama di ruang kerja anda. Tuan tidak mungkin lupa dengan pekerjaan yang saat ini sedang anda kerjakan bukan. Ini adalah saat-saat tersibuk anda karena harus mengevaluasi kinerja para murid yang mengikuti ujian." cerocos pria itu dengan suara bass-nya.
Rayan sedikit merasa lucu karenanya. Dia bahkan tak menyangka kalau Min Hwan bisa mengomel seperti ibu-ibu kebanyakan.
Tak sampai mendengar jawaban sang Tuan, Min Hwan sudah menoleh kearah Rayan dan menatapnya dengan seksama.
Mulutnya yang ringan itu kembali terbuka. Kali ini terdengar seperti kekasih yang memergoki kekasihnya berselingkuh. Shin Mo Lan sampai mengerutkan keningnya tak berdaya melihat kelakuan bawahannya. Kalau dia tidak ingat, pria bernama Min Hwan ini cukup memenuhi syarat untuk menjadi orang kepercayaannya. Sudah dipastikan kalau dia tidak akan tahan dengan mulutnya yang cerewet itu.
"Ini siapa, Tuan? Kekasih anda? Sejak kapan anda memiliki kekasih?!" tanyanya tanpa pikir panjang.
Saat hendak menjawab, Rayan sudah lebih dulu menyela dengan santai.
"Belum, Tuan." jawabannya menyentak kedua pria didepannya hingga tercengang.
"Hah?!" serempak.
"Apanya yang belum?" sahut Min Hwan cepat. dia sangat tahu kalau dia tidak salah dengar. Kata 'belum' itu, jelas-jelas bukan sekedar kata. Itu semacam konfirmasi yang disamarkan.
Ternyata, Shin Mo Lan pun berpikir demikian. Ini membuatnya tak bisa mengelak dari keterkejutan.
Jantungnya tersentak seketika.
Deg!
Lagi, Rayan dengan senyum manis dan tak tergoyahkan karena rasa malu pun menopang dagunya dengan satu tangan. Posenya benar-benar membuat orang yang melihatnya menggeram gemas.
"Benar, Tuan Shin. Kita memang belum memasuki tahap yang lebih serius. Bagaimanapun kita baru saja saling mengenal. Tapi, bagaimana ya..." jedanya. Nada itu centil.
Deg!
"Saya sudah lebih dulu jatuh cinta pada pandangan pertama begitu saya melihat anda. Hahaha..." ia terkekeh sendiri usai mengungkapkan isi hatinya. Wajahnya agak memerah, karena nyatanya Rayan tidak malu saat ia mengakui hal sensitif itu.
__ADS_1
Deg!
Otak Shin Mo Lan terasa mandek.
"Saya tahu ini terlalu cepat. Tapi, tenang saja. Saya tidak berharap anda akan menerima saya begitu saya. Bagaimanapun itu hal yang tidak bisa dipaksakan. Saya mengatakan ini tidak lebih hanya sekadar agar anda tahu saja." finalnya seraya tersenyum bahagia.
Deg!
Baik Shin Mo Lan maupun Min Hwan, keduanya tak bisa berkata apa-apa lagi.
Terutama Shin Mo Lan selaku target cinta Rayan sudah membeku ditempatkan dengan otak yang seketika itu juga tak berfungsi dengan baik.
Ini jelas bukan kali pertama ada yang menyatakan cinta padanya. Tapi, entah mengapa kalau Rayan mengatakannya rasanya berbeda. Jantungnya sampai tak bisa di kendalikan degupnya. Itu sangat cepat.
"No..nona Ra..Rayan, ini..." gagapnya karena gagal mengendalikan diri.
Sedang Rayan tidak mengatakan apapun selain menambah senyum di bibirnya.
"Ayo, jatuh cintalah padaku. Terima aku. Aku menunggu... Hihihi..." gumam hatinya riang.
Di sisi lain.
"Kenapa sial sekali!" gerutu Chi-chi seraya menjejali mulutnya dengan segenggam tumis sayur ditangannya.
Dia mengunyahnya dengan kasar lantaran kesal.
Saat ini dia, Furby, dan Ruobin sedang menikmati makanan di salah satu halaman atau tepatnya di salah satu gazebo milik kediaman Zhilli Shin sesuai perintah Shin Mo Lan sebelumnya untuk tetap melayani mereka karena mereka bagian dari 3Ry.
"Berhentilah menggerutu. Kau juga tak akan menang kalau ingin mengalahkannya." kata Ruobin tenang namun benar, dia hanya melanjutkan makannya dengan elegan.
Mereka senasib saat ini, jadi apa yang bisa dilakukan.
"Tapi, kenapa mereka begitu egois. Chu-chu ku sampai ditahan begitu. Aku merindukannya. Hiks..." Chi-chi sudah mulai menangis meski kegiatan makannya terus berjalan.
"Tidak hanya kau yang berpikir begitu, bocah kelinci. Kita juga! Jadi, berhentilah merengek tidak jelas begitu. Itu tidak akan mengeluarkan mereka dari jeratan pria-pria itu." sembur Furby lantaran kesal melihat Chi-chi mengeluh seolah-olah hanya dia yang menderita.
Dia sampai meraup semua buah yang di potong untuknya dalam sekali raup saking kesalnya.
"Benar yang Furby katakan." angguk Ruobin sependapat. "Setidaknya, sahabat-sahabat kita tidak meninggalkan kita, itu sudah lebih dari cukup." tambahnya.
"Huh! Menyebalkan! Huhuhuuuu..." Chi-chi masih mengeluhkan hal itu sambil menangis.
Ketiganya dalam suasana hati yang buruk, tapi jelas tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkannya. Mereka hanya bisa diobati setelah bertemu kembali dengan sahabat manusia mereka. Saat ini mereka hanya bisa menelan kepahitan karena jarak yang menjadi penghalang.
Membuat mereka tak bisa tidak menyalahkan tiga pria yang menyabotase sahabat mereka.
Lama menunggu. hehe. maaf y. tapi tenang Thor masih akan selalu up sampe tamat.
yooo jangan lupa, prolog yang Thor up sebagai pembuka di karya Thor satunya.
***LING-LING***
jangan lupa dibaca ya...
Wokeh๐๐๐
__ADS_1