
Beberapa hari telah mereka lewati, termasuk melintasi Negara Bintang. Sama seperti sebelumnya, mereka akan selalu mampir untuk sekedar mandi dan makan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Furby sebagai kuda yang memiliki lebih banyak beban sama sekali tidak keberatan. Karena, faktanya Ryura tahu cara merawatnya meski sangat jarang mengeluarkan suara. Setidaknya, itu cukup bagi Furby.
Reychu dan Rayan tak henti-hentinya memuji keindahan alam yang terpampang didepan mata mereka sepanjang jalan. Dari yang terlihat, Benua Musim Semi sesuai dengan namanya. Fakta membenarkan bahwa tanah negeri ini amat subur. Tak ada yang tidak tumbuh dengan baik di sana.
Terkhusus Rayan. Beberapa kali ia mencoba membujuk yang lainnya untuk mau menghentikan perjalanan mereka sejenak hanya agar ia dapat memiliki kesempatan untuk mencari tumbuhan herbal yang mungkin tumbuh lebih banyak disana. Melihat banyaknya tumbuhan yang tumbuh di tanah subur ini membuat Rayan meneteskan air liurnya karena tergiur untuk menelusuri mereka semua dan menemukan beberapa tumbuhan yang tidak bisa ia dapatkan di Benua Selatan.
Namun sayangnya, Duan Xi menolak permintaan itu dengan lugas tanpa pikir panjang. Alasannya cukup masuk akal. Kenyataannya, saat ini mereka tengah bergegas dalam perjalanan menuju Kerajaan Langit untuk mengikuti festival yang diadakan selama seminggu oleh Kaisar Agung Kekaisaran Tenggara ini. Yang artinya, mereka sedang tak memiliki banyak waktu untuk dapat singgah di tempat manapun.
Apalagi, Duan Xi tak memiliki kediaman pribadi di kekaisaran ini. Tempat tinggalnya yang sebenarnya adalah di Kekaisaran Utara, jadi itu juga yang merupakan alasan lainnya ia menolak keinginan Rayan. Mereka harus menyewa penginapan setibanya di negara Langit, jadi waktu mereka benar-benar tak bisa di ganggu gugat lagi.
Rayan yang memahami hal itu hanya bisa menghela nafas mengalah dan memilih membuat jadwal dengan Ruobin, bahwa mereka akan pergi setelah festival selesai.
Ruobin tidak menolak tentunya. Kalau kata Ruobin. "Apa yang tidak untuk mu, Rayan!" nadanya genit saat mengucapkan itu.
Sedang Reychu, sejak dari ibukota Negara Angin dia terus mengeluh soal postur tidurnya yang buruk. Dia akan mengungkapkan semua keluh kesahnya tentang badannya yang sakit dimana-mana. Itu terdengar berisik, tapi tak ada yang berniat meladeninya. Cukup tahu kalau akan jadi sia-sia, karena pada dasarnya mulut Reychu terlalu ember dan itu bukan sepenuhnya karena dia benar-benar merasa sakit akan tubuhnya. Lebih kepada, karena ia sangat susah untuk diam.
Bukti mengatakan dari reaksinya yang bisa santai dengan mudah seolah-olah ia amat sehat. Bahkan ia masih bisa bercanda dengan beberapa penjual yang ditemuinya hanya untuk potongan harga. Tentu, dengan Chi-chi yang mengekor dibelakangnya tanpa berpaling sedikitpun.
Siluman kelinci itu ternyata amat menyukainya hingga ia begitu setia.
Tak terasa, kini mereka telah tiba juga di salah satu kota sebelum ibukota Negara Bulan.
Diperjalanan sebelumnya, Furby sedikit menceritakan tentang tempat tinggalnya bersama kerabatnya yang lain di bagian tersembunyi yang ada di Negara Bulan. Bisa dikatakan bahwa, Kuda Bulan adalah kuda legendarisnya Negara Bulan. Kuda yang menjadi ikon negara tersebut. Juga, kuda yang menjadi identitas Negara Bulan itu sendiri.
Tapi, sesuatu terjadi. Orang-orang tertentu yang bukan berasal dari Negara Bulan menemukan keberadaan mereka. Sebagian dari mereka haus akan kekuatan mulai mengincar Kuda Bulan untuk dijadikan peliharaan. Sayangnya, sebagai kuda yang memiliki jalan pikirnya sendiri memilih menyelamatkan diri dengan cara melarikan diri sejauh yang mereka bisa.
Kabar pemburuan itu dengan cepat menyebar hingga orang-orang yang berniat memburu mereka mulai bertambah. Sehingga, lambat-laun keberadaan Kuda Bulan tak lagi di ketahui.
Kaisar Kerajaan Bulan marah besar begitu mengetahui hal itu. Ia memerintahkan pasukannya untuk menangkap mereka yang berani mencuri harta milik negaranya dan biarkan mereka menanggung dosa mereka dengan siksaan sebelum akhirnya dieksekusi mati.
Tak hanya pencarian para pemburu, Kaisar juga menurunkan titah untuk menemukan kembali harta negaranya -Kuda Bulan- guna dikembalikan ke tempat asalnya.
Tidak banyak yang mengetahui lantaran titah ini termasuk titah rahasia kerajaan, beberapa Kuda Bulan sudah dikembalikan ke tempat asalnya dan sisanya masih dalam pencarian termasuk Furby. Tapi, Furby tak tahu itu.
Terlebih sejak insiden tersebut, Kaisar beserta orang-orangnya yang kuat membangun dinding pelindung di seluruh wilayah tempat Kuda Bulan berada agar mereka selalu terlindungi. Dinding tersebut memanipulasi mata yang melihatnya, tidak hanya itu dinding pelindung itupun menjadi tampak nyata. Yang pasti sangat kuat. Dari luar mereka hanya akan melihat pinggiran tebing yang tinggi dan tajam, untuk dapat memasukinya pun membutuhkan mantra yang diperlukan agar dapat menembus dinding pelindung tersebut.
Akan tetapi, penjagaan tetap terus berjalan demi keamanan dan kenyamanan bersama.
Tiba juga di Kota Shuwen. Salah satu kota sebelum ibukota Negara Bulan.
Setibanya mereka disana, hari sudah beranjak sore. Tapi, keramaian tak terelakkan sama seperti yang mereka temui di kota-kota ataupun desa-desa sebelumnya.
Cukup semarak dan megah. Lentera dan lampion sudah bergantungan meski belum dinyalakan. Tapi, itu saja sudah jelas menunjukkan dedikasi kota itu untuk ikut merayakan festival perang yang akan datang.
3Ry dan rombongan sepakat sebelumnya, bahwa untuk malam ini mereka akan menginap di salah satu penginapan di kota tersebut. Tubuh mereka yang terasa remuk akibat tidur berdesakan di gerbong kereta dalam posisi duduk butuh relaksasi. Sekalian mereka berniat berendam di pemandian air panas tak jauh dari penginapan.
Seperti apa yang di katakan Duan Xi dan dibenarkan oleh Ruobin. Keduanya sudah pernah menjadi pengembara, tentu saja mereka tahu lebih banyak.
__ADS_1
Berhubung lingkungan yang asri dan kaya akan sumber daya alamnya membuatnya tak sulit menemukan apa yang dicari. Contohnya, mata air panas alami yang ada di sudut kota Shuwen.
Brugh!
"Haaaahh... Leganya... Ini baru benar!" celetuk Reychu usai membanting tubuhnya ke ranjang di kamar yang ia tempati saat ini. Seketika ia merasakan kelonggaran pada otot-otot tubuhnya yang mengencang sebelumnya.
Chi-chi yang setia disampingnya, tersenyum senang melihatnya dan bergerak naik untuk ikut berbaring di samping Reychu.
"Benar! Lelah juga kalau harus tidur seperti sebelumnya. Ini pertama kalinya bagiku. Tapi, karena bersama Chu-chu aku tidak merasa keberatan sama sekali." cetus Chi-chi dengan segala bualan manisnya.
"Ulululu... Lihat siapa yang begitu memujaku?! Aku tahu seberapa berartinya aku bagi mu. Kau jangan sungkan-sungkan untuk memujiku di lain waktu. Aku tahu aku hebat." bangganya pada diri sendiri dengan gampangnya.
"Ya, Chu-chu terhebat...!" pekiknya senang. Reychu tertawa dibuatnya.
Di kamar sebelah...
"Akh... Ini luar biasa. Haah... Untuk pertama kalinya aku menyiksa tubuhku seperti ini." keluh Duan Xi begitu tubuhnya menyentuh ranjang. Ia beberapa kali menggeliat mencari posisi yang nyaman setelah sebelumnya memaksa tubuhnya yang kecil itu untuk tidur duduk di kereta.
Itu benar-benar tidak nyaman untuk orang tua seperti dirinya.
Dia merasa perlu di beri penghargaan atas kesabarannya dalam menerima semua itu.
Tapi, sesuatu melintas dimatanya. Itu menjadi tajam dan penuh kebencian. "Huh! Kalau bukan karena taruhan itu... Aku sudah bersenang-senang sekarang sambil menikmati perayaan festival nanti. Ini semua karena dia! Dialah penyebab penderitaan ku saat ini. Lihat nanti! Aku akan pastikan, kalau aku yang akan memenangkan taruhan itu! Murid si jelek itu akan kalah di tangan muridku yang luar biasa. Huh!" amarah dihatinya masih ada setiap kali ia di ingatkan pada sosok musuhnya yang selalu merasa dia lebih diatasnya hanya karena dia memiliki banyak murid sedang dirinya tidak.
Tak mau membebani pikirannya dengan yang tidak penting, Duan Xi pun memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya saja.
Bergeser ke kamar sebelahnya.
Mengangguk mengiyakan perkataan Ruobin. "Tentu. Aku akan memanggil mu, tapi untuk sekarang aku benar-benar ingin tidur. Pola tidurku sangat buruk beberapa hari ini. Itu tidak baik bagi kecantikan ku." katanya sambil menakup wajahnya dengan kedua tangannya, ekspresi yang ditunjukkan terlihat imut tanpa dibuat-buat dengan bibir yang di majukan.
"Haha... Tentu! Baiklah aku akan meninggalkan mu disini. Kamarku ada di sebelah. Kau datang saja dan panggil aku." terang Ruobin lagi yang kini hanya diangguki oleh Rayan tak lupa dengan senyum lelahnya.
Mengacak sebentar puncak kepala Rayan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kamar penginapan yang Rayan tempati.
Semuanya sudah menempati kenyamanan mereka masing-masing. Tapi, jangan lupakan sepasang lagi.
Yaitu, kuda dan penunggangnya.
Tak tahu terbuat dari apa sosok gadis tak berekspresi itu. Begitu sampai dan menitipkan keretanya pada orang yang dapat dipercaya. Keduanya pergi melintasi beberapa jalur menuju suatu tempat.
Butuh waktu satu jam dengan kecepatan lari Kuda Bulan dan butuh 3 jam dengan kecepatan lari kuda biasa. Bila untuk pejalan kaki, akan membutuhkan setengah hari untuk tiba di sana.
Dimana lagi kalau bukan pintu masuk tempat Kuda Bulan tinggal.
Sesampainya disana, Furby cukup terkejut saat yang didapatnya malah sebuah dinding tebing yang menjulang tinggi. Tapi, sesaat kemudian ia bisa merasakan kalau itu tidak benar-benar tebing melainkan dinding pelindung.
"Sepertinya, keberadaan kami masih di jaga dan dilindungi oleh keluarga kerajaan." telepati Furby sambil mendongak melihat betapa tingginya dinding tebing yang terlihat setelah di manipulasi.
Selain tinggi, dinding itu juga kuat.
Ryura juga menatap tebing itu, menelusurinya dengan tatapannya dari ujung ke ujung. Tanpa ada yang bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Lalu, dia melompat turun dari punggung Furby dan berjalan maju guna ingin menyentuh dinding pelindung tersebut.
__ADS_1
Menurut Ryura tipuannya sungguh hebat. Dia bisa merasakannya. Dinding pelindung yang menyerupai dinding tebing ini tampak begitu nyata. Saat tangannya menyentuh dinding tebing itu, ia bisa merasakan tekstur tanahnya yang padat beserta sisa akar dan bebatuan yang benar-benar tampak seperti tebing sungguhan.
Tanpa melepas telapak tangannya dari dinding pelindung itu, Ryura diam menatapnya. Entah apa yang sedang ia lakukan.
Furby hanya bisa melihat semua itu. Faktanya, kekuatannya tak cukup besar untuk bisa menembus dinding pelindung itu. Furby bisa merasakan bahwa dinding ini seperti di buat oleh beberapa orang hebat nan kuat dari Negara Bulan. Jadi, meskipun Furby adalah Kuda Bulan yang legendaris, itu tidak berarti ia mampu melakukan semuanya tanpa ada kekurangan.
Hanya saja, apa yang selanjutnya ia lihat cukup mengejutkannya.
Sebuah gelombang riak tampak muncul keluar dari tempat dimana telapak tangan Ryura berada. Riak itu mirip seperti riak air saat sesuatu jatuh kedalamnya.
Sontak Furby membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa percaya, saat dirinya sendiri saja tak bisa masuk dengan kekuatannya yang bisa di katakan lebih kuat dari Ryura. Lalu, bagaimana dengan Ryura sendiri?!
"Ryura...! Apa yang kau lakukan?! Bagaimana bisa..." kalimatnya terputus saking tak kuasa melanjutkan. Furby terlalu terkejut. Sedang Ryura tak sedikitpun menanggapi keterkejutan kuda dibelakangnya saat ini.
Saat Ryura merasa sudah tepat, tanpa melepas sentuhannya tangan satunya di ulurkan ke arah Furby sebagai isyarat agar kuda itu mendekat dan dapat ia jangkau.
Dalam keadaan masih bingung, Furby mendekat sesuai keinginan Ryura.
Begitu tangan satunya melingkar di sekitar leher Furby. Tubuh kuda itu merasakan sesuatu mengalir mengguncang setiap sel ditubuhnya mulai dari ujung moncongnya dan menjalar ke seluruh tubuh hingga berakhir di ekornya lalu lenyap. kemudian, dengan spontan menatap dalam Ryura disisinya yang tak peduli sama sekali atas apa yang sedang ia rasakan.
Sambil dituntun Ryura, perlahan-lahan keduanya mulai melangkah maju dan menembus dinding pelindung tersebut. Furby malah semakin syok dibuatnya hingga ia tak bisa berkata-kata dan hanya mengikuti langkah sahabat manusianya saja.
Tak lama, keduanya pun menghilang menyisakan dinding tebing tinggi yang kokoh seperti sebelumnya, seolah-olah tak pernah ada yang mendatanginya.
Di suatu tempat, seorang pria tengah berdiri menghadap jendela yang terbuka. Di luar sana bangunan-bangunan tampak kecil. Sepertinya, pria itu tengah berada di bangunan yang tinggi.
Sebidang punggung lebar dari sosok tubuh yang tinggi berbalut jubah hitam bertudung hingga menutupi kepalanya terlihat dari belakang. Tak ada celah sedikitpun untuk dapat melihat wajahnya. Tangan kirinya memegang sarung pedang sama hitamnya namun memiliki ukiran rumit yang indah disana dan itu juga tampak berkilau, sedang tangan kanannya di letakkan ke belakang sebagaimana seorang bangsawan bersikap.
Drrrt...
Tiba-tiba sebuah getaran dirasakannya dari pedang yang ia miliki. Ia mengelus pedang itu saat getarannya telah menghilang tanpa mengubah posisinya yang tengah memandang keluar jendela, kemudian sebuah senyuman tipis yang lembut terbentuk di bibirnya.
"Dia sudah dekat..."
Tiga kata itu ia gumamkan dengan sepenuh hati. Tanpa ada yang tahu apa maksudnya.
(pinterest: visual penginapan)
(pinterest: visual kamar penginapan)
okokok... ini dulu ya. nnti Thor usahakan up banyak2 hehe...
πππ
__ADS_1