
Makan siang berlangsung dengan meriah ala 3Ry. Sebagai pendamping, para pria hanya menonton dan mencoba memaklumi kebiasaan 3Ry yang terkadang mengagetkan ketiga pria itu.
Salah satunya seperti ini...
Saat Ryura hendak mengambil makanan laut yang tersisa di piring. Reychu dengan sengaja atau tidak, menyerangnya seperti akan berebutan dengan menggunakan sumpit yang dipakainya. Beruntungnya kali ini Ryura tidak merelakan tangannya untuk disiksa lagi oleh si gila seperti yang sudah-sudah. Jadi, dia mengelak dan terjadilah perang sumpit.
Ting!
Tang!
Tring!
Trang!
Disisi lain, Rayan yang makan dengan anggun semakin lama semakin terganggu. Apalagi si pembuat onar duduk tepat disebelahnya. Siapapun bisa membayangkan betapa mengganggunya itu.
Tanpa mempedulikan citranya lagi, dia langsung mencekik leher Reychu yang duduk tepat sebelahnya dengan cara tidak sungguhan lalu mengguncangnya sambil berteriak-teriak memarahi Reychu yang masih saja suka mengganggu Ryura makan.
Kalimatnya kira-kira seperti ini...
Uwing... Uwing... Uwing...
Efek suara mengguncang tubuh Reychu.
"HENTIKAN, BOD*H! BISAKAH KAU NORMAL SEHARI SAJA! INI RESTORAN! DASAR GILA! KAU MAU MEMBUAT SYOK PEGAWAI RESTORAN, HAH! DENGAN MEMBIARKAN MEREKA MELIHAT GENANGAN DARAH SAAT AKAN MEMBERSIHKAN SEMUA INI! JANGAN GILA, DASAR GILA! DAN SADARLAH! KAU AKAN MENIKAH DUA BULAN LAGI! JADI, JANGAN SUKA MENGGANGGU RYURA LAGI SAAT IA MAKAN! KAU PASTI SANGAT MERINDUKAN KEBIASAAN MU ITU KARENA SUDAH LAMA TIDAK MELAKUKANNYA, KAN?! SIAPA YANG PEDULI! DIAM LAH! ATAU KU BUNUH KAU!"
Syukurlah, mereka berada diruang pribadi yang memiliki sistem kedap suara yang bagus. Apa jadinya bila tidak?
Terlebih saat ini tiga pria bangsawan itu hanya membuka mata mereka lebar-lebar melihat semua yang terjadi.
Ketiganya tercengang.
Ini belum pernah mereka lihat sebelumnya, sebab di zaman kuno tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya. Dulu, setelah mereka menikah satu persatu, mereka segera berpisah karena tempat tinggal yang juga terpisah jarak cukup jauh. Kalaupun bersatu, 3Ry tidak bisa santai karena akan selalu ada masalah yang menghampiri ketiganya.
Jadi, bagi para pria. Ini adalah tayangan perdana.
Mereka menjadi seperti sebagaimana kekasih atau suami pada umumnya. Saat istri-istri mereka dalam keadaan seperti ini. Untuk sementara mereka tidak berani menyela.
Takut diamuk juga. Hahaha...
Bai Gikwang dan Ye Zi Xian yang duduk bersebelahan saling berbisik.
"Galak sekali, ya..." ujar Bai Gikwang tanpa melepas pandangannya dari Rayan yang emosional.
Ye Zi Xian mengangguk setuju. "Sangat. Kasihan sekali Mo Lan. Dia harus berhati-hati agar tidak dibantai istrinya kalau dia sampai melakukan kesalahan."
"Benar. Akibatnya, fatal sekali." timpal Bai Gikwang.
Shin Mo Lan di sebelah Rayan memiliki ekspresi tercengang diwajahnya yang tampan. Seperti tidak menduga ada sisi ini pada diri istrinya yang selalu lembut dan anggun serta menggemaskan. Meskipun sebelumnya dia sudah tahu kalau dimana ada Rayan dan Reychu bersama, maka akan selalu ada peperangan.
Walaupun begitu, cintanya bukannya berkurang. Tapi, sebaliknya. Meningkat pesat bak roket yang meluncur ke udara.
Ryura yang menjadi korban diganggu Reychu pada akhirnya menang dan mendapatkan makanan laut yang dia inginkan. Dia hanya diam sambil melanjutkan makan tanpa sedikitpun peduli dengan keributan dua sahabatnya yang sudah biasa terjadi.
__ADS_1
Ryura bahkan masih sempat menyodorkan makanan dari sumpitnya ke mulut Ye Zi Xian yang diterima tanpa ragu dengan mata tak berpaling dari menonton adegan seru didepannya.
Sesaat kemudian, aksi Rayan selesai dilakukan dan iapun kembali ke sikap anggunnya seolah yang tadi itu bukan dia.
Tak lupa, ternyata Rayan masih harus memberikan Reychu peringatan yang selalu diabaikan oleh si empunya nama.
"Awas saja kalau kau kembali berulah! Habis kau di tangan ku!"
"Huh! Membual. Siapa yang takut!"
Semuanya pun akhirnya kembali seperti semula. Tapi, tidak berlangsung lama sampai Rayan harus berulang kali mengendalikan acara makan siang tersebut akibat Reychu yang sulit diam.
Waktu berlalu dan makan siang pun berakhir...
Saat akan pulang, Rayan duluan yang pergi dengan kecepatan tinggi seraya menyeret suaminya agar tidak berlama-lama disana atau dia berkemungkinan untuk benar-benar adu jotos dengan Reychu.
Sebelum pergi, Rayan dan Reychu sempat-sempatnya melemparkan tatapan permusuhan yang biasa diantara mereka. Sedang Ryura disisi lain tidak banyak bicara.
Gadis dengan julukan manekin hidup itu seperti berada dalam kedamaian abadi lantaran tidak terpengaruh sedikitpun.
Bai Gikwang dan Shin Mo Lan lebih banyak menghela nafas daripada Ye Zi Xian.
Setelah banyaknya sesi drama 3Ry yang sudah biasa terjadi, ketiga pasangan itupun pulang ketempat mereka masing-masing.
"Baiklah. Saya pergi dulu. Terimakasih untuk makan siangnya."
Nona Gong yang tak lain adalah Melany Gong mengangguk tidak akrab atau asing pada wanita didepannya yang berkemungkinan adalah kenalannya.
Keduanya pun berjalan keluar dari ruang pribadi untuk berpisah, akan tetapi tepat saat Melany Gong keluar dari ruangan matanya menubruk objek yang mampu menyentuh titik sensitifnya.
Seketika dia berhenti melangkah dengan tatapan tertuju pada sepasang objek yang menyakitkan untuk dilihat namun tak bisa mengelak untuk melihatnya.
Wanita disampingnya menyadari itu pun ikut berhenti dan segera memanggil. Dia tidak mengetahui tentang kemunculan pasangan itu.
"Nona Gong? Anda tidak apa-apa?"
Yang dipanggil tersentak, baru menjawab. "Oh. Ya... Saya baik-baik saja. Anda bisa pergi lebih dulu. Masih ada yang harus saya lakukan." dengan senyum tipis di bibirnya menyembunyikan kecemburuan yang menggelegak didalam hatinya.
"Baiklah kalau begitu. Saya duluan, Nona Gong. Mari!" wanita itu pun pergi dan menghilang dari pandangan Melany Gong.
Melihat itu Melany Gong segera berbalik melangkah kearah pasangan itu pergi.
Ternyata, itu area yang sama namun kelas yang berbeda. Maksudnya, sama-sama ruang pribadi namun bila ruang pribadi yang dipesan Melany Gong sebelumnya adalah ruang pribadi kelas 2. Maka, ruangan yang akan dimasuki oleh pasangan itu adalah ruang pribadi kelas 1.
Melihat itu, Melany Gong menjadi lebih marah. Tangannya terkepal erat nyaris membuat kuku panjangnya yang terawat menembus telapak tangannya.
"Harusnya aku yang masuk kesana bersama Bai Liam bukan perempuan tidak jelas itu!" gumamnya marah.
Merasa tak bisa melepaskan kesempatan ini, Melany Gong pun memilih tempat untuk menunggu karena dia tahu kalau untuk masuk ke ruang pribadi kelas 1 butuh reservasi dan tanda bukti. Daripada malu karena tidak memiliki tanda bukti sebagai tamu ruang pribadi kelas 1, lebih baik menunggu tidak jauh dari pintu masuknya. Dengan demikian, dia bisa tahu kapan pasangan itu keluar.
Dia memiliki ide untuk menemui mereka ataupun membuntuti mereka. Yang pasti , dia harus memiliki cara untuk menyingkirkan perempuan itu dari Bai Liam.
__ADS_1
Pikirannya penuh praduga. Kebanyakan hal-hal yang dianggap buruk seperti, Bai Liam dan perempuan itu makan siang romantis, saling melempar senyum, saling suap-suapan, saling ini saling itu. Semuanya ia pikirkan di otak cantiknya.
Bukannya tenang, Melany Gong malah membuat dirinya sendiri kesusahan karena harus terus menahan kecemburuan. Tapi, apa boleh buat, dia yang menginginkannya.
Saat pikirannya sedang kalut, ekor matanya menangkap sosok yang dikenal.
Tinggi, tampan, dan berambut putih panjang. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Melany Gong pun demikian.
Ye Huan dan Ryura.
Keningnya seketika mengernyit melihat kedatangan pria itu yang ternyata juga membawa perempuan yang dia tahu adalah istrinya dari saat kehebohan pernikahan dadakan pria itu.
Sejujurnya, Melany Gong sama sekali tidak peduli dengan Ye Huan dan segala urusan pribadinya. Hanya saja, sebagai sahabat Bai Liam, Ye Huan pun tak luput dari perhatiannya.
Bagi Melany Gong, selama itu berkaitan dengan Bai Liam bahkan hanya sekedar sahabat sekalipun tidak boleh terlewatkan.
Tapi, melihat Ye Huan datang dengan istrinya, sesuatu melintas dibenaknya.
'Ini adalah perkumpulan pria-pria itu bersama pasangannya!', tebakan lain menyusul. 'Berarti harus ada Shin Da Ming dan istrinya!'.
Pemikirannya itu malah kian memupuk kebenciannya pada Reychu menjadi lebih subur. Dia merasa Reychu merebut tempatnya.
"Seharusnya aku yang disana! Tidak! Sudah pasti aku pemilik posisi itu! Perempuan itu tidak bisa merebutnya dariku! Aku harus segera menyingkirkannya!" batinnya menggebu-gebu karena kecemburuan.
Dia tidak tahu, kalau disaat bersamaan langkah Ryura terhenti tiba-tiba sampai membuat Ye Zi Xian mengikutinya. Sang suami pun menoleh dan bertanya.
"Ada apa, sayang?"
Ryura menggeleng. "Bukan apa-apa."
Keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka memasuki ruang pribadi yang sudah dipesan oleh Bai Gikwang.
Melany Gong masih betah menunggu dengan gelisah. Berulang kali matanya mengamati pintu masuk ruangan pribadi kelas 1. Bertanya-tanya, kapan mereka keluar.
Tak lama setelah itu, dia malah melihat Shin Da Ming dan istrinya datang.
Seperti Ye Huan dan Ryura, pasangan ini pun tidak melihat adanya Melany Gong disana.
Sekali lagi, Melany Gong di buat menunggu ketiga pasangan itu makan siang yang bisa dikatakan terlambat.
Ibarat kata, dia menunggu sampai berjamur barulah ketiga pasangan tersebut keluar dengan Shin Da Ming yang terlihat berjalan keluar lebih dulu dengan langkah tergesa-gesa seperti diseret oleh istrinya, lalu disusul Bai Liam dan kekasihnya yang sesekali tampak sedang mengejek istri Shin Da Ming namun didiamkan saja oleh Bai Liam yang malah berbicara dengan Ye Huan.
Melany Gong tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi dia menyimpulkannya dengan melihat masing-masing ekspresi. Tapi, satu hal yang pasti. Bahwa ketiganya tidak terlibat masalah.
Pemandangan ini sama sekali tidak mengenakkan untuk dilihat. Melany Gong merasa mereka sedang menghinanya karena memiliki cinta yang tak berbalas.
Matanya segera menoleh kearah Reychu yang tertawa bahagia. Dimana dia pikir, Reychu tertawa bahagia karena dimanjakan oleh Bai Liam. Itu menjijikkan dimatanya.
Dia tidak suka dan ingin segera memusnahkannya.
Karena terlalu asik melihat Reychu, Melany Gong tidak tahu kalau keberadaannya terlihat oleh Ryura dengan mata kosongnya.
__ADS_1