
Suasana di dekat pintu masuk kediaman Yu terasa kaku, tapi itu hanya berlaku untuk wanita paruh baya yang adalah nyonya rumah.
Ya, dia adalah nyonya rumah pertama. Ru Jinyu.
Suasana hening diantara dia dan gadis bercadar di depannya ini sungguh amat tak mengenakkan hingga ia sudah berapa kali menggerutu dalam hatinya. Pasalnya ini pertama baginya, ia di buat tak berkutik hanya karena aura yang di pancarkan gadis bercadar itu. Padahal bila di lihat-lihat, selain matanya yang berbentuk tajam karena setengah wajahnya tertutupi oleh cadar apa lagi bila di pakai untuk mengintimidasi lawannya selebihnya gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Reychu sangat terlihat biasa dan tampak lemah persis seperti keponakan haramnya itu.
Jika Ru Jinyu tak nyaman akan suasana yang tercipta maka lain halnya dengan Reychu yang malah greget tak sabar menanti kedatangan orang yang di yakininya sebagai tubuh baru sahabatnya.
"Menyebalkan! Kenapa jadi begini?! Kemana suara dan kata-kata andalanku yang bisa membuat orang lain langsung menunduk hormat padaku! Huh!" gerutu Ru Jinyu dalam hati.
"Ayolah... Keluar kau centil! Aku tidak suka menunggu... Aku harus memastikan kalau bukan hanya aku sendiri yang terdampar di tempat kuno ini... Kalau sampai dugaanku benar, itu akan sangat menyenangkan!!!" kata Reychu dalam hati dengan tak sabar.
Selang beberapa saat.
"Siapa yang berteriak memanggil namaku?" seru sebuah suara yang terdengar malas akibat emosi yang dirasanya tadi dari arah dalam sambil berjalan mendekati kedua orang yang memiliki pancaran aura yang berbeda itu.
Ia muncul seorang diri tanpa kepala pelayan Song Hui. Karena ia juga mendengar ketika seseorang meneriakkan namanya. Jadi, ia langsung datang. Sedang kepala pelayan itu, entahlah di mana.
Ru Jinyu mengernyit heran seraya mengerjapkan matanya tak percaya dengan kalimat serta nada bicara gadis yang tengah berjalan menghampiri mereka. Ru Jinyu merasa asing dengan sikap anak haram yang tentunya sudah di ketahui siapa orangnya.
Dialah, Yu Rayan.
Yang sekarang tanpa di ketahui oleh orang lain adalah Rayan Monica.
Sekarang Ru Jinyu sadar inilah yang di maksud putrinya.
Beda hal nya dengan Reychu yang justru menatap lekat kedatangan gadis yang mengaku namanya di panggil. Ia sampai tak bergeming karena sedang berusaha mencari celah untuk dapat mengenali sosok gadis yang dilihatnya saat ini.
Rayan membalas menatap gadis bercadar di depannya sekarang. Sedikit merasa risih karena di tatap demikian namun entah mengapa ia merasa familiar dengan tatapan itu.
Sadar akan tujuan awalnya, Reychu segera kembali memulai.
"Nah... Ini dia..." katanya yang sukses membuat Rayan menyatukan alisnya bingung. "kemari kau. Kau punya urusan dengan ku." ungkapnya langsung yang mana lagi-lagi mampu membuat Rayan tersentak.
"Hah?! Apa maksudmu?! Aku bahkan tak mengenal mu?! Jangan sembarangan kau ya?!" protes Rayan tak terima tiba-tiba dia di sudutkan oleh orang yang tak di kenalnya. Tak tahu saja ia kalau itu adalah sahabatnya sendiri.
"Sudahlah, ikut saja denganku. Kau akan tahu nanti." sambar Reychu cepat sambil bergerak maju guna mengikis jarak antara dia dan Rayan. Dalam hati Reychu terkikik geli melihat ekspresi sahabatnya yang biasanya ia lihat dari orang-orang yang pernah mereka jaili.
Melihat dan mendengar itu Rayan semakin tak terima. "Jangan menguji kesabaran ku nona... Aku bisa berbuat kasar padamu." mendengar penolakan Rayan, Reychu tak lagi ragu. Ia yakin sekali kalau gadis imut di depannya ini adalah sahabatnya, karena sahabatnya meskipun berparas imut dan cantik tapi ia tetaplah seorang gadis yang bisa menjadi buas di saat-saat tertentu.
Dan sepertinya sedikit bermain tak apa, pikir Reychu.
"Oh begitu?! Kalau begitu biar aku ingatkan! Nona Rayan tak ingatkah kau kalau kau sudah menggoda suamiku?!" kata Reychu spontan tanpa rencana, tapi ternyata itu berhasil membuat Rayan dan semua yang masih berada di sana terkejut bukan main begitu pula dengan Ru Jinyu.
Pikiran semua orang termasuk Rayan kembali ke hari kemarin sore dimana ia di antar oleh seorang pria bertopeng, walaupun Rayan sendiri telah melihat wajah asli pria itu yang ternyata tampan dan cukup menyegarkan matanya lagi misterius. Tapi, ia tak menyangka kalau pria itu sudah beristri dan kini istrinya sedang terlihat ingin melakukan perhitungan.
"Sialan kau topeng rubah! Kenapa tidak bilang kalau sudah memiliki istri..." geramnya dalam hati akibat merasa di tipu.
Tapi, sebenarnya alasan Reychu mengucapkan kalimat tersebut adalah karena Rayan penggemar pria tampan jadi dia menggunakan itu tanpa maksud lain. Sedang ia tak sadar bahwa kalimatnya mampu membuat kesalahpahaman yang lebih besar.
"Jadi... Pria kemarin itu adalah suamimu?" tanya Rayan mencoba memastikan dengan harapan kalau itu tidak benar.
"Eh?!" Reychu tersentak kaget mendengar pertanyaan itu.
"Apa sesuatu telah terjadi kemarin?!" tanya Reychu dalam hati bingung.
Segeralah Reychu berdehem guna menetralkan keterkejutannya kemudian langsung mengiyakan tanpa tahu bahwa itu semakin memperburuk kesalahpahaman tentang Rayan.
"Astagaaa..." gumam Rayan frustasi.
"Ya ampun. Tidak ku sangka. Kau serendah itu Yu Rayan!" sarkas Ru Jinyu penuh penghinaan.
__ADS_1
Rayan hanya mendelik tak suka pada bibi pemilik tubuhya.
"Kau diam saja. Ini bukan urusanmu." ketua Rayan.
Ru Jinyu naik pitam mendengar nada tak sopan Rayan padanya. "Kau sungguh tak berpendidikan, Yu Rayan!"
"Itu juga bukan urusanmu, Ru Jinyu! Kenapa tidak kau urus saja anak jal*ngmu itu!" cercanya karena sudah amat kesal.
Ru Jinyu tak terima mendengar itu. Reychu si biang masalah hanya memandang bingung kedua perempuan berbeda usia di depannya saat ini.
"Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat." gumamnya tanpa rasa bersalah.
"Dasar anak haram tak tahu di untung! Jangan sekali-kali menghina putri ku! Apa kau tak sadar, kalau kau sendiri bahkan sudah menggoda suami orang?! Benar-benar mirip sekali dengan ibumu yang jal*ng rendahan itu." hinanya.
Rayan tak terima terlebih ia turut merasakan sakit ketika ibu si pemilik tubuh di hina. Ia bersiap untuk membalas tapi terhenti saat sebuah tangan menahannya hingga membuatnya menoleh ke pelaku.
"Ikut denganku sekarang!" bisik tegas Reychu dengan tatapan mata yang serius. Ia sadar atmosfer di sekitar mereka mulai tak enak.
Rayan tak terima sampai berdecih seraya memberontak agar terlepas dari genggaman gadis bercadar yang masih belum ia ketahui siapa selain dugaan bahwa gadis bercadar itu adalah istri pria tampan dengan topeng rubahnya.
"Lepaskan aku!" kerasnya. Reychu tak peduli bahkan pegangan nya semakin mengerat.
"Jangan berontak, Yu Rayan! Ikut aku sekarang!" kata Reychu tak kalah keras sambil menarik Rayan agar mengikutinya.
Ru Jinyu yang masih tak terima mulai kembali bersuara. "Mau kau bawa kemana anak haram itu?"
"Bukan urusanmu, nyonya! Lebih baik kau diam saja jangan campuri urusan ku dan dia!" tutur Reychu dingin. Aura yang di keluarkan cukup menekan. Rayan yang tadi asik memberontak seketika diam, bukan karena takut akan aura yang di pancarkan gadis bercadar itu melainkan aura tersebut mengingatkan nya pada sahabatnya yang gila itu saat ia sedang dalam mode serius.
"Aura ini... Terasa seperti miliknya..." bingungnya dalam hati.
"Kau..." belum selesai Ru Jinyu berucap. Reychu sudah lebih dulu menarik Rayan pergi dari kediaman Yu tersebut denagn setengah berlari.
Di sinilah mereka sekarang.
"Paman..." sapa seorang gadis yang baru saja muncul namun ia tidak sendirian.
Pria paruh baya yang merasa di panggil segera mengangkat kepalanya yang sejak tadi asik menunduk guna untuk mengamati tungku bakaran miliknya.
"Eh?! Kau rupanya." sambil tersenyum ramah. "Oh... Itu temanmu?" tanya paman Gu Fen begitu melihat kalau gadis yang kemarin dalam sekejap dekat dan akrab dengannya datang tidak sendiri.
"Hehehe... Benar sekali!" jawabnya langsung tanpa peduli kalau gadis yang tangannya masih di genggam nya memberi sorot mata tak percaya.
Otaknya jadi bertanya-tanya kemana sosok istri yang hendak melabrak perempuan yang ketahuan berjalan dengan suaminya, meskipun kenyataannya bukan seperti itu.
"Apa-apaan dia ini..." katanya dalam hati tak habis pikir.
"Kenalkan paman, ini sahabatku... Rayan namanya." kata Reychu sambil tersenyum dari balik cadarnya saat memperkenalkan Rayan pada paman Gu Fen yang di balas senyuman juga.
Sedang yang di kenalkan masih mencoba mencerna segala yang terjadi pagi ini.
"Ada apa sebenarnya ini?" kesalnya dalam hati lantaran tak kunjung paham.
Tapi, sepertinya tuhan langsung menjawab pertanyaannya di detik berikutnya.
"Oh, begitu. Senang mendengar kau tak lagi sendiri nak Reychu." tulus paman Gu Fen dengan masih mempertahankan senyumnya itu.
Rayan yang mendengar sebuah nama di sebut semakin bingung sekaligus tak percaya. "Maaf paman... Tadi paman bilang siapa?" tanya Rayan ingin memastikan kalau pendengaran nya tak salah.
"Oh itu... Aku menyebut nama sahabat mu nona. Dia di sampingmu dan bercadar itu. Nak Reychu. Benarkan nama sahabat mu Reychu?" jelas paman Gu Fen yang mana membuat Rayan langsung menoleh ke arah gadis bercadar di sampingnya yang terdengar mengeluarkan suara cengengesan nya seolah mengatakan kalau sejak awal adalah ulahnya.
"Hehehe... Hai, Rayan! Long time no see my best friend!" ucapnya tak sadar bahwa kalimat dengan bahasa asing itu membuat paman Gu Fen mengernyit bingung tak mengerti.
__ADS_1
Mata Rayan terbelalak. "K..kau Reychu... Reychu... Reychu si gila itu!" Reychu memutar bola matanya begitu mendengar namanya di ulang-ulang, sedang untuk julukan 'si gila' yang di ucap Rayan sama sekali tak membuatnya keberatan.
"Terserah kau saja, centil." malas Reychu. Namun detik berikutnya Reychu tersentak kaget...
"AAAAAAAAAAAAAA..."
Brugh!
Hantaman antar tubuh benar-benar mengejutkannya. Rayan seketika memeluknya erat, sangat erat sambil menggoyangkan tubuhnya dan tubuh sahabatnya ke kiri dan ke kanan seraya berputar bahkan sesekali menjingkrak-jingkrak saking bahagianya.
"Ya ampun ini benar kau. Ini kau Reychu! Ini kau! Hahahaha!!!" Rayan tak bisa menutupi rasa bahagianya dan Reychu hanya terkekeh melihat betapa senangnya Rayan meski sebenarnya ia pun tak kalah senang.
"Baiklah... Baiklah... Sekarang lebih baik kita makan saja dulu. Hari sudah mau menjelang siang, aku belum sempat sarapan pagi tadi." ungkap Reychu sambil berjalan ke bangku yang kemarin ia duduki dengan Rayan yang mengekor nya.
Paman Gu Fen yang sejak tadi memperhatikan keduanya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kau punya uang?" tanya Rayan penasaran pasalnya ia tak punya uang begitu berpindah tubuh.
"Tentu saja... Hahaha!" bangganya yang mana membuat Rayan spontan merotasi matanya jengah. "Jika dulu kita bisa mendapatkan uang dengan mudah, apalagi sekarang..." didudukkan bokongnya ke kursi. "Eh! Jangan bilang kau miskin?" celetuknya tak pikir panjang.
Pletak!
Jitakan sukses mendarat di kepala Reychu hingga si empunya kepala meringis hingga mengusapnya.
"Asal kalau bicara. Bukan miskin. Hanya belum kaya saja." elak Rayan yang tak terima di katai miskin.
"Pfft... Sama saja itu, bodoh!" Reychu malah menertawai sahabatnya.
"Kau..." marah Rayan, namun itu tak sungguhan.
"Sudah-sudah. Kita makan saja dulu. Rasanya sudah lama tidak makan bersama." jujur Reychu yang benar-benar terlihat merindukan kebersamaan mereka.
"Huh! Baiklah! Kau yang bayar!" sambung Rayan.
"Tenang. Nanti aku masukkan ke buku hutangmu." canda Reychu.
"Sialan kau, Reychu!" lagi-lagi Rayan kesal di buatnya.
"Hahaha..."
Mereka sungguh menikmati kebersamaan itu. Hanya saja masih kekurangan satu orang lagi.
Ryura.
"Paman seperti biasa, 2 porsi ya..." pinta Reychu dengan mengangkat tangannya tinggi seraya melihat ke arah paman Gu Fen yang tengah membakar daging bebeknya.
"Siap!" sahut paman Gu Fen senang.
Laris, tentu saja senang.
"Jadi, sekarang apa?! Bisa kau ceritakan bagaimana kau bisa menemukan ku?" tanya Rayan langsung begitu pertanyaan tersebut melintas di benaknya.
"Kau mau mendengarnya?" diangguki oleh Rayan.
"Tapi, sebelum itu bisa kau buka cadarmu itu! Itu sangat menggangguku!" kata Rayan merasa risih melihat cadar yang dikenakan sahabatnya itu.
Menyentuh cadar miliknya dengan sedikit melirik. "Ini... Mungkin tidak sekarang. Nanti juga aku akan cerita tentang tubuh siapa yang aku pakai sekarang ini. Aku yakin kau tak akan percaya. Hohoho..." kata Reychu yang mulai dengan tingkah menyebalkan nya itu.
"Terserah kau saja lah!" pasrah Rayan.
Maaf ya readers...
__ADS_1
Author lagi kurang sehat dari kemarin... sekarang masih sih... tapi udah lebih baik...
semoga dua chapter ini bisa membayar rindu kalian yaaa...🥰🥰🥰