
Tepat saat hari berganti malam. Ketiga sahabat itu sudah mulai melakukan persiapan atau lebih tepatnya hanya Reychu dan Rayan. Sebab, Ryura tak perlu melakukan persiapan saja sudah bisa dengan santainya menyusup ke wilayah orang lain tanpa diketahui.
Malam ini Reychu ingin dia bersama kedua sahabatnya dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya untuk segera menyelesaikan masalah mereka di negara itu. Karena nyatanya, Reychu sudah tidak sabar untuk bisa pergi melihat dunia luar.
Malam sebelum mereka pergi menjalankan tugas, Ruobin datang.
"Apa yang kalian lakukan?" ia bertanya begitu melihat Rayan kesayangannya dan Reychu sudah berpakaian serba hitam seperti ninja sedang Ryura masih tetap dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya.
"Oh, kau sudah kembali..." Rayan sedikit tersentak atas kemunculan tiba-tiba sahabat silumannya itu. "Kami akan melakukan sesuatu malam ini untuk bisa segera pergi dari negara api ini." jawab Rayan sambil merapikan pakaiannya agar sempurna tak lupa topeng kucing yang beberapa waktu ini ia gunakan untuk menutupi identitasnya.
"Kalian sudah mulai bergerak?" tanya Ruobin lagi.
Rayan hanya mengangguk mengiyakan, sebelum berbalik menghadap Ruobin dan berseru. "Bagaimana? Apa penampilan ku sudah bagus?" tanya Rayan dengan sedikit kekanakan.
Ruobin tersenyum mendengarnya, baru kemudian mengangguk. "Kau cantik!"
Sayangnya, belum sempat Rayan menyahut dengan suka cita, Reychu sudah lebih dulu menyela.
"Cantik dari mananya! Kau kan pakai topeng, Ray. Tidak akan ada yang lihat, terlebih lagi kita ini akan melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Tidak berguna kau menanyakan penampilan mu yang tidak bakal dilihat orang itu." cetus Reychu tanpa melihat perubahan raut wajah Rayan yang mendengarnya. Ia cukup santai mengatakan semua itu. Meski benar adanya, tapi untuk Rayan yang ada tidaknya orang melihat penampilannya. Gadis itu tetap mengutamakan penampilan.
Lagipula, itu ia lakukan untuk dirinya sendiri. Haruskah Reychu semenyebalkan itu?!
"Kau tahu apa, Rey?! Kau itu tak tahu apapun tentang pentingnya berpenampilan yang bagus! Jadi, lebih baik tutup mulut besarmu itu agar aku tidak berpikir untuk menjahitnya." jengkel Rayan dibuatnya.
"Kau tak punya alat jahit dan lagi kau itu tak bisa menjahit. Jadi, berhenti membual, oke!" balas Reychu acuh tak acuh malah membuat Rayan semakin meradang.
Namun, itu tak berlangsung lama sampai Ruobin mempertanyakan keberadaan Ryura sekaligus bermaksud untuk meredakan pertengkaran yang mungkin akan kembali berlangsung seperti yang sudah-sudah.
"Eh! Ryura dimana?" ia bertanya seraya mengedarkan pandangannya.
"Sudah pergi duluan." sahut Chi-chi dari atas peraduan menjawab pertanyaan Ruobin.
"Benarkah?! Aku tidak merasakan pergerakannya." heran Ruobin juga takjub. Walaupun bukan pertama kalinya lagi, tapi tetap saja rasanya masih sulit di percaya.
"Hm. Kalau aku tidak melihatnya aku juga tidak akan tahu." terang Chi-chi yang memang sedari tadi ia lebih banyak mengawasi Ryura. Entah apa alasannya sampai siluman kelinci itu begitu memperhatikan sosok Ryura yang selalu sukses bikin merinding bocah laki-laki bertelinga panjang itu.
"Kau masih belum terbiasa, Rubah? Payah!" ledekan Reychu pada dasarnya tak terlalu berpengaruh, hanya saja penggilan gadis itu pada siluman tingkat menengah tersebut benar-benar menjengkelkan untuk didengar.
Ruobin malas menanggapinya sehingga dia memilih mendengus saja. Sedang Rayan memilih mengutuk sahabatnya dari dalam hati saking kesalnya.
Untung sayang! Itu yang selalu menjadi pegangan Rayan dalam berdamai dengan kejengkelannya terhadap Reychu.
"Ryura memang begitu. Dia tak suka berbasa-basi bahkan untuk berpamitan sekalipun. Jadi, abaikan saja. Selama dia tidak menghunuskan pedangnya kearah tubuhmu. Maka, itu tandanya kau aman berada didekatnya." jelas Rayan menjelaskan sedikit akan situasi siapapun bila berdekatan dengan Ryura, sahabatnya.
Prok!
Prok!
Bertepuk tangan dua kali oleh Reychu guna mengalihkan perhatian siapapun yang ada di dalam kamarnya. Seraya berkacak pinggang Reychu mulai mengambil sikap layaknya seorang pemimpin, walau dengan gerak tubuh yang tak ada serius-seriusnya.
"Baik, perhatian. Malam ini aku dan Rayan akan menyicil sedikit demi sedikit permasalahan yang terjadi di istana ini untuk segera diselesaikan. Berhubung lokasi yang akan kami masuki memiliki energi spiritual yang kuat, sudah pasti siluman tidak bisa masuk kecuali ingin tertangkap. Jadi, tunggulah disini dan berhati-hatilah. Banyak mata-mata di kediaman ini. Jangan minta bantuan kami... Karena kami akan sangat sibuk!" jelas Reychu yang di ujung kalimatnya malah membuat Ruobin memutar bola matanya dari balik topeng rubahnya.
Berbeda dengan Chi-chi yang justru mengangguk patuh dengan ekspresi memuja yang tinggi. Siluman itu selalu tahu bagaimana cara menjunjung tinggi sahabat manusianya itu.
"Kalau begitu, gadis cantik ini akan pergi dulu. Jangan rindu!" ujar Reychu dengan nada yang dibuat centil seperti Rayan. Tak lupa sambil mengibaskan rambutnya yang panjang.
Rayan yang melihatnya memiliki ekspresi aneh diwajahnya saking tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi sahabat gilanya itu.
__ADS_1
"Kami pergi dulu." kata Rayan berpamitan dengan suasana hati yang buruk.
Karena belum terlalu malam, sepanjang jalan di lingkungan istana ada beberapa pelayan yang berlalu lalang keluar masuk Kediaman juga bangunan-bangunan yang entah apa fungsinya. Ryura tak peduli sama sekali selain tujuannya untuk mengorek informasi.
Setelah menempuh perjalanan dari kediaman Permaisuri ke kediaman Selir Agung yang hanya di habiskan dalam waktu 1 menit menggunakan Qing-Gong. Kini Ryura sudah duduk anteng di sudut ruangan kamar tidur wanita hamil musuh Reychu itu, tepatnya dibalik pembatas ruang.
Jangan bertanya bagaimana caranya dia bisa masuk disaat orang-orang masih berseliweran dimana-mana. Dia selalu bisa melakukan hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh nalar pikiran manusia. Jadi, abaikan saja.
"Tidak bisa!" lugas seorang perempuan yang terdengar dari suaranya. Ia seperti sedang kebingungan sampai nada suaranya terdengar penuh beban pikiran.
"Ini agak sulit. Tabib bilang saat akan melahirkan, wanita itu akan mengalami kontraksi... Dan kontraksi itu tak bisa di duga kapan datangnya. Kalau begini akan sulit untuk menyusun rencana agar tampak kalau aku benar-benar mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku harus melahirkan lebih awal." tutur perempuan itu yang tak lain adalah Selir Agung Gong Dahye dengan sedikit frustrasi.
"Kenapa harus kau pusingkan soal itu, adikku!" seru seorang pria yang ternyata adalah sang kakak Gong Dahye, Gong Dahee.
"Kakak!" kaget Gong Dahye, terkejut dengan kedatangan kakaknya yang tiba-tiba.
Seketika sifat manjanya keluar.
"Bagaimana aku tidak pusing?! Kalau sampai ketahuan akan buruk untuk kita sekeluarga, kakak." rengek Selir Agung Gong Dahye, tak lupa wajahnya yang memberengut frustrasi.
"Hei. Jangan membebani pikiran mu dengan semua itu. Kau akan melahirkan sekarang kalau tidak bisa tenang juga." peringatan dari sang kakak membuat Gong Dahye terhenyak, kemudian barulah ia mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Ia tak ingin mengacaukan rencananya sendiri.
Kini keduanya telah duduk manis di kursi tengah kamar dengan hanya di batasi oleh meja bundar yang seputas sisinya penuh dengan ukiran rumit namun indah.
Ryura di balik dinding pembatas, malah sedang memejamkan matanya seraya duduk di lantai bersandar pada dinding pembatas tersebut. Ia mungkin terlihat seperti tengah tidur, tapi faktanya dia sedang menguping ala dirinya.
"Dengar, biarkan kakakmu ini yang memberitahumu solusinya. Kau hanya perlu diam dan dengarkan!" kata Gong Dahee lembut penuh kasih sayang.
Mengangguk paham. "Kau benar, kakak. Kenapa aku tidak memikirkan tentang itu. Berarti, aku hanya perlu menunggu sampai kontraksi itu datang lalu aku akan langsung memainkan peran agar tidak membuat yang lainnya curiga. Terutama Kaisar Li." Gong Dahye cukup mengerti sekarang. Ia sampai tersenyum lebar kala jalan keluar telah didapat.
"Tepat sekali. Tapi, kira-kira bagaimana dengan dia. Bagaimanapun bayi mu adalah bayinya juga. Dia pasti ingin memilikinya." tanya Gong Dahee yang sepertinya mengetahui sesuatu.
"Kakak tak perlu khawatir. Aku sudah membicarakan itu dengannya. Lagipula, sejak awal dia sudah tahu tujuanku ingin memiliki bayi. Meski aku tak tahu mengapa sulit sekali mengandung anak Kaisar Li. Apa dia mandul?" kata Selir Agung Gong Dahye selalu mempertanyakan hal yang masih sulit untuk diketahui.
Hal yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali anggota dalam keluarga Kerajaan Huoli beserta orang kepercayaannya.
"Tidak mungkin! Kaisar Li subur. Aku pernah menanyakan itu kepada tabib yang waktu itu memeriksa keadaan Kaisar Li." bantah Gong Dahee.
"Lantas mengapa aku tak kunjung mengandung juga. Padahal, jelas-jelas aku pun tak mengalami masalah." bingung Gong Dahye. "Lihat. Aku sampai mempertaruhkan diri seperti ini. Jika saja koneksi Keluarga Gong kita kecil, sudah dipastikan aku tak akan bisa melakukan tindakan nekad sampai seperti ini." lugasnya seraya mengenang apa yang sudah ia lakukan untuk bisa sampai sejauh ini.
"Aku mengerti. Kau tak perlu cemas. Aku akan selalu mendukungmu. Salah satu anggota keluarga kita memang sudah seharusnya dapat menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan Huoli ini. Tinggal memikirkan cara melengserkan Permaisuri bodoh itu." kata Gong Dahee dengan dukungan penuhnya tanpa berpikir kalau yang mereka lalui adalah jalan yang salah.
"Benar!" setuju Selir Agung Gong Dahye dengan kilatan licik di matanya.
"Tapi, sebelum itu pastikan dia bungkam. Jangan sampai dia membuka suara tentang dirinya yang ayah kandung bayimu itu." ucap Gong Dahee mengingatkan adiknya.
"Aku tahu. Tadi pun dia sudah memperingatkan ku. Dia terlihat sekali, kalau dia tak akan mendukung aku lagi. Menurut kakak, aku harus bagaimana?" menoleh menatap kakaknya meminta saran. Wanita itu masih saja ingin melakukan hal buruk bahkan untuk orang yang disebut ayah biologis bayinya.
"Serahkan pada kakakmu ini. Kalau dia berani buka mulut, aku akan melenyapkannya. Orang bermulut besar seperti dia tak perlu hidup terlalu lama di dunia ini." ujarnya tak lupa seringai yang menjelaskan bahwa sudah ada cara untuk menyingkirkan penghalang bagi kebahagiaan adik kesayangannya itu.
"Kalau begitu, aku akan merepotkan mu, kakak." riang manja terlontar dari bibirnya seraya berhamburan ke pelukan sang kakak.
"Apapun untuk mu adikku!" lantangnya tanpa ragu dan membalas pelukan sang adik dengan sayang.
__ADS_1
Tanpa ada yang menyadari kala kelopak mata indah milik gadis berparas manis yang berada di balik dinding pembatas itu terbuka dengan sorotan kosong tak terbacanya, dimana setelahnya ia bangkit dan menghilang dalam bayangan gelap disana.
Dua gadis kini sedang berdiri tepat di samping peraduan seseorang yang di sebut sebagai Ibu Suri. Mereka sudah pasti adalah Reychu dan Rayan.
Kamar sepi itu benar-benar tampak seperti kuburan. Tidak ada siapapun selain wanita paruh baya yang terbaring menyedihkan lantaran mengalami koma yang dipaksakan bukan karena disebabkan oleh suatu kecelakaan.
Siapapun yang melihatnya tentu akan merasa simpati, bahkan Rayan pun merasa demikian. Lain halnya denga Reychu yang acuh tak acuh. Baginya selama itu bukan orang yang istimewa dalam hidupnya, maka jangan pernah mengharapkan simpati atau apapun yang menjurus ke hal itu. Dia tak akan bisa memberinya.
Terlepas dari itu, tanpa menunggu lagi. Reychu mendorong Rayan untuk segera memberikan penawarnya kepada Ibu Suri agar segera sadar.
"Berikan sekarang. Jangan menunggu lagi!" desak Reychu sambil mencolek lengan sahabatnya.
"Aku tahu, tenanglah. Kau diam saja, jangan menuntut terlalu banyak. Masih untung aku mau melakukannya." gerutu Rayan akibat ulah Reychu.
Gadis cantik nan menggemaskan itu bergerak untuk memberikan penawarnya. Ia sudah mengambil tempat di sisi peraduan tepatnya samping kepala Ibu Suri.
"Kau kapan tidak mau melakukannya. Kau itu tak pernah bisa menolak permintaan ku juga Ryura. Jadi, jangan bicara soal untung. Karena, aku selalu diuntungkan oleh keloyalan mu." gamblang Reychu yang sukses membuat Rayan menghela nafas berat.
Rayan jelas tahu itu benar. Tapi, tidak bisakah Reychu tidak mengatakannya dengan begitu mudah hingga ia kehilangan kata-katanya?!
Itu cukup menyebalkan buat Rayan!
"Mulutnya benar-benar bencana!" umpat Rayan dalam hati.
Tak ingin repot-repot meladeni sahabatnya yang gila itu. Rayan pun segera melakukan tugasnya untuk memberikan penawarnya kepada Ibu Suri agar wanita itu segera sadar.
Sebuah botol porselen putih ditangannya telah siap untuk dituangkan ke mulut Ibu Suri setelah tutupnya dibuka. Perlahan tapi pasti, Rayan mulai menuangkan penawar yang sudah ia buat kedalam mulut Ibu Suri dengan hati-hati agar tidak sampai tumpah. Bagaimanapun ia tak ingin usahanya terbuang sia-sia meski hanya setetes saja.
Sampai akhirnya semua berjalan lancar. Rayan segera bangkit dan kembali berdiri disamping sahabatnya seraya keduanya menatap wajah Ibu Suri guna memastikan kalau wanita paruh baya itu akan segera bangun.
Dalam hening yang singkat itu, Rayan angkat suara.
"Aku tak bisa menjamin dia akan bangun saat ini juga." katanya memecahkan keheningan diantara mereka.
Menoleh kearah Rayan dengan bingung. "Apa maksudmu? Penawarnya tidak manjur?" tanya Reychu tak paham.
"Bukan. Penawarnya manjur, aku bisa jamin itu. Hanya saja, kondisi Ibu Suri tak bisa di katakan bagus. Kita tidak tahu selama dan sebanyak apa dia mengkonsumsi obat itu. Bukankah sudah ku bilang dari awal, kalau obat putri tidur ini punya efek samping yang berbahaya. Kau tidak bisa menyamakannya dengan obat tidur biasa. Kalau, Ibu Suri sudah lama meminumnya bisa dipastikan sel-sel dalam tubuhnya telah mati. Itu artinya, tidak bisa membangun kembali semua sel-sel itu hanya dengan sekali teguk dari obat penawarnya. Dia harus berhenti meminum obat putri tidur itu dan mulai meminum penawarnya. Dalam beberapa hari selama komanya belum sampai tahunan, ia bisa kembali pulih." jelas Rayan mengutarakan hasil pemeriksaannya terhadap kondisi Ibu Suri saat ini. Ia tak bisa begitu saja yakin akan kesadarannya yang diharapkan cepat datang hanya dengan sekali pemberian penawarnya. Karena itu, ia menjelaskan hal itu pada Reychu agar ia tak banyak menuntut.
"Ouh... Ternyata begitu." dengan santainya ia menerima semua penjelasan tersebut. "Lalu, apa kau punya stok penawar lagi?" tanya Reychu seraya menoleh kesamping dimana Rayan berada.
"Tentu! Aku selalu siap setiap kali melakukan sesuatu." bangganya tak lupa mengibaskan rambutnya seperti yang pernah ia lakukan. Sampai tak sadar kalau itu mengenai wajah Reychu yang hanya di tutupi cadar hitam.
"Si*lan! Rambut mu, Rayan! Nyaris mengenai mataku. Kau mau membuatku buta, ya?" kesal Reychu sambil menggosokkan matanya yang terkena sabetan dari rambut panjang Rayan.
"Apa-apaan kau ini! Jangan seperti anak kecil! Rambut ku tak akan membuat mu buta. Palingan cuma rabun!" balas Rayan senang diatas penderitaan sahabatnya itu.
"Tunggu saja. Aku akan memotong rambut mu itu!" ancam Reychu.
"Kau berani?!" tersulut juga Rayan akhirnya. Gadis itu sampai berkacak pinggang menghadap Reychu.
"Kenapa tidak? Tinggal ku potong saat kau tidur, bereskan?" ungkap Reychu dengan mudahnya.
"Heh! Itu tak akan terjadi!" yakin Rayan. Gadis itu sudah mulai merencanakan keselamatan bagi rambut panjangnya yang selalu ia puja-puja itu.
Mereka terus seperti itu dengan berbagai arah pembicaraan sembari menunggu penawar yang telah diberikan bereaksi.
__ADS_1
untuk pembaca ku tersayang πππ