
Jiang Wanxi dan Melany Gong pun tiba di meja yang 3Ry tempati.
Jiang Wanxi berujar basa-basi. "Boleh kami bergabung?"
Reychu menaikkan alisnya dengan cara menyebalkan dan menatap langsung dua wanita cantik yang berdiri didepannya saat ini.
"Kalau aku bilang tidak, kalian akan pergi?" senyum yang mengundang pertengkaran terukir di bibir Reychu dengan sangat jelas. Jelas kalau Reychu mau mencari masalah.
Perempuan satu ini memang doyan cari perkara.
Wajah ramah yang Jiang Wanxi pasang retak karena ulah Reychu. Dia nyaris tidak bisa mempertahankan peran wanita elegan yang ramah karena mulut blak-blakan Reychu.
Melihat itu Reychu malah semakin melebarkan senyumnya yang berhasil mempertipis pertahanan Jiang Wanxi. Sementara Melany Gong hanya melihat dan mengamati lawannya, meski sebenarnya diapun hampir terpancing.
"Ya, ampun. Maafkan sikap kekanak-kanakan sahabat saya, ya. Dia memang suka begitu, tapi orangnya baik, kok. Silakan, silakan. Mari duduk bersama. Wanita-wanita cantik tidak boleh diabaikan." tutur Rayan dengan dialog umum yang sering di tiru oleh orang-orang sambil memasang ekspresi ramah yang jelas dibuat-buat. Tampak sekali tak berniat bermain sembunyi-sembunyi.
Meski sebenarnya enggan, Jiang Wanxi dan Melany Gong tak berniat menghindar. Karena mereka sudah bersiap untuk ini.
Sebelum berangkat ke perjamuan, baik Jiang Wanxi maupun Melany Gong sudah memikirkan matang-matang apa yang akan mereka rencanakan agar bisa mengambil posisi Reychu dan Rayan.
Saat diskusi, mereka memahami satu hal, yaitu 3Ry telah mengetahui niat terselubung mereka. Jika, sudah begini mereka tak perlu lagi bermain pura-pura, karena itu akan merepotkan. Pihak lawan sudah tahu apa yang mereka inginkan. Jadi, kali ini mereka hanya perlu bermain secara terbuka.
Dan lihatlah, pihak 3Ry sama sekali tidak menutup-nutupi permusuhan mereka walaupun dipermukaan terlihat ramah tamah.
Alhasil, inilah keputusannya.
__ADS_1
Jiang Wanxi dan Melany Gong mengambil tempat duduk didepan 3Ry masih dengan sikap anggun mereka. Berbeda sekali dengan sikap 3Ry, terutama Reychu yang bertingkah sesukanya tanpa peduli dengan pandangan orang lain.
"Jadi, ada perlu apa kalian mendatangi kami? Aku tahu itu tidak akan sekadar duduk, kan?" tanya Rayan langsung masih dengan senyum ramahnya. Dia duduk dengan tak kalah anggun namun di barengi dengan sikap centil khas dirinya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu secara langsung, Jiang Wanxi dan Melany Gong agak tersentak. Sebab, tak menduga kalau 3Ry akan sangat seterang-terangan itu. Tapi, begini juga bagus. Semuanya jadi semakin jelas.
Dengan senyum percaya diri Jiang Wanxi menjawab. "Nona Rayan sangat pengertian. Anda langsung tahu tujuan kami." ada setitik nada sarkasme didalamnya. Dia bahkan enggan memanggil Rayan dengan sebutan Nyonya.
Rayan tertawa renyah sambil menutup mulutnya dengan cara sopan namun jelas sekali bila dibuat-buat, seperti yang sebelumnya.
"Terimakasih pujiannya. Itu bukan hal yang sulit. Bagaimana kami tidak tahu kalau alarm tanda bahaya sudah berbunyi?!" sindirnya halus namun jelas dengan lirikan penuh makna. "Mm. Tapi, ngomong-ngomong... Panggil saya Nyonya Shin. Saya tidak terbiasa dipanggil Nona." Senyum malu-malu yang tak kalah menyebalkan dari Reychu terbit di bibirnya.
Tentu saja, Jiang Wanxi yang melihatnya jadi mengepalkan tangannya yang ada di atas pangkuannya hingga nyaris menenggelamkan kuku-kukunya di telapak tangannya. Tapi, apa yang bisa dia perbuat selain ikut bermain ramah tamah disini. Walaupun jelas kobaran api peperangan terpancar di mata mereka dan saling beradu dengan sengitnya.
Ditengah-tengah itu, Melany Gong menyela. "Benar. Kami memang tidak bermaksud hanya sekedar duduk saja. Terlebih setelah melihat kalian yang tampaknya tidak ingin bermain meski sebentar." caranya berbicara cukup elegan hingga mampu mengalahkan sikap elegan Rayan.
Melany Gong dan Jiang Wanxi mengarahkan tatapan mereka kepada Reychu yang duduk bersandar dengan gaya bossynya.
Lalu, Reychu lanjut berkata. "Jadi, terus terang saja. Kalian mau jadi pelakor kan?" gamblang Reychu berucap.
Jiang Wanxi memasang ekspresi tak terima bila dikatakan pelakor, sedang Melany Gong masih bisa tenang di luar namun jauh lebih mendidih didalam. Intinya, keduanya sangat tidak senang saat di sebut pelakor.
Tanpa menunggu dua wanita didepan mereka membalas, Reychu kembali bercuap setelah menggelengkan kepalanya dramatis. "Haih. Sebelum hal ini diteruskan. Biarkan aku dengan baik hati mengingatkan kalian..." dia menjeda kalimatnya seraya menatap dua wanita cantik yang Reychu sayangkan kecantikannya bila harus di stempel dengan gelar pelakor diwajahnya.
Sambil mengarahkan telunjuknya bergantian kearah Jiang Wanxi dan Melany Gong. "Kalian berdua tidak akan berhasil..."
__ADS_1
Rayan mengangguk membenarkan.
"Baik calonku, Bai Liam maupun si tabib, Shin Da Ming itu... Keduanya tak akan menoleh kearah kalian sekalipun tidak ada kami. Karena, mereka memang sejak awal tidak pernah ditakdirkan untuk kalian. Entah itu di kehidupan sebelumnya, sekarang, maupun di masa yang akan datang. Jadi, berhentilah bermimpi dan hentikan apapun rencana kalian. Karena, kalau tidak... Konsekuensi yang akan kalian tanggung amat berat. Kalian tak akan sanggup menanggungnya." Reychu menasehati dengan baik, namun tak ketinggalan senyum penuh provokasi tersungging di bibirnya.
Dan senyum itulah alat pemancingnya dan karena melihat senyum itu jugalah, Jiang Wanxi dan Melany Gong berhasil masih dalam jebakan 3Ry.
Dengan tatapan tajam dan nada sama tajamnya, Jiang Wanxi berkata. "Kau bukan Tuhan! Jadi, bukan giliran mu mengatakan itu. Memangnya kau tahu apa tentang masa depan. Kalian berkata begitu hanya karena kalian takut takdir kalian menjadi seorang ratu bagi mereka berakhir sampai disini." jedanya yang kini mengarahkan tatapan menusuknya kepada Rayan sebagai lawannya, mengingat dia yang menginginkan Shin Da Ming.
Suaranya direndahkan namun penuh penekanan dan keyakinan. "Dan aku tidak akan berhenti. Aku tidak percaya orang rendahan sepertimu bisa selamanya bertahan di hati pria hebat seperti Shin Da Ming. Pria sehebat dia, harus diberikan pada perempuan yang hebat juga."
Rayan balas menatapnya tak kalah menusuk, lalu menyeringai. "Dan kau menganggap itu kau? Percaya diri sekali. Heh."
"Itu sudah seharusnya." balas Jiang Wanxi dengan angkuhnya.
"Kau juga begitu?" tanya Reychu pada Melany Gong yang kini balas menatapnya. Keduanya pun beradu pandang.
"Setiap ada peluang harus dicoba bukan?!" nada yang Melany Gong gunakan penuh rasa percaya diri.
Reychu terkekeh merasa lucu mendengarnya. "Sayangnya, sejak awal sudah tidak ada peluang. Kalian saja yang ngotot mencari peluang yang pada dasarnya tak pernah ada. Hati-hati malu..."
"Kita akan tahu nanti. Bukankah akan ada kompetisi di perjamuan ini? Jadilah pemenang. Maka, dialah pemenangnya. Jika kalah, kalian harus meninggalkan mereka." Melany Gong tidak bisa mundur lagi. Selain karena terlalu cinta pada Bai Liam, dia tak terima provokasi Reychu yang menyebalkan.
Melany Gong memiliki keinginan untuk merobek wajah bangga Reychu yang memuakkan itu.
"Jika kalian yang kalah. Tolong jangan gila, ya. Karena, rumah jiwa milik suamiku belum selesai di bangun." ini Rayan yang bicara. Dia juga tak lupa tertawa kecil usai mengatakannya.
__ADS_1
Ryura yang dilupakan oleh keempat wanita disana malah asik dengan ponselnya. Diam seperti biasa dan abai pada perseteruan keempatnya.