3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DIRACUN


__ADS_3

Langkahnya semakin cepat dan jadi jauh lebih cepat, sampai-sampai para pelayan tidak dapat mengikutinya. Tak tahu apa yang terjadi padanya saat keluar dari ruang makan kerajaan wajahnya sudah memerah sangat jelas, gurat ketegangan juga jelas terlihat tapi hal itu cukup untuk membuatnya marah.


Dia yang pada kehidupannya dulu terkenal sebagai seorang gadis yang memiliki 80 persen sifat riang nan gila dan 20 persen sifat serius nan tak terkendali. Meski ia tergolong gadis yang selalu menganggap segalanya remeh dan mudah tapi bukan berarti ia tidak sadar kalau ada kalanya hal itu adalah sesuatu yang harus di tangani dengan serius. Akan tetapi, biasanya hal tersebut baru akan ia anggap serius kala sesuatu itu menekan titik keseriusan dalam diri seorang Reychu Velicia.


Dimana titik itu adalah bagian yang sudah seharusnya untuk di jauhi. Biasanya orang yang mengenalnya atau yang mengetahui akan yang satu itu pada dirinya, pasti sebisa mungkin untuk tidak melewatinya atau berurusan dengan titik tersebut. Dalam arti kata, bahwa titik keseriusan seorang Reychu Velicia adalah titik berbahaya dimana ia tak akan lagi mengendalikan diri saat akan menghadapi sesuatu masalah yang sukses menekan titik tersebut. Baik masalah tersebut kecil maupun besar.


Atau singkatnya, ia akan lepas kendali.


Begitu kakinya yang melangkah tergesa-gesa sejak tadi memasuki kediamannya, sambil lalu ia berujar pada penjaga didepan kediamannya.


"Jangan biarkan siapapun masuk!" lugasnya dengan nada berat yang menyiratkan penekanan tak terbantahkan. Para penjaga hanya bisa mengangguk mengiyakan.


BRAK!!!


Pintu kamarnya ditutup kuat hingga suaranya menggema mengagetkan para penjaga. Penjaga-penjaga itu spontan melongokkan kepalanya guna melihat pintu kamar permaisuri mereka yang di banting keras oleh pemiliknya dari pintu kediaman. Tak tahu apa yang sedang terjadi.


"Kau lihat tadi?" tanya penjaga pertama.


"Eum... Itu terlihat menyeramkan!" jawab penjaga kedua, yang pertama mengangguk setuju dan mereka berdua bergidik ngeri bersamaan.


Tak lama kemudian, para pelayan datang dengan tergopoh-gopoh sembari terengah-engah kelelahan berlari mengejar junjungan mereka.


Saat hendak masuk, kedua penjaga itu menghalangi.


"Tidak boleh masuk! Yang mulia permaisuri memberi perintah untuk melarang siapapun masuk!" tutur salah satunya tegas. Mendengar itu beberapa pelayan tersebut saling pandang dan saling mengangguk singkat.


Salah satunya angkat suara mewakili yang lainnya. "Baiklah kalau begitu... Kami permisi undur diri." setelan berkata mereka pun beranjak pergi dari sana.



"Hah... Hah... Hah... Ukh... Sial*n!! Beraninya!!!" desisnya marah dengan tubuh yang merosot ke lantai tepat di samping peraduan membuat tubuh bagian atasnya direbahkan ke peraduan.


Nafasnya berhembus tidak beraturan, wajahnya merah padam, keringat dingin tampak keluar dari pori-pori tubuhnya dan mulai membasahi permukaan kulit hingga meresap ke pakaiannya. Sambil mencengkram kuat alas tidur di peraduan tersebut, ia mengumpat dengan marah.


"Huh... Huh... KEPAR*T! Huh... Huh... Eugh... BENAR-BENAR SIAL*N!" matanya menyipit dengan tajam sambil terus berusaha untuk mengatur nafasnya yang seolah semakin mencekik dan tertahan tak dapat keluar.


"Siapapun itu! Huh... Dia pikir... Huh... Aku akan berakhir... Huh... Hanya karena ini... Huh... Huh... Dasar baj*ngan bod*h! Huh... Itu tak akan... Huh... Terjadi...! Huh... Huh... Ugh... Si*lan... Ini menyiksa... Huh..." ia mulai kesulitan bicara, dadanya seakan menyempit dan menyendat seluruh oksigen yang ingin ia hirup dan keluarkan. Beberapa kali ia memukul-mukul dadanya sekuat yang ia bisa, tapi tak kunjung mereda.


Dia yang tak lain adalah Reychu tak menyangka 'siapapun itu' akan langsung menyerangnya di hari pertama ia bebas. Padahal ia sudah mau memberi sedikit ruang gerak untuk mereka sebagai tanda salam pembukaan agar bisa merasa sedikit bebas dengan hanya di bumbui oleh provokasi Reychu melalui kata-kata. Tapi, sepertinya 'siapapun itu' tak tahu terimakasih.


Dengan amarah yang mulai menguasai dirinya, ia masih sempat tersenyum bahkan terkekeh di sela-sela rasa sakitnya yang ia yakini telah di racuni. Tak tahu bagaimana cara 'siapapun itu' meracuninya. Sayangnya, itu tak penting lagi baginya. Ia sudah menekankan bahwa 'siapapun itu', baik pelaku yang berani meracuninya ataupun yang hanya melakukan kesalahan kecil padanya tak akan ia beri ampun.

__ADS_1


Karena baginya 'siapapun itu' tanpa terkecuali telah melakukan kesalahan fatal dan itu sudah mengharuskan 'siapapun itu' menanggung akibatnya.


"Kalian berani bermain-main dengan ku! Perlakuan baikku pun di anggap ancaman! Maka, lihat dan rasakan apa itu ancaman sebenarnya dari ku! Reychu Velicia! Aku tidak akan lagi berbelas kasih! Bahkan bila mana kaisar sampai menghalangi jalanku, aku pun tidak akan sungkan lagi padany! Kalau perlu... Aku juga akan menghabisinya!" janjinya yang ia desiskan dalam hati lantaran nafasnya yang semakin lama semakin sulit membuatnya juga turut kesulitan bersuara.


Dengan sisa tenaganya, ia merogoh sesuatu dari saku pakaiannya. Saat telah mendapatkan apa yang ia cari, segera di tarik keluar benda tersebut. Di pandanginya benda itu seperti menyiratkan bahwa itu adalah satu-satunya cara yang bisa menyelamatkannya.


Sebuah benda yang terbuat dari batu giok putih sepanjang jari tengah perempuan dewasa, berukir indah meski Reychu tak tahu apa arti ukiran tersebut. Layaknya seruling, namun yang ini versi mininya juga terdapat sejumput benang berwarna merah darah yang di kumpulkan menjadi rumbai dengan diikat kuat di bagian atasnya agar tidak terlepas satu sama lain, lalu di sambung dengan seutas benang senada untuk diikatkan di salah satu ujung benda itu.


"Aku tidak menyangka akan menggunakan ini lebih awal..." batinnya bergumam. Ia masih berusaha untuk tetap bertahan.


"Rayan... Aku membutuhkanmu..." lanjutnya membatin sambil di bawanya benda itu ke mulutnya lalu meniupnya.


Yang terjadi adalah, tak terdengar apapun. Bagai tak ada suara, namun percayalah, itu akan membantu. Sebab benda itu memang istimewa.


Istimewa untuk memanggil bantuan...



Di sisi lain luar istana, tepatnya di sebuah atap bangunan yang paling tinggi terdapat seseorang di sana tengah berbaring berbantalkan lengannya sembari memandang bulan sabit malam itu.


Saat sedang asyik-asyiknya bersantai, tiba-tiba sesuatu menarik fokusnya. Telinganya yang panjang menangkap sebuah suara yang mengalun terbawa angin. Matanya yang berwarna merah semerah darah menyipit guna mempertajam apa yang tengah ia dengar. Tapi, ia tahu itu bukan sembarang suara melainkan sebuah kode untuk memanggil bantuan dan tentunya ia juga tahu siapa pelaku yang membunyikan suara dari seruling giok putih kecil itu.


Secepat kilat ia bangkit dan kembali memasang pendengarannya.


Layaknya kecepatan cahaya, secepat kilat ia menuruni bangunan tinggi itu dan melaju melintasi apapun dengan hanya mengikuti asal suara tersebut.



"Hahahaha... Hebat! Sungguh hebat! Aku yakin sekali saat ini ia sedang berada pada ambang kematiannya! Hahaha..." seru seorang wanita dari balik tirai pembatas antara ia dan seseorang yang tampak tengah berlutut hormat di depan tirai tersebut. "Kau sudah boleh pergi! Jangan lupa awasi dia dan laporkan padaku perkembangannya! Siapa tahu ia langsung mati. Hahaha..." usai berkata begitu seseorang yang berlutut tadipun segera pamit undur diri.


"Akan saya laksanakan. Kalau begitu, saya permisi." setelahnya seseorang itu pun pergi dari sana dan meninggalkan dua orang wanita yang masih tak dapat di lihat wajahnya karena tertutupi tirai yang terbuat dari lembaran-lembaran bambu yang di Potong tipis kecil namun panjang dan kemudian di kaitkan satu sama lain dengan tali kecil dalam posisi vertikal.


"Kau benar-benar hebat! Dan itu adalah kabar baik!" sahut salah seorang wanita lainnya. "Tapi, dia termasuk luar biasa. Dia masih bisa berbicara setenang itu untuk beberapa saat lalu pergi dengan langkah pastinya. Aku sempat berpikir kalau racunnya tidak bereaksi." katanya.


"Jangan khawatir! Bahkan sekalipun ia seorang siluman, racun itu akan tetap menggerogotinya. Asal kau tahu saja. Itu adalah racun yang langka. Sangat sulit mendapatkannya." terang wanita pertama dengan bangga.


"Benarkah?! Itu bagus! Maka dengan begitu kita bisa segera menyingkirkan wanita jal*ng itu secepat mungkin! Lalu, di susul yang lainnya agar kita bisa dengan cepat menempati posisi tertinggi." sumringah wanita kedua hingga tak bisa menutupi kegembiraannya.


"Yang kau katakan memang benar! Tapi, bagaimanapun. Kita harus tetap berhati-hati. Bila membunuh wanita lemah itu mudah maka membunuh ular berbadan dua itu bukanlah perkara mudah. Wanita itu tidak hanya menempati posisi nomor dua dari yang tertinggi tapi juga memiliki pelindung yang kokoh di belakangnya. Yang artinya, kita tidak bisa bertindak gegabah. Sekarang ini, yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa wanita lemah tak berguna itu tamat dulu baru setelahnya kita memikirkan langkah selanjutnya. Kau mengerti?!" jelas wanita pertama dengan panjang lebar.


"Eum... Aku mengerti! Sangat mengerti!" balas wanita kedua dengan yakin. Lalu, keduanya pun kembali tertawa bersama dan melanjutkan kegiatan minum mereka.

__ADS_1



Brak!


Terdengar suara jendela yang terbuka namun tak terlihat ada yang membukanya. Akan tetapi, tiba-tiba saja muncul sesosok makhluk di dekat tubuh Reychu yang semakin lemah.


Makhluk itu bertubuh mungil layaknya anak kecil berusia 5 tahun dengan telinga yang panjang di atas kepalanya yang dipenuhi rambutnya yang pendek namun lebat juga sama putihnya dan berjenis laki-laki, wajahnya amat lucu persis anak-anak. Terdapat tanda di keningnya berbentuk tetesan air berwarna merah tepat di tengah antara kedua alis putihnya yang tebal. Kulitnya juga amat putih, membuat sosok mungil itu terlihat seperti albino. Ia memakai hanfu laki-laki ukuran mini yang hanya terdiri dari dua warna, yaitu putih yang paling mendominasi dan merah sebagai menyempurna.


Setibanya ia didekat gadis yang sudah ia kenal belakangan ini sedang dalam kondisi memprihatinkan, sungguh membuat ia marah dan kesal. Sedikit memaki dirinya yang lebih memilih berjalan-jalan guna untuk melihat suasana baru di tempat yang baru ia datangi hingga tak berpikir bahwa segala sesuatu pasti dapat terjadi cepat atau lambat.


Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ia di kagetkan dengan genggaman seseorang yang tak lain adalah Reychu. Gadis itu terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa, sehingga hal itu semakin membuat makhluk mungil itu dilanda kecemasan.


"Chu-chu, bertahanlah! Aku akan membantumu!" ia mengulurkan tangannya untuk memeriksa keadaan Reychu. Ia terkejut bukan main.


"SI*LAN! KAU TERKENA RACUN!" pekiknya tak percaya.


Meski ia tak tahu jenis racun apa itu namun ia dapat merasakan kalau racun yang masuk kedalam tubuh Reychu bukanlah sembarang racun. Itu adalah racun yang amat berbahaya.


Reychu yang masih berusaha untuk bertahan mencoba memberitahukan sesuatu, ia menggerakkan jari telunjuknya ke lengan mungil makhluk itu. Ia terlihat sedang menuliskan sesuatu.


Setelah usai, makhluk itupun paham. Ia sampai mengangguk cepat dalam kekhawatirannya.


"Aku mengerti! Sekarang aku akan membawamu pergi menemuinya! Tidak ada waktu lagi selain bergegas!" usai berkata dengan nada berbalut kekalutan yang amat sangat, segera ia menggendong Reychu di punggung kecilnya tanpa beban, meski hanya mampu menampung sebagian tubuh Reychu.


Gadis yang biasanya gila itu tak berkutik sedikitpun. Dia benar-benar tak berdaya saat ini.


Tanpa menunggu lagi, dengan kecepatan yang sama seperti ketika ia datang ke kediaman tulip tempat Reychu tinggal. Makhluk itu segera membawa pergi Reychu dengan kemampuannya, sehingga tak ada yang tahu kalau kini kediaman tulip telah kosong ditinggal pergi pemiliknya.


"Chu-chu bertahan sebentar lagi. Aku tak akan biarkan kau mati!"



hayoo...


kora-kora. eh, kira-kira maksudnya... siapa yang berani meracuni Reychu, yaa...?


lalu, siapa kira-kira makhluk albino bertelinga panjang itu...?


kalau ingin tau jawabannya, ikuti terus perjalanan hidup 3Ry di masa lalu... semoga apa yang author suguhkan mampu memuaskan kalian semua...


***SELAMAT MEMBACA!

__ADS_1


AUTHOR SAYANG KALIAN....!!!


😘😘😘***


__ADS_2