
Langit masih tampak gelap, hawa dingin pun masih terasa. Akan tetapi, di suatu tempat sudah terlihat ramai.
Ya, mereka telah sampai di dermaga. Beberapa kapal yang siap bergerak telah disiapkan. Setiap kapal dengan tujuan berbeda telah di tunggui oleh orang-orang yang akan mencatat nama para penumpang seraya menerima pembayaran. Hal itu layaknya membeli tiket.
Untuk pertama kalinya ketiga sahabat itu melihat betapa hidupnya dunia luar selepas meninggalkan negara api.
Dengan menyingkap tirai jendela kereta, Reychu tanpa malu mengeluarkan kepalanya dan berseru girang.
"Astagaaaaaa! Ini baru kehidupan namanya! Haaah... Sejuknya. Dari sini aku sudah bisa merasakan kejayaan kita.. hahaha...!" gadis itu melantur sesuka hatinya.
Disekitar ada beberapa orang yang melihat pemandangan asing itu. Dimana seorang perempuan yang tidak memiliki rasa malu.
Dari belakang Rayan menyusul guna mengintip melalui celah yang terlihat. Ia pun dapat melihat betapa indahnya pagi buta kali ini. Ramainya lalu lalang orang untuk melakukan perjalanan menyebrangi lautan, sungguh memanjakan mata.
"Rey, minggir sedikit. Beri aku ruang! Aku mau melihat, adakah pria tampan disini?!" menepuk-nepuk punggung Reychu agar gadis itu mau menuruti maunya.
Mendengar itu, Reychu malah dengan sengaja menutupi seluruh lubang jendela menggunakan tubuhnya sambil berkata.
"Kecentilan sekali kau ini. Jangan terlalu mengagumi pria tampan, nanti kau malah mendapatkan suami yang luar biasa jelek. Lalu, menangis histeris sampai hidung mu mengalir, mata mu bengkak seperti di sengat lebah, dan suara cantik mu hilang karena kerusakan pita suara. Malang bukan?" ngawur Reychu tak peduli.
Bugh!
Karena kesabaran yang tipis untuk sahabatnya yang satu ini, Rayan spontan memukul kuat punggung Reychu dengan kepalan tangannya.
"Si*lan kau! Beraninya kau menyumpahi ku!" amuk Rayan tak terima. "Dengar, ya! Jodohku itu pastinya tampan, bahkan tampannya akan mengalahkan ketampanan jodohmu. Aku sumpahi kau akan mendapatkan yang jelek! Huh!" lanjutnya masih dengan kekesalan yang sama.
Reychu melirik sekilas sebelum akhirnya berceletuk ria dengan santainya. "Sumpahi saja. Kalau aku benar-benar dapat yang jelek. Akan aku buang dia dan mengambil jodohmu untuk menggantikannya. Mudah bukan?"
Bugh!
Plak!
Segala jenis pukulan dilayangkan Rayan ke tubuh Reychu yang pada akhirnya meringis sakit sampai ia kembali masuk dan duduk di tempatnya semula.
"Rasakan ini! Kau! Sejak kapan belajar menjadi perusak hubungan orang, hah! Rasakan! Mati kau!" terus seperti itu sampai Rayan puas. Padahal jodoh saja belum ada, bisa-bisanya Rayan semarah itu.
__ADS_1
Reychu berusaha menghindar, apalagi di ruang sempit dengan adanya beberapa penghuni lain didalamnya. Tentunya, membuat Reychu tak bisa dengan mudah bergerak.
"Ukh... Astaga! Berhentilah! Kau sama sekali tidak cantik kalau begini!" ringisnya. Rayan tak sekalipun peduli, dia masih terus melakukannya.
"Biarkan! Aku masih punya cara untuk mempercantiknya lagi!" balas Rayan ketus. "Mati kau!" makinya lagi.
"Ooh... Siapa yang mau mati duluan. Sebelum nafas terakhir ku berhembus, aku pastinya akan membawamu juga. Hahaha... Oh ya! Jangan lupakan Ryura! Dia tak boleh ditinggalkan seorang diri di dunia ini tanpa kita." masih sempat bagi Reychu untuk terus bertahan dengan kekonyolannya di sela-sela ringisan sakitnya.
"Justru Ryura harus hidup, biar aku bisa memintanya untuk menyelamatkan ku dari kehidupan yang mau kau renggut." balas Rayan yang tanpa sadar mulai ikut-ikutan.
Mereka benar-benar bertingkah tanpa melihat situasi saat ini. Padahal di sekitar mereka masih ada Ruobin, Duan Xi, dan Chi-chi. Tapi, kedua gadis itu tak sedikitpun menganggap mereka ada.
Wajah ketiga orang lainnya yang ada disana sudah tak lagi dapat dijabarkan. Antara jengah, tak berdaya, muak, kesal, dan lain sebagainya. Sepertinya masih ada banyak lagi.
Tak hanya ketiganya. Diluar, Furby yang sudah sejak memasuki dermaga memelankan laju langkahnya pun dibuat frustrasi akibat suara yang di keluarkan Reychu dan Rayan. Kala ia melirik Ryura, gadis patung itu tampak anteng dalam diamnya di kusir kereta. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan atau sejenisnya, padahal dia jelas-jelas paling dekat dengan kekacauan yang terjadi dari dalam gerbong kereta.
Tak habis pikir, ada yang seperti itu rupanya.
"Ya ampun... Kesialan apa yang membuatku terjerat di tengah-tengah gadis-gadis aneh ini?!" batin Furby, Ruobin, Duan Xi, dan Chi-chi mengeluhkan takdir mereka yang justru mereka sukai.
Teriakan petugas loket benar-benar membahana. Bahkan dapat di dengar oleh rombongan 3Ry yang masih berjarak sekitar lebih dari 20 meter dari tempat loket pembayaran berada.
Tanpa ba-bi-bu, Ryura segera melompat turun dari kereta yang masih bergerak lantaran Furby belum menghentikan laju langkahnya. Kuda itupun sedikit terkejut kala melihat Ryura melompat turun tanpa ia sadari. Bisa jadi kalau Furby tidak melihatnya, sampai kapanpun ia tak akan pernah tahu kalau Ryura sudah turun meninggalkan kereta yang mereka bawa.
Hanya melihat kemana Ryura pergi Furby dengan santai mengikuti dan berhenti tepat di arak pintu masuk ke dalam kapal tujuan mereka sembari menunggu Ryura selesai membayar.
Ryura berjalan mendekati seorang pria yang tengah asik menulis serta menghitung uang tael yang sudah terkumpul sejak awal loket dibuka.
Ia bahkan tak menyadari kalau Ryura sedang mendekat padanya tanpa suara. Malah dengan santainya ia bersuka cita.
"Hoho... Benar-benar penghasilan yang menjanjikan! Sayangnya uang sebanyak ini bukan hanya punya ku saja. Huh, kapan aku kaya kalau begini." celotehnya masih tak sadar kalau Ryura sudah lebih mendekat. "Untung saja istriku adalah segala-galanya bagiku, kalau tidak aku tidak akan mau mendengarkannya yang menginginkan aku mencari nafkah dengan cara yang benar!" asiknya ia berbicara sendiri sambil tangannya terus bergerak menghitung dan mencatat banyaknya uang yang didapat. Tak menyangka kalau penghitungannya belum juga menemui ujungnya.
Ryura semakin mendekat ke depan meja loket. Normalnya, keberadaan Ryura akan sangat mudah untuk di sadari dan di lihat, mengingat ia hampir tepat berada di depan meja loket. Sayangnya, dia itu Ryura bukan orang normal pada umumnya. Hawa keberadaannya benar-benar tak dapat di rasakan, di baca, ataupun di lihat.
__ADS_1
"Jangan mengeluh, bodoh!" makinya pada diri sendiri. "Kau harusnya bersyukur, istrimu yang cantik itu mau menerima mu yang miskin dan gendut ini tanpa pikir panjang. Lihatlah istri mu itu, langsing... Cantik... Baik... Dari keluarga kaya pula. Kalau kau masih tidak bersyukur, jangan menangis saat kau kena batunya nanti!" omelnya pada diri sendiri sambil mengenang masa-masa dulu kala berjuang mendapatkan sang istri tercinta.
"Lagipula, kau sudah berjanji pada dirimu sendiri dan keluarganya kalau kau akan berusaha untuk membuat hidup istri mu bahagia bersamamu. Lalu, apalagi...! Lagian, sebentar lagi kau juga akan menjadi ayah." senyum bahagia yang teramat tulus terukir di bibirnya hingga pipinya yang gembul itu mampu menenggelamkan matanya.
Di pejamkan matanya sejenak sembari berseru riang. "Wahai anakku yang pertama. Buah cintaku bersama ibumu. Pelengkap kebahagiaan kami. Doakan ayahmu ini, agar mendapatkan lebih banyak uang untuk dapat membuat hidup mu dan ibumu lebih baik lagi. Kau dengar 'kan, nak!"
Tak!
"7 orang!" singkatnya, lalu menggerakkan tangannya untuk menuliskan nama dirinya dan yang lainnya. Tak sedikitpun menggubris pria penjaga loket itu yang saat ini matanya sudah terbelalak lebar melihat sepotong uang tael emas berkilauan tergeletak di mejanya.
Setelah beberapa saat, diapun akhirnya sadar dari keterkejutannya. Kala dia mendongak yang tampak hanya punggung Ryura, ternyata gadis itu sudah mulai berjalan pergi.
Segera. Mengetahui akan hal itu, pria penjaga loket itu bergegas mengejar Ryura sembari membawa uang tael emasnya. Begitu sampai didepan Ryura dan menghadang jalannya, ia langsung berujar.
"Nona, kau belum mengambil uang kembaliannya. Ini banyak sekali..." belum usai pria itu berkata seraya tangannya bergerak gesit untuk mengambil kembaliannya.
Akan tetapi, kalimat yang Ryura lontarkan langsung membekukan tubuhnya ditempat.
"Untuk mu!" kemudian kembali berlalu pergi menuju rombongannya berada. Bersama-sama mereka memasuki kapal yang akan membawa mereka menuju Negara Angin.
Sedang pria penjaga loket disana, masih dalam posisi yang sama. Seluruh organ dan sarafnya seperti telah berhenti mendadak. Dia bahkan sampai tak sempat melihat kepergian Ryura.
Ketika ia telah sadar kembali, barulah ia berbalik melihat kearah kapal yang ia bertugas untuk menjual tiketnya. Matanya sampai berkaca-kaca dengan hati bahagia yang membuncah.
Ia tidak akan menolak, tentunya.
"Hiks... TERIMAKASIH, NONA! TERIMAKASIH BANYAK! SAYA DOAKAN ANDA SELAMAT SAMPAI TUJUAN DAN DAPAT MENCAPAI APA YANG ANDA INGINKAN!!!"
Usai meneriakkan apa yang ingin ia teriakkan, segera uang tael emas itu ia sembunyikan. Kepalanya menoleh ke segala arah guna memastikan kalau tak ada yang mengetahui akan apa yang tengah ia alami.
"Berhati-hatilah! Orang serakah ada dimana-mana! Ini adalah hasil dari doa anakku! Maka ini milikku dan keluarga ku! Jangan sampai ada yang mengambilnya! Huh!" ia bisik pada diri sendiri kemudian bergegas kembali untuk melakukan sesuatu.
ok semoga suka. jangan lupa dukungannya yaaa.
__ADS_1