3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENGAMBIL PENAWAR


__ADS_3

Beberapa pelayan yang berada di kamar klasik itu tampak menundukkan kepalanya menandakan posisi mereka lebih rendah dari junjungan mereka yang saat ini baru saja selesai berganti pakaian dengan gaun tidur.


Wanita yang menjadi junjungan para pelayan tersebut terlihat sekali angkuhnya dari sikapnya yang mendongakkan kepalanya seraya menatap yang lainnya seolah mereka tak lebih dari sekadar alas kaki.


Tapi, apalah daya bagi mereka yang tak sederajat itu.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kabar mengenai keadaan permaisuri?" tanyanya sambil mendaratkan bokongnya ke tempat peraduan dengan sikap bangsawan.


Seorang pelayan yang di ajak bicara mengangguk singkat sebelum menjawab. "Belum, yang mulia. Hamba hanya mendapat kabar kalau yang mulia permaisuri tidak mengizinkan siapapun memasuki kediamannya." jelasnya seperti apa yang telah ia dapatkan.


Memang benar. Sebelum ia kembali melakukan tugasnya layaknya pelayan yang lain, ia sudah lebih dulu melakukan tugasnya yang sebelumnya diperintahkan untuk melihat keadaan permaisuri usai kembali dari makan malam dan itulah hasil yang ia dapatkan.


Wanita itu melirik sedikit lalu memutar bola matanya berpikir. "Tidak mengizinkan siapapun masuk? Tidakkah ia berpikir bila itu justru mempercepat kematiannya?! Huh! Bodoh! Ternyata masih saja bodoh!" sinisnya ia berujar, seringai puas terpatri di bibirnya dengan otak yang sudah memainkan perannya membayangkan apa yang sangat ia harapkan.


Bila bertanya siapa wanita itu? Dia adalah salah satu dari sekian wanita yang menginginkan kematian permaisuri. Namun, sepertinya ia bertindak terlalu cepat hingga tak menyadari seseorang mendengar pembicaraan singkat itu dari balik tirai di sudut ruang samping peraduan dekat dengan jendela.


Sorot mata sosok itu tak terbaca, akan tetapi melihat posisinya sekarang ini membuat sosok itu bak hantu penunggu tirai yang kapan saja siap untuk menampakkan diri.


"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang. Aku ingin istirahat." perintahnya angkuh seraya melambaikan tangannya sebagai isyarat mengusir.


Pelayan-pelayan itu pun pergi meninggalkan junjungan mereka. "Kami mohon undur diri, yang mulia!" izin mereka serempak.


Kini tinggallah ia seorang diri. Masih dalam posisi duduk ia kembali berbicara dengan santai. Bermaksud mengeluarkan apa yang tertahan di pikirannya, tak berniat berbicara dalam hati. Apalagi ia tahunya hanya seorang diri di kamar mewahnya, lalu apa yang perlu ditakutkan.


Ia sangat yakin tak ada yang mendengarnya.


"Aku benar-benar tidak sabar menunggu kabar yang menghebohkan besok." sembari tersenyum miring. "Kerajaan ini akan seketika gempar dengan kabar kematian permaisuri lemah itu!" katanya kemudian ia berdecak kesal.


Mendengus kala perasaannya mendadak masam. "Sebenarnya ini buruk untuk ku. Bila, permaisuri mati. Maka yang akan merasa senang adalah selir agung si*lan itu!" jedanya. "Tapi, tak apa... Aku masih bisa menyingkirkan dia juga. Walaupun dia adalah lawan yang sulit, tapi apa yang tidak bisa dilakukan bila seseorang sudah bertekad. Aku akan menyingkirkan satu persatu dari mereka hingga hanya tersisa diriku seorang." senyumnya kembali terbit sesaat setelah sebelumnya redup. "Hihihi... Aku sungguh tidak sabar melewati semua itu." kekehnya senang.


Dengan perasaan bahagia ia mulai merebahkan tubuhnya untuk tidur. Ia rasa malam ini akan mimpi indah. Tapi, sepertinya tidak begitu. Karena, baru saja ia merebahkan tubuhnya tiba-tiba saja ia berteriak keras dengan tubuh menegang kaku.


"AAAAAAAAAAHHH....!!!" wanita itu berteriak sangat keras kala matanya menyorot keatas tepat saat itu juga sejumput rambut hitam menggantung tepat di depan wajahnya lengkap dengan kepala dimana rambut itu berasal, belum lagi saat satu mata milik kepala itu menatap kearahnya yang terlihat mengerikan di penglihatan nya.


Segera saja ia hendak bangkit namun sudah lebih dulu di cegah oleh dua tangan tepat di kedua bahunya. Tekananya cukup kuat membuat dia benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhnya mulai bergetar takut.


"Si..siapa k..kau...?" dengan suara bergetar ia bertanya. Sosok itu diam tak menjawab, ia hanya menatap lebih dalam.


Wanita itu tak bisa menutupi rasa takutnya, saat ia dapat dengan jelas merasakan aura mistik menguar dari sosok tersebut. Ia sesekali melirik kearah pintu berharap ada yang mendengar teriakannya barusan lalu masuk dan menyelamatkannya, tapi setelah beberapa kali ia melirik tak juga mendapati tanda-tanda ada yang akan datang.


Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, tak tahu harus apa terlebih sosok itu tak sedikit pun mengeluarkan suaranya bahkan deru nafasnya saja ia tak dapat merasakannya. Hal itu sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ia hanya bisa berdoa dalam hati.


Lama hening di antara keduanya hingga suara datar yang dalam dan rendah terdengar masuk ke pendengaran wanita itu, yang mana langsung membuat ia terbelalak kaget.


"Dimana penawarnya?" sumpah demi apapun, wanita yang takut itu mendadak bingung dengan wajah syok yang teramat tak bisa di jelaskan. Sejenak kadar ketakutannya menurun sedikit.


"Eh. Kau... Bertanya soal penawar? Pe..penawar apa? Aku tidak mengerti!" jawabnya terbata-bata. Aura sosok itu tak bisa diabaikan begitu saja sehingga ia tak bisa menghilangkan rasa takutnya dengan mudah.


"Penawarnya atau mati?" lagi pertanyaan sosok itu tak dapat dimengerti oleh wanita itu.


Wanita itu mulai kesal dibuatnya. Dengan mengabaikan rasa takutnya, sekuat tenaga ia mendorong pundak sosok itu hingga terlepas. Tentu saja, sosok itu memang berniat melonggarkan tekanannya jika tidak mana bisa wanita itu mendorongnya dengan mudah saat dimana kekuatan keduanya berbanding jauh.

__ADS_1


Segera wanita itu meringsut menjauh hingga ia turun dari peraduannya. Lalu menatap tajam sosok yang samar-samar terlihat karena ia berada di tempat yang minim cahaya.


Tak ingin terlihat ketakutan dan hilang harga diri sebagai anggota keluarga kerajaan, ia mendongak angkuh sekaligus marah yang mulai di pupuk untuk menepis rasa takutnya. Masih sempat-sempatnya ia perpikir begitu?!


Dengan lantang ia berkata. "Mau apa kau? Aku tidak tahu apa yang kau maksud? Dan lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku memanggil penjaga untuk menangkap mu!" bukannya takut dengan ancaman tersebut, sosok itu justru melangkah keluar dari tempatnya berdiri tadi lalu mendekat pada wanita yang tengah menguatkan dirinya dari rasa takut.


"Aku tahu kau yang memberikan racun pada Reychu. Jadi, aku datang untuk meminta penawarnya padamu." terangnya dengan nada tenang tak tersirat kemarahan atau apapun itu. Suara yang dalam itu kembali menebalkan rasa takut wanita yang hanya beberapa langkah didepannya.


Bila sudah begini. Siapapun tahu, bila itu adalah Ryura. Sesuai janjinya pada Rayan, ia akan pergi mengambil penawarnya. Dan akhirnya, disinilah dia sekarang.


Jangan bertanya bagaimana caranya ia masuk kekediaman wanita yang tak lain adalah salah satu selir kaisar. Karena itu adalah bagian dari rahasianya.


"Re..Reychu?! A..apa yang kau maksud i..itu permaisuri Ahn Reychu?! Ka...kau mengenalnya?" wanita yang tak lain selir itu kaget hingga membuatnya menjawab dengan pertanyaan, sedikit berharap mendengar balasan namun sayangnya Ryura hanya diam.


Oh, ayolah... Kau pikir dia mau menjawabnya?! Bermimpilah!


"Penawarnya!" diabaikan rasa penasaran wanita didepannya sekarang ini, karena sejak awal tujuannya hanyalah penawar.


"Ti..tidak a..ada padaku! K..kau bagaimana bisa..." ia masih membingungkan tentang cara Ryura memasuki kediamannya sementara ia yakin seratus persen kalau di luar sana penjaga berkeliaran untuk berpatroli. Lalu, bagaimana gadis layaknya hantu ini ada disini?! Apa dia siluman?! Atau roh gentayangan?!


Tapi, tak ada aura yang menyatakan jawaban dari semua pertanyaannya. Lantas siapa dia?!


Pikirannya berkecamuk hingga nyaris pecah. Tapi, ia sadar akan satu hal. Bahwa sampai kapanpun penawarnya tidak akan ia berikan.


Memberanikan diri sambil mengandalkan kedudukannya tanpa ia tahu seorang Ryura tak kenal kedudukan. "ENYAHLAH! KAU PEREMPUAN YANG TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN!" bentaknya tanpa mengurangi sikap bangsawan nya. "Kau pikir dengan berkata begitu aku akan langsung memberikan nya padamu?! Jangan harap! Lagi pula permaisuri lemah dan bodoh itu sudah harus di lenyapkan sebelum menjadi beban untuk kerajaan ini." berusaha tersenyum sinis. "Jadi, sekarang pergilah. Kau tak akan mendapatkan apa yang kau mau disini. Kalau pun ada, apa kau pikir aku akan dengan sukarela memberinya?! Huh!" kekehnya yang mulai berani saat dilihat gadis didepannya tak bergeming sedikitpun hingga terlihat ia tak bernyali untuk bertindak kasar.


Tak tahu saja, Ryura itu tenang. Maka, mengakhirinya pun juga akan tenang.


Saat sudah saling berhadapan dengan jarak yang tipis, Ryura berujar. "Penawarnya!"


Sejak awal ia tak mengubah kalimatnya sedikit pun. Menandakan ia sedang tak ingin mendengar basa-basi yang tak ada untungnya baginya. Tapi, sepertinya wanita didepannya ini terus menghindar dan ujung-ujungnya memang tak berniat memberikannya.


"Huh! K...kau tuli, ya! Aku bilang KELUAR!" masih dengan sikap angkuh sok berani yang sama namun tidak detik berikutnya.


Grep!


Tangan Ryura mencengkeram leher wanita itu kuat. Ia mencekiknya tanpa ampun. Sangat malas bila harus berlama-lama.


Kesabarannya habis. Ia butuh penawarnya untuk segera menyelamatkan Reychu tapi wanita si*lan dicengkeramnya ini tak tahu caranya bersikap baik-baik rupanya. Gelar tak berguna! Begitulah pikir Ryura.


"Akh... Khau.. sa..khit.. le..paashh..Khan!" pintanya dengan susah payah. Sesekali ia menggerakkan tangannya untuk memberontak, dipukulnya Ryura sebisanya.


Sayang seribu sayang, Ryura tak peduli, tuh!


Tanpa perlu bicara lagi. Ryura pun memilih bertindak cepat.


Dengan sekali gerak, Ryura membawa leher itu membentur lantai hingga suara retakkan langsung saja menggema di kamar yang hening itu.


Brugh!


Tubuh wanita itu dibanting.

__ADS_1


Tak sampai disitu, dengan tanpa rasa iba ia menarik rambut panjang wanita itu lalu melilitkannya ke leher hingga kuat sampai selir itu semakin kesulitan bernapas. Matanya melotot merah dengan mulut terbuka tak lupa lidahnya yang menjulur keluar.


Ngeri memang!


Tapi, tidak untuk seorang Ryura.


"Ukh... Ukh... Ukh!" nafas wanita itu tersendat-sendat. Nafasnya hampir habis tapi ia masih dapat sedikit bertahan.


Kembali...


Ryura menyeret wanita itu dengan menggunakan ujung rambutnya yang telah terlilit sempurna di lehernya menuju peraduan. Sesampainya disana rambut itu di lepas begitu saja hingga kepala selir tersebut kembali terbentur lantai, kemudian tanpa mempedulikan keadaan korbannya Ryura memilih menarik tarik seluruh tirai kelambu peraduannya dalam sekali tarik hingga jatuh seluruh.


Di sobeknya menjadi bagian-bagian kecil nan panjang. Lalu, diikatkan ke masing-masing tangan dan kakinya dengan dua kain panjang. Jadi, totalnya terdapat 8 kain panjang sebagai tali.


Setelahnya, wanita itu di bawa ke atas peraduan tapi bukan untuk di baringkan. Melainkan untuk di ikat kedua tangannya ke atas hingga merentang menjunjung tinggi dengan dua kain di tangan kanan di kaitkan di dua sudut atas peraduan begitu pun yang sebelah kirinya, lalu kakinya juga di rentangkan kemudian diikat ke empat ujung peraduan. Kini posisinya melayang tegak di tengah-tengah peraduan Dalma keadaan lemas.


Ryura tak merubah raut wajahnya barang sedikitpun.


Saat dirasa yang dilakukannya cukup. Barulah ia berjalan kearah meja riasnya dan dibukanya kotak perhiasan milik wanita itu. Lihat apa yang ia temukan.


Tangannya bergerak mengambilnya, lalu memandang sejenak sembari di endus sedikit. Dirasa yakin ia langsung memasukkan botol kecil itu kedalam saku di bagian dadanya. Kembali sejenak di pandangi wanita yang mulai tampak menggerakkan kepalanya perlahan. Tapi, Ryura tak takut bila wanita itu bangun.


Mudah sekali menemukannya...


"Uhuk... Uhuk..." ia terbatuk-batuk guna menormalkan nafasnya. Namun, saat hendak menggerakkan tangan dan kainya ia merasa tak bisa. Dengan linglung ia mulai melihat kondisinya sendiri.


Terkejut? Pasti. Kini posisinya benar-benar tak mengenakkan. Bila di ikat dalam posisi berbaring sepertinya tak akan melelahkan, tapi ini... Posisinya bagai bintang di langit. Menggantung menyedihkan.


Di gerakan kepalanya mencari sang pelaku. Berharap ia masih dapat melihatnya. Benar saja, Ryura masih ada dan kini ada di depannya. Tapi...


Mata wanita itu seketika terbelalak lebar kala melihat sepotong lilin menyala di tangan kanan Ryura, sedang si pemegang tampak santai seolah hanya memegangnya saja. Entah mengapa pikirannya menjadi amat buruk. Meski Ryura tak menunjukkan ekspresi ingin membunuhnya tapi siapa yang menyangka apa yang akan manusia tak berekspresi itu lakukan.


Dengan bergetar ia berkata. "Ke..kenapa k..kau memegang lilin. Kau tak perlu lakukan itu bu..bukan?! Kamar ini masih terang..." kalimatnya terbata-bata mencoba berdamai.


Tapi, sekali lagi. Ryura tetap Ryura.


Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ryura selain gerakan tangannya yang melempar lilin menyala itu dengan tenang layaknya melempar sampah ketempatnya. Selir wanita itu tak bisa bila tidak berteriak kala lilin tersebut melayang dan mendarat sempurna tepat di alas tidurnya, tepat di bawahnya.


Kemudian...


Buusss...


Tanpa menunggu api itu langsung membakar peraduan beserta orangnya.


Ryura jangan ditanya. Ia hanya menyaksikannya dalam diam.


Wanita itu terbakar hidup-hidup, ia mulai menggelepar saat panas yang mengerikan mendidihkan tubuhnya. Ia berteriak tak karuan. Menggelinjang kesana kemari di atas peraduan.


Entah campuran apa rasanya kala api menyambar kain lalu menyundut kulit hingga melahapnya habis.


Ryura. Menyaksikan semua dalam ketenangan yang tak terusik sedikitpun.

__ADS_1



__ADS_2