
Kebahagiaan yang dirasakan oleh sosok pria gagah perkasa pemilik singgasana tertinggi di Negara Api tak terbendung lagi. Segumpal daging berkulit dan bernyawa di pelukannya saat ini benar-benar telah memberi warna baru bagi hidupnya. Tak menyangka kehadirannya merubah statusnya yang sebelumnya hanya sebagai suami terlepas dari kedudukannya sebagai Kaisar, kini berubah menjadi seorang ayah.
Tak bisa dikatakan sebesar apa kebahagiaan yang ia rasakan. Hanya saja, entah mengapa kebahagiaan itu masih memiliki kekurangan. Ada kehampaan yang tak terjabarkan dalam perasaan bahagianya.
Disela-sela pandangannya memandangi buah hatinya, ia masih memiliki kehampaan itu seolah memberitahunya akan sesuatu yang bahkan tidak ia pahami. Tapi, karena tidak kunjung mengetahui apa itu iapun memilih menepisnya dan mulai kembali fokus pada kebahagiaannya saja.
Kabar bahagia itupun turut menyebar dengan cepatnya ke seluruh sudut istana. Bahkan Reychu dan kawan-kawan yang lebih dulu mengetahuinya berkat Ryura pun ikut mendengarkan kabar itu dari pelayan yang membawa pesan.
Rayan tak bisa berkata apa-apa selain menghela nafas singkat, tak peduli bagaimana cara Selir Agung Gong Dahye menutupi fakta mengenai bayinya yang lahir sebelum waktunya meskipun kenyataannya berbeda. Lagipula, resiko sudah pasti wanita itu sendiri yang akan menanggungnya.
Sementara Reychu sudah tentu dengan kemampuannya menyusun kata yang tak sedap didengar akan diluncurkan begitu saja.
Lain dengan Ryura, Ruobin, dan Chi-chi yang memilih tutup mulut.
"Kalian dengar itu?!" jedanya. "Pengkhianat itu sudah melahirkan bayinya. Tabib-tabib itu sepertinya sudah dibuat bungkam. Bagaimana bisa bayi yang sudah waktunya lahir dianggap sebagai bayi prematur? Kurasa mereka sudah hilang akal." lanjut Reychu tanpa pikir panjang.
Selanjutnya Reychu terkikik yang dibuat-buat jahat seraya menggerakkan matanya menyoroti seluruh teman-temannya.
"Tapi... Siapa yang tega merusak kebahagiaan mereka setelah ini...?!" akunya pada pertanyaan yang tak perlu di jawab, karena mereka yang mendengarnya sudah mengetahui jawabannya.
"Aku ragu kalau itu bukan aku...! HAHAHAHA!" ujarnya agak berbisik, tapi masih dapat didengar oleh yang lainnya. Kemudian tawanya pun menggelegar di akhir.
Semuanya, kecuali Ryura sampai menggelengkan kepala spontan. Masih sering dibuat tercengang dengan kelakuannya walaupun sudah terbiasa.
Membenarkan posisi duduknya yang sebelumnya rebahan tak beraturan. "Lalu, kapan kita bisa memulainya? Aku sudah ingin pergi secepatnya." tanya Reychu.
"Aku tahu. Tapi, jangan lupa. Kabar ini belum sampai ke telinga Ibu Suri. Bahkan tepatnya, tidak akan pernah sampai ke telinga beliau. Karena tak ada yang tahu kalau dia sudah sadar." usul Rayan menerangkan mengenai langkah selanjutnya.
Menjentikkan jarinya kala baru mengingat fakta itu. "Benar! Aku melupakan wanita itu! Hehe..."
"Lalu, siapa yang akan memberitahukannya? Ini siang hari. Aku takut kita akan ketahuan bila menerobos masuk kekediaman itu saat ini. Tapi, ini juga tak bisa ditunda lagi." tanya Rayan agak bingung.
"Haih! Apa yang kau pusingkan... Ryura 'kan ada! Suruh dia yang melakukannya. Kita tahu kalau dia tidak akan ketahuan." menaik-turunkan alisnya atas usul yang Reychu berikan.
"'Ah... Kau benar!" sumringahnya dan langsung beralih ke Ryura yang sudah kembali memejamkan matanya usai ia mengatakan apa yang tadi ia sampaikan. "Ryura...! Kau ambil bagian ini, ya?! Kabarkan hal ini pada Ibu Suri dan minta dia menunggu arahan dari kami untuk tindakan yang akan dia ambil setelahnya. Kali ini hanya kau yang bisa menembus keamanan tanpa ketahuan." seru Rayan serius kearah Ryura.
Setelah mendengar penuturan tersebut, Ryura pun membuka matanya dan tanpa menoleh ke arah sahabatnya ia langsung bangkit untuk pergi melakukan apa yang sahabatnya minta.
Anggaplah ia sudah seperti robot, tapi memang apa yang bisa ia lakukan selain menurut. Itu bukan masalah besar bagi Ryura dan hanya membawa kabar lalu kembali. Lagipula, ia bukan orang yang mau repot-repot menolak dulu kemudian dibujuk baru berangkat. Padahal, ia memiliki kemampuan untuk melakukannya lebih baik dari yang lain.
"Kini giliran kita!" seru Reychu dengan seringainya yang aneh dan khas miliknya itu.
Tanpa banyak bicara lagi kedua gadis itu bangkit untuk pergi, namun sebelumnya sempat berpamitan dengan sahabat siluman mereka.
Sambil memandangi punggung dua gadis yang tampak memancarkan aura penuh percaya diri itu, Ruobin berkata pada Chi-chi.
"Kita benar-benar tidak melakukan apapun!" merasa menyedihkan.
Ruobin adalah siluman yang tergolong kuat, tapi lihatlah dia sekarang... Hanya mengekor sahabat manusianya tanpa mengeluh dan tidak banyak membantu. Pasalnya, Rayan cukup memiliki kemampuan untuk melakukannya sendiri dan itu membuat Ruobin merasa miris.
Ia benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk Rayan. Tapi sepertinya, belum mendapatkan kesempatan.
"Hm!" Chi-chi membenarkan.
__ADS_1
Yang satu ini pun tak berbeda jauh.
"Haruskah kita bersyukur?" menoleh kearah Chi-chi dan mengajukan pertanyaan yang tidak jelas.
"Sedikitnya... Harus?!" jawabnya tak yakin.
"Hahaha... Kalau tahu begini aku lebih memilih bersama Tuan Duan Xi dan Furby. Tapi, sayangnya... Aku tidak bisa meninggalkan Rayan sendiri. Sepertinya aku sudah benar-benar memanjakannya!" tuturnya tak menyangka pada dirinya sendiri, ia juga takjub dengan cara dia memprioritaskan sahabat manusianya yang satu itu.
Dia sempat berpikir, kapan ia pernah mengabaikan Rayan?
Kediaman Selir Agung Gong Dahye mulai di penuhi oleh beberapa orang yang menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan Huoli.
Di sana sudah ada tiga Selir lainnya, juga ada Keluarga Gong yang pastinya tak akan ketinggalan, serta Pangeran Kedua Li Fang Ye beserta istrinya. Pria yang satu itu sebenarnya tidak benar-benar ingin datang, hanya saja nalurinya menuntunnya untuk kesana.
Dia dan istrinya -Yu Chan Yi- berdiri tak jauh dari peraduan dimana ada Selir Agung Gong Dahye yang berbaring diatasnya, sementara Kaisar Li tengah menggendong bayi mereka -tepatnya bayi yang ia anggap miliknya- di tepi peraduan dekat kaki Selir Agung.
Pemandangan itu cukup menyayat hatinya -Pangeran Kedua- atau tepatnya pada posisi yang dipakai kakak Kaisar-nya saat ini. Tangannya yang menggenggam tangan sang istri bergerak mencengkeram dengan erat. Menyadari hal itu, Yu Chan Yi dengan penuh pengertian mengelus punggung tangan suaminya untuk menenangkannya. Untungnya, itu cukup berhasil untuk dilakukan.
Di peraduan, Selir Agung Gong Dahye bahagia dari ekspresi wajahnya yang berseri-seri. Ia bahkan tidak takut akan ketahuan, seolah semua sudah dalam kendali.
"Selamat untuk kelahiran bayi Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye! Semoga kelak dewasa menjadi orang yang hebat!" dengan sedikit menunduk Selir Kehormatan Wang Jinji memberi ucapan selamat.
Disusul Selir Tingkat Pertama Kim Mulan. "Selamat untuk kelahiran bayi Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye! Semoga selalu diberkati!" dalam postur yang sama seperti Selir sebelumnya.
Sedang Selir Tingkat Tinggi Mu Bizhuo, hanya bisa melakukannya dengan enggan yang ditutupi. "Selamat untuk kelahiran bayi Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye!" nada suaranya terdengar baik, tapi siapa yang menyangka kalau itu hanya tipuan.
Selir Agung Gong Dahye ini senang bukan main, tapi masih bisa menjaga kehalusan dalam sikapnya. Ia bahkan tak memandang seseorang yang sebenarnya penting disana.
"Terimakasih atas ucapannya! Selir ini menerimanya dengan senang hati!" dengan bahagia ia mengatakannya. Tapi, suara yang menyahut dari luar ternyata mampu merusak suasana hatinya.
"Tentu! Sudah seharusnya kau senang mendengarnya!" suara siapa lagi kalau bukan suara Permaisuri Ahn Reychu yang berjalan masuk bersama Rayan yang wajahnya ditutupi topeng kucing seperti biasanya.
Hanya sebagai formalitas dan ikut berpartisipasi dalam drama singkat sahabatnya, Rayan mengucapkan selamat dengan gaya yang sama seperti yang lainnya lakukan kala mengucapkannya.
"Selamat untuk kelahiran bayi Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye! semoga selalu bahagia!" ucapnya.
"Hm! Selamat untukmu! Selamat karena melahirkan bayi pria lain!" celetuk Reychu yang entah sadar atau tidak pada waktu ia mengatakannya. Itu terkesan tergesa-gesa. Tapi, ia puas mengatakannya.
Yang lebih dulu meludahkan kalimat dengan marah adalah Gong Duyoung yang sudah sedari awal putrinya kembali dari Kediaman Tabib, ia disana menemani.
"Apa yang Permaisuri Ahn katakan?! Jangan asal bicara! Jangan memfitnah putri hamba!" pekik Gong Duyoung dengan wajahnya yang memerah. Mungkin orang yang melihatnya berpikir kalau itu karena marah, padahal didalamnya ia terkejut atas pengetahuan Permaisuri Ahn Reychu pada fakta itu. Keringat dingin mulai membanjiri punggungnya dan tangannya terkepal kuat.
Mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa Permaisuri Ahn mengetahuinya?!
Tak berbeda dengan seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana. Begitu mendengarnya ia langsung merasakan kecemasan yang tiada ampun kuatnya. Bahkan ini menjadi yang pertama kali baginya merasakan ketakutan ini. Meskipun sebelumnya ia sudah menyiapkan diri dari segala kemungkinan, tetap saja...
Sedang Kaisar Li yang mendengarnya justru menatap tajam Permaisuri Ahn Reychu. Antara marah dan tak percaya pada penuturan istrinya itu. Sejenak ia berpikir tanpa melepaskan pandangan tajamnya dari Reychu. Sejauh ia mengenal karakter baru istrinya usai hukuman yang lalu selesai, istrinya itu menjadi orang yang terus terang dan blak-blakan. Kata-katanya lebih cenderung terbuka dan jujur, Permaisuri Ahn Reychu yang sekarang pun tidak pernah menutup-nutupi perasaannya setiap kali ia berucap. Bila suka ia akan katakan suka, bila tidak ia akan katakan tidak, dan bila benar ia akan katakan benar, begitu pun sebaliknya.
Ini sukses membuatnya bertanya-tanya, apakah yang dikatakannya benar? Tapi, setelah dipikirkan kembali. Mungkin itu hanyalah rasa cemburu Permaisuri Ahn karena Selir Agung Gong Dahye yang menjadi pertama kali melahirkan penerus untuknya.
Karena itu, ia segera angkat bicara dengan suara dinginnya tapi tetap lembut. Jelas menolak keras tuduhan istri sahnya itu.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, Permaisuri Ahn! Kau terlalu cemburu! Dahye tak akan seperti itu!" intonasinya rendah dan dalam penuh tekanan. Saat ini Kaisar Li sedang tidak ingin mengacaukan hari bahagianya, oleh sebab itu ia menahan diri terlepas dari ia juga tak mau merusak hubungannya dengan Permaisuri Ahn Reychu meski belum ada kemajuan sedikitpun selama ini.
"Aku terlalu cemburu! Dahye tidak akan seperti itu!" ulangnya dengan nada mengejek yang ketara. "Iya 'kah?! Kau terlalu memandang tinggi dirimu dan kau juga cukup mencintainya hingga ia berkhianat pun kau tidak tahu. Haruskah aku memberitahu mu siapa ayah bayi itu?!" umbarnya yang malah dipelototi oleh Rayan dari belakangnya mengingat posisinya dalam peran kali ini adalah orang luar istana. Untungnya, tak ada yang bisa melihat pelototannya karena terhalang topeng.
"Dasar gila! Apa yang mau kau katakan, bodoh?! Kita tidak tahu siapa ayahnya! Kita hanya tahu kalau anak itu benar bukan darah daging Kaisar Li! Sebenarnya apa yang mau kau lakukan, Reychu gila!" umpatan dan gerutuan Rayan menggema di hatinya. Ia gemas dan geram dengan tindakan Reychu yang gegabah itu, tapi bila mengingat masa lalu. Tak peduli seberapa gegabah sahabatnya itu, ia tetap bisa lolos dengan mudah setelahnya.
Rayan hanya bisa berharap kali ini pun sama.
"Reychu! Jangan uji kesabaran ku!" tekan Kaisar Li sembari melepaskan sedikit auranya yang menekan dan mengintimidasi, setidaknya ia masih menyadari bayi mungil ditangannya yang tertidur pulas saat ini.
Kesuraman tak terelakkan menyebar ke seluruh ruang kamar Selir Agung Gong Dahye.
"Permaisuri Ahn Reychu, saya harap anda tidak melakukan sesuatu yang akan anda sesali di kemudian hari!" seru Gong Dahee ditengah-tengah tekanan itu. Jelas sekali, ia tak terima adiknya disudutkan.
Menoleh dengan santainya tanpa merasa tertekan oleh aura Kaisar Li dan langsung menancapkan pandangannya pada putra tertua Keluarga Gong itu.
"Oh, begitu! Aku tidak yakin, aku yang akan menyesali ini! Bukankah kau tahu lebih jelas dibandingkan dengan ku! Kenapa bertindak seolah-olah yang kukatakan salah!" katanya santai yang cukup untuk membuat Gong Dahee mengepalkan tangannya spontan.
Hal itupun ia katakan sesuai dengan apa yang Ryura sampaikan kala pengintaian malam itu. Bahkan menurutnya, mungkin saja seluruh anggota Keluarga Gong mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Cukup, Reychu! Kenapa kau selalu mencari-cari kesalahan orang lain hanya untuk dimainkan oleh mu? Kalau kau tidak senang dengan apa yang pernah aku lakukan di masa lalu padamu, cukup limpahkan semuanya padaku. Yang lainnya, termasuk Dahye tidak ada sangkut pautnya!" sergah Kaisar Li mulai kehabisan kesabaran. Ia tak ingin menuai duri di antara mereka, tapi menurutnya Permaisuri Ahn sudah sangat kelewatan.
Reychu tersenyum miring yang sinis. "Tidak ada sangkut pautnya?! Andai itu benar!" ujarnya tak terpengaruh sedikitpun oleh emosi Kaisar Li yang mulai meningkat. "Kalau begitu, kenapa harus dipersulit... Cukup kau berikan apa yang aku minta padamu, maka semua urusan kita terselesaikan. Jadi, bagaimana?" lanjutnya santai, sesantai orang yang tengah berjemur di tepi pantai saat musim panas tiba.
Gigi Kaisar Li menggertak kuat, ia tak tahan dengan tuntutan Permaisuri Ahn yang satu itu. Sudah sangat jelas, bahwa dia tak akan pernah menyetujuinya. Tapi, mengapa istrinya ini tak pernah mau menyerah saja.
"Sudah kubilang aku tak akan pernah memberikan apa yang kau inginkan!" tegasnya tak terbantahkan.
"Kalau begitu, biar ku bantu kau mengakhiri apa yang sudah semestinya diakhiri. Usai semua itu, kau tak punya pilihan lain selain menyetujui keinginan ku!" lugas Reychu yang mampu mengejutkan semua orang yang ada di sana. Sebab, kali ini Permaisuri bertindak serius. Raut wajahnya tak sedikitpun memiliki celah untuk kejenakaannya yang biasa ia tunjukkan.
"... Dan kau Gong Dahye! Tunggu bagaimana aku membuatmu memilih mati daripada hidup!" sambungnya tak kalah serius.
Selir Agung Gong Dahye mulai sedikit gemetar, ia tak menyangka Reychu memiliki aura yang cukup mengesankan kala ia menjadi serius. Tatapan matanya lain dari sebelumnya, seperti ia memiliki kepribadian lain selain gadis dengan mulut besar yang tak terkontrol.
Lidahnya kelu seketika dan ini bukan yang ia inginkan. Ia tak terima kalau sampai tak bisa mengalahkan Ahn Reychu sebagaimana mestinya.
"Ahn Reychu, aku sangat membencimu!" pekik Gong Dahye dalam hatinya dengan sorotan mata penuh kebencian yang ia layangkan untuk membalas tatapan serius Reychu.
"PERMAISURI AHN REYCHU, JANGAN MACAM-MACAM DENGAN ADIKKU!" bentak Gong Dahee tak terima ketika mendengar serangkaian kata yang keluar dari mulut Reychu.
Wajahnya sampai merah padam akibat emosi.
"Pria manja seperti mu tau apa!" pancing Reychu dengan tatapan sinisnya.
"KAU...!"
"Dahee, tenangkan dirimu!" tahan Gong Duyoung yang sebenarnya juga tak terima, tapi melihat keseriusan Permaisuri Ahn Reychu mampu membuatnya sedikit takut.
"Dia tidak benar-benar mengetahuinya, benarkan?" batin Gong Duyoung mempertanyakannya.
πππ
__ADS_1