3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BAI LIAM


__ADS_3

"Sayang, kami akan pulang dulu. Istirahatlah yang baik sampai kau sembuh. Nanti kami akan datang lagi." tutur sang ibu pada putranya yang sedang sakit, melihatnya ibu mana yang tidak sedih dengan hati yang ikut sakit dan sang putra hanya mengangguk menanggapinya, mengiyakan saja apa yang dikatakan wanita paruh baya itu agar segalanya cepat selesai.


Benar-benar dua pikiran yang bertentangan.


"Kak, kami pamit. Cepat sehat, ya. Biar kita bisa lebih sering bertengkarnya." kata sang adik kedua dengan senyum manisnya. Tapi, sang kakak yang sakit hanya menatap tanpa membalas senyumannya.


Hal ini membuat hati si adik bersedih. Berpikir bila kakaknya masih menganggapnya saingan.


"Ya, sampai jumpa kakak!" kata dua anak lainnya yang ternyata kembar tidak identik alias sepasang. Keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar, jadi masih kecil dan masih polos hingga tidak terlalu memikirkan mengapa sang kakak begitu judes dan cuek pada mereka.


Lagi-lagi yang di panggil kakak diam saja.


Bukan apa-apa...


Jujur, dia ingin secepatnya ruangan ini di kosongkan dari pengunjung yang datang. Bukan karena tidak suka anggota keluarga itu berkunjung, hanya dia butuh waktu untuk mencerna segalanya yang terjadi.


Satu persatu orang dari keluarganya keluar setelah menjenguk dan berbincang lama dengannya sebelumnya. Kini kamar inap tersebut kembali sunyi. Pemuda yang duduk di ranjang rumah sakit akhirnya bisa menghela nafas lega.


Rambut merahnya yang berpotongan pendek itu di sugarkan kebelakang hingga beberapa helaian yang sempat mengganggu wajahnya disingkirkan. Kini matanya yang tajam akhirnya terlihat, namun dengan pancaran yang berbeda.


Saat ini dia hanya diam memandang keluar jendela yang langsung disuguhkan oleh langit yang masih cerah, secerah harapannya yang akan datang.


Senyum terbentuk di bibirnya dengan sempurna. "Tubuh ini tidak buruk dan dunia ini juga tidak buruk." katanya mengomentari informasi yang didapatnya dari dalam kepalanya setelah dia sadar tadi.


Ya, dia sudah mendapatkan ingatan dari si pemilik tubuh yang ternyata terlahir agak istimewa yaitu dengan rambutnya yang memang terlahir kemerahan padahal tidak ada anggota keluarga pemilik tubuh yang memiliki warna rambut seperti dirinya.


Dan pemilik tubuh juga bangga akan hal itu.


Bai Gikwang menganggap ini sebagai takdir yang sudah digariskan lama.


Pemilik tubuh ini juga bermarga Bai dengan lengkapnya bernama Bai Liam, anak pertama dari 4 bersaudara dengan seorang ayah yang seorang anak tunggal di generasinya sehingga keluarga Bai tak memiliki keluarga cabang lain.

__ADS_1


Keluarga Bai di zaman ini juga terkenal sebagai bangsawan pengusaha sukses yang sudah berabad-abad berdiri. Tidak ada yang tidak mengenal mereka.


Keluarga Bai memang terlahir dan ditakdirkan kaya nan terpandang.


Bila bertanya mengapa disebut bangsawan? Karena, kata leluhur Keluarga Bai sekarang mereka memang memiliki darah bangsawan dari zaman sebuah dinasti dahulu hingga saat ini. Hanya saja, sempat suatu masa keturunan Bai beberapa puluh tahun silam mengalami penurunan dalam hal keturunan dan nyaris terputus didunia ini. Maksudnya, anak laki-laki yang lahir sedikit atau terkadang meninggal lebih awal.


Seperti ayah Bai Liam, dia anak tunggal karena saudaranya yang lain lebih dulu pergi dan meninggalkan dia dengan segala tanggung jawab yang harus ia pikul dipundaknya. Beruntungnya, kini dia memiliki 3 anak laki-laki dan satu anak perempuan.


Hanya bisa berharap semua anaknya berumur panjang hingga bisa mengembangkan kembali keturunan-keturunan mereka.


Mengetahui hal itu Bai Gikwang berpikir, mungkin masih ada kaitannya dengan keluarga Bai dirinya zaman dulu. Sebab, dia juga seorang bangsawan.


Bangsawan yang memiliki singgasana tertinggi dari yang lain.


Tapi, entahlah sulit untuk memastikan semua itu karena abad yang berlalu tidak hanya 1-2 abad saja.


Saat ini Bai Gikwang yang sudah menjadi Bai Liam, pemuda berusia 20 tahun, anak pertama yang sedang di persiapkan untuk menjadi penerus perusahaan keluarganya, pemuda yang cuek dan penuh ambisi, rakus akan kekayaan keluarganya, namun sayangnya harus mati dan digantikan oleh Bai Gikwang akibat ditembak karena memancing orang tidak seharusnya dia pancing.


Benar, Bai Liam yang asli sombong dan merasa hebat karena terlahir berbeda, pintar, kaya, tampan, dan lainnya sebagainya. Karena kesombongannya itu, dia dengan angkuhnya memprovokasi seorang rivalnya di kampus yang brutal dan tidak takut hukum.


Alhasil, karena geram dan dendam atas provokasi yang sering Bai Liam berikan padanya, padahal rivalnya itu tak pernah memiliki pemikiran untuk mengusik keluarga tersohor itu karena dia sadar kalau keluarganya masih kalah jauh hingga bila bermasalah dengan keluarga Bai ada kemungkinan jalan hidupnya dan keluarganya akan buruk. Namun, sakit hatinya akan kelakuan Bai Liam membuatnya bertekad untuk memberinya pelajaran.


Hal ini membuat Bai Gikwang ingin memenggal kepala Bai Liam sekarang juga.


Kala itu Bai Liam baru saja pulang usai bersenang-senang semalaman suntuk. Katanya, itu dia lakukan untuk merefresh diri yang lelah karena kesibukan yang dijalaninya. Sepulang dari bersenang-senang dalam keadaan setengah mabuk, Bai Liam ditembak ditempat dari arah kegelapan oleh rivalnya sebelum rivalnya itu kabur melarikan diri.


Beruntungnya, tak lama setelah Bai Liam jatuh terkapar dengan luka tembak di dadanya, seorang pejalan kaki yang hendak pergi berbelanja secara tak sengaja melihatnya dan segera melakukan panggilan pertolongan.


Ambulance datang dan langsung mengangkut Bai Liam untuk dibawa ke rumah sakit. Sesampainya disana, Bai Liam segera dibawa masuk keruang operasi karena luka tembaknya yang nyaris merenggut nyawanya bila tidak meleset sedikit dari jantungnya dan masih perlu penanganan segera.


Pihak rumah sakit pun segera menghubungi pihak keluarga pasien yang membuat anggota keluarga Bai kalang kabut dibuatnya dengan segala keresahan yang diterima.

__ADS_1


Begitulah yang terjadi sebelum akhirnya pemilik tubuh mati selama operasi berlangsung dan digantikan olehnya begitu tersadar.


Mata Bai Gikwang menyipit dengan sedikit kilatan frustrasi mengetahui betapa buruknya perangai pemilik tubuh. Siapa yang tahan, bahkan Bai Gikwang sendiri ingin rasanya meremukkan Bai Liam dengan tangannya sendiri saking kesalnya dia pada pemilik tubuh.


Sombong!


Serakah!


Tidak tahu diri!


Adiknya dianggap saingan!


Menganggap orang lain rival!


Kasih sayang terhadap keluarga minim!


Nilai buruknya benar-benar lebih banyak dari baiknya...


Bagi Bai Gikwang, tidak ada kata yang cocok untuk Bai Liam selain mengutuknya.


Jelas saja, Bai Gikwang tidak mau meneruskan keburukan Bai Liam. Jadi, apapun yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya nanti Bai Gikwang akan tetap memilih untuk menjadi dirinya sendiri.


Lagipula, dia memiliki pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan setelah ini... Yaitu, mencari calon istrinya, Reychu yang tak sabar untuk segera dia temukan.


Reychu pasti tak ingin melihat dia menjadi orang lain. Maka dari itu, biarkan dipandang aneh, yang penting Reychu tetap mencintai Bai Gikwang yang sama seperti kehidupan sebelumnya.


Bicara soal, Reychu...


Bai Gikwang merindukannya...


__ADS_1


maaf say, pendek. hihi... Thor up lagi kok...


__ADS_2