3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
"AMBIL AKU"


__ADS_3

Waktu bergulir seperti biasa. Hanya saja, jam berapapun tak membuat Ryura bangun dari tidurnya. Ia layaknya beruang yang sedang hibernasi. Tidur tanpa bisa dibangunkan dalam waktu tertentu. Syukurlah, Duan Xi sudah mengetahui kebiasaannya yang satu itu. Ibarat kata, kebiasaan itu adalah cara Ryura memulihkan diri.


Reychu dan Rayan yang memberitahukannya saat waktu pelatihan di satu bulan pertama. Pada saat itu, kelelahan tak bisa di hindari sehingga Ryura tanpa bicara langsung merebahkan tubuhnya diatas rumput di sebuah padang rumput dan tidur dengan lelapnya. Ketika Duan Xi tidak mengetahuinya, ia dibuat lelah karena mencoba berbagai cara membangunkannya. Sayangnya, yang ia dapatkan hanya elakan. Itu mengejutkannya. Pasalnya, dalam keadaan tidur pun Ryura masih bisa melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Hingga satu hari penuh gadis itu tidur, barulah ia bangun dengan sendirinya dan jangan lupakan wajah tak berdosanya itu.


Dari sanalah, kedua sahabat murid kesayangannya yang juga menjadi muridnya walau terpaksa membeberkan semua yang berkaitan dengan Ryura. Seolah tak ada kata rahasia, Ryura diam saja saat sahabatnya mengatakan semua baik-buruknya dia.


Oleh sebab itu, disinilah Duan Xi berada sekarang. Di sebuah jembatan penghubung antar desa yang sering di lalui orang-orang, bersama Furby yang pagi tadi ia paksa agar mau ikut dengannya, karena penunggangnya tengah hibernasi satu hari penuh.


"Apa yang terjadi padanya kemarin? Kenapa dia bisa terluka begitu?" cecar Duan Xi dengan pertanyaan. Ia begitu khawatir hingga tak bisa menahan diri.


Furby melirik sekilas, tanpa perlu bertanya ia bisa merasakan kalau pria bertubuh pendek itu memiliki rasa sayang terhadap Ryura yang mungkin sama halnya dengan rasa sayangnya untuk gadis itu.


Kuda itu pun menjawab tanpa ragu. "Beberapa pelajar dari akademi Xiaofang tiba-tiba mendatanginya dan mereka pun terlibat pertarungan."


"Akademi Xiaofang?" Furby mengangguk mengiyakan. "Tapi, ada urusan apa mereka dengan Ryura? Seingat ku Ryura tak pernah berurusan dengan orang-orang di akademi." lanjutnya masih tidak mengerti.


"Aku juga tidak tahu. Mereka tiba-tiba bertingkah seperti paling mengerti atas apa yang telah terjadi...! Dari yang aku tangkap... Mereka diam-diam membenci Ryura dengan alasan yang aku tak tahu. Aneh, bukan?!" terangnya memberitahu.


"Hanya karena itu?! Sangat tidak masuk akal!" geram Duan Xi tak menduga.


Menghela nafas, Furby kembali bersuara dalam telepatinya. "Entahlah. Akan tetapi, begitulah nyatanya." mendengar ungkapan tersebut, Duan Xi tidak bisa tidak merasa sedih juga khawatir.


"Kapan ini akan berakhir?" tanya Duan Xi merujuk pada sayembara yang menurutnya sungguh tak berguna, sebab tak mempengaruhi Ryura sedikitpun.


"Belum bisa di tebak. Kau sendiri kan tahu, sebelum pihak Keluarga Han mencabut pengumuman sayembara itu. Maka, Ryura akan terus diganggu." tukas Furby melalui telepatinya.


"Sebagai anggota keluarga, mereka sangat kejam. Seharusnya, sebelum mereka menghakimi Ryura. Mereka harus lihat dulu seperti apa mereka saat bersikap kepada Ryura sebelumnya." matanya menghadap sungai dan memandangnya. gemeretak gigi tak bisa ia tahan kala kemarahan bangkit.


"Huh! Jangan harap! Mereka semua sudah tidak waras. Jadi, untuk apa berharap banyak pada mereka." dengus Furby. "Kalau, mau disalahkan. Maka, salahkan mereka. Ryura tidak sekeji itu. Dia tidak akan melakukan hal jahat itu, bila tidak ada yang memulainya lebih dulu." lanjutnya tandas, tersirat kemarahan didalam. Ia marah karena orang lain berani menyakiti sahabat manusianya.


"Baiklah. Kita percayakan saja pada Ryura. Dia lebih tau apa yang terbaik untuknya." menoleh sekilas. "Ayo. Akan aku traktir kau. Anggap saja tanda salamku sebagai teman lamamu." goda Duan Xi kemudian berlalu pergi meninggalkan Furby yang sudah kembali jengkel dengan pria tua pendek itu.


"Cih! Siapa yang kau anggap teman lamamu?! Jangan terlalu bermimpi! Lagi pula, sudah sangat terlambat untuk mentraktir atas nama salam, pria tua bod*h!" Furby berdecih untuk Duan Xi, tapi tak ayal ia tetap mengikuti pria pendek tersebut.


Sedang Duan Xi hanya mendengus kesal karena itu.



Tidak tahu tepatnya kapan Ryura bangun, membuat Duan Xi jadi berulang kali mengunjungi kamar penginapannya hanya untuk melihat apakah murid kesayangannya itu sudah bangun atau belum.


Dari pada merasa kesal, Duan Xi lebih merasa cemas. Meski sudah pernah melihat hal seperti ini, tapi tetap saja. Kali ini bahkan berbeda, karena Ryura pun sedang terluka. Ia takut lukanya membuat murid kesayangannya menderita.


"Huh! Kapan kau bangun Ryura?! Jangan membuat ku cemas!" lesu Duan Xi sembari memandangi Ryura yang terlelap dengan nyenyaknya di atas peraduan.

__ADS_1


Untuk kesekian kali ia menghembuskan nafasnya. Kemudian, memilih untuk beranjak kembali ke kamarnya di sebelah kamar Ryura saat ini. Baru saja ia mengayunkan langkah kakinya, derit peraduan terdengar. Refleks Duan Xi menoleh kearah asal suara tersebut.


Dapatlah ia lihat Ryura mulai bangkit dari rebahnya ke posisi duduk. Menunggu menyesuaikan diri dari alam sadarnya, Ryura diam. Sampai di rasa cukup, mata itupun akhirnya terbuka. Yang pertama kali dilihat oleh matanya adalah sosok Duan Xi yang pendek berdiri tepat di depannya dengan tongkat yang tak pernah jauh darinya.


"Astaga... Akhirnya kau bangun juga..." lega Duan Xi seperti beban berat terangkat dari pundaknya. Sedang Ryura hanya berkedip tak mengerti juga tak peduli.


Usai berhembus lega, kini ia berubah garang. Tangan kosongnya berkacak pinggang dan satunya lagi yang memegang tongkat di todongkan kedepan wajah Ryura.


"Kau tahu betapa cemasnya aku? Ya ampun, aku tak menyangka kalau kau benar-benar akan bangun setelah 24 jam. Satu hari penuh, Ryura. Kau nyaris membuatku menggunakan jurus untuk membangunkan mu dari tidur panjangmu." geram campur gemas meluncur bebas dari mulutnya begitu saja. Rasa gereget tak bisa ia cegah untuk Ryura.


Sedang gadis itu, dia terlihat acuh tak acuh begitu mendengar keluhan Duan Xi yang menurutnya sudah basi untuk di bahas.


Karena, itulah fakta tentang dirinya. Ryura.


Masa hibernasi seorang Ryura memang 24 jam. Yang artinya, bila kemarin sejak pulang dari tempatnya diobati oleh Reychu adalah siang hari. Maka, di waktu itu pula ia akan bangun di keesokan harinya. Dan kedua sahabatnya sudah tahu jelas tentang itu. Meski ia maklum kalau Duan Xi belum paham sekalipun ia tahu tentang kebiasaannya yang satu ini, tapi tetap saja tak akan mengubah apapun. Bagi Ryura, itu tetaplah bukan sesuatu yang penting.


Kesal Duan Xi, karena di abaikan hingga mendengus. "Baiklah, baiklah. Abaikan saja. Kau 'kan memang akan selalu seperti itu. Aku cukup paham soal itu. Sudah tak perlu di bahas lagi. Sekarang cuci mukamu dan makanlah. Aku sudah membelinya tadi. Kalau kau mau yang lain, maka pesanlah." celoteh Duan Xi bagai gerbong kereta api. Ryura yang diam hanya bisa mengerjapkan matanya sebagai tanggapan.


Beralih ke meja. Benar saja, disana sudah ada beberapa piring dengan isi beragam. Seperti yang Duan Xi katakan, pria tua pendek itu benar-benar menyiapkan makanan untuknya. Setelahnya, Ryura pun bangkit dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dengan air yang di sediakan dalam baskom oleh pihak penginapan di kamar kecil yang ia masuki.


Begitu selesai, Ryura keluar dan langsung berjalan menuju meja dan duduk di kursi kosong lainnya berhadapan dengan Duan Xi.


Melihat muridnya sudah mendudukkan dirinya di kursi. "Sudah tunggu apa lagi. Ayo, di makan. Jangan sampai ada yang tersisa." katanya cepat sambil mendorong satu persatu piring di meja kearah Ryura. Sejenak Ryura dibuat terdiam dengan perhatian Duan Xi. Meski sudah sering ia alami oleh kedua sahabatnya. Entah mengapa, ada setitik kehangatan di hatinya. Sayangnya, itu terjadi sangat singkat bagai kecepatan cahaya. Membuat Ryura ragu mengenai apa yang baru saja melintas di hatinya.


Disela-sela kesibukan makannya, suara Duan Xi menyela. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" mata Ryura terangkat untuk melihat wajah Duan Xi tanpa mengangkat kepalanya yang menunduk untuk makan.


Ia cukup paham kearah mana pertanyaan pria didepannya ini.


"Tidak ada." jawabnya setelah makanannya tertelan. Sumpit di tangannya kembali digerakkan untuk mengambil makanan dan menyuapinya ke mulut.


"Benarkah?! Hah... Dengar, Ryura. Kau harus menyelesaikan masalah ini segera. Karena bila semakin lama dan semakin memakan banyak korban, kau akan semakin terjerumus dalam masalah. Apalagi, setelah kau dengan berani melenyapkan pelajar dari akademi Xiaofang. Tahukah kau, kalau itu adalah akademi kebanggaan negara api. Satu-satunya akademi milik kerajaan Huoli yang di akui dunia. Akademi itu, sering mengikuti perlombaan yang di adakan oleh pihak luar untuk bisa berpartisipasi. Kini kau berurusan dengan mereka." omel Duan Xi panjang lebar mengingatkan.


"Itu urusan mereka." balas Ryura santai tanpa menghentikan kegiatan makannya.


"Kau ini. Lalu bagaimana kalau pihak akademi mendatangi mu dan mencoba membalas dendam atas murid mereka yang mati karena mu?"


"Mereka tidak akan melakukan itu!" lugas Ryura.


Kernyitan pun terukir di dahi Duan Xi. "Bagaimana kau bisa berpikir begitu? Mereka bukan orang sembarangan!" tekan Duan Xi nyaris frustrasi.


Sebenarnya, ia bisa saja membela Ryura bila sesuatu terjadi padanya. Hanya saja, Duan Xi sadar diri kalau ia hanyalah pengembara yang cuma numpang melintas di negara api tanpa ada niat membuat masalah. Terlebih, selama dia tinggal di kerajaan Huoli. Hidupnya aman dan tidak bermasalah dengan siapapun warga negara api, membuatnya tak bisa asal bertindak hanya untuk membela Ryura yang orang lain tak tahu kalau dia adalah muridnya.


Menatap Duan Xi dalam dan tenang. Ditatap seperti itu membuat Duan Xi ingin menyelami mata kosong Ryura untuk mengetahui apa isinya. Namun sayang, tak ada yang bisa ia lihat dari matanya.

__ADS_1


"Mereka tidak bodoh." jawab Ryura ambigu. Duan Xi kembali tak mengerti hingga ia harus berpikir keras untuk mencernanya.


Sampai tak lama kemudian, iapun paham.


"Ah, iya. Mereka harusnya tidak sebodoh itu. Dengan adanya pengumuman sayembara tersebut, pihak mereka tak bisa berbuat apa-apa kepadamu untuk meminta pertanggungjawaban. Yang harus disalahkan adalah keluargamu. Dan lagi, banyak mulut yang bisa bersaksi untuk mencegah kejadian buruk itu menghampiri mu. Benar, benar sekali..." senang Duan Xi kala ia telah mengerti maksud kalimat pendek Ryura.


"Hah... Aku hanya bisa berdoa dan berharap... Semoga ini yang terakhir..." harap Duan Xi seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kelegaan.


Ryura hanya melirik tanpa minat untuk ikut bertingkah seperti gurunya. Lebih baik membiarkannya begitu.



Menyugar rambutnya kebelakang dengan aura kesombongan yang kental. Di sebuah kamar, tampak seorang pria sedang berdiri di depan jendela tengah memandang keluar. Raut wajahnya terlihat sangat percaya diri. Ia seperti telah siap untuk melakukan sesuatu yang besar.


"Penantian ku tidak boleh sia-sia kali ini. Tidak peduli sehebat apa dia di mata orang lain. Bagiku, dia tak lebih dari kerikil yang tersangkut di batang pohon. Heh! Terlalu cepat berbangga diri hanya karena berhasil membunuh beberapa orang. Padahal nyatanya, itu semua tak lebih dari hanya sebuah keberuntungan semata." pria itu tersenyum miring penuh ejekan dan hinaan.


"Aku yakin sekali. Keberuntungan itu akan segera berakhir begitu dia bertemu denganku. Kemudian, akulah yang akan mengambil kembali semua perhatian itu. Tak hanya itu saja. Melainkan, aku juga akan menjadi kaya dan saat makhluk itu berpindah tangan kepada ku. Maka, aku akan menjadi tak terkalahkan. Hahahaha...!!! Sungguh sempurna!!! Hahaha..." katanya begitu yakin dan dengan percaya diri yang amat tinggi.


Pria itu telah bersiap untuk dapat menghadapi seorang Ryura saat waktunya tiba.



Memandang keluar jendela dalam diam. Ekspresi wajah yang kosong membuatnya tampak seperti seseorang yang telah mengalami depresi berat hingga kehilangan jiwanya untuk bisa hidup dengan normal.


Ryura diam memandangi langit yang perlahan berubah menjadi jingga. Menandakan sore datang.


"Ambil aku..."


Matanya berkedip sejenak kala sebuah suara mengalun masuk ke telinganya dengan nada rendah yang terkesan berbisik, namun bukan berbisik.


Tak perlu menoleh guna mencari asal suara tersebut. Karena, Ryura tahu suara itu tak berasal dari arah manapun. Melainkan dari dalam dirinya sendiri, seolah ada yang menembus kedalam benaknya dan kemudian mengutarakan kalimat yang Ryura sendiri tak memahaminya.


"Ambil aku..."


Seruan itu kembali terdengar, namun Ryura tetap pada posisinya. Menganggap itu tak penting sampai sebuah rasa menyelinap masuk didalam jiwanya. Perasaan yang tidak ia pahami.


"Ambil aku..."


Instingnya mengatakan, bahwa akan ada sesuatu yang datang padanya. Sesuatu yang menjadi alasan untuk mengaitkannya dengan suara-suara yang terus berseru di atas kalimat yang sama.


Ryura diam dan membiarkannya. Berpikir bahwa, ia bisa melihatnya esok hari bila firasatnya tepat.


__ADS_1


__ADS_2