3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SULIT


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Kini, Ryura maupun Reychu sudah kembali ketempat mereka masing-masing. Ryura kembali ke penginapannya bersama Furby, sedang Reychu ke istana bersama Chi-chi.


Setibanya di penginapan, Ryura segera memilih untuk beristirahat. Bukan karena tak kuat, tetapi dikarenakan lelah yang di sebabkan oleh luka yang ia derita. Mengetahui muridnya kembali, Duan Xi bahkan segera beranjak untuk mengunjunginya. Tapi, apa yang ia dapatkan...


"Ya Dewa...! Apa yang terjadi padamu?" pekik Duan Xi luar biasa panik begitu melihat murid kesayangannya di balut perban di beberapa bagian dengan wajahnya mengkilap seperti diolesi sesuatu. Benar, Ryura menerapkan cairan obat yang di berikan Rayan pada wajahnya guna menghilangkan rasa perih dan panas yang ia rasakan.


"Bukan apa-apa." jawab gadis itu acuh. Bukan karena tak ingin memberitahu, tapi karena memang tidak merasa itu sesuatu yang penting apalagi berbahaya. Duan Xi tidak bisa tidak mendengus mendengarnya.


Meski sudah lebih dari 3 bulan bersama, Duan Xi masih belum bisa mengerti sosok seperti apa Ryura itu. Dia terbilang terlalu kuat dan terlalu tangguh untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri. Hal itu mengingatkannya pada saat masa pelatihan yang ia terapkan. Gadis itu -Ryura- tak sedikitpun mengeluh. Tidak! Bahkan sama sekali tidak pernah mengeluh. Jangankan mengeluh, mulut gadis manis itu bisa dibilang nyaris tidak pernah digunakan untuk berbicara. Membuat pria tua pendek itu tanpa sadar menghitung kata-kata yang sempat di keluarkan dan percaya atau tidak...


Kata-kata yang keluar tidak lebih dari 10 kata. Mengetahui hal itu, ia sendiri dilanda ketidakpercayaan tingkat tinggi. Meski sebenarnya, ia pernah melihat seseorang yang juga irit bicara. Namun, sayangnya tidak se-irit Ryura.


Duan Xi tanpa sadar menggelengkan kepalanya kala tahu bahwa masih ada yang lebih sulit untuk dia ajak bicara selain orang itu.


"Kau terluka, dan kau bilang bukan apa-apa?! Kau pikir aku sudah buta! Huh!" kesal Duan Xi merasa tak dimengerti atas perhatian yang ia curahkan. "Dengar! Aku tidak peduli apa aku ini di matamu. Tapi, aku hanya ingin kau tahu... Aku tidak suka kau terluka! Meski aku tahu hidup ini kejam dan kematian selalu membayang di pelupuk mata, tetap saja aku tidak ingin kau terluka! Paham!" omelnya tak karuan. Duan Xi sudah seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


Ia terdiam dengan nafas yang tersengal-sengal, karena kesal. Beradu pandang dengan muridnya yang masih dalam posisi berbaring. Tapi, itu tak berselang lama kala sepenggal kalimat membekukannya.


"Aku dilatih untuk terluka olehmu!" balas Ryura dalam ketenangan yang tak bertepi dan tanpa maksud untuk mengingatkan ataupun mencibir pria tua bertubuh pendek itu sehingga mampu membuat Duan Xi mematung seolah baru menyadari sebuah fakta.


Benar. Duan Xi Memang mengajarkan Ryura ilmunya untuk pertaruhan dia dan seseorang yang menjadi saingannya, sampai tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ada saat dimana ia tak lagi menganggap Ryura sebagai bahan taruhannya. Kini, gadis yang selalu bisa menguras kesabarannya saat ia berbicara dengannya adalah sosok gadis yang sudah di anggap cucu olehnya. Sehingga tanpa sadar, dia menginginkan kesejahteraan bagi hidup Ryura.


Dengan tergagap, Duan Xi berujar membalas. "B..benar. itu y..yang ku lakukan sebelumnya! Tapi..." dipandanginya mata Ryura yang kosong dalam-dalam. Ingin rasanya ia selami mata itu untuk mengetahui apa isinya, namun tak pernah terwujud. Seperti menegaskan kalau Ryura tidak hidup untuk hidup.


"Sekarang tidak lagi... Kau sudah seperti cucu bagiku. Meski tak bisa aku pungkiri ketenangan dan sikap acuh tak acuh mu selalu menjadi yang paling menjengkelkan. Hati ini tak bisa berbohong. Aku menyayangimu sebagai seorang kakek kepada cucunya. Karena itu, aku menekankan padamu untuk jangan terluka. Apapun yang terjadi. Walaupun aku tahu itu mustahil untuk dipastikan." tegasnya melanjutkan kalimatnya yang terputus.


Ryura bisa melihat itu. Hal itu sama seperti yang dia lihat dari kedua sahabatnya. Sayangnya, Ryura hanya bisa melihat tapi tidak bisa membalas perasaan tersebut. Itulah sebabnya, yang bisa ia lakukan hanya memberikan yang terbaik sebagai ganti dari perasaan sayang yang orang lain berikan padanya.


Meski ia ingin. Hatinya seolah tak bisa ia gerakkan untuk hal demikian. Menyayangi seseorang tak pernah ada dalam hidupnya. Bersahabat dengan Reychu dan Rayan pun bukan berdasarkan rasa sayangnya, tetapi berdasarkan keinginan dirinya untuk membalas ketulusan hati kedua sahabatnya yang menyayanginya tanpa pamrih. Karena, tak bisa membalas rasa dengan rasa. Maka, yang bisa ia lakukan hanya memposisikan diri sebagai perisai kala orang-orang yang menyayanginya di ganggu atau bahkan terluka.


Itulah mengapa, Ryura bahkan tak tersentuh oleh kalimat perhatian dari gurunya. Ia hanya memandangnya dengan mata kosongnya sembari mencatat nama Duan Xi dalam daftar orang-orang yang tulus untuknya di memorinya.


"Hm." deheman sebagai jawaban yang bisa ia berikan. Kemudian, memilih memejamkan matanya untuk segera tidur dan mengabaikan gurunya lagi untuk kesekian kalinya, seperti yang sering dia lakukan.


Duan Xi melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang dan berat. Di tatapnya dalam sosok Ryura yang sedang tidur.


"Aku tidak tahu apa yang kau alami sehingga menjadi mati rasa seperti ini. Tapi, aku selalu berdoa untukmu. Semoga suatu saat nanti... Aku bisa melihat warna di matamu. Senyum di bibirmu. Rona di pipimu. Ekspresi di wajahmu." Duan Xi sampai terkekeh membayangkan dari apa yang ia ucapkan dalam gumamannya. "Kau akan merasakannya nanti... Dan itu pasti!" yakinnya. "Tidak bisa selamanya kau berada dalam kekosongan, Ryura. Tidak bisa!" lanjutnya mengakhiri.


__ADS_1


Hening...


Suasana mencekam memenuhi ruangan. Tak ada yang berbicara pada saat itu, karena semuanya sedang dalam mode berpikir keras.


Otak mereka bahkan serasa ingin pecah, andai saja bukan ciptaan Tuhan. Tapi, tak bisa mereka pungkiri kalau saat ini mereka sedang dalam keadaan gelisah dan kebingungan.


Selebaran mengenai sayembara telah di sebarkan sejak sore kemarin. Dari kabar angin yang datang sudah ada banyak yang ingin mengambil tempat. Hanya saja, sampai saat ini tak ada yang mendatangi mereka untuk memberikan hasil yang selalu mereka harapkan. Meski belum lebih dari 1 hari. Tapi, antusiasme orang-orang yang tergiur akan hadiah yang mereka sediakan tak bisa di cegah. Namun, mengapa belum ada hasil juga...?!


Malah, yang mereka dengar adalah korban tangan dingin Ryura yang kian bertambah.


Pikiran mereka tak ingin percaya akan bisikan hati yang mengatakan bahwa tak akan pernah ada kesempatan untuk mereka menghabisi gadis itu. Mereka menolak keras akan hal itu. Menekankan bahwa mereka percaya kalau gadis itu pasti bisa mereka lenyapkan.


Hanya satu pemuda disana yang diselimuti firasat buruk. Han Wu Shin. Pada awalnya, sama seperti yang lain. Pemuda yang tak lain adalah kakak kandung Han Ryura pun sudah di buat pusing dengan rencana pertama yang belum membuahkan hasil. Akan tetapi, sekarang... Bukan itu yang menjadi fokus utamanya. Melainkan bayangan mimpi yang kembali melintas di benaknya.


Mimpi mengerikan yang seolah mengingatkannya, bahwa bila mana Ryura bisa menjadi alasan bagi mereka untuk menemui ajal lebih awal dari yang sudah di tetapkan.


"Haruskah aku menghentikan semua ini?! Atau haruskah aku mengatakan apa yang aku rasakan sekarang ini?! Akankah mereka percaya dan mau mengerti?!" tanya Han Wu Shin dalam hatinya dengan bingung. Tak lama sampai ia dibuat tersentak oleh suara sang kakek yang tampak sangat menggebu ingin segera melenyapkan Ryura dari dunia ini.


"Sepertinya, langkah kali ini tak berjalan dengan baik!"


"Tapi, Kakek. Ini baru awal. Bukankah terlalu cepat untuk mengatakannya?" sambar Han Liang Shin menyela. Merasa terlalu cepat memutuskan sesuatu mengenai masalah kali ini. Karena, bagaimanapun ia juga mengharapkan hasil yang diinginkan.


"Memang benar. Tapi, tidakkah kau dengar bagaimana ramainya orang-orang berbicara tentang gadis bod*h itu yang dengan mudah mengalahkan para peserta sayembara yang mengajukan diri." jedanya. "Bukan lagi rahasia umum mengenai masalah kali ini. Pihak pengadilan kerajaan pun sampai meminta penjelasan mengenai hal ini. Kaisar tak akan tinggal diam juga bila rakyatnya terlibat, walaupun sebelumnya beliau memilih diam. Karena tahu, ini adalah masalah internal. Aku sudah mengatakan yang semestinya ku katakan. Gadis itu harus tahu dimana dia berpijak. Sayangnya, dia bisa lolos dari hukum yang berlaku. Andai saja aku tidak pandai bermain kata, apa kau pikir keluarga kita akan tetap baik-baik saja?" tandas Han Dongzue.


"Jadi, apakah itu artinya kita sendiri yang harus turun tangan?" tanya Han Bingzhue agak geram. Dendamnya atas nama sang ayah belum bisa reda. "Perempuan itu tak akan pernah bisa kita singkirkan bila kita tidak bertindak segera!" ia nyaris meninggikan suaranya lantaran frustrasi.


"Tenanglah, sepupu. Kita tak bisa gegabah dalam hal ini." sahut Han Tian Yu mencoba menenangkan. "Kita sendiri telah melihat, bagaimana gesitnya dia saat bertarung dengan kakak sepupu hari itu... Itu menandakan ia telah melewati apa yang dinamakan pelatihan bela diri. Dan mungkin kemampuan tenaga dalam pun telah ia pelajari. Meski, kedengarannya mustahil... Mengingat dia bahkan hanya menghilang selama 3 bulan. Tentu itu tetap harus menjadi bahan pertimbangan kita. Jangan sampai kita salah langkah atau kita yang akan hancur di tangannya." terangnya cukup panjang.


"Yang di katakan kakakku benar! Beberapa dari kita sudah melihat sendiri betapa kejam dan tak berperasaannya perempuan itu saat membelah dua tubuh saudara Han Fei Rong. Tapi, semua yang hadir untuk menyaksikan itu bisa melihat bagaimana Saudara sepupu yang menerjang lebih dulu. Jadi, secara tidak langsung nama keluarga kita telah tercemar." sambung Han Dao Yan melanjutkan.


"Ini benar-benar rumit!" celetuk Han Dongzue pusing seraya memijit ruang diantara alisnya dengan ekspresi putus asa. Baginya, ini kasus yang sulit. Jika saja, yang mereka hadapi adalah gadis 3 bulan sebelumnya. Mungkin, ini tidak akan terjadi. Tapi, lihat siapa yang sekarang berdiri mendominasi seluruhnya?!


Sebagai seorang Kepala Keluarga, Han Dongzue selalu merasa caranya mengurus kediaman keluarga sudahlah baik dan tepat. Tapi, tak terpikirkan olehnya bila ada saat dimana dia merasa gagal. Akan tetapi, egonya menolak disalahkan sehingga ia menumpahkan segalanya kepada Ryura.


Entah bagaimana cara mereka berpikir. Han Ryura tidak terlahir seperti Yu Rayan, hingga orang-orang bisa mengucilkannya. Tapi, dia terlahir sebagai anak idiot yang secara mental amat jatuh. Otaknya lemah. Hanya saja, sang pencipta memberinya kelebihan yaitu, kekuatan fisik yang bahkan melebihi saudara-saudarinya.


Beranggapan dia akan selamanya bodoh membuat anggota keluarga lainnya terus mengusiknya, menjailinya, membodohinya, menindasnya, dan masih banyak lagi. Tapi, sekarang haruskah mereka menangis darah?!


__ADS_1


Tuk!


Suara cangkir yang di letakkan usai di tenggak isinya. Pria bertubuh kekar yang pakaiannya memperlihatkan lengan berototnya tampak berpikir sembari meminum arak pesanannya, tak lupa ditemani oleh dua orang wanita penghibur. Ya, saat ini pria itu sedang berada di rumah hiburan atau rumah bordil.


Rencananya ia akan menginap di rumah hiburan itu malam ini.


Dua wanita itu tak henti-hentinya memberikan pelayanan mereka kepada pria tersebut. Hal itu tentu berhasil membangkitkan keinginannya untuk bersenang-senang. Hanya saja, ada yang lebih penting dari itu.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian!" lugasnya.


"Tentu, Tuan. Tanyakan saja apapun yang Tuan ingin tanyakan." jawab wanita disisi kirinya dengan nada manja tanpa menghentikan tangannya yang mengusap-usap dada kekar pria itu dari luar pakaiannya.


"Aku yakin kalian sudah mendengar tentang gadis yang di juluki 'si manis berdarah dingin', bukan? Apa ada cerita baru mengenai dirinya?"


"Oh, ada, Tuan. Saya mendengarnya dari para pelanggan yang datang kemari sebelumnya." jawab wanita disisi kanannya. "Katanya, ada dua orang yang menjadi korban pertama sejak sayembara itu di umumkan. Kabarnya, kedua peserta itu mencoba menyelinap masuk ke kamar inap yang di tempati oleh gadis itu. Tapi, sayangnya keesokan harinya mereka ditemukan mati mengenaskan. Yang satunya dipenggal dan satunya lagi di tusuk tepat di jantungnya." lanjutnya tampak bergidik ngeri.


"Ya, itu benar. Saya juga sudah mendengarnya. Ceritanya sama persis. Gadis itu benar-benar berdarah dingin. Membunuh tak kenal ampun." celetuk wanita yang di kirinya.


"Juga, Tuan. Saya dengar lagi dari pelanggan siang tadi. Kalau, pagi tadi hal yang sama terulang lagi." kata wanita yang di kanannya memberitahu.


"Benar. Katanya kali ini lawannya pelajar dari akademi Xiaofang. Berjumlah lima orang."


"Eum... Sayangnya, mereka juga harus mati."


"Eh. Tapi, kabarnya juga. Gadis itu terluka lumayan parah. Bukankah para pelajar akademi itu memiliki bakat pengendali api?! Mereka menggunakan itu untuk menyerang gadis itu. Tapi, malangnya... Mereka tetap tak bisa mengalahkannya."


"Ya ya, benar. Apa tanggapan pihak akademi kalau sampai mereka mengetahui hal ini?"


Tanpa sadar kedua wanita itu bercerita semua yang mereka ketahui. Sedang pria yang berada di antara keduanya cukup menikmati mendengarkannya. Merasa puas sekaligus tertekan kala mendengar semua menuturkan para wanita tersebut.


Dia puas karena tak perlu bersusah payah mencari tahu apa yang sudah terjadi dalam kurun waktu sesingkat ini. Tapi, juga tertekan saat tahu kalau lawannya tak semudah yang ia bayangkan. Jika, ia tidak mendengar tentang ceritanya yang sempat melawan para pengguna elemen api. Dia jelas tak akan berpikir bahwa gadis itu cukup kuat.


Gadis yang tak memiliki bakat alami, namun mampu mengalahkan mereka yang memilikinya. Jelas saja, bukanlah lawan yang mudah. Justru, itu sudah bisa di anggap hebat. Tanpa elemen, namun bisa mengalahkan yang memiliki elemen.


Sulit dipercaya!



silakan membaca sobat READERS....

__ADS_1


jangan lupa dukungannya..


bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2