3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEMATIAN YU RAYAN


__ADS_3

Ini adalah hari yang paling di nantikan oleh kedua belah pihak. Yaitu, pihak Yu Zhao Yan dan pihak Yu Rayan a.k.a Rayan Monica.


Entah apa yang membuat hari ini begitu dinantikan oleh keduanya. Yang pasti sesuatu akan terjadi hari ini.


Dan... Disinilah mulanya...


Tubuh gadis yang di tempati Rayan tampak masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, tak menyadari kalau beberapa pasang langkah kaki berjalan menghentak tanah mengarah menuju ke gubuk jerami yang menjadi tempat tinggalnya.


Dan sepertinya, hari ini akan menjadi hari terakhir ia bisa menempatinya.


Diluar gubuk itu terdapat dua orang laki-laki yang baru saja datang selain dua orang yang ditugaskan untuk menjaga gubuk tersebut atau lebih tepatnya menjaga Rayan agar tidak kabur.


Terlibat percakapan singkat diantara mereka.


"Dia masih didalam?" tanya salah seorang yang baru datang tadi pada penjaga di gubuk jerami itu. Kata 'Dia' yang di ucapkan jelas ditujukan untuk Rayan. Pria yang tak lain adalah utusan Yu Zhao Yan sudah lebih dulu mendapatkan peringatan untuk tidak perlu repot-repot memberi rasa hormat pada Rayan yang selalu majikannya katai anak haram itu, lantaran sudah tak di anggap.


Bahkan memang tidak pernah dianggap.


Kedua penjaga gubuk jerami tersebut mengangguk mengiyakan. Kemudian salah satunya berujar tanpa ragu. "Semuanya aman terkendali. Gadis itu juga tidak berbuat ulah. Sepertinya ia cukup sadar diri akan apa yang sudah ia lakukan pada keluarga Tuan Besar!"


"Baguslah kalau begitu. Jadi, tak ada yang perlu di pusingkan. Sekarang bukalah pintunya. Kami mendapat perintah untuk segera membawa gadis itu ke halaman tengah kediaman Yu ini." jelas salah seorang utusan yang sejak tadi mewakili.


"Apa Tuan Besar Yu benar-benar akan menjatuhkan hukuman mati padanya?" tanya salah satu penjaga lainnya karena penasaran dan membiarkan temannya yang membuka pintu.


"Sepertinya begitu. Kalian tentu masih ingat bukan apa yang terjadi malam kemarin. Semua itu adalah akibat dari perbuatan buruk gadis itu." jawab pria utusan itu seolah ia paling tahu.


"Ya, benar. Sungguh kejam. Padahal ia masih sangat muda dan cantik. Tapi, siapa yang bisa menyangka kalau gadis itu tak lebih dari perempuan iblis yang mengerikan!" tandas salah satu penjaga itu tanpa pikir panjang. Sedang teman sesama penjaga yang satunya sedang membuka kunci gembok gubuk jerami yang mereka jaga sejak kemarin.


Klek!


Greek!


"Sudah terbuka! Kalian sudah bisa membawanya!" kata si penjaga yang membuka pintunya.


Kedua pria utusan itu bergerak maju untuk masuk ke gubuk dimana menjadi tempat penyimpanan jerami milik Keluarga Yu. Di dalam sana, dapat mereka lihat kalau ada seonggok tubuh mungil yang sudah jelas siapa pemilik tubuh tersebut tampak sekali sedang menikmati mimpi indahnya, bahkan suara percakapan mereka yang jelas saja tidak mampu membangunkan gadis itu -Rayan- dari tidur nyamannya.


"Cih! Tak bisa di percaya! Kalian lihat..." tatap salah satu utusan yang berdiri paling depan seraya menunjuk penuh rasa tidak percayanya pada Rayan yang masih saja terlelap di saat-saat seperti ini. "Bisa-bisanya dia tidur dengan nyenyaknya, setelah apa yang sudah ia lakukan pada Tuan kita! Huh!" dengusnya menyindir telak pada gadis yang tak tahu kalau sedang di kata-katai.


"Sudahlah... Tak perlu menunggunya bangun. Bawa saja dia. Lagipula, Tuan Besar juga tak akan marah kalaupun kita bertindak sesuka hati kita bukan?" seru pria utusan yang satunya.


Anggukan setuju di gerakkan oleh ketiga pria lainnya.


"Benar. Kalau begitu... Ayo, kita angkut dia sekarang!" ajak pria utusan yang pertama dengan nada perintah.


Kedua pria utusan itu pun bergerak menghampiri Rayan yang tak kunjung bangun dari tidurnya padahal keadaan dirinya saat ini sedang tidak dalam keadaan baik. Ia berada dalam masalah yang besar.


Dengan sigap, kedua pria itu mengangkut tubuh mungil Rayan dengan mudahnya tanpa sedikitpun mengganggu tidurnya, hanya saja Rayan sempat menggeliat kecil kala tubuhnya terangkat melayang. Bisa saja salah satu dari mereka yang mengangkat tubuh mungil Rayan, hanya saja untuk berjaga-jaga seandainya gadis itu bangun tiba-tiba dan mulai memberontak. Alhasil, mereka mengangkutnya berdua.


"Astaga, ia tidak terbangun. Benar-benar..." geleng kedua penjaga sebelumnya takjub bersamaan kala melihat bagaimana gadis yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk masih tampak nyaman dalam tidurnya.



Di halaman tengah kediaman Yu, segala yang di butuhkan telah siap.


Yu Zhao Yan berdiri di tengah-tengah halaman kediamannya dengan gagahnya. Seandainya, tidak ingat kalau ia sudah berstatus kakek, maka gadis muda pun masih mau menjadi istrinya.


Dia berdiri seraya memegang pedang yang matanya terlihat berkilau seperti baru saja di asah. Pantulan sinar matahari pagi pada mata pedang tersebut pun seolah menunjukkan betapa siapnya pedang itu untuk digunakan. Tampak menantang dan berani.


Agak kepinggir halaman tengah, sudah berdiri berjejer kedua putra serta menantu dan cucu-cucunya, kecuali Yu Ming Luo tentunya.


Mereka semua telah siap disana. Tak ingin melewatkan saat-saat paling mendebarkan untuk menuju kebahagiaan yang tiada terkira. Dimana, hari kematian Yu Rayan telah di tentukan.


Terdengar mengerikan memang. Bagaimana bisa ada Keluarga yang senang ketika salah satu sanak saudaranya akan menghadapi yang namanya ajal. Tepat di depan mata mereka lagi. Mungkin, kata yang tepat untuk menyebutkan mereka adalah... GILA!


"Huuh... Aku sungguh tidak sabar menunggunya!" seru Yu Mei Lin gemas karena rasa tak sabarannya itu.


"Haha! Kau ini! Tunggu saja! Tidak akan lama lagi. Setelah itu, Keluarga Yu kita akan kembali damai dan tentram." sambut Yu Chang Ni yakin sembari terkekeh kecil melirik kearah sepupunya yang berdiri tepat di sampingnya.


"Anak haram itu tak akan bisa lolos lagi!" sinis Ru Jinyu menimpali pembicaraan anak dan keponakannya.


"Benar! Ibu benar!" sahut Yu Mei Lin semangat. "Anak haram itu pantas untuk semua ini! Hahaha..." lanjutnya senang.


"Seharusnya, sejak lama kita habisi saja dia..." desis Yu Ran Ran benci. Mendengar itu yang lainnya melirik Yu Ran Ran dengan tatapan tertegun. Bukan terkejut tak percaya, mereka cukup tahu kalau selama ini Yu Ran Ran lebih banyak diam tidak peduli daripada mau repot-repot menindas Yu Rayan. Meski tak jarang, saat berpapasan dengan Yu Rayan ketika anak haram itu di bully saudarinya yang lain atau hanya sekadar lewat di dekatnya, ia pasti menyempatkan untuk mengusiknya.


"Sudah. Tak ada gunanya mengingat yang lalu. Lagipula, siapa yang bisa menduga kalau akan mendapati hal seperti ini?! Yang terpenting sekarang, hari yang kita nantikan sudah datang! Dia akan mati hari ini!" sambar Hwang Minsu tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari tempat mertuanya berdiri.


"Benar! Kita akan menjadikan hari ini adalah hari paling membahagiakan setelah ia di lenyapkan!" seringai tak sabar terpampang di bibir Yu Chun Yang.


"Apa kalian ingin membuat perayaan setelah ini?" celetuk Yu Chen tiba-tiba dari tempatnya berdiri dengan ekspresi yang menawan.

__ADS_1


Seketika itu juga, semua yang tadinya saling menimpali pembicaraan menoleh kearahnya. Dengan serempak mereka menjawab.


"TENTU!"


Tanpa ada yang menyadari, kalau saat ini Lin An Lie sedang berpikir keras. Tidak! Dia bahkan sudah berpikir keras sejak dari kemarin. Dimana ia merasakan keanehan dengan apa yang terjadi.


Ia tahu rencananya telah gagal total. Tapi, tak apa. Karena, meski tidak berjalan sesuai rencana yang disusunnya. Tetapi, keputusan untuk menghukum mati Yu Rayan tetap menjadi bagian dari inginnya. Hanya saja, ia masih merasa ada yang salah.


Baginya, ini terlalu mulus.


Dan seringai licik di bibir Rayan masih menjadi pertanyaan besar untuknya.



BRUGH!


"Ouch!" ringis Rayan ketika tubuhnya di hempaskan begitu saja ketanah tepat di hadapan Yu Zhao Yan yang tampak seperti sudah tak sabar untuk melenyapkannya. Ia sampai dibangunkan paksa dari mimpi indahnya.


"Akhirnya... Kupikir kau sudah melarikan diri!" sinis sang kakek yang menjadi orang paling membencinya. Yu Rayan hanya melirik tanpa rasa takut.


Melihat mata indah Yu Rayan ternyata berani menatapnya seolah menantang, itu cukup meningkatkan keinginannya untuk segera mengakhiri semuanya.


"Cuih! Mati ya mati saja! Kau pikir aku takut pak tua?!" lantangnya. "Jelas, aku tidak takut!" lanjutnya berani.


"HAHAHAHA... Nyalimu besar juga rupanya! Tapi, sayang... Kau tak akan bertahan lama! Hari ini aku akan memberikan mu kematian yang pantas bagi seorang pembunuh paling hina seperti mu!" kata Yu Zhao Yan dengan intonasi yang kian menajam.


Senyum miring yang malah terlihat menggemaskan itu terpatri di bibirnya. Memberi kesan gemas padanya dan itu cukup berbanding terbalik dengan suasana menegangkan saat ini.


"Tidak ada pembunuh paling hina, Kakek! Karena, perbuatan itu sudah hina... Aku hina karena sudah membunuh Ayahku sendiri... Maka, tak ada bedanya dengan kau yang hina karena akan membunuhku. Bagaimanapun, darah Yu tetap mengalir di dalam tubuhku..." santainya berujar. Rayan yang duduk bersimpuh di tanah masih sempat-sempatnya memancing amarah Tuan Besar Keluarga Yu tersebut.


Tapi, tak apa. Ia juga sengaja melakukannya.


"KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU MALU!" teriaknya marah besar seraya mengangkat tinggi-tinggi pedang yang sudah ia pegang sedari tadi, lalu di layangkan tanpa ragu kearah Yu Rayan.


Krash...!


Tuk!


Tangan Yu Rayan terpotong seketika. Ternyata gadis itu mengangkat tangannya guna memberi perlindungan diri meski ia tahu itu hanya akan sia-sia saja. Benar! Akhirnya, tangan mungil indah itu pun jatuh tepat di sampingnya.


Mau tak mau Yu Rayan pun menjerit kesakitan.


"AAARRRGGHH...!!!"


"HAHAHA... BOD*H!" makinya keras. "Kau angkat tanganmu. Apa kau pikir itu bisa menghalangi pedangku untuk mencabik-cabik tubuhmu. Hah?!" sarkasnya menghina. "Kau terlalu BOD*H!" tekannya pada kata akhirnya.


Yu Rayan memegangi tangannya yang telah putus di atas pergelangannya. Darah mengucur deras tanpa bisa di hentikan. Ia meringis menahan sakit yang tak terkira.


"KALIAN!" panggil Yu Zhao Yan kepada dua orang yang sebelumnya ia utus untuk membawa Rayan ke halaman tengah.


"Ya, Tuan!" tunduk mereka.


"Ikat dia terlentang! Buka tangan dan kakinya! Ikat masing-masing!" perintahnya tak terbantahkan. "Karena, aku mau mencincangnya hingga tak tersisa!" sambungnya dengan nada rendah yang dalam, cukup untuk memberikan tekanan yang kuat di sekitarnya.


Semua yang menyaksikan eksekusi tersebut tak bisa bila tidak bergidik ngeri. Percaya tidak percaya kalau pria yang sudah berusia lanjut itu amat mengerikan.


Bahkan, anak, menantu, dan cucu-cucunya pun ikut merasa ngeri bercampur takut. Tapi, keinginan mereka untuk menyaksikan saat-saat eksekusi itu dilakukan tak bisa surut.


"Inilah akibatnya kalau berani dengan keluarga ku." katanya tegas.


Kembali beralih ke Rayan yang kini telah dipersiapkan seperti yang diinginkan oleh Yu Zhao Yan. Di baringkan di atas papan hukuman dan di ikat, sehingga Yu Rayan tak bisa bergerak barang sedikitpun.


"Hahahaha... Lihatlah dirimu, cucuku!" tekannya pada kata 'cucuku' sambil menghina. "Kau tak lebih dari seonggok daging segar yang siap di lumatkan kemudian di jadikan makanan hewan buas di hutan sana." sinis lelaki tua itu tanpa ragu, ia juga sempat terkekeh seram. Tuan Besar itu tak lagi berpikir kalau sedang berhadapan dengan seorang anak gadis muda, yang mana seharusnya di lindungi dan di jaga dengan baik serta dipertontonkan sesuatu yang baik dan bukannya sesuatu yang buruk.


Seperti sekarang ini, seluruh anggota keluarganya menyaksikan bagaimana ia akan menjadi orang yang memberikan hukuman pada cucu tak dianggapnya.


Dengan wajah yang semakin pucat dan dalam keadaan terikat kuat nyaris menyulitkannya untuk bernafas, Yu Rayan tak gentar. "Heh! Lalu... Kau pikir aku akan mengemis ampun padamu? Bermimpilah! Itu tak akan terjadi!" lugasnya walau diiringi rasa sakit pada tangannya yang masih terus mengeluarkan darah.


Seringai muncul di bibir tua Yu Zhao Yan. "Kau benar-benar tak takut mati, ya...! Baiklah! Maka, nikmati ini!" tantangnya.


Tanpa mau menunggu balasan kata dari Yu Rayan. Si kakek langsung kembali melayangkan pedangnya kearahnya.


Slap!


Krash!


"AAAAHHHHKKK!!!" Yu Rayan kembali menjerit kesakitan.


Bukan main, Yu Zhao Yan kembali memotong tangan satunya.

__ADS_1


Mendengar teriakkan Yu Rayan, ia menjadi semakin gencar untuk melakukan lebih lagi.


"Aku suka teriakan mu, anak haram!" desisnya bak psikopat yang haus darah.


Krak!


"AAARRRGGHH... Sa...khit..." keluhnya meringis tak kuasa.


Krak!


Krak!


"AAAAAAAARRRRRHHHHGGGGG...!!!" serak suara Yu Rayan terdengar, menandakan si pemilik tubuh sudah mulai kehabisan suara karena sejak tadi ia terus berteriak kesakitan.


Yu Zhao Yan dengan teganya memotong setiap bagian tubuhnya kedalam bagian-bagian kecil, persis seperti memotong daging yang hendak di jual ke pasar. Kini, hanya tinggal tubuhnya yang utuh. Kedua tangan dan kakinya telah raib tak berbentuk. Ia sudah mirip seperti badan patung manekin, hanya tinggal hilangkan bagian kepalanya saja.


Di sisa-sisa kesadarannya yang berusaha ia pertahankan meski sudah di pastikan ia akan tetap berujung mati. Yu Rayan masih bisa melirik tajam pada Yu Zhao Yan yang tampak menikmati apa yang sedang pria tua itu lakukan pada tubuhnya.


"Kenapa melihat ku seperti itu? Kau masih berpikir untuk menjelekkan ku? Sadarlah! Kau sudah akan mati!" katanya tanpa filter. "Ah ya! Aku hampir saja lupa!" memandang Yu Rayan dengan kilatan kebencian dan kepuasan. Yu Rayan cukup tahu artinya. "Apa kau punya kata-kata terakhir?" santainya.


Nafasnya mulai tak menentu, Yu Rayan tahu ia akan segera mati. Tapi, ia tak merasa terbebani dengan apapun.


"Te..tentu... Huh... Huh... Akhu... Ha..nya ingin me..ngatakan... Huh... Huh... Kalau... Akhu... Sama sekali... Tidakh... Menyesal... Athas... Huh... Apha... Yang sudah... Akhu lakhukhan...!"


Amarah Yu Zhao Yan naik seketika begitu mendengar dan menyusun kembali kalimat yang di ucapkan dengan terputus-putus itu. Ia marah, semarah-marahnya. Tak terima kalau anak haram itu masih tak mau menyadari perbuatannya.


"KAU BENAR-BENAR MENGUJIKU, SI*LAN!!!"


TRAK!


Gluduk...!


Glek!


Pedang diayunkan dengan kedua tangannya langsung, tak lupa dengan balutan amarah yang tiada terkira ia salurkan kedalam ayunan pedangnya. Bergerak melesat cepat dan pasti mengarah pada titik sasaran.


Yaitu, leher. Ya! Kepala Yu Rayan pun terlepas dari tubuhnya, kemudian menggelinding jatuh dari papan hukuman tempat tubuh Yu Rayan dibaringkan.


Yang lainnya, mulai dari anggota keluarga hingga pengurus kediaman -pelayan dan penjaga- sampai kesulitan meneguk salivanya sendiri. Didepan mata mereka aksi mengerikan terpampang nyata tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Bukan hal baru bila membunuh begitu mudah di lakukan di masa kuno. Hanya saja, bagi keluarga Yu yang selama ini hidup dalam kesejahteraan tanpa gangguan yang mengharuskan mereka bertindak anarkis. Tentu saja, syok. Terutama bagi para perempuan.


"Di mati?!" kata Yu Ji Xu yang sarat akan rasa tak percaya juga bingung. Bukan karena mengasihani Yu Rayan yang mati, melainkan tak percaya kalau hari yang selalu terbayang di benaknya bahkan dibenak yang lainnya benar-benar telah terlaksana hari ini.


Klontang!


Suara pedang yang di hempaskan begitu saja ketanah menyadarkan keterkejutan semua yang melihatnya. Nafas lega di keluarkan oleh Yu Zhao Yan secara perlahan, menandakan kalau ia sudah puas dengan apa yang sudah ia lakukan beberapa detik lalu.


Dan yang mencengangkan adalah...


Sorak-sorai menggema seketika. Tampak jelas kebahagiaan yang kental tersirat di wajah mereka, terkhusus bagi anggota keluarga Yu.


Lihatlah bagaimana mereka saling memberikan pelukan kelapangan begitu mendapati apa yang mereka nantikan selama ini telah terjadi.


Setelahnya, Yu Zhao Yan memerintahkan bawahannya untuk membereskan sisanya dengan menegaskan kalau cincangan tubuh manusia itu harus di buang sejauh-jauhnya. Kepala keluarga Yu itu, menunjukkan betapa ia tak sudi mengadakan acara pemakaman untuk orang asing yang meski masih terikat darah dengannya.


Sambil berlalu meninggalkan halaman tengah yang berlumuran darah Yu Rayan, ia berujar keras layaknya suara orang yang mengibarkan bendera kemenangan.


"SIAPKAN PESTA PERAYAAN! KITA AKAN MERAYAKANNYA! SEMUANYA BISA IKUT MERAYAKANNYA! DI PESTA PERAYAAN INI, KU BEBASKAN SEMUANYA UNTUK IKUT SERTA!!"


"AAAAAAAHHHHAAAA!" kebahagiaan terdengar dari teriakan pada pelayan wanita dan pria. Mereka seperti merasakan sinar matahari menyinari kehidupan suram mereka yang selalu di rendahkan.


Sedang di atas pohon rindang tak jauh dari halaman tengah kediaman Yu duduk dua sosok yang mengenakan tudung. Rindangnya dedaunan menyulitkan siapapun untuk melihat keberadaan mereka.



jengjengjeng...


author datang lagi. bagi yang menantikan cerita kilat author alias cerita yang dibuat tanpa persiapan alias lagi dadakan ini...


silahkan dibaca...


dan tunggu episode berikutnya...


lagi OTW, soalnya... πŸ“€πŸ“₯πŸ“


jangan bosan apalagi jenuh ya... Thor senang bisa berbagi kesenangan buat semuanya.


jangan lupa juga buat like, vote, dan komen yooooo....

__ADS_1


daku tunggu lho yaaa... 😘😘😘


see uuuuuu....πŸ₯°


__ADS_2