
Kabar kematian Han Xi Lin telah menyebar ke seluruh ibukota bahkan sampai juga ke istana. Mendengar kabar tersebut kaisar pun turut berduka, namun masalah di istana membuatnya tak bisa menghadiri prosesi pemakaman itu. Tapi, kaisar memerintahkan untuk memberinya buah tangan sebagai tanda berdukanya ia. Karena bagaimanapun keluarga Han adalah keluarga calon istri dari jenderal kerajaan Huoli yang ia pimpin.
Tak hanya kabar kematian itu, kabar lain pun ikut berdampingan, yaitu tentang alasan dibalik kematian Han Xi Lin. Berawal dari pada pelayan bermulut besar di kediaman Han hingga kini mulut besar itu memenuhi seluruh telinga penduduk negeri, kabar tersebut membawa kabar itu menjadi panas.
Dan kabarnya adalah...
**HAN RYURA YANG MERUPAKAN KEPONAKAN HAN XI LIN ADALAH PELAKU PEMBUNUHANNYA**
Rasa percaya tidak percaya membanjiri setiap sudut negeri. Banyak dari mereka yang pernah bertemu dengan sosok Han Ryura merasa bingung, karena kebanyakan dari mereka tahu sebodoh apa gadis yang dikenal memiliki kekuatan fisik melebihi kekuatan laki-laki itu. Tapi, ada juga yang masih bertanya-tanya siapakah Han Ryura itu dan sehebat atau seburuk apa dia hingga berani membunuh pamannya sendiri didepan banyak pasang mata?! Pujian dan kutukan pun tak kalah banyak di layangkan kepadanya. Mereka yang berpihak pada Ryura merasa kagum dan salut atas keberaniannya, berpikir mungkin ada alasan dibalik semua itu. Tapi, bagi mereka yang tidak memihak padanya tanpa ragu langsung saja mengutuk perbuatannya yang kejam.
Sayangnya, mereka tidak tahu kalau yang di jadikan bahan pembicaraan tak sedikitpun mempedulikannya. Ia dengar namun di abaikan. Tak pernah ingin direpotkan dengan perang mulut, gadis tak berekspresi itu lebih suka kalau langsung melenyapkannya.
Namun, berbeda halnya dengan keluarga Han sendiri. Seluruh anggota keluarga murka, terlebih saat sekarang Tuan Besar mereka masih terbaring sakit di kamarnya akibat ulah Ryura juga. Marah dan malu menjadi rasa yang kini lebih mendominasi.
Mereka marah karena gadis yang di anggap bodoh selama ini sudah berubah menjadi berani yang mengerikan. Berani hingga tahap membunuh tanpa ragu, membuat mereka nyaris ketakutan. Dan mereka malu karena masalah yang seharusnya tertutup menjadi terbuka untuk umum. Mereka punya telinga sehingga mereka dapat mendengar bagaimana orang-orang membicarakannya. Membicarakan perihal masalah pembunuhan yang dilakukan oleh Ryura, putri bungsu keluarga tersebut.
Meskipun mereka juga mendengar, dimana sebagian orang mengutuk Han Ryura dan merasa senang akan hal itu. Tapi, tak menutup fakta kalau mereka juga malu karena bagaimanapun Ryura masihlah bagian dari keluarga Han. Pasti banyak yang bertanya mengenai, 'bagaimana bisa seorang anggota keluarga menghabisi anggota keluarga lainnya?! Apakah orang itu mengalami ketidakadilan?!' dan semua itu pasti adanya.
Yang jelas kini mereka, terkhusus bagi Han Ryura sudah menjadi terkenal.
Prosesi pemakaman berlangsung pagi itu juga, dimana mereka dalam sebuah rombongan berjalan menyusuri jalanan ibukota menuju sebuah Gunung. Yang mana Gunung tersebut akan dijadikan tempat peristirahatan terakhir bagi Han Xi Lin. Seluruh anggota keluarga mengenakan pakaian serba putih tanpa riasan sebagai tanda duka mereka. Mereka berduka hingga ke tulang.
Dalam perjalanan menuju tempat pemakaman, mereka harus menggunakan kendaraan. Berhubung mereka berasal dari keluarga terpandang, jadilah mereka menggunakan kuda pagi para lelaki dan kereta sederhana bagi para perempuan -tidak mungkin bagi mereka untuk memakai kereta yang mewah dihari duka ini-, karena jarak yang mesti di tempuh terbilang panjang. Meskipun untuk rakyat jelata, mereka harus menggunakan alas kaki sebagai alat transportasi mereka bila terjadi hal yang sama.
Perbedaan kasta benar-benar membanting!
Dalam perjalanan tersebut, di antara seluruh anggota keluarga. Han Fei Rong-lah yang paling merasa murka. Bagaimanapun, ayahnya telah di bunuh oleh sepupu bodoh yang paling dibencinya. Ia sempat menyesal karena hari itu tak ada bersama mereka kala Ryura telah kembali kekediaman. Seandainya saja dia turut hadir sudah dipastikan gadis bodoh itu akan menerima akibatnya.
Namun sayang, kata seandainya jelas tak akan terjadi. Meskipun begitu, amarah dan dendamnya tetap akan ia balaskan bila lelaki itu menemukan Han Ryura. Ketika saat itu tiba, ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk membunuhnya.
Nyawa dibalas nyawa! Begitulah pikirnya.
Tak hanya dia, yang lainnya pun turut semakin membencinya. Mereka juga memiliki rencana sendiri untuk membalaskan dendam kepada Han Ryura saat gadis bodoh itu telah ditemukan.
Tak berselang lama setelah kepergian Reychu. Ryura bangung dari tidurnya dan terdiam untuk beberapa saat. Raut wajahnya yang tak pernah berubah membuat orang lain tidak bisa memprediksi apa yang tengah ia pikirkan.
Setelah beberapa saat berlalu, ia pun beranjak pergi dari sana meninggalkan Rayan yang masih terlelap dalam tidurnya sendirian. Tanpa mengetahui kalau ia kini telah ditinggalkan oleh kedua sahabatnya begitu saja.
Keluar dari tempat penginapan tersebut, Ryura langsung menuju tempat penitipan kuda karena disanalah Furby berada. Ditempat paling bagus, karena ia tak mau kalau disuruh bergabung dengan kuda biasa lainnya. Sikapnya itu tak dianggap berarti oleh Ryura sehingga ia hanya mengiyakan saja tanpa protes.
"Akhirnya kau datang menjemputku! Senangnya..." riang Furby sesaat sebelum akhirnya ia kembali berujar dalam telepatinya, namun kini lebih serius. "Ryura, aku merasakan bahaya akan datang sebentar lagi kepada mu. Kuharap kau waspada!" kata Furby memberitahu.
"Hmm." hanya deheman yang menjadi balasan. Jelas tersirat ketidakpedulian didalamnya seolah bermakna 'baik-buruknya yang menanti di masa depan, hadapi saja', begitulah kira-kira.
Furby memilih tidak peduli dengan sikap acuh Ryura, karena ia tahu sahabat manusianya ini memang sudah begitu diri.
"Ah ya... Aku lapar, beri aku makan." Furby bertelepati lagi sembari memelas. Ryura hanya memandangnya tanpa ekspresi dan tanpa berkata, namun tangannya tetap terulur untuk mengelus wajah serta rambut kuda bulan itu sebagai tanda ia akan memenuhi keinginan kuda itu.
Maka, dari sanalah Furby tahu kalau sahabat manusianya ini tidak sedingin yang orang lain kira. Ia hanya tak memiliki emosi dan ekspresi, namun ia masih memiliki hati walaupun terkadang hatinya tak ia gunakan untuk memberi perhatian atau rasa iba pada orang lain.
__ADS_1
Dengan sigap Ryura menaiki punggung kuda bulan tersebut, lalu berkata. "Cari yang kau suka!" saat itu juga wajah Furby berseri dan tanpa menunggu lagi iapun langsung melesat pergi dari tempat penitipan kuda dengan laju gagahnya.
Menggunakan instingnya, Furby berjalan santai menuju tempat dimana makanan kesukaannya berada disana. Ia senang dan akan selalu senang bila bersama Ryura. Biarkan apa kata manusia lainnya yang mengatakan gadis datar itu mengerikan, kejam, dan apalah, yang penting ia tahu siapa Ryura sebenarnya selain kedua sahabat Ryura.
Belum sampai pada tempat yang ingin di tuju, Furby sudah lebih dulu menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegak waspada denganata menyorot tajam pada jalanan ibukota yang masih di padati oleh orang yang lalu-lalang.
Ditengah-tengah mereka yang sibuk dengan aktivitasnya, Furby justru berdiam diri disana laksana patung. Ryura yang merasakan itu melirik sekilas kuda bulan yang ia tunggangi kemudian matanya diarahkan lurus kedepan, dimana jalanan ibukota terbentang panjang hingga ke ujung sana.
Tak perlu bertanya, sesuatu telah mereka rasakan terutama Furby yang memang memiliki kemampuan untuk mendeteksi adanya bahaya di sekitar mereka.
Digerakkan sedikit kakinya seperti tengah mengambil ancang-ancang. Matanya tak lepas dari jalanan yang ramai itu. Sedang Ryura tampak tenang-tenang saja, ia tahu tapi tak mau tahu. Jika sudah waktunya maka tinggal di selesaikan. Sesimpel itu lah dia. Saking simpelnya, itu terlihat menakutkan.
Selang agak lama, dua pasang mata milik dua makhluk berbeda bangsa itu pun menangkap apa yang ternyata sejak tadi mereka tunggu-tunggu.
Sekumpulan rombongan pelayat yang hendak menempuh perjalanan menuju Gunung tempat peristirahatan terakhir untuk melakukan Upacara Pemakaman orang terkasih. Siapapun bisa menebak bila mereka adalah rombongan keluarga Han.
Mata Furby menyipit tajam. "Itu mereka!" telepatinya.
Ryura hanya mengerjapkan matanya biasa, beranggapan seolah tak akan terjadi apa-apa. Ia sudah tahu ia akan terjadi, karena itu ia bersikap biasa saja.
Saat jarak diantara dua kubu itu tersisa 15 meter, seketika itu juga pemimpin jalan mengangkat tangannya guna memberikan instruksi agar pengikutnya berhenti tanpa melepaskan tatapan tajam penuh kebencian itu dari orang yang kini sedang ia hujam dengan tatapannya begitu visualnya tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Fei Rong, kenapa berhenti?" tanya seorang pemuda seumuran dirinya yang ternyata adalah Han Fei Rong dan yang baru saja bertanya adalah Han Wu Shin. Dia ikut serta dalam mengantarkan jasad pamannya ke Gunung.
"Han Ryura!" desisnya menggeram marah, seperti sudah siap untuk mencabik-cabik sepupu bodohnya itu.
Han Wu Shin yang paling jelas mendengarnya terkejut, segera saja ia mengikuti arah pandang Han Fei Rong dan saat itu juga matanya menangkap sosok gadis yang tengah duduk tenang di atas punggung kuda miliknya. Kuda yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar dalam benaknya.
Saat kedua pemuda itu hanya diam, rombongan yang lain seperti Han Liang Xin, Han Bingzhue, Han Tian Yu, Han Dao Yan, dan beberapa pengawal mereka pun turut melihat apa yang sedang mereka lihat. Sementara beberapa perempuan seperti Han Mei Mei, Han Shang Nian, dan Han Shu Zhu di kereta pertama, serta Yang Pingyu dan Xia Lin Lin di kereta kedua dimana tepat di belakang mereka beberapa pelayan mengikuti. Alhasil para perempuan Keluarga Han beserta pelayan tidak tahu apa yang tengah terjadi sehingga mereka berhenti padahal setengah jalan pun belum mereka tempuh.
Di dalam kereta pertama...
"Ada apa ini? Kenapa berhenti?" tanya Han Shu Zhu bingung sembari melihat kesana-kemari.
"Entahlah aku juga tidak tahu." balas Han Shang Nian juga bingung.
"Kita harus cepat, perjalanan ini bukannya singkat. Ada apa sebenarnya?" gerutu Han Mei Mei mulai kesal.
"Biar ku tanya pelayan dulu..." usul Han Shang Nian segera.
Sedang di kereta kedua...
"Kereta ini kenapa berhenti?" tanya Xia Lin Lin heran.
"Entahlah. Aku tidak tahu. Akan kutanya dulu." ujar Yang Pingyu dan kemudian ia pun membuka kain penutup jendelanya untuk melihat keluar guna memudahkannya bertanya pada salah seorang pelayan.
Namun, saat kedua perempuan berbeda generasi itu hendak bertanya tiba-tiba saja sebuah nama yang di teriakan oleh suara yang amat mereka kenal mengagetkan mereka. Tak ayal, teriakan itu pun turut menarik perhatian para penduduk ibukota yang berada di sepanjang jalan tersebut.
"HAN RYURAAAA...!" Han Fei Rong berteriak dengan emosi yang membara sementara yang di teriakan tak terpengaruh sama sekali.
Mendengar nama yang kini terkenal itu, langsung saja semua mata yang ada disana memusatkan perhatiannya pada gadis berwajah datar yang tengah duduk diatas kuda hitam nan besar miliknya. Sama sekali tak gentar bahkan setelah di hadapkan dengan masalah keluarga yang pelik.
__ADS_1
Para penonton mulai berbisik-bisik saat mereka dapat melihat seperti apa wajah pembunuh itu.
"Masih punya muka rupanya kau! Beraninya muncul di hadapan ku! Kau benar-benar ingin mati, ya!!" suara tajamnya tak bisa di cegah untuk membuat siapapun yang mendengarnya merinding, karena bagaimanapun suara itu bercampur emosi dan kebencian yang mendalam. Aura disekitarnya pun turut berubah mencekam.
Tapi, memang dasarnya sifat manusia yang suka dengan urusan orang lain membuat para penduduk ibukota di sekitar jalanan itu tak bergeming meskipun rasa takut dan was-was juga mereka rasakan saat ini. Sayangnya, perseteruan antar saudara dari keluarga Han itu jauh lebih menarik untuk disimak.
Ryura hanya diam tak menanggapi barang sedikitpun. Dibiarkan saja pemuda yang adalah kakak sepupu pemilik tubuh yang ia huni sekarang ini berkoar marah.
"Apa kau sadar yang kau lakukan pada ayahku?! KAU MEMBUNUHNYA JAL*NG!" intonasinya meninggi di bagian akhir.
Ryura diam.
"KAU IBLIS! KAU PEMBUNUH! KAU KEJAM! KAU TAK PANTAS UNTUK HIDUP! KAU HARUS MATI, BRENGS*K!" teriak Fei Rong seperti orang yang mulai kehilangan kendali. Bahkan saudaranya yang lain tak berani mencegah tapi mereka tetap berjaga-jaga kalau-kalau Han Fei Rong benar-benar lepas kendali.
Melihat ia yang seperti ini tentu orang-orang tahu seterpuruk apa keadaannya saat tahu ayahnya mati dan itu karena dibunuh. Lebih parahnya dibunuh oleh saudari sepupunya sendiri yang selama ini terkenal bodoh dan tak berguna.
Diseberang sana tidak ada sahutan, Ryura diam.
Nafas pemuda itu memburu sambil menatap tajam bagai tebasan pedang yang amat tajam menghunus tepat ke netra Ryura.
"KAU GADIS BODOH, IDIOT, DAN TIDAK BERGUNA! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MU! KAU BUAT AKU KEHILANGAN AYAHKU! KARENA ITU, AKU AKAN MEMBALASNYA! AKAN AKU BUNUH KAU!" jedanya seraya terengah-engah. "TIDAK AKAN ADA YANG MENYELAMATKAN PEMBUNUH SEPERTI MU! SEMUA ORANG PASTI MEMBENCIMU BAHKAN KELUARGA JUGA MEMBENCIMU!!! AKU AKAN MENGHABISI MU SEKARANG JUGA!!!" gelegar suaranya memaku semua pendengar namun kemudian harus terkejut kala Han Fei Rong menyentak tali kekang kudanya hingga mau melaju kearah Ryura dengan cepat. Akan tetapi, sebelum sampai, di keluarkan nya pedang yang dibawanya sejak awal.
Srang!
Gesekan antara mata pedang dengan sarungnya menggema ringan. Tapi, cukup memberi rasa tegang pada yang menyaksikan.
Sedang di posisi Ryura, gadis itu tak bergeming dari tempatnya. Furby sampai berisik dalam telepatinya karena sebenarnya ia ingin beranjak pergi dari sana, tapi Ryura memintanya diam.
"Jangan gila Ryura! Aku tahu kau mampu! Tapi, ini tidaklah seimbang. Kau akan mati sia-sia di tangan anggota keluarga Han yang lain." omel Furby dalam telepatinya.
Tapi, tak ada yang berubah dari gadis itu. Ia tetap dalam ketenangannya.
"MATI KAU...!!!"
Pedang itu di angkat tinggi-tinggi lalu di ayunkannya dengan gesit dan pasti. Han Fei Rong benar-benar tidak ragu lagi untuk menghabisi nyawa Ryura tepat di depan semua orang.
Dan itu akan ia lakukan saat ini juga. Persetan dengan apapun!
Wush!
assalamu'alaikum READERS tersayang.
makasih lhoo... udha setia sampe sekarang...
author seneng banget...
semoga terus ikutin jalan ceritanya ya...
oh ya, author masih buka sesi Q&A nya. yaa... bagi yang berminat silakan bertanya... author bkal jawab di waktu yang udah author tetapkan...
kalo gitu see you next time yaaa...
__ADS_1
wassalamu'alaikum...
μ¬λν΄...π₯°π₯°π₯°ππππππ