
"Kita akan mulai dari sini!" tunjuk Ruobin keatas kertas yang sudah ia gambar bak peta. Beruntungnya goresannya tidak terganggu oleh guncangan kereta yang sedang melaju di bawa Furby.
Telunjuknya mengarah pada bagian ujung daratan alias pinggir perairan atau laut di Benua Selatan.
"Ini adalah dermaga Kerajaan Petir. Dermaga yang letaknya paling ujung dekat perbatasan antara Negara Api dan Negara Petir. Bila ingin ke Benua Tenggara umumnya orang-orang akan memilih melewati dermaga tersebut. Meski bukan dermaga besar, tapi dermaga itulah yang paling dekat dengan Benua Musim Semi. Di sana hanya menyediakan kapal berukuran sedang yang hanya dapat memuat 100 orang saja, itupun tidak dihitung dengan kendaraan serta kuda yang dibawa. Biasanya pelabuhan Negara Petir digunakan sebagai jalur perdagangan antar negara. Oleh karena itu, kalau membawa keduanya seperti kita, maka kereta dan kuda dihitung sebagai orang. Sehingga muatan orangnya akan berkurang. Jadi, jangan heran kalau nanti kalian tidak dapat melihat banyak orang di sana. Mereka yang ingin menyeberang ke Kekaisaran tetangga sudah pasti membawa banyak barang sebagai persediaan mereka. Akan tetapi, lain halnya dengan orang-orang yang memiliki giok ruang. Mereka cukup membawa tubuh saja." jelas Ruobin panjang lebar.
"Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berlayar ke Kekaisaran Tenggara?" tanya Rayan usai mendengar penjelasan itu.
Menoleh kearah Rayan, kemudian menjawab. "Kira-kira, bisa sampai menghabiskan waktu 5 hari 5 malam. Mulai dari sebelum matahari terbit, kapal sudah beroperasi."
"Heh?! Selama itu? Kau bilang melewati dermaga di kerajaan petir adalah jalan tercepat. Lalu, kenapa bisa selama itu?" protes Reychu yang merasa kalau waktu yang disebutkan terbilang lama.
Mengernyitkan kening kala mendengar nada protes Reychu. "Itu sudah bisa dikatakan cepat, Nona Reychu. Kalau melewati pelabuhan lain, bisa menghabiskan waktu lebih dari setengah bulan. Lagipula, 5 hari itu sudah cukup wajar. Laut yang akan kita seberangi bukan hanya 1 atau 2 meter saja. Apalagi, ini untuk menuju ke Benua lain." dengan sabar Ruobin menerangkan.
Protes yang Reychu lakukan nyaris menimbulkan perempatan siku-siku dari urat-urat di kepalanya.
"Berhentilah bertanya yang aneh-aneh, seolah-olah kau tidak pernah bepergian dengan kapal." tegur Rayan dengan nyinyir sembari mengungkit pengalaman hidup di kehidupan sebelumnya. Tak ingin sampai Reychu berulah.
"Ya, bagaimana aku tahu kalau akan sejauh itu? Aku kan tidak pernah suka melakukan perjalanan yang lama tanpa menjelajah. Itu tidak bebas, kau tahu... Di kapal dalam 5 hari 5 malam tanpa melakukan apapun. Itu membosankan!" keluhnya.
Bukan dia namanya kalau harus duduk diam.
"Cobalah untuk bertahan sebentar. Karena, perjalanan kita tidak hanya sampai di situ saja." jeda sesaat sambil menyapu matanya kesemua orang yang ada di dalam kereta tersebut. "Setibanya kita di pelabuhan Negara Angin. Kita akan melanjutkan perjalanan selama 4 hari untuk melewati negara berikutnya, yakni Kerajaan Bintang. Di negara itu, kita kembali menempuh 5 hari perjalanan untuk ke negara berikutnya lagi. Yaitu, Kerajaan Bulan. Dari sana kita kembali melanjutkannya selama 7 hari perjalanan baru bisa sampai ke negara terakhir sebagai negara yang menjadi tujuan kita. Yaitu, Kerajaan Langit. Kerajaan terbesar di Benua Tenggara. Tempat dimana Kaisar Agung penguasa Kekaisaran Tenggara berada. Pemimpin dari semua pemimpin kerajaan-kerajaan yang ada di Benua Tenggara." final Ruobin dalam menjelaskan.
"Disana juga tempat dimana festival itu akan di lakukan. Apa kau mengerti?!" timpal Duan Xi yang sedang memejamkan matanya sambil bersedekap dada dengan ketus.
"Kau marah, Pak tua? Jangan begitu... Kau akan cepat mati kalau keseringan marah-marah. Mana kau sudah tua dan renta lagi." gamblang Reychu dengan santainya.
Duan Xi marah karena tersinggung, tapi terlalu malas untuk meladeni. Ia pun memilih mendengus tak peduli. "Gadis ini, benar-benar tak ada sopan santunnya! Sudah tepat aku memilih Ryura!" batinnya menggeram kesal.
Terpaan angin malam dengan berani menembus pori-pori kulit gadis yang duduk di kusir kereta. Jika dia manusia biasa pada umumnya, maka sudah jelas akan merasakan kedinginan yang amat sangat dan bisa saja keesokan harinya ia akan langsung jatuh sakit. Tapi, sayangnya Ryura tidak akan begitu.
__ADS_1
Dia bahkan tak sedikitpun merasakan kedinginan. Bak orang yang sudah mati rasa, dimana semua urat syarafnya tak lagi berfungsi. Ryura dengan tenangnya duduk menemani Furby yang dengan cepat memacu laju larinya.
Malam gelap tanpa sinar bulan dan taburan bintang memudahkan Furby melakukan perjalanan. Sebab, dia tidak akan memancing perhatian siapapun dengan bentuk tubuh dan keunikannya sebagai hewan spiritual.
"Kita harus tiba sebelum fajar!" seru Furby melalui telepatinya, lalu melanjutkan tanpa menunggu respon sahabat manusianya yang tengah duduk tenang di kusir kereta.
"Karena kapal yang akan membawa kita menyeberang, hanya ada pada jam-jam tersebut."
Ryura diam, namun mendengarkan.
"Oh ya. Kau masih memiliki uang 'kan? Perkepala akan menghabiskan sebanyak 10 tael perak." kata Furby memberitahu.
"Ya." hanya itu jawabannya.
Melirik sekilas ke belakang dimana Ryura berada. Lalu, dengan sindiran kental Furby berujar kembali melalui telepatinya. "Huh! Jangan katakan padaku kalau kau juga yang akan membayar untuk kedua sahabat mu itu."
"Hm..."
"Astaga! Kau serius! Benar-benar..." pekik Furby tak tahu harus berkata apa.
"Memangnya mereka tidak bisa mencari penghasilan sendiri?" tanya Furby hanya ingin tahu. Tapi, tidak menganggapnya penting.
"Bisa." jawab Ryura datar tanpa rasa.
"Kalau begitu, suruh saja mereka bekerja. Mereka juga masih muda dan kuat." desak Furby saking gereget nya.
"Tidak bisa." masih sama datarnya.
"Apa maksudmu tidak bisa? Kau bilang diawal, bahwa mereka bisa mencari penghasilan sendiri. Lalu, kenapa cepat sekali berubahnya?!" bingung Furby dengan percakapan mereka kali ini. Walau disisi lain ia cukup nyaman dengan dialog mereka yang meski tak banyak tapi cukup menghibur ditengah-tengah kesunyian malam.
"Tidak ada pekerjaan yang cocok." Ryura tampak santai kali ini.
"Heh?! Tidak mungkin! Pasti ada!" Furbi terus melaju lincah dan cepat sambil terus mengobrol dengan Ryura.
__ADS_1
"Hm." mendengar gumaman samar itu membuat Furby semakin mempertajam.
"Kau juga yakin itu. Kalau begitu, apa kira-kira yang cocok untuk dikerjakan kedua sahabat mu itu?"
"Mencari suami!"
Zrugh!
Kaki depan Furby nyaris tergelincir begitu mendengar jawaban tak terduga dari mulut Ryura. Untung saja, ia cukup gesit untuk bisa menjaga keseimbangannya.
Syok dan kikuk tengah melanda hati Furby.
Tak berpikir akan menjadi dua kata itu yang didengarnya dan lebih tidak dapat dipercaya adalah orang yang mengatakannya.
Krik!
Krik!
Krik!
Furby tidak tahu harus apa.
Ia sendiri bingung. Apa arti dari perkataan sahabatnya. Serius kah atau hanya sekadar gurauan semata.
Tapi...
Iyakah, seorang Ryura bisa bergurau?! Itu terdengar garing... Mengerti...
maaf, ya baru bisa up 1 juga dikit. soalnya Thor masih capek banget. baru selesai kerjaan. ni nulisnya pun ngantukan. mata ampek merem melek.
insya Allah. next bisa crazy up.
__ADS_1
doakan saja yaaa.