
Waktu berlalu, tak terasa. Kini di ufuk timur sudah mulai menampakkan sinarnya. Matahari sudah akan menunjukkan dirinya yang bersinar dengan luar biasa.
Rayan dan Reychu terlihat masih ditempatnya hanya untuk menyaksikan matahari terbit. Sedang yang lainnya sudah duduk dengan tenang di kursi yang disediakan di atas kapal.
Mereka asik bercerita, kecuali Ryura yang malah kelihatan tidur dalam posisi duduknya di samping Furby versi manusia.
"Sudah berapa lama kita tidak melihat matahari terbit?" tanya Rayan tiba-tiba saat tanpa sengaja pertanyaan itu melintas di benaknya.
Reychu yang mendengarnya menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Kurasa sudah sangat lama..." jawabnya tak begitu yakin.
"Huh... Aku jadi teringat dengan kesibukan kita di kehidupan sebelumnya. Untuk bisa menikmati keindahan ini saja, kita tak punya waktu." kata Rayan menyayangkan apa yang pernah mereka lewatkan sewaktu di dunia modern dulu.
"Hahaha... Bukankah itu pilihan hidup kita?!" timpal Reychu.
Keduanya masih asik memandangi matahari terbit yang sedikit demi sedikit mulai menampakkan lingkaran sempurnanya.
"Memang... Tapi, aku berharap suatu hari nanti aku bisa bersantai di rumah tanpa repot-repot memikirkan kesulitan pekerjaan yang kita lakukan." harapan Rayan begitu besar.
"Seperti menjadi ibu rumah tangga, maksudmu? Hehe... Kau jadi ibu rumah tangga?! Kau lebih cocok menjadi asisten rumah tangga. Hahaha..." ledek Reychu.
"Dasar kau. Perusak suasana! Pagi yang indah ini jadi kacau karena kau!" maki Rayan kesal disaat situasi normalnya di hancurkan begitu saja oleh Reychu yang tak bisa bersikap normal terlalu lama.
"Marahlah. Kau akan jadi sebesar balon udara saat sedang marah. Hahaha..." ledek Reychu lagi. Dia seperti tak ada bosannya menjadi konyol dan tidak masuk akal.
"Kau benar-benar..." lalu dipukulinya Reychu dengan pukulan yang wajar dilakukan antar sahabat kala bercanda.
Beralih ke kumpulan para lelaki.
"Bukankah itu menyenangkan? Kau jadi bisa bepergian kemana-mana." celetuk Ruobin menanggapi cerita Furby tentang nasibnya yang berkelana jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk melarikan diri.
"Omong kosong! Kau tidak bisa menyamakannya. Kalau aku bisa menganggapnya bepergian dengan bebas, itu bagus. Tapi, ini tidak! Aku berkelana karena berusaha menjauh dari kejaran orang-orang busuk itu! Mereka sungguh bernafsu sekali untuk memiliki ku! Huh!" omel Furby setiap mengingat bagaimana perjuangannya melarikan diri dari kejaran orang-orang sebelum bertemu dengan Ryura.
Bukannya ia tak mampu melawan. Hanya saja, jika ia terus melawan tenaganya juga akan terkuras sia-sia. Sementara, para pemburu itu semakin lama semakin banyak. Alhasil, pilihan yang diambilnya adalah melarikan diri.
__ADS_1
"Itu pasti berat untuk mu!" iba Chi-chi terlihat di wajah imutnya.
"Kau benar! Sangat berat. Beruntungnya aku bisa bertemu Ryura." katanya dengan senyum mengembang seraya melirik sekilas kearah si empunya nama yang disebutnya di akhir kalimat.
Ryura tampak tenang dalam tidurnya.
"Tapi, bukankah sama saja. Kau juga masih menjadi incaran para pemburu itu..." belum selesai Ruobin berkata, Furby sudah lebih dulu memotong dengan bangga.
"Ada Ryura! Hahaha... Dia tak akan membiarkan ku di ambil oleh orang lain." senyumnya merekah lagi saat ia mengatakannya. Entah mengapa, bila itu berkaitan dengan Ryura, dia akan selalu dalam suasana hati yang bagus.
Ruobin mengangguk paham. "Benar!"
"Kalian sendiri bagaimana bisa bertemu gadis-gadis itu?" tanya Furby kepada kedua siluman di depannya.
"Panggil dengan benar. Aku bahkan memanggil tuan mu dengan sebutan 'Nona'. Bagaimana bisa kau malah begitu lancang?!" tegur Ruobin sedikit tidak terima. Meski dia memanggil Rayan dengan panggilan akrab, itu karena Rayan dekat dengannya. Tapi, yang lainnya tidak.
"Haish... Kenapa kau malah merepotkan dirimu sendiri?! Mereka lain dari yang lain. Tidak pernah ada kata sungkan. Jadi, kenapa tidak di akrab kan saja?!" terang Furby mengemukakan pendapatnya tentang cara ketiga gadis itu bersikap santai.
Ruobin tetap menggelengkan kepalanya. "Aku rasa, aku tidak akan bisa."
"Jangan bilang kau takut?"
"Apa! Tentu saja tidak!" bantah Ruobin.
"Kau juga, benar?" mengabaikan Ruobin sesaat dan beralih ke Chi-chi yang usai mendengar pertanyaan tersebut, ia langsung menundukkan kepalanya dengan pipi sudah memerah.
Tahu artinya, Furby terkekeh mengejek.
"Aku tahu, aku tahu... Kalian takut." yakin Furby.
"Aku tidak!" bantah Ruobin tak terima. Sebenarnya, Ruobin memang tidak takut pada Ryura. Dia hanya segan dan kikuk bila berhadapan pada gadis patung seperti Ryura.
Kepribadian Ryura yang datar dan tenang menyulitkannya sebagai siluman rubah perak yang lebih banyak bermain dan menggoda daripada terlalu hanyut dalam keseriusan. Oleh sebab itu, Ryura yang serasa abadi dengan wajahnya tanpa ekspresi itu membuat ia sungkan untuk berdekatan atau bahkan sekadar bertegur sapa.
__ADS_1
"Aku memang sedikit takut." ungkap Chi-chi dengan nada pelan seraya melirik Ryura yang tengah tidur, berjaga-jaga kalau gadis itu mendengarnya. Lalu, kembali menatap Furby dan berbisik. "Dia itu diam-diam, tapi menakutkan. Aku tidak suka!"
"Uhuk.. uhk... Kau sangat jujur." kata Furby hati-hati. Ia pun takut kalau percakapan mereka sampai menyinggung Ryura, bila gadis itu tanpa sengaja mendengarnya.
Mereka tidak tahu saja, bahwa dengar atau tidak Ryura tidak akan berubah ke mode mengamuk hanya karena itu.
Keasikan mereka, ternyata berlangsung lama juga. Meski hari masih pagi, tapi mereka melewatinya dengan khidmat. Sampai hal tak terduga terjadi hingga mengejutkan mereka karenanya...
Srak...
"DASAR GILA!!!"
Seluruh pasang mata yang ada di atas kapal langsung mengarah ke asal suara tersebut. Suara milik Rayan yang tengah berteriak marah. Bagaimana tidak?
Rayan yang sedang asyik-asyiknya menikmati sinar matahari yang hangat dan menyegarkan segera di hancurkan oleh ulah Reychu yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Gadis bermulut besar itu tengah tertawa keras sampai kepalanya mendongak. Kedua tangannya memiliki sesuatu yang di pegang. Dimana, tangan kanan memegang salah satu dari pedang kembarnya dan tangan satunya tengah menggenggam segenggam rambut.
Eh?! Rambut?!
"Reychuuuuu... Apa yang kau lakukan...?! Rambut mu! Kau apakan rambut mu, bodoh?!" lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya Rayan kembali dibuat marah oleh Reychu.
Marah atas apa yang sudah dilakukan oleh Reychu.
Gadis yang sedang dimarahi malah dengan santainya tertawa renyah seperti orang yang tak pernah melakukan kesalahan.
"Memangnya apa yang kulakukan?" goda Reychu dengan bertanya balik. Kemudian mengangkat kedua tangannya yang masih berisi dan dengan entengnya ia berkata.
"Aku hanya memotong rambut ku. Panjang terlalu merepotkan." mengangkat bahunya acuh.
Rayan sudah seperti banteng yang di suguhkan selendang merah didepannya.
Ia marah tapi tak bisa apa-apa.
__ADS_1
๐