
Berjam-jam berlalu sampai Rayan terkantuk-kantuk lantaran tak sabar untuk segera pulang. Tapi, permasalahan belum selesai hingga terpaksa menetap sampai semuanya selesai.
Kegiatan panas sebelumnya telah usai dan para pria gig*lo tadi sudah di minta pergi bersama bayaran mereka menyisakan komplotan Bo Kang dan 3Ry yang saat ini berada di ruangan tempat Meng Ruona di siksa dengan cara mengerikan plus memalukan.
"Bos, akhirnya kau merasakan milik perempuan itu. Haha..." seru salah seorang anak buah Bo Kang padanya yang saat ini tengah duduk memikirkan apa yang beberapa jam lalu dia lakukan.
Bo Kang melirik sekilas sebelum kembali menatap lurus ke depan dan menjawab dengan datar. "Tak ada yang perlu di banggakan soal itu. Lagipula, keperawanannya di jaga bukan untuk pria yang akan jadi jodohnya. Tapi, suami orang yang saat ini istrinya memilih bertindak. Aku hanya tidak menyangka kalau aku juga pada akhirnya terlibat. Bukankah ketiga wanita itu mengerikan?! Penampilan luarnya benar-benar menipu." dia mengejek dirinya sendiri yang tak bisa bila tidak tunduk dengan 3Ry.
"Kau benar, Bos. Sejak awal kita sudah bisa menebak, posisi apa yang akan kita ambil. Ketiganya memiliki keunggulan masing-masing, tapi wanita yang paling pendiam itu terasa lebih mencurigakan karena tak bisa di tebak. Meskipun dua lainnya tak kalah mengerikan, karena yang satunya tipe brutal dan satunya lagi tipe kecantikan yang mematikan." terang anak buahnya menurut pandangannya tentang 3Ry.
Bo Kang mengangguk sependapat. "Kau benar. ketiganya benar-benar bukan lawan kita yang sepadan." Akuinya dengan mudah sebab begitulah adanya. Mau mengelak pun tak bisa karena tak ada yang bisa menjadi perisai untuknya mengelak dari fakta itu.
"Berdoa saja. Ini menjadi terakhir kalinya kita terlibat dengan mereka." lanjut Bo Kang berharap begitu.
Anak-anak buahnya mengangguk setuju. Semuanya berharap sama. Dikarenakan, terlalu beresiko bila berurusan dengan 3Ry, belum lagi dengan adanya 3 pengusaha tersohor di belakang mereka. Berkhayal menang saja tidak bisa.
Selesai dengan sekelompok orang tak berdaya ini, mari bergeser ke ruangan tempat 4 perempuan berada.
3 wanita dan 1 gadis. Tahu kan, maksudnya? Hehehe...
Reychu di sebelah tempat tidur yang mana masih terdapat Meng Ruona yang tergeletak diatasnya dengan tidak berdaya tengah asik melihat-lihat hasil tangkapan videonya. Mata Reychu terbuka lebar menontonnya bak orang me*um yang kecanduan nonton.
Lain dengan Rayan yang kembali bersemangat setelah dirasa sebentar lagi akan pulang ke rumah, dari tadi dia tak sabar untuk menemui suaminya yang juga merindukannya. Tadi, mereka saling berkirim pesan guna melepas rindu.
Jika ditanya mengapa tidak telpon saja. itu karena para suami begitu pengertian untuk tak ingin mengganggu hiburan sang istri tercinta.
Maka, saat ini giliran Ryura.
Dia berdiri di kaki Meng Ruona hingga kondisi mengenaskan wanita itu terlihat lebih jelas dari sudut tersebut. Polos tanpa busana dengan cairan putih yang membasahi tubuhnya dimana-mana membuat lengket dan tidak nyaman. Belum lagi tanda-tanda merah yang nyaris menutupi warna kulitnya memenuhi sekujur tubuh.
Benar-benar mengenaskan.
Meng Ruona sendiri sudah tak bisa meneteskan air mata lagi karena terlalu lelah. Untuk sekadar menggerakkan jari saja dia tak sanggup. Jadi, hanya bisa memandang ketiga perempuan didepannya dengan takut-takut.
Hilang sudah keangkuhan dan keberanian Meng Ruona setelah tahu kalau dia salah memilih lawan. Dia menyadari bahwa 3Ry bukan amatiran soal siksa menyiksa orang lain. Itu terlihat dari seberapa terencana pembalasan mereka.
"K..ka..kalian m..ma..mau apa?" dengan takut-takut hingga terbata-bata Meng Ruona bertanya. Takut kalau masih ada penyiksaan lain lagi. Kehilangan kehormatan yang dia jaga untuk Ye Huan saja sudah menjadi hal yang luar biasa mengerikan, apalagi menyadari fakta bahwa tubuhnya telah dilahap oleh beberapa pria.
Bagaimana bisa Meng Ruona tidak merasakan takut?
Mendengar pertanyaan itu, Reychu dan Rayan menoleh kearah Ryura yang berdiri diam dengan ekspresi kosong yang selalu disalahpahami tapi tatapannya jelas mengarah tepat di kedua mata sayu Meng Ruona.
Hening sejenak sebelum suara Ryura terdengar. "Aku tidak tertarik membunuh hama kecil seperti mu. Tapi, aku juga tidak akan melepaskan mu dengan mudah. Kau tinggal memilih."
__ADS_1
Bila Meng Ruona butuh waktu untuk mencerna kalimat singkat, padat, dan jelas dari Ryura, maka lain dengan Reychu yang langsung protes.
"Hah?! Kau biarkan dia hidup? Ck! Sayang sekali... Tidak bisakah dia mati saja? Bagaimana kalau dia berulah lagi? Sial! Ini tidak seru sama sekali." Meng Ruona yang mendengarnya tak bisa menahan ngeri. Dia sampai menatap sosok Reychu yang bisa-bisanya membicarakan hidup-mati seseorang seperti sedang membicarakan seekor ikan di akuarium hendak diapakan.
"Bi..biarkan aku hidup!" Dengan tenaga yang tersisa Meng Ruona mencoba bernegosiasi demi hidupnya. Agaknya dia sudah berpikir lebih jernih.
Benar, dia berpikir... Ye Huan tak bisa didapatkannya lantaran wanita yang menjadi istri pria itu lebih dari dugaannya. Apalagi, dia sudah merasakan bagian disiksa dengan cara mengerikan hingga kehilangan kehormatan yang dijaganya. Lalu, haruskah dia membiarkan nyawanya direnggut juga? Tentu tidak! Dia sudah kehilangan banyak, tak bisa membiarkan nyawa yang menjadi kesempatan terakhir yang dimilikinya ikut hilang.
Jadi, sepertinya dia harus benar-benar menyerah. Dia sadar, melawan 3Ry hanya menghantarkan nyawa saja.
"Eh?! Janganlah... Kau tidak kasihan pada ku? Aku ingin nyawamu, lhoo..." Reychu berujar sambil memelas. Sungguh tidak serasi, dia justru lebih seperti psikopat daripada gadis normal pada umumnya.
Mata Meng Ruona terbelalak melihat Reychu yang kegilaannya buat takut jiwa raga seseorang.
"Kau... Psikopat!" Desis Meng Ruona ditengah ketakutannya yang masih terdengar oleh 3Ry hingga Reychu terbahak mendengarnya.
"Hahahah... Terimakasih! Aku tersanjung, lhoo. Hahaha..."
Fix! Meng Ruona sudah tahu apa yang harus dia pilih!
Kembali menoleh kearah Ryura yang setia dalam diamnya. "Biarkan aku hidup! Aku berjanji akan menjauh dari hidup kalian dan tak mengusik apapun yang berhubungan dengan kalian! Tapi, aku mohon hapus video itu! Aku bersumpah akan kembali ke kehidupan ku sendiri tanpa berurusan dengan kalian lagi! Aku mohon! Lepaskan aku! Bebaskan aku! Tolong!"
"Eiy. Mana bisa video dihapus hanya karena kau memintanya... Video ini akan tetap ada bersama kami. Ini sebagai jaminan kau tak akan macam-macam. Selama kau tidak mengusik sedikit saja, videonya pun akan aman dalam tempat penyimpanan. Tapi, kalau kau berpikir untuk membalas. Jangankan videonya yang akan kami sebar, kau pun akan kami buat mati dengan keinginan mu sendiri. Hehehehe..." Seringai menakutkan khas Reychu terpampang yang membuat Meng Ruona semakin ketakutan.
Dan tangis itu malah ditertawakan oleh Reychu dengan begitu bahagianya yang sukses membuat tangan Rayan gatal untuk memukul sesuatu dan langsung menggeplak lengan Reychu keras.
"Ouch!"
"Sudah, hentikan! Kita pulang sekarang!" menoleh ke Meng Ruona yang masih sesenggukan dan berkata. "Kami pegang kata-kata mu. Kuharap itu bukan omong kosong belaka. Sebab, kau pasti tahu seperti apa rasanya saat cairan yang aku masukkan ke tubuh mu tadi, kan? Itu belum seberapa. Aku masih memiliki banyak ragam cairan yang bisa langsung menghancurkan mu, jika kau berani macam-macam. Kau mengerti?" Tegasnya.
Meng Ruona mengangguk paham. Hidupnya sekarang lebih penting daripada yang lain.
"Sebenarnya, berurusan dengan kami mudah saja. Cukup dengan kau tidak melewati batas, maka hidup mu aman. Tapi, bila seperti yang kau lakukan hari ini... Kami tentu tak akan melewatkan kesempatan untuk menghibur diri dengan bermain... Bermain dengan nyawa manusia tentunya." Rayan pun mengeluarkan seringainya yang sukses membuat Meng Ruona meneguk ludahnya susah payah.
Dalam hati mengutuk dirinya sendiri karena terlalu sombong dengan berpikir dirinya sudah cukup hebat. Ternyata, ada yang lebih bahkan cenderung mengerikan.
Dia tak mau lagi mengorbankan kehidupannya dengan berurusan dengan 3Ry. Dia masih muda untuk hidup lebih lama.
Setelahnya Reychu diseret Rayan keluar dari ruangan itu meninggalkan Ryura yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari Meng Ruona hingga membuat wanita yang masih lemas tak berdaya itu berkeringat dingin lantaran takut dan was-was.
Harap-harap cemas pada sosok Ryura yang belum beranjak juga. Ingin bertanya sekaligus mengusir secara halus tapi tak kuasa. Dia terlalu takut.
Meng Ruona ingat dengan pepatah bahwa diamnya orang pendiam itu seperti bom waktu. Salah sedikit saja, habislah.
__ADS_1
"Dia akan menerima mu apa adanya selama kau mau menjadi lebih baik." Usai mengatakan kalimat membingungkan itu, Ryura pun berbalik pergi meninggalkan Meng Ruona yang tadinya takut menjadi bingung dengan apa yang Ryura ucapkan.
"Apa maksudnya..." Gumamnya.
Ketiganya keluar dari ruangan dan berjalan kearah Bo Kang yang langsung bangkit dari duduknya begitu melihat 3Ry mendekat.
"Urus wanita itu dan bereskan sisanya, karena kami akan pulang lebih dulu. Jangan khawatir, semua itu pasti ada imbalannya. Selamat malam." tukas Rayan mewakili 3Ry dan kemudian melenggang pergi meninggalkan kelompok Bo Kang yang belum sempat menjawab mau tidaknya. Tapi, bagaimana bisa mereka menolak.
Dengan menghela napas Bo Kang menurunkan perintah. "Ayo, selesaikan semuanya. Jangan ada yang tersisa. Ini harus menjadi akhir hubungan kita dengan mereka."
"Baik, Bos!" Serempak anak buahnya menjawab.
Tiba-tiba, salah satunya berceletuk. "Bos, wanita didalam itu bagaimana?"
Bo Kang tertegun sejenak sebelum menjawab. "Itu biar jadi urusan ku."
Kemudian, semuanya pun bergegas membereskan kekacauan yang 3Ry buat dengan berusaha menghapus jejak 3Ry seperti keinginan mereka untuk menghapus ketiganya dari benak mereka agar tidak dihantui lagi dengan kengerian ketiga wanita itu.
Ditengah-tengah kesibukan anak buahnya, Bo Kang berjalan memasuki ruangan yang menjadi saksi hancurnya kehormatan Meng Ruona dengan dia sebagai orang pertama yang mengambilnya.
Tak tahu perasaan apa yang dirasakan pria itu, yang pasti dia sendiri tak bisa menjelaskannya.
Pria itu masuk dan langsung disuguhkan pemandangan yang memprihatinkan. Meng Ruona tergeletak tak berdaya tanpa busana diatas tempat tidur usang yang ada di ruangan itu. Gadis yang telah menjadi wanita itu tengah menatap kosong langit-langit ruang yang sebagian plafonnya telah rontok dan sebagiannya membusuk serta berlumut.
Sejenak Bo Kang terdiam di bibir pintu memandang Meng Ruona yang tak sadar ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
Setelah beberapa saat barulah Bo Kang masuk menghampiri Meng Ruona hingga membuat kaget wanita itu.
Terkejut melihat kedatangan Bo Kang, Meng Ruona seketika tersadar dengan kondisinya yang tel*njang sehingga dia spontan bergerak untuk mencari apapun yang bisa menutupi tubuhnya. Tapi, dia malah meringis menahan nyeri di sekujur tubuhnya yang benar-benar porak-poranda.
Seketika setitik iba muncul di hati Bo Kang yang pria itu sendiri tidak menyadarinya.
"Tak perlu bergerak. Aku bahkan sudah melihatnya tadi." ujarnya dengan datar hingga tak terbaca apa yang terlintas dibenaknya. Melihat itu Meng Ruona jadi kikuk dan tak tahu harus apa.
Akhirnya, dia memilih menahan rasa malu dan membiarkan Bo Kang membantunya sebab dia benar-benar dalam keadaan tak berdaya.
Dengan patuh Meng Ruona melihat Bo Kang menanggalkan Outer-nya dan bergerak untuk membungkus tubuh polos Meng Ruona agar tubuh mengenaskannya tertutupi. Lalu, dengan gentlenya dia menggendong Meng Ruona ala Bridal style dan berniat untuk membantunya pulang.
Dengan suara kecil Meng Ruona berucap. "Terimakasih."
"Tidak perlu." Jawab Bo Kang masih dengan kedatarannya.
Dan semuanya berakhir sampai disini untuk bagian pertama pembasmian.
__ADS_1