
"Waaah..."
Raut terpesona terpancar dari wajah Rayan Mo kala matanya disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah, bahkan Ruobin dan Chi-chi yang sebangsa pun tak elak ikut terpesona.
Reychu sebenarnya juga, tapi hanya sepersekian detik saja. Gadis itu terbilang amat sulit ditaklukkan hatinya hanya dengan wajah tampan. Sedang Ryura tak sedikitpun merasakan apa-apa, hanya kehampaan yang ada. Rayan sampai begitu terpesona, karena dia memang amat menyukai keindahan terutama keindahan dari sesosok pria. Tak peduli darimana latar belakangnya, selama dia indah dipandang mata. Maka, orang tersebut masuk dalam daftar catatan pria tampan yang ia sukai.
Seorang Rayan Mo tak akan melewatkan yang satu itu.
Rayan Mo adalah namanya sekarang sejak ia melepas mati marga pemilik tubuh sebelumnya. Karena kini ia yang memegang kendali sepenuhnya, maka ia memilih mengubah sedikit namanya menjadi tidak jauh dari namanya di kehidupan sebelumnya, yaitu Rayan Mo disingkat dari lengkapnya. Rayan Monica.
Sosok yang dilihat oleh matanya adalah rupa Furby dalam wujud manusianya. Gagah, tinggi, tegap, putih bersih bak giok berharga dengan dibalut pakaian serba hitam yang langsung membangkitkan pesonanya yang legendaris persis seperti sosoknya yang masih berkaki empat, kuda bulan.
Tanpa rasa kikuk atau canggung lantaran ditatap sedemikian rupa, justru Furby bangga saat melihat kalau penampilannya dapat mengalahkan dua siluman lainnya.
Tapi, sayangnya semua kebanggaan itu hanya bisa ia tunjukkan beberapa saat saja. Pasalnya, tiba-tiba saja Ryura melemparkan setelan pakaian pria berwarna hitam seperti identitasnya namun terkesan sederhana padanya. Segera tatapan bingung dilayangkan.
Belum sempat ia bertanya, Ryura sudah lebih dulu berujar. "Jangan mencolok." cukup sudah, ia paham maksudnya. Dengan berat hati ia berjalan masuk kembali kedalam gerbong kereta dan menutup pintunya. Furby memilih mengganti pakaiannya di dalam kereta lebih cepat dan praktis, mengingat Ryura akan menghilang kalau ia terlalu merepotkan diri sendiri.
Hilang dalam artian, suka kelayakan seorang diri.
Rayan diluar tak habis-habisnya tersipu. Pipinya sudah memerah saking sukanya melihat wajah tampan Furby. Ruobin yang disampingnya sampai terabaikan.
Tapi, untungnya siluman rubah perak itu sudah tahu gadis seperti apa Rayan itu. Jadi, dia tidak terlalu memikirkannya. Hanya memutar bola matanya malas mendapati respon Rayan yang kelewat jujur.
"Jika, aku tidak tahu apa definisi pria tampan bagi Rayan. Aku pasti sudah pasti akan salah paham dan langsung jatuh cinta padanya. Cih! Aku masih beruntung untuk tidak salah langkah! Heh!" salut Ruobin dalam hatinya untuk dirinya sendiri.
"Ya, Tuhan... Furby tampan sekali... Kalian lihat itu... Astaga, astaga, astaga..." menakup wajahnya dengan kedua tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari gerbong kereta dimana masih ada Furby didalamnya. "Luar biasa... Tampan... Hmmhmmhmm... Aku suka... Suka sekali... Apa bisa ku jadikan dia koleksi pria tampanku?" celetuk Rayan terdengar ambigu diakhir kalimatnya langsung membuat tubuh Ruobin dan Furby yang baru saja setengah keluar dari kereta menegang hebat.
Kedua pria tampan itu segera menatap horor Rayan. Bahkan, Ruobin yang berdiri tepat di sampingnya secepat kilat mengambil langkah mundur menjauhi Rayan.
__ADS_1
"Bwahahaha... Inikah yang dinamakan suka! Hahaha..." tawa Duan Xi pecah. Ia merasa cukup terhibur dengan kejadian itu.
Chi-chi pun tak kalah ngakak karenanya. Sampai perutnya keram.
"Hahaha... Kenapa kalian terkejut?" memandang Ruobin dan Furby bergantian, sebelum akhirnya beralih ke Ruobin yang sudah menyingkirkan diri. "Hei, rubah! Kau juga, kenapa sampai kaget begitu? Jangan bilang, kalau kau belum tahu sisi Rayan yang satu itu, ya?" tidak mendapati jawaban dari pertanyaannya, Reychu cukup mengerti akan hal itu. Maka dari itu...
"HAHAHAHAHA...!!! KASIHAN...! HAHAHA... Malang sekali kau, hah? HAHAHA...!" suara tawanya Reychu menggelegar hingga menarik perhatian orang-orang yang ada disekitar mereka. Bagaimanapun mereka saat ini sedang ada di lantai pertama kapal yang biasanya ditempati oleh kereta kuda, gerobak, dan barang bawaan lainnya.
Rayan sudah malu dibuatnya karena disalah pahami, segera ia menoleh kearah Reychu yang hendak berkata ngawur.
"Tutup mulut mu, Rey! Aku tidak segila itu sampai benar-benar mengoleksi pria tampan hanya karena aku menyukainya. Kau jangan membuat orang salah paham!" marah Rayan sambil memelototi Reychu yang malah terkekeh geli.
"Hehe... Apa yang salah, Rayan sayang! Kau memang suka mengoleksi pria tampan! Haruskah aku menyebut totalnya yang sudah kau kumpulkan selama ini? Hehe..." goda Reychu setengah jujur.
Fakta, kalau Rayan suka mengoleksi pria tampan. Tapi, perlu diingat... Dia hanya mengoleksi fotonya saja saat masih di masa modern. Bila untuk orangnya langsung, Rayan tidak gila seperti Reychu. Itu yang akan ia katakan.
"Rey... Chuuu...!" geram Rayan yang langsung mengambil langkah lebar kearah Reychu yang segera memilih melarikan diri ke atas kapal.
Keduanya pun kembali meninggalkan yang lainnya dalam diam, dengan isi kepala masing-masing.
"Sudahlah. Ayo, naik. Kapal akan segera berangkat." ujar Duan Xi lalu beranjak lebih dulu, disusul Ryura yang tenang dalam diamnya tanpa peduli sekitar. Dibelakangnya Chi-chi masih terkikik lucu melihat kelakuan dua pria tampan yang usianya bisa ditaksir sudah lebih dari ratusan tahun. Mengingat mereka adalah golongan siluman.
"Hihi... Sudah jangan dipikirkan. Aku yakin itu tidak benar! Hahaha..." sulit untuk benar-benar berhenti tertawa. Pasalnya, ini sungguh menghibur.
Siluman kelinci itu pun akhirnya berlalu juga meninggalkan Ruobin dan Furby.
Kedua pria itu saling pandang sejenak.
"Kau!" tunjuk Furby kedepan wajah Ruobin yang tertutup topeng. "Jauhkan dia dariku! Huh!" ketusnya dan tanpa menunggu jawaban Ruobin, Furby langsung membuang mukanya dan bergegas pergi menyusul Ryura yang sudah naik keatas kapal.
__ADS_1
Yang tertinggal malah mendengus jengkel. "Apa-apaan dia! Dia pikir aku berani?! Lebih baik menghadapi musuh daripada menghadapi orang gila. Apalagi kalau yang punya kelainan seperti itu." usai mengatakan kalimat yang diiringi rasa merinding ngeri, Ruobin mulai berpikir sejenak.
Dua tangannya dilipat kedepan perutnya dengan satu tangan menyentuh dagunya.
"Apa iya Rayan seperti itu?! Aku tidak melihat ada yang aneh darinya sebelumnya!" pikir Ruobin mencari kebenaran, sampai ia tersentak menyadari satu hal.
"Sial! Rayan tidak bermasalah! Yang bermasalah justru Reychu! Dia 'kan gila! Benar-benar sial! Bagaimana bisa aku tertipu!" makinya pada dirinya sendiri.
Setelahnya iapun akhirnya menyusul naik dengan langkah cepat.
Dalam hati ia menggerutu karena merasa gagal lantaran dengan mudahnya dibodoh-bodohi oleh Reychu yang terkenal gila.
Layar kapal di lebarkan, kemudian para awaknya mengikat talinya serta mengencangkan ikatannya agar tidak terlepas dan menganggu proses pelayaran.
Di pagi buta ini, angin masih berhembus dengan dingin. Membawa kesejukan tersendiri bagi yang merasakannya. Bila yang lainnya menganggap itu hal yang biasa, maka lain halnya dengan 3Ry. Ketiga gadis itu memiliki perasaan istimewa terhadap perjalanan kali ini.
Perlahan tapi pasti, kapal mulai bergerak. Sedikit demi sedikit mulai menjauh dari daratan Kekaisaran Selatan. Untuk Reychu dan Rayan, keduanya dengan damai memandangi daratan tersebut dengan perasaan khusus.
"Aku tidak tahu harus bilang apa... Ini pertama kalinya aku memiliki perasaan seperti ini... Sebuah rasa yang baru kurasakan saat kita melakukan perjalanan. Sungguh berbeda dengan di kehidupan yang dulu." kata Rayan dengan suara rendah yang teredam oleh suara angin yang bertiup kencang. Namun, Reychu disebelahnya masih dapat mendengarnya.
Dengan tersenyum miring nan tipis, Reychu turut menimpali. "Aku juga... Kali ini sungguh luar biasa." jarang-jarang gadis itu bisa berbicara dengan normal.
Lain dua gadis itu, maka lain pula dengan Ryura yang malah berdiam diri seraya menyandarkan punggungnya ke pagar pembatas kapal sambil bersedekap, tak lupa matanya pun terpejam. Tak ada yang tahu apa yang tengah ia lakukan dalam benaknya.
__ADS_1
(Google)