3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
EKSEKUSI DIMULAI


__ADS_3

Hiruk pikuk mulai terdengar memenuhi salah satu area terbuka yang ada di Istana Kerajaan Huoli. Dimana tepat ditengah-tengah area lapang seluas setengah lapangan bola kaki itu terdapat sebuah panggung kosong setinggi 2 meter dengan lebar permukaan 10 x 5 meter.


Warga yang datang sibuk mempertanyakan siapa yang akan di eksekusi siang ini. Mereka mulai saling bertanya berharap ada yang mengetahui bocorannya. Tapi, sayangnya mereka hanya bisa menelan kesia-siaan lantaran tak ada yang tahu.


Sedang di sebuah bangunan di ujung lapangan tersebut menghadap panggung kosong itu, sudah ada beberapa kursi yang dua diantaranya berukiran mewah dengan lapis emas. Siapapun akan tahu kursi siapa itu. Dan sisanya adalah kursi anggota Keluarga Kerajaan dan dewan pemerintahan Negara Api.


Itu menjelaskan bahwa mereka yang tinggal di istana pun tak luput untuk menyaksikannya.


Dong...


Dong...


Dong...


Tiga pukulan gong besar berdiameter 1.5 meter dengan batang kayu yang di gantung berhadapan. Memerlukan 2 orang untuk menggerakkan batang kayu besar itu agar dapat memukul gong raksasa yang dimiliki istana.


Dengan berbunyi nya gong tersebut, maka saat yang paling di nantikan pun tiba. Semua penonton yang hadir pun secara tertib tidak lagi mengeluarkan suara. Mereka fokus pada berlangsungnya acara proses eksekusi yang sudah membuat mereka amat penasaran itu.


Dari arah kanan bangunan yang telah disebutkan tadi, tampak Kaisar Li dan rombongan mulai memasuki area terbuka di Pengadilan Kerajaan Huoli.


Melihat kedatangan sang penguasa negeri, seluruh rakyat yang datang segera memberikan sambutannya.


"SALAM HORMAT KAMI KEPADA YANG MULIA KAISAR LI! SEMOGA SELALU DIBERKATI!"


Mereka menyapa seraya menakup kepalan tangan kedepan wajah mereka sembari sedikit membungkuk hormat.


Kaisar Li hanya mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia telah menerima salam rakyatnya. Tak berniat untuk menjawab dengan suaranya, dia bahkan menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


Seluruh rakyat pun kembali ke posisi semula. Bisa mereka lihat dan rasakan bahwa Kaisar Li saat ini tampak berbeda. Meski sangat jarang bahkan bisa dikatakan tidak memiliki kesempatan untuk bertemu ataupun hanya melihat dari jauh. Tetap saja, perbedaan itu seperti menyebar keluar dari dalam diri Kaisar Li sehingga siapapun dapat merasakan perbedaan tersebut.


Perbedaan yang membuat siapa saja yang merasakannya menjadi merinding dibuatnya.


Mereka tahu kalau pemimpin mereka itu adalah sosok yang dingin dan kejam. Tapi, itupun disesuaikan dengan keadaan. Tidak seperti sekarang ini.


Kali ini jauh lebih menakutkan.


Menyibak jubah kebesarannya dengan gaya elegan dan berwibawa khas seorang pemimpin sebelum akhirnya ia mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan. Disusul Permaisuri Ahn Reychu di sisi kanannya yang sejak tadi diam mengekor, meski jujur saja lidahnya sudah gatal karena terlalu lama diam. Di sisi lainnya -diluar bangunan-, ada Rayan juga Ryura tidak dengan Ruobin dan Chi-chi. Dua siluman itu memilih menunggu hingga urusan Reychu selesai.


Setelah mereka, jangan lupakan ketiga Selir Kaisar yang kini duduk disisi kiri Kaisar Li dengan tenang. Disusul para menteri dan kepala dewan pemerintahan Kerajaan Huoli yang jumlahnya ada lebih dari 20 orang. Sisanya, tetap pada pekerjaan mereka seperti hari biasanya.


Bila bertanya mengapa Ibu Suri tidak hadir. Jawabannya, karena wanita itu sedang dalam masa pemulihan sesuai instruksi dari Rayan kepada Tabib Kerajaan mengingat dia tidak akan lama di istana tersebut.


Setelah sekiranya Kaisar dan yang lainnya telah berada di kursinya. Maka, prajurit yang ditugaskan pun segera berseru keras. Meneriakkan agenda selanjutnya.


"DENGAN INI, MAKA PROSESI EKSEKUSI SEGERA DIMULAI!"


Tak lama setelahnya, beberapa prajurit muncul dari salah satu pintu yang terhubung ke sel tahanan Kerajaan Huoli. Tepatnya, berada di sisi kiri panggung kosong yang ada disana.


Satu persatu orang-orang dengan pakaian putih mereka yang lusuh dan tak terurus keluar. Kedua tangan mereka diikat di depan dan saling bersambung dengan yang lainnya bagai rantai.


Wajah-wajah mereka belum pernah dilihat sebelumnya. Ada sekitar 50 orang dengan kasta menengah keatas, 35 orang berkasta rendah atau bisa disebut mereka adalah pelayan bagi orang yang bersangkutan dalam masalah ini. Masalah yang ikut menyeret mereka dalam ujung kehidupan.


Siapa mereka?


Siapapun akan bertanya begitu saat melihat orang asing yang sedang di giring untuk dieksekusi. Nyatanya, mereka adalah antek-anteknya Keluarga Gong. Kaisar Li memerintahkan untuk dimulai dari mereka.


Jika ada yang menanyakan, bagaimana bisa mereka dapat dikumpulkan dalam waktu semalam? Maka, itu disebabkan karena dalang utamanya telah lebih dulu di temukan. Oleh karenanya, Kaisar Li pun menurunkan titah keras untuk menyeret keluar mereka semua.


Yang menakjubkan adalah, tak hanya ada di dalam istana saja. Orang-orang yang bekerja untuk Keluarga Gong ada banyak hampir di seluruh Negera Api. Sekumpulan orang yang ada di atas panggung eksekusi itu hanyalah orang-orang yang berada di dalam istana dan ibukota.

__ADS_1


Sementara sisanya, Kaisar Li memerintahkan bawahannya untuk menjalankan tugas mereka ke daerah-daerah lain. Sisa dari pengkhianat itu akan dieksekusi di tempat mereka tinggal.


Hari ini, siang ini...


Eksekusi besar-besaran di adakan. Rakyat biasa, menengah, hingga tinggi dan para bangsawan sukses dibuat bergidik ngeri. Mereka tak menyangka akan ada hari kematian massal di negara mereka dan itu pun karena kebodohan sekelompok orang yang tidak tahu diri.


Jangan tanyakan bagaimana raut wajah mereka yang sedang melihat pintu kematian didepan matanya. Wajah lusuh dan kusut mereka semakin kacau dengan ekspresi ketakutan juga pasrah. Mereka semua tak bisa berbuat apa-apa. Ingin memohon juga tak ada artinya.


Mereka tahu betul akan seberapa bencinya Kaisar Li atas nama pengkhianatan. Bahkan sekalipun memohon hingga menguras darah, pria penguasa negeri itu tak akan merasa iba. Baginya, kematian adalah hukuman yang tepat untuk mereka yang berkhianat.


Glek!


Tak ada yang tidak merasa kesulitan untuk menelan salivanya. Keadaan saat ini benar-benar menegangkan juga mengerikan. Bukan tak pernah melihat hal semacam ini, hanya saja ini adalah eksekusi massal dan itu yang membuatnya menjadi mengerikan.


Sampai pada akhirnya, seruan dingin Kaisar Li menggema di keheningan para rakyatnya yang tak memiliki nyali untuk bersuara karena suasana yang mencekam ini.


"MULAI EKSEKUSINYA!"


Usai perintah di turunkan, mereka para algojo dengan pedang panjang nan tajamnya berjalan menaiki undakan tangga keatas panggung yang sudah diisi oleh para pelaku kejahatan.


Algojo yang sengaja disediakan hanya berjumlah 3 orang. Itu dilakukan Kaisar Li untuk menghukum para pengkhianat itu dengan menyaksikan sendiri secara langsung bagaimana rekan, Saudara, atau bahkan atasan juga mungkin ada orang yang mereka sayangi diantaranya mati didepan mata mereka dengan memutuskan kepala dari tubuhnya.


Slap!


Gluduk!


Slap!


Gluduk!


Slap!


Gluduk!


Reychu disisinya menyaksikannya dengan senyum merekah. Ia senang melihat apa yang ada disana. Sesekali tangannya meremas geram juga gemas lantaran ia sebenarnya sangat ingin berada di sana sebagai algojo. Eksekusi ini benar-benar memanjakan matanya.


Sementara, para Selir Kaisar. Wang Jinji memilih memejamkan matanya tak ingin melihat. Mu Bizhuo mencengkeram erat lengan panjang hanfunya seraya menutup matanya erat sambil menahan mual. Dan, Kim Mulan hanya diam menunduk tak ingin melihat semua itu. Ia berusaha menulikan pendengarannya yang mendengar dengan jelas bagaimana kepala itu di penggal dan jatuh ke lantai panggung, kemudian disusul dengan tubuh tak berkepala itu ambruk begitu saja karena telah mati.


Bulu kuduknya berdiri dan merinding dibuatnya.


Sedang, Rayan hanya sesekali mencebikkan bibirnya jijik dengan darah yang mengotori sekitar mayat itu. Ia bahkan sempat menggerutu. "Mereka perlu belajar lagi agar dapat melakukannya dengan baik tanpa harus mengotori yang lainnya. Iyuh!"


Ryura? Jangan ditanya. Gadis itu hanya diam dalam tenang dan kosongnya pada prosesi eksekusi didepan sana. Sama sekali tidak menunjukkan reaksi orang normal kebanyakan.



Di dalam sel tahanan, tampak seorang wanita tengah tersenyum senang. Ia mengatakan pada ayah dan kakaknya bahwa mereka akan segera bebas.


Entah dia sudah hilang kewarasannya atau apa. Wanita yang sudah jelas adalah Gong Dahye itu sedang mengutarakan rasa senangnya.


Gong Duyoung dan Gong Dahee meringis miris melihatnya, sedang para prajurit yang hendak membawa mereka hanya bisa menahan tawa melihatnya. Merasa itu sangat konyol, kala melihat wanita yang sebelumnya menjadi kebanggaan Kaisar Li, kini ditahan karena sebuah pengkhianatan dan parahnya mereka tak tahu akan jadi apa kedepannya. Pasalnya, Kaisar Li memang memerintahkan untuk tidak mengatakan apapun mengenai prosesi eksekusi hari ini pada mereka yang akan mengalaminya. Meski sebenarnya, diberitahukan atau tidak sudah seharusnya mereka tahu kalau pengkhianatan akan berujung pada kematian.


"Ayah, kita akan bebas! Aku sudah katakan bukan... Yang Mulia tidak akan membiarkan wanita kesayangannya mendekam di penjara lebih lama lagi. Dia masih mencintai ku. Masih menyayangi ku. Dia tidak akan Setega itu padaku." dengan riang Gong Dahye mengatakan itu. Tak mempedulikan bagaimana buruknya raut wajah ayah dan saudaranya begitu mendengar tuturannya.


Mereka jelas tahu konsekuensi dari apa yang mereka lakukan.


Mereka sedang dalam bahaya besar. Tak ada jalan keluar.


Sedang di sisi lain, Pangeran Kedua Li Fang Ye hanya menggelengkan kepalanya takjub melihat kepercayaan diri wanita yang sudah berani memperdaya dirinya. Bila mengingat itu, ia tak bisa tidak marah dan benci. Terutama, pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Kadang ia bertanya-tanya, bagaimana bisa ia begitu mudah di tipu dengan apa yang pernah dilakukan wanita siluman licik itu.


Tatapan matanya memancarkan kebencian yang dalam. Dia mengutuk wanita itu hingga tujuh kehidupan berikutnya. Dia masih tak terima atas apa yang terjadi padanya.


Karena wanita itu, ia mengkhianati saudaranya sendiri.


Karena wanita itu, ia menjadi pria terbodoh di dunia.


Karena wanita itu, ia harus meninggalkan anak dan istrinya yang kini sedang hamil.


Ia tak ikhlas! Ia tak terima!


Sebelumnya, ia dilarang mengakui anaknya oleh wanita 'si*lan' itu, yang baru lahir hanya karena ingin digunakan untuk mengikat saudaranya. Kini, ia akhirnya mendapatkan kabar bahagia yang datang dari istri tercintanya. Wanita yang dianggapnya tepat untuk dicintai olehnya. Tapi, sayangnya ia harus meninggalkan jabang bayi yang baru saja tumbuh di rahim istrinya dan meninggalkan sang istri yang pasti akan menjalani kehidupan pelik tanpa dirinya.


Siapa yang menerima kenyataan seperti itu?!


Tidak ada!


Karena itulah, ia sangat membenci wanita itu!


"Sungguh menjijikkan! Mukamu sangat tebal ternyata!" sarkas Pangeran Kedua Li Fang Ye dengan sinisnya.


Mendengar itu ketiga Gong segera menoleh padanya.


"Hati-hati kalau bicara, Pangeran! Kau harus tahu aku masihlah Selir Kaisar Li!" balas Gong Dahye tak terima dengan perkataan pria itu dengan menggunakan statusnya.


"Heh?! Kau masih belum sadar juga rupanya! Kau pikir... Setelah apa yang kau lakukan pada kakak ku kau masih bisa berpikir semua akan baik-baik saja hanya dengan cinta?! Cih. Pemikiran konyol macam apa itu?!" hina Pangeran Kedua Li Fang Ye tak tertahankan. Ia jadi ingin tertawa keras menertawakan wanita hina didepannya itu.


"Kau yang konyol! Yang Mulia sangat mencintai ku! Dia akan melakukan apapun untuk membuat ku bahagia! Yang dilakukannya kemarin itu karena dia terkejut. Lihat saja nanti... Dia akan langsung memeluk ku dan biarkan dia mendengar kata maaf dari ku. Semuanya akan kembali seperti semula!" yakin Gong Dahye penuh percaya diri.


"Hahaha..." kekeh Pangeran Kedua Li Fang Ye geli. "Kalau kau begitu yakin. Maka, nantikan lah apa yang kau bayangkan itu! Jangan menjerit histeris, bila apa yang kau yakini tidak akan pernah terjadi! Sebagai Selir Agung kesayangan Kaisar Li... Tentu, kau harus menjaga sikap mu, bukan?" kata Pangeran Kedua Li Fang Ye dengan bumbu-bumbu ejekan tajamnya.


Gong Dahye merah padam seketika. Ia marah dan kesal pada pria itu.


Tak ingin lagi berdebat, diapun dengan sisa kesombongannya berjalan mendahului para prajurit untuk keluar. Sayangnya, itu tak di biarkan oleh mereka yang bertugas.


"Maaf, Selir Agung! Kami harus mengikat anda dan yang lainnya!" tukas salah seorang prajurit dengan tegas sesuai perintah junjungannya yang memerintahkannya untuk tidak memberikan perlakuan berbeda dengan tahanan yang lain.


"Apa?! Jangan sembarangan! Aku ini istri kesayangannya Kaisar Li! Kau akan dalam masalah kalau berani menyentuh ku!" amuk Gong Dahye memprotes.


"Justru aku akan dalam masalah kalau memperlakukan wanita seperti mu dengan cara yang baik!" ketus prajurit itu dalam hatinya dengan menampilkan ekspresi datar diwajahnya. Sama sekali tak berniat meladeni wanita didepannya yang entah bagaimana masih memiliki kekuatan untuk menyombongkan diri.


"Lakukan!" perintahnya pada rekannya yang lain.


Menulikan pendengaran, mereka segera melakukan tugasnya diselingi dengan pemberontakan dari Gong Dahye. Ayah dan kakaknya hanya diam membisu, mereka sudah tak memiliki kekuatan untuk memberontak. Mereka telah merasa semuanya telah berakhir.


"LEPASKAN! JANGAN MENYENTUH KU! BERANINYA KALIAN! LEPASKAN AKU! LEPAS!" teriak Gong Dahye tak karuan.


Mereka mulai digiring keluar dari sel tahanan dengan penjagaan lebih ketat. Pasalnya, ada wanita yang tak tahu diri memberontak tak jelas. Benar-benar menyusahkan prajurit yang menanganinya.


Sampai akhirnya, kemunculan mereka membelalakkan mata mereka yang melihatnya. Seketika, keterkejutan menghiasi lapangan eksekusi...



dikit lagi say. Thor bakal selesein S1.


mohon ditunggu yaaa.


😁😁😁😘

__ADS_1


__ADS_2