
Setelah acara pamer surat undangan usai, ketiganya mulai masuk ke pembicaraan yang lebih serius. Apalagi setelah Ryura mengirimkan sebuah rekaman cctv di sebuah ruangan yang mana terdapat dua orang wanita didalamnya dengan salah satunya duduk di tempat tidur.
Kalian tahu siapa dua orang itu...
"Jadi, mereka berteman..." Seru Reychu dengan matanya menatap ke layar televisi yang masih terhubung ke sambungan video call dengan Rayan dan Ryura.
"Suatu takdir kalau begitu." Timpal Rayan yang juga menyaksikan dari tempatnya. "Mereka berteman dan kita pun sama." Lanjutnya.
Reychu menggelengkan kepalanya saat mendengar percakapan Jiang Wanxi dan Melany Gong. "Nyali mereka besar juga. Apa tidak ada pria lain untuk dikejar? Kenapa harus milik ku? Ckckck... Benar-benar bibit pelakor."
"Tepat sekali. Wanita dari keluarga Jiang itu berada dalam perawatan ku. Aku sengaja tidak membiarkan siapapun menanganinya karena aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan peluang sekecil apapun untuk mendekati suamiku. Wanita tak tahu malu seperti itu biasanya akan menanggalkan urat malu mereka demi bisa mendapatkan apa yang bukan milik mereka. Itulah mengapa pelakor cenderung menang. Hal itu juga tak lepas dari betapa menjijikkannya si pria karena dengan mudah tergoda padahal pasangannya sudah sangat sempurna. Betapa beruntungnya kita memiliki pasangan kita saat ini, tidak hanya tak tergoda. Melirik saja mereka enggan." Terang Rayan.
Reychu menjentikkan jarinya dengan antusias tanda setuju. "Kau benar sekali. Lalu, mau kita apakan mereka? Rasanya terlalu mudah kalau langsung kita basmi." dengan mata menyipit penuh arti dia melanjutkan. "... aku ingin membuat mereka trauma akut. Hehehe..."
Rayan pun menyipitkan matanya dengan makna berbeda. "Aku sedang memikirkannya. Akan terlalu klise kalau kita melakukan seperti yang kita lakukan pada Meng Ruona. Kita harus memikirkan hal yang lebih dari itu. Dua hama kali ini tidak bisa dibiarkan begitu mudah..."
Saat ketiganya tengah berdiskusi mengenai masalah ini. Dari sisi Rayan, datang Shin Mo Lan dari belakang istrinya yang langsung tertangkap kamera hingga Reychu dan Ryura melihatnya.
"Yooo... Suami orang! Lama tak bertemu!" sapa Reychu dengan gaya khasnya.
Shin Mo Lan membalas dengan senyum tipisnya. "Halo juga, Nona Reychu. Anda selalu terlihat energik!"
"Hohoho... Itu sudah seharusnya. Bukan Reychu namanya kalau tidak selalu energik."
Rayan mendengus mendengarnya.
Lalu, Shin Mo Lan beralih ke Ryura yang ekspresi wajahnya tak pernah berubah sekalipun dengan wajah yang berbeda.
"Halo, Nyonya Ye."
Baru saja Ryura akan membuka mulutnya suara berat lain datang menyela dari jarak yang agak jauh namun masih dapat didengar. Shin Mo Lan mengenali pemilik suara itu.
"Jangan menyapa istriku dibelakang ku, Mo Lan!"
__ADS_1
Shin Mo Lan terkekeh mendengarnya. Posesifnya si sahabat ini agak tidak normal. Tapi, dia paham karena dia kurang lebih sama.
"Oke. Tak akan ku lakukan lagi. Dasar pencemburu."
"Seolah kau tidak!"
Rayan dan Reychu membuka matanya lebar dan bertanya serempak pada Ryura. "Suami mu ada di sana dari tadi?"
"Hmhm..." Ryura menjawab seraya mengangguk malas.
"Ya ampun..." Rayan tak bisa berkata-kata.
Berbeda dengan Reychu. "Hoho... Hei, pria ubanan. Kau masih hidup rupanya?"
Dari sisi Ye Zi Xian, dia mendelik mendengar ucapan frontal Reychu sekalipun tidak terlihat. "Kau menyumpahi ku mati?"
"Tidak. Jangan asal menuduh. Aku bilang begitu karena kau sudah tua bukan. Rambut mu sudah putih semua. Itu artinya ajal mu sudah dekat. Hahaha..." Reychu senang mempermainkan emosi orang lain.
Ye Zi Xian menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya. "Dasar gila!" Ye Zi Xian tak berniat membalas lagi. Cukup sadar kalau kekasih sahabatnya itu rada gila.
"Reychu..."
Hanya itu, Reychu segera angkat tangan. "Oke, oke... Huh, tidak seru!"
"Hahaha... Rasakan itu!" serbu Rayan tak pernah lupa mengejek Reychu bila sahabatnya itu kalah.
"Hahaha... Tidak ada kata kalah dalam kamusku. Aku kan masih punya kau." Reychu meledek dengan menaikturunkan alisnya.
Lubang hidung Rayan mekar saking kesalnya.
Shin Mo Lan menggeleng kepala dari arah belakang, lalu mengusap kepala sang istri dan mengecupnya singkat sebelum berlalu ke kamar mandi. Tapi, dia tak lupa mengatakannya pada sang istri.
"Aku akan mandi dulu. Gerah sekali."
__ADS_1
"Iya sudah. Mandi sana. Aku akan menyiapkan pakaian mu." kekesalan Rayan lenyap seketika setelah dikecup sang suami.
"Oke. Kita lanjutkan." Rayan menginstruksikan kedua sahabatnya agar percakapan tak penting lainnya tidak berlanjut. Sekarang atau saat ini, ada hal yang lebih penting untuk di lakukan.
Tak terasa sudah seminggu Jiang Wanxi menginap di rumah sakit. Saat keluar dari sana, senang dan sedih bercokol di hatinya. Bagaimana tidak, disisi lain dia memang senang karena akhirnya sembuh juga. Tapi, disisi lain uang tabungannya terkuras banyak. Hatinya tak bisa tidak sakit.
Biaya perawatan, biaya kamar, biaya operasi kecil, dan lainnya entah apa itu. Saat melihat struk total yang diberikan oleh petugas administrasi, Jiang Wanxi rasanya mau pingsan.
Dia mungkin memang kaya, tapi bukan berarti dia suka mengeluarkan uang begitu mudahnya. Apalagi saat dia berpapasan dengan Rayan yang dirangkul mesra oleh Shin Da Ming, yang mana saat itu terlihat ekspresi mengejek yang tampak jelas di wajah Rayan saat melihat dia tengah memegang struk biaya di tangannya.
Ekspresi wajah Rayan seperti berkata 'Kau pasti mampu membayarnya kan?'.
Itu benar-benar mengaduk-aduk amarahnya yang tertahan karena tak ingin pujaan hatinya melihat sisi jelek dirinya.
Rayan justru tertawa melihat ketidakberdayaan lawannya.
Dari rumah sakit, Jiang Wanxi kembali ke rumah dengan sopir. Kenapa tidak keluarga datang menjemput. Itu karena dia yang ingin keluar dari rumah sakit sesegera mungkin tanpa sempat mengabari keluarganya. Pasalnya, Melany Gong memberitahu kalau keluarganya telah menerima surat undangan pernikahan Bai Liam dan Reychu Velicia.
Kabar ini mengejutkan mereka karena mereka belum mulai bergerak. Melany Gong tak ingin kesempatannya untuk memiliki Bai Liam gagal. Jadi, dia dan Jiang Wanxi berniat untuk segera melancarkan aksinya.
Setibanya di rumah, dia bertemu dengan sang kakak -Jiang Wanwan-.
Mata mereka bertemu yang membuat Jiang Wanwan tertegun sejenak. "Oh, kau sudah keluar dari rumah sakit? Kenapa tidak memberi kabar?" terdengar penuh pengertian tapi sebenarnya tidak.
Jiang Wanwan hanya terkejut, sebab dia pikir adiknya akan tinggal lebih lama di rumah sakit untuk menggoda Shin Da Ming. Itu karena Jiang Wanwan tidak mengetahui kalau sebenarnya kesempatan seperti itu tak pernah didapat adiknya.
Jiang Wanwan tidak mengawasi segala yang terjadi di rumah sakit, dia hanya membantu Jiang Wanxi untuk masuk ke rumah sakit. Jadi, wajar dia tak tahu.
"Tidak sempat." hanya itu yang menjadi jawaban Jiang Wanxi, kemudian dia langsung menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
Sejenak Jiang Wanwan merenung. "Melihat dari ekspresinya, kurasa dia gagal melakukan pendekatan dengan Shin Da Ming. Sesulit itukah? Sayang sekali, padahal aku sudah membantunya mendapatkan peluang. Beberapa hari disana, gagal total. Menyedihkan." gerutunya dengan suara kecil.
__ADS_1