3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEMBALI KE PELUKAN 2


__ADS_3

3 bulan berlalu dalam sekejap mata. Ketiga pria itu menanti dalam keadaan harap-harap cemas. Tiada hari yang mereka lewati tanpa memantau dan memastikan kalau 3Ry baik-baik meskipun kondisinya bisa dibilang tidak mengalami perubahan apapun selain tetap tertidur pulas tanpa ada tanda-tanda akan bangun.


Beberapa kali usai satu bulan berlalu, ada tanda peningkatan pada kondisi 3Ry namun hanya sekejap dan semua kembali seperti semula.


Hal ini membuat para pria tak bisa tidak gelisah. Selalu berharap akan kesembuhan pujaan hati mereka.


Tapi kini, sepertinya semua simpul yang sempat menjerat hati ketiganya akan terlepas dan membuat mereka lega. Pasalnya, pujaan hati mereka akhirnya bangun juga.


Mata Reychu mengerjap beberapa kali sembari menyesuaikan penglihatannya yang sudah lama tidak melihat cahaya. Tak lama kemudian, setelah matanya terbiasa dan mampu melihat keadaan sekitar. Baru setelah itu dia menyadari kalau saat ini dia sedang tidak berada di tempat dengan arsitektur kuno murni alias tempat yang beberapa waktu ini dia tempati bersama dua sahabatnya, dia jelas mengenal betul desain ruang seperti ruang tempatnya berada saat ini.


Ini adalah ruang era modern. Meskipun masih ada nuansa kunonya, dia tidak bodoh untuk menyadari ada perbedaan disana.


Desain ruang ini jelas perpaduan antara klasik dan modern.


Sejenak dia linglung dan tak bisa berpikir dengan benar tentang bagaimana bisa penglihatannya membuatnya melihat pemandangan tersebut.


Apakah dia terlalu berharap bisa pulang sampai jadi berhalusinasi seperti ini?


Dinding semen bercat putih dengan ukiran klasik membentang secara horizontal mengelilingi dinding ruang dalam jarak satu setengah meter dari lantai, plafon juga berwarna putih dengan masih menonjolkan jejak kayu yang dicat seperti warna kayu aslinya, alas tidur empuk yang tak jarang sering ia rindukan selama di era kuno sebelumnya, aroma desinfektan yang akrab, televisi gantung, gorden coklat susu yang diikat kesamping menampakkan jendela kaca yang menyuguhkan langit biru cerah menandakan hari sudah siang, dan yang paling meyakinkan adalah saat ia melihat kantong cairan infus yang menggantung diatas kepalanya beserta selangnya.


Matanya menyipit sejenak sebelum menarik tubuhnya duduk dengan gerakan kilat tanpa peduli kondisinya saat ini yang baru saja sadar.


Sruk!


Memang, luka-luka yang dia derita sudah lama sembuh total. Tapi, untuk pasien yang baru sadar, Reychu benar-benar tak sayang pada tubuhnya sendiri bila bertindak gegabah seperti itu.


Mata Reychu terbelalak sembari memindai ulang seluruh ruang yang dia tempati. Semuanya tanpa terkecuali.


"Ini..."


Dia tahu tempat ini, meski bukan berarti dia tahu tepatnya di mana dia berada saat ini. Yang dimaksud Reychu adalah dia tahu model ruang seperti ini ada di era mana.


Ini jelas-jelas persis seperti era asli tempatnya berasal walau dalam sentuhan kuno.


Tak mau menduga-duga, segera Reychu mencabut jarum infus yang masih menancapkan di punggung tangannya dan mengabaikan percikan darahnya yang sedikit keluar, lantas bergegas berlari kearah jendela untuk melihat keadaan diluar sana.


Sak!


Zrug!


Tap... Tap... Tap...!


Seketika rasa dingin dan hangat bercampur jadi satu meresap di telapak tangannya begitu dia menyentuh kaca jendela didepannya. Sejenak ia melirik tangannya yang menempel pada kaca jendela dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.


Nyatanya, dia tak percaya kalau akhirnya dia pulang ke era modern.


"Ini... Sungguhan kah?" dia menatap semua yang ada diluar sana.


Halaman tengah rumah sakit yang belum ia ketahui benar kalau tempatnya berada saat ini adalah rumah sakit, tapi mengingat bau desinfektan yang dia cium tadi seharusnya tidak bisa lebih jelas untuk menyatakan kalau tempatnya berada saat ini adalah benar-benar rumah sakit. Apalagi setelah melihat dari atas bahwa terdapat beberapa orang berlalu-lalang di halaman yang sekitarnya dikelilingi bangunan berlantai dengan diantaranya mengenakan seragam yang terkesan unik untuk zaman sekarang.


Tidak tahu benar atau salah, tapi dia menduga kalau orang-orang berseragam itu adalah perawat yang bekerja di rumah sakit unik ini.


Lihatlah model seragamnya yang adalah perpaduan antara dua zaman. Tapi, tetap bagus dan nyaman untuk digunakan oleh pekerja medis dibawah dokter.


"Aku tidak mungkin berpindah ke dimensi lain 'kan?" racau Reychu sempat-sempatnya.


Karena tak ingin lebih bingung melihat suasana yang unik sekaligus aneh ini, dia teringat akan sosoknya. Seharusnya, dirinya bisa menjadi bukti terakhir akan kejelasan tentang keberadaannya yang sebenarnya.

__ADS_1


Segera, dia berjalan ke arah kamar mandi yang tersedia didalam kamar tempat dia huni saat ini.


Berjalan mendekati wastafel dengan cermin didepannya. Tanpa ragu dia mendekat dan langsung melihat seperti apa sosoknya.


Itu dilakukan untuk memastikan kalau dia benar-benar sudah pulang.


Begitu matanya melihat wajahnya sendiri, saat itu dia tak bisa lebih yakin daripada siapapun kalau dia benar-benar sudah pulang.


Kebahagiaan tak bisa terbendung lagi.


Seketika, Rayan dan Ryura terlintas dibenaknya.


Drap...


Drap...


Drap...


Tanpa ba-bi-bu Reychu segera berlari keluar kamar inapnya guna mencari dua sahabatnya. Akan tetapi begitu keluar yang dilihatnya hanya koridor kosong. Menoleh ke kiri dan ke kanan juga sama.


Yaitu, kosong.


Kalau sudah begini dia dapat yakin kalau saat ini dia sedang berada di lantai khusus kamar-kamar elit yang setiap kamarnya memiliki fasilitas yang lengkap.


Kini Reychu terdiam di tengah-tengah koridor tanpa tahu harus berbuat apa. Dia tak tahu apakah kecelakaan waktu itu memisahkan mereka bertiga atau tidak. Saat ini dia memilih menenangkan diri dulu agar dapat berpikiran jernih untuk mengetahui langkah apa yang harus dia lakukan pertama kali.


Saat sedang menenangkan diri, suara langkah kaki melambat terdengar. Spontan, Reychu menoleh untuk melihat siapa yang datang.


Matanya melebar melihat sosok didepannya ini, dia terpaku sambil bergumam. "Shin... Da... Ming?" ejanya linglung.


Dia jelas tahu siapa sosok didepannya yang suka wara-wiri bersama dua pria tampan lainnya di dunia media. Dia salah satu anggota dari keluarga Shin di negara ini.


Dia turut bergumam. "Nona Reychu?" 'Itu berarti...' lanjutnya dalam hati dan kemudian secepat kilat dia berbelok kearah pintu yang berada di sampingnya, lalu buka dan masuk.


Semua itu dilakukan dalam sekejap mata sampai Reychu tak bisa berkata-kata.


Tapi, Reychu tidak buta dan tidak bodoh untuk bisa merasakan aura dari pria yang dianggapnya tabib itu ada pada pria yang baru saja muncul kemudian menghilang dibalik pintu kamar sebelah.


"Jika dia pria itu, maka kamar itu..." tidak repot-repot menyelesaikan perkataannya, Reychu sudah meluncur ke kamar sebelah dan tanpa permisi langsung masuk.


Seharusnya dia tidak lakukan hal itu. Karena, begitu masuk pemandangan yang menusuk mata terlihat.


Sahabatnya Rayan tengah berciuman dengan Shin Da Ming. Ciuman itu tidak tanggung-tanggung, benar-benar mengabaikannya.


"Ehem! Bisa dilanjutkan nanti saja! Ada yang ingin aku tanyakan! ..." saat akan melanjutkan perkataannya, sesuatu tiba-tiba dilempar kearahnya.


Beruntung dia masih memiliki kesigapan untuk menangkapnya.


Hap!


Dapat ia lihat sebuah ponsel pintar yang mahal ada di telapak tangannya. Mendongak untuk menanyakan maksud memberinya ponsel ini.


Tapi, sebelum dia membuka suara, pria yang dia yakini harus menjadi Shin Mo Lan itu lebih dulu berujar tanpa menatapnya.


"Keluarlah dan hubungi dia. Password nya tanggal lahir Rayan." setelah dia berkata demikian, tanpa jeda wajah Rayan yang ditakubnya kembali diciumi. Rayan sampai tak memiliki kesempatan untuk bicara.


Sementara Reychu hanya memandang ponsel ditangannya dan tidak lagi mempedulikan kemesraan dua sejoli didepannya. Dengan tersenyum Reychu berbalik dan keluar sambil mengutak-atik ponsel pintar Shin Mo Lan yang berada dalam tubuh Shin Da Ming.

__ADS_1


Pasutri yang baru saja ditinggalkan terus hanyut dalam kerinduan, kelegaan, dan kebahagiaan.


Saling menempelkan kening, Shin Mo Lan berkata lirih. "Kau kembali. Kau kembali. Kau kembali. Rayan, istri ku..."


Rayan sampai tertawa renyah dibuatnya. "Maaf membuat mu menunggu lama. Aku tidak tahu bahwa pria hebat yang selalu muncul di berita bisnis adalah suamiku. Kupikir, itu harus menjadi saat dimana aku belum melakukan perjalanan waktu. Senang rasanya masih memiliki kesempatan."


"Kesempatan ini memang sudah seharusnya ada. Inilah yang sebenarnya mesti terjadi. Sekarang, yang penting adalah kau sudah kembali kepada ku. Aku sudah tidak lagi cemas. Oh, istri ku..." kembali, Shin Mo Lan memeluk tubuh mungil istrinya yang jelas berbeda dengan tubuh mungil istrinya yang dulu.


Tapi, keduanya memiliki rasa yang sama. Mungkin, karena jiwanya masih menjadi satu orang. Jadi, tidak peduli berada ditubuh siapa, selama itu masih Rayan. Rasanya akan tetap sama.


"Biarkan aku memeriksa mu lagi untuk memastikan kau benar-benar sudah sembuh." Shin Mo Lan menarik diri dan langsung bergerak memindai tubuh Rayan untuk ia lihat seberapa baik itu.


Dia tampaknya lupa, kalau tubuh Rayan sudah tak memiliki masalah apapun.


Diluar kamar. Reychu tengah mencari nomor Bai Gikwang.


"Karena, dia berada dalam tubuh Shin Da Ming. Gikwang harus berada dalam tubuh Bai Liam..." gumamnya sendiri sambil memikirkan sosok Bai Liam yang kemiripannya terletak pada rambut merah panjangnya.


"Sepertinya dia sangat suka rambut panjang. Memang tampan, tapi kurasa aku akan memintanya memotongnya nanti. Aku bosan dengan pria berambut panjang. Di kehidupan sebelumnya, semua pria berambut panjang dan itu sudah cukup. Kali ini, pria berambut merah ku tidak perlu lagi berambut panjang." Reychu terus berkata sendiri tanpa menghentikan gerka tangannya mencari nomor telepon Bai Liam.


Dia sudah mencarinya. Nama Bai Liam tidak ada.


"Apa dia tidak menggunakan nama asli tubuhnya?!" tebakannya.


Dan ternyata benar adanya.


Bai Gikwang adalah nama dari nomor telepon dalam ponsel Shin Mo Lan.


"Ckckck..." tanpa menunda lagi, segera nomor Bai Gikwang dihubungi.


Sambungannya tidak bertahan lama sampai diterima. Wow, Reychu sakit dengna kecepatan itu.


"Halo, Mo Lan. Ada apa menelpon ku? Apakah terjadi sesuatu pada mereka?" Bai Gikwang di ujung telpon sana bingung karena tak ada sahutan dari sahabatnya.


Tak tahu saja dia, kalau saat ini untuk pertama kalinya Reychu mengalami perasaan melankolis hingga hampir meneteskan air mata saking bahagianya mendengar suara kekasihnya meskipun tidak persis seperti Bai Gikwang yang asli, akan tetapi caranya berbicara masih sama sehingga dia dapat mengenalinya dalam sekali dengar.


"Gikwang... Si rambut merah..." Reychu sendiri terlalu terharu sampai kehabisan kata-kata. Tak menampik bila dia juga merindukan kekasihnya.


Bai Gikwang yang sedang bekerja di perusahaannya terhenyak hingga kegiatannya benar-benar berhenti. Dia jelas tak mengenal suara di saluran telpon yang menggunakan nomor sahabatnya ini, tapi apa yang dikatakan suara gadis diseberang tak bisa lebih jelas untuk dia mengetahui siapa itu.


"R..Rey..chu... Kau sudah sadar..." belum sempat Reychu menyahut, suara-suara keras muncul dari tempat Bai Gikwang.


Mulai dari suara benda jatuh dan sesuatu yang di banting kuat.


Bruk!


Brak!


Mata Reychu sampai mengerjab mendengarnya. Dia cukup hafal dengan suara tersebut. Suara seperti kursi jatuh dan pintu yang di banting. Karena dugaan itu, Reychu sedikit banyaknya sudah bisa menebak bagaimana suara-suara itu muncul.


"Sebentar lagi, dia akan datang. Aku tidak sabar bertemu langsung dengan sosok baru rambut merah ku." riangnya dan terus setia menunggu di koridor sambil memandang keluar jendela didepan kamar inapnya.



up lagi. maaf membuat kalian menunggu. nikmatilah cerita Thor.


jangan lupa baca juga Karya Thor yang lain yaaaa...

__ADS_1


😘😘😘😘😘🌷🌷🌷🌷❀️❀️❀️


__ADS_2