3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
HUKUMAN DARI RYURA


__ADS_3

Sedikit tak menyangka kalau desa Dambao termasuk desa yang makmur. Mengapa demikian? Karena desa ini tak terlihat seperti desa pada umumnya. Ini justru lebih cocok di katakan sebagai kota kecil. Sebab, semakin masuk kedalam desa tersebut, semakin terlihat rupa dari desa di bagian barat Negara Angin.


Ternyata desa Dambao adalah desa yang sejahtera. Ada banyak ragam profesi yang penduduknya miliki. Mulai dari petani bagi sebagian yang tinggal di ujung desa hingga pengusaha di beberapa bidang usaha bagi yang tinggal di pusat Desa Dambao tersebut. Meski usaha-usaha itu adalah kembangan dari cabang usaha milik beberapa orang yang tinggal di ibukota Negara Angin untuk memperluas usahanya.


Dan kini Ryura dan Furby membawa rombongannya ke pusat Desa yang ramai walau tidak sampai memadati. Akan tetapi, jelas Desa Dambao bukanlah desa kecil yang hanya di isi oleh beberapa kepala keluarga.


Rumah makan Hang Chun.


Itu adalah nama rumah makan yang akan Ryura datangi. Rumah makan bernama Hang Chun itu terlihat seperti rumah makan rangking satu di desa Dambao. Karena, dapat Ryura lihat kalau rumah makan ini tampak lebih besar dari rumah makan yang lain, tapi Ryura yakin kalau induk rumah makannya yang berada di ibukota pasti jauh lebih besar.


Mengapa Ryura mengetahuinya? Tanyakan saja padanya langsung. Yang pasti tak sulit bagi Ryura untuk mencari tahu sesuatu bila ia mau. Bukankah dia itu misterius?! Haha...


"Kita makan di sini." singkat Ryura memberitahu sambil berlalu memasuki rumah makan tersebut setelah menyerahkan kereta beserta Furby ke penjaga kuda, tak lupa memberitahu penjaga itu untuk memberi kudanya makanan enak. Ingat, 'ENAK'. Berhubung bukan kuda biasa, bagaimana Ryura tidak melakukannya terlebih setelah Furby merengek dalam telepatinya sampai Ryura mau menurutinya.


Jika bertanya mengapa tidak berubah menjadi manusia? Maka jawabannya adalah karena ini di tempat terbuka. Sebagai hewan spiritual yang legendaris Furby tidak bisa dan tidak mau menarik terlalu banyak perhatian. Selain berbahaya itu juga akan sangat merepotkan, apalagi ini ada bagian dari benua tempat tinggalnya.


Ryura sudah masuk meninggalkan yang lainnya. Duan Xi, Ruobin, dan Chi-chi ikut turun, tapi hanya Duan Xi yang menyusul masuk. Ruobin dan Chi-chi memilih menunggu sahabat manusia mereka terlebih dahulu. Bagaimanapun Reychu dan Rayan kini tertinggal jauh.


Didalam rumah makan Hang Chun, Ryura tanpa halangan dan tanpa merasa kebingungan saat mencari tempat untuk duduk, dia sudah berjalan mendatangi salah satu meja kosong di dekat jendela lantai satu itu. Yap, rumah makan ini terdiri dari dua lantai.


Tak lama setelah Ryura mendudukkan bokongnya di salah satu kursi dari keempat kursi lainnya, Duan Xi datang menyusul. Dia langsung mengambil tempat di hadapan Ryura menyisakan kursi kosong di kiri dan kanannya. Tak lupa sebelum itu, ia yang memiliki tubuh pendek meletakkan tongkatnya baru kemudian merangkak naik ke kursi dengan santai. Sekilas gerakannya tampak seperti anak kecil yang naik ke atas kursi tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana usahanya untuk bisa naik. Tapi, meski Duan Xi seolah terlihat seperti itu nyatanya tidak sesulit itu.


Duan Xi melakukannya dengan mudah walau tidak dengan cara terbang. Itu akan menarik perhatian orang-orang. Bukan apa, Duan Xi ingin ketenangan saat ia melangkah kemana pun. Walau begitu, jika ada yang mengajaknya berkenalan dia tidak ragu untuk mengungkapkan namanya terlepas dari orang itu mengenalinya atau tidak.


Setelahnya Ryura segera mengangkat sebelah tangannya guna memanggil pelayan di rumah makan tersebut. Entah bagaimana dia memanggilnya lantaran tanpa bersuara, tak lama kemudian pelayan datang dengan papan menu di tangannya.


"Pelanggan, mau pesan apa? Silakan dilihat lebih dulu menunya." ujarnya sambil menyerahkan papan menu tadi.


Ryura mengambilnya dan melihat, kira-kira apa yang sedang ingin ia makan.


"Ayam bakar bumbu pedas 5 porsi, sup kaldu sapi 5 porsi, tumis sayur 5 porsi, mie kuah 5 porsi, beserta minuman dan nasinya 5 porsi." ucap Ryura lancar tanpa melihat kemanapun selain papan menu ditangannya.


"Baik... Ada lagi?" tanya pelayannya bersamaan dengan Ryura mengoper papan menu kepada Duan Xi.


"Wuh... Kau memesan banyak sekali. Hmm." melirik sekilas Ryura yang tak lagi bersuara usai mengatakan pesanannya. "Aku pesan babi bakar seporsi dengan sedikit tulang. Itu artinya beri aku banyak daging. Lalu, sup lemak babi seporsi. Mm... Babi tumis pedas seporsi, jangan lupa minuman dan nasinya. 'Aaa... Hampir terlupakan. Beri aku arak terbaik disini sebanyak 5 botol. Sudah itu saja." menyerahkan kembali papan menunya.


"Jangan lama-lama..." lanjutnya mengakhiri.


"Baik kalau begitu, mohon ditunggu..." sopan pelayan itu, baru setelahnya ia pamit undur diri untuk segera menyelesaikan pesanan.


Kini tinggallah mereka, guru dan murid.


"Haish... Kau pesan begitu banyak pasti sekalian untuk yang lainnya, bukan?" tanya Duan Xi sambil menatap rumah makan yang lumayan dikunjungi oleh konsumen, mungkin karena ini masih pagi.


"Hm." jawab Ryura seadanya, bahkan ia tak repot-repot melihat Duan Xi di hadapannya. Ryura memilih bersandar, lalu melipat kedua tangannya didepan dada seraya memejamkan mata.


Mendengar dehaman itu, barulah Duan Xi menoleh kearah Ryura yang mana malah di suguhkan dengan pemandangan orang tidur sambil duduk. Duan Xi masih akan menggelengkan kepala meski sudah sering melihatnya.


"Ini yang aku tidak mengerti. Kau pendiam dan sulit untuk diajak bicara, tapi cukup perhatian. Benarkan?" tebak Duan Xi sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Tidak." jawaban itu membuat kening Duan Xi berkerut bingung.


"Hah?! Tidak?! Bagaimana bisa?! Lantas, apa yang membuat mu memperhatikan mereka?" tanya pria tua pendek itu yang dilanda kebingungan dengan karakter muridnya.


"Tidak!" oke, itu sudah cukup. Tidak ada gunanya juga Duan Xi bertanya, dia tak akan pernah mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Tapi, paling tidak dia bukan sejenis Reychu yang gila.


"Gadis ini..." gemas Duan Xi dalam hati.


Sementara, diluar rumah makan Ruobin dan Chi-chi masih setia menunggu kemunculan sahabat mereka yang bila dihitung sudah lumayan lama tidak juga kelihatan batang hidungnya.


"Kemana mereka? Kenapa tidak sampai juga?" gelisah Ruobin ditempatnya berdiri.


Siluman kelinci disampingnya juga tak kalah gusar. "Jangan bertanya... Aku pun tak tahu. Gadis misterius itu selalu kejam bila melakukan sesuatu." masih sempat baginya untuk menyalahkan Ryura.


Melirik sekilas Chi-chi yang berdiri disampingnya, bocah laki-laki bertelinga panjang ini cukup pendek rupanya. Ruobin baru menyadarinya setelah sekian lama bersama. Mungkin karena dimatanya lebih banyak melihat Rayan, pikirnya.


"Tidak perlu sampai mengatai orang seperti itu. Faktanya, Nona Reychu dan Rayan tidak sedikitpun marah diperlakukan seperti itu. Itu menandakan mereka benar-benar saling mengenal satu sama lain." tegur Ruobin sambil terus melihat kejalan, kalau-kalau kedua gadis yang sedang di tunggu melintas.


Bagaimanapun, ini adalah rumah makan tepat dipinggir jalan. Pasti bisa dengan mudah menemukannya.


"Mengenal apanya? Apa itu berarti bisa menindas orang begitu?!" kesal Chi-chi tak ditutup-tutupi.


"Kau tampaknya sangat tidak menyukai Nona Ryura. Kenapa?" tanya Ruobin yang sudah merasa aneh selama ini dengan cara Chi-chi menatap Ryura. Tatapan itu tak sedikitpun menunjukkan pertemanan.


"Entahlah! Aku hanya tidak suka padanya. Ia kejam!" tandas Chi-chi jujur.


"Kau yakin?! Kalau begitu, apa kau tahu kalau Nona Reychu juga tak kalah kejam?" beritahu Ruobin pada siluman kelinci itu.


"Hahaha... Biar ku tebak! Itu pasti karena kau melihatnya selalu bertingkah konyol dan gila sehingga kau berpikir dia itu tidak sekejam Nona Ryura." kata Ruobin.


"Emm?! Tidak juga." agaknya Chi-chi ragu. "Tapi, aku yakin dengan pendapat ku." lugasnya meyakinkan kalau dia sangat yakin.


"Hhh... Kalau begitu, biar ku beritahukan padamu sesuatu. Rayan pernah bercerita padaku, kalau sebenarnya dari mereka bertiga kekejamannya hampir setara." jedanya sambil sesekali melihat kejalan. "Nona Ryura bisa dikatakan kejam, karena dia tak pernah pandang bulu bila ingin menghabisi nyawa seseorang. Tua, muda, bahkan anak-anak pun bisa mati ditangannya bila ia mau. Tetapi, Nona Ryura tak semerta-merta membunuh begitu saja kecuali dia sudah merasa terusik. Seperti hewan buas, selama tidak di ganggu dia tak akan menerkam. Juga, dia bukanlah tergolong gadis yang suka berbelas kasih. Karena, kata Rayan bila dia sudah menggoreskan luka di tubuh seseorang, itu menandakan dia harus menghabisinya. Sebab, melukai orang menunjukkan bahwa ketenangannya telah terusik oleh orang itu. Begitulah kira-kira yang Rayan beritahukan."


"Sedang, Nona Reychu... Rayan bilang, dia juga bisa kejam bahkan kekejamannya dianggap gila. Kau tahu kenapa?" tanya Ruobin usai menerangkan secara singkat tentang Reychu.


Chi-chi menggelengkan kepalanya tanda tak tahu juga bingung bercampur dengan penasaran. Dia memang belum pernah melihat sahabat manusianya bertarung atau berbuat kejam pada orang lain selain dengan mulut pedasnya.


"Kata Rayan, itu karena Nona Reychu sulit untuk serius. Yang artinya, bila ia menjadi serius tingkat kekejamannya bisa melebihi Ryura. Tapi, bila dia masih bertingkah konyol. Justru, dia malah bermain-main dengan nyawa seseorang yang ingin dia bunuh. Sebenarnya, itu juga bisa dibilang sama kejamnya. Tapi, paling tidak Reychu masih memiliki hati nurani untuk tidak sembarang melayangkan nyawa seseorang semudah Nona Ryura lakukan. Terlebih, Nona Reychu unggul bertarung jarak dekat. Dia juga bisa menggunakan kedua tangannya untuk menggunakan pedang. Kalau, Nona Ryura dikatakan dia itu kidal, makanya menggunakan tangan kiri." terang Ruobin memberitahukan semua yang pernah Rayan ceritakan padanya tentang kedua sahabatnya itu.


"Kau pasti sulit mempercayainya, bukan?" tebakan Ruobin benar, itu disebabkan karena Chi-chi belum pernah melihat langsung bagaimana cara Reychu melakukan aksinya.


"Ya, begitulah..." jawabnya.


Sampai mereka tak sadar saat tiba-tib seseorang menerjang tubuh Ruobin dengan memeluknya, kemudian...


"Huwaaaa... Bin-bin... Huaaa..."


"Astaga... Rayan?!" terhuyung Ruobin kebelakang dan hampir jatuh seandainya dia tak bisa menjaga keseimbangannya. Tangannya pun refleks membalas pelukan Rayan.

__ADS_1


"Haaaa... Hiks... Bin-bin... Kakiku sakiiiit... Huaaa..." tangis Rayan pecah sampai dia tidak mempedulikan sekitarnya yang sudah menatapnya dengan tatapan beragam.


Sedang, Reychu...


Bruk!


Menghempaskan bokongnya sendiri ke tanah di samping Chi-chi.


"Reychu!" pekik Chi-chi cemas, lalu bergerak memeriksa keadaan Reychu.


"Huh...huh...huh...huh... Sial! Melelahkan sekali! Kakiku sampai bengkak dibuatnya. Hehehe..." keluh Reychu masih sempat menertawakan kondisinya yang sama menyedihkan dengan Rayan. Lusuh, penuh peluh, persis seperti gelandangan.


"Ini salahmu!" menoleh kearah Reychu dengan delikan tajam dari matanya. Rayan masih melingkarkan tangannya di sekitar leher Ruobin guna menopang tubuhnya yang tak sanggup lagi dipakai berdiri.


Mendongak membalas tatapan Rayan, Reychu pun menyengir setelahnya. "Jangan salahkan aku saja, kau juga salah."


"Tidak, ini salahmu."


"Haih... Ray, kau menjahiliku lebih dulu. Bagaimana bisa kau menyalahkan ku kemudian." dengus Reychu seraya memutar bola matanya. Sudah biasa di tuduh sampai tak lagi mempan.


"Sebenarnya, ada apa ini?" tanya Ruobin menyela percakapan kedua gadis itu yang membingungkannya.


"Iya, sebenarnya ada apa sampai kalian saling menyalahkan begini?" timpal Chi-chi ikut bertanya.


"Bukan masalah besar sebenarnya. Hanya saja, saat kami sedang berjalan santai menuju kemari untuk menyusul kalian. Sambil melihat-lihat, Rayan tiba-tiba mengejutkan ku dengan ulat besar yang entah dari mana ia dapatkan. Kalian tahu?! Ulat itu sebesar jempol Ruobin. Berwarna hijau berbintik-bintik coklat. Aku terkejut 'kan! Jadi, aku refleks menepisnya. Eh, aku tidak berharap ulat itu akan masuk kedalam baju Rayan. Jadi, dia langsung bereaksi cepat untuk mengeluarkan ulat itu sambil mengomeli ku. Tapi, siapa yang menyangka kalau detik berikutnya Rayan akan menjerit sambil menepuk-nepuk dadanya. Saat aku tanya kenapa! Dia bilang ulatnya bergerak di dadanya. Ya, aku tertawa. Eh, dia marah lalu mengejar ku sambil terus berusaha mengeluarkan ulat itu. Jadi, begitulah caranya kami sampai kemari..." cerita Reychu dengan santainya seraya memulihkan kelelahannya.


"Astaga... Lalu, apa ulatnya sudah berhasil dikeluarkan?" kini giliran Ruobin bertanya pada Rayan yang berada di pelukannya.


"Hiks... Sudah..." jawab Rayan dengan suara parau habis menangis, karena lelah.


"Sudah-sudah, jangan berulah lagi. Nanti gadis misterius itu meninggalkan kalian lagi setelah ini." ujar Chi-chi yang kini sednag membantu Reychu berdiri.


"Maksud mu Ryura?! Hahaha... Julukan apalagi itu? Hahaha..." tawa Reychu merasa lucu, sedang Rayan yang melihatnya hanya memutar bola matanya jengah.


"Begitu saja kau tertawa. Dasar tidak waras!" ketus Rayan.


Hap!


Bergerak menggendong Rayan ala bridal style, seraya berkata. "Sudah, lanjutkan lagi nanti. Sekarang waktunya kita mengisi tenaga. Kita harus kembali melanjutkan perjalanan." lalu, berjalan masuk kedalam rumah makan sambil menggendong Rayan dan mengabaikan tatapan aneh orang-orang disekitar mereka.


"Ayo, Chu-chu." tuntun Chi-chi memapah Reychu yang tergopoh-gopoh berjalan lantaran kakinya sakit.


"Lihat! Mereka tak sadar tempat saat ingin bermesraan." celetuk Reychu seraya memandang Ruobin dan Rayan digendongnya.


"Diam kau, Rey. Aku mendengarnya!" omel Rayan dari depan.


Karena itu, Reychu tak bisa menahan tawanya pecah dari bibirnya.


__ADS_1


selamat membaca gaess 😘😘😘


__ADS_2