3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
HARI PENUH PENGGANGGU


__ADS_3

Keesokan paginya adalah pagi dimana Reychu sedang dalam mode malas untuk berkeliaran kemanapun sehingga dia hanya memilih berdiam diri di kamarnya dan sesekali keluar ke halaman depan kamarnya untuk bersantai bersama Chi-chi.


Seperti saat ini...


"Pagi yang damai..." seru Reychu sambil berbaring di kursi santai yang ia minta kepada para pelayan untuk disediakan walau dengan ogah-ogahan.


Chi-chi ikut berbaring disebelahnya dan membiarkan cahaya matahari pagi menghangatkan tubuh keduanya.


"Benar. Pagi yang damai..."


Sayang sekali, kedamaian itu tampaknya akan segera tinggal nama setelah beberapa langkah kaki cepat yang terdengar di lakukan dengan angkuh menggema hingga memasuki pendengaran Reychu dan Chi-chi sampai membuat kepala keduanya menoleh kearah pintu halaman dalam posisi masih berbaring santai.


2 pasang mata menyipit dengan kompaknya guna ingin melihat dengan jelas siapa yang berani mengganggu pagi damai mereka.


Begitu sosok yang dicari muncul, Reychu lantas berceletuk malas. "Kutarik kembali kata-kata ku." ini dimaksudkan pada kalimat sebelumnya yang ia ucapkan.


Chi-chi pun tak mau kalah, siluman itu mengangguk membenarkan. "He'em. Sama sekali tidak damai."


Keduanya hanya diam menunggu sosok itu masuk dengan segala aura ketidakramahan dan kebencian yang dibawanya tanpa bergerak dari berbaringnya. Entah apa maunya pagi-pagi begini mendatanginya.


Bahkan, Reychu menyempatkan diri mencari posisi nyamannya di kursi santai tersebut seperti ingin mempersiapkan diri untuk bagian merepotkannya.


Kini, Reychu tengah berbaring menyamping sambil menopang sisi kepalanya dengan tangan. Jangan lupakan tatapan nakalnya yang jail dan penuh godaan untuk mengundang musuh.


Mata itu menatap gadis yang tak lain adalah Bai Ning Wei. Gadis yang datang dengan niat untuk memprovokasi Reychu agar terpancing untuk melakukan kesalahan. Namun, sayangnya Reychu sama sekali tidak mempedulikannya. Apalagi, niatnya yang buruk itu.


"Bagus. Inikah yang bisa dilakukan perempuan tak tahu malu seperti mu. Bersantai ria dengan bebasnya di rumah orang lain. Kau cukup memiliki kulit yang tebal!" sarkasnya begitu tiba didepan Reychu dan Chi-chi. Tak ada basa-basi lainnya terlebih dulu seperti salam ketika datang.


Ini menunjukkan betapa arogannya gadis bernama Bai Ning Wei itu.


Alis Reychu terangkat sebelah dengan menyebalkannya dan bertanya tanpa beban. "Lalu, apa masalahnya dengan mu?"


Pertanyaan itu sukses membuat gadis itu marah.


"Kau! Benar-benar tidak tahu malu! Aku tidak mengerti mengapa kakak Kaisar Agung bisa jatuh cinta dengan gadis gila, pembuat onar, pengacau, dan pembawa sial seperti mu. Kau pasti menggunakan sihir untuk memikat kakak ku, kan? Mengaku kau!" tuduh Bai Ning Wei dengan kebencian yang mendalam.


Sangat tidak ingin memiliki kakak ipar seorang seperti Reychu. Entah mengapa?


Lagi, alis Reychu terangkat dengan santainya. Sama sekali tidak terpengaruh oleh omelan tak jelas dari gadis didepannya ini. Hanya merasa geli dan lucu saja mendapati orang lain marah-marah yang menurutnya bukan urusannya untuk marah dan tak terima atas apa yang orang lain putuskan. Meskipun itu saudara sendiri.


Tak habis pikir Reychu.


"Kenapa aku perlu sihir untuk memikat kakak mu, kalau pesona ku saja sudah cukup untuk memikatnya. Haha... Jangan bercanda! Seorang Reychu tidak akan menurunkan levelnya ke posisi yang begitu rendah seperti itu. Sihir? Yang benar saja." Reychu tertawa mendengarnya. Baru kali ini ia dituduh menggunakan sihir. Dia sampai mencoba menggali ingatannya, apakah dia pernah memiliki pemikiran untuk melakukan guna-guna kepada Kaisar Agung Bai.


Daripada guna-guna pria yang mencintainya, ada baiknya dia santet saja orang-orang yang tidak berkepentingan 'kan?! Pikir Reychu.


"Siapa yang tahu. Bukankah kau itu gadis yang aneh dan gila. Tentu tak akan menutup kemungkinan untuk hal itu. Tapi, kau harus tahu. Kakak Kaisar tak akan menikahimu! Kalian sama sekali tidak cocok! Kau dengar! Saat ini, kakak Kaisar hanya sedang tertarik untuk bermain denganmu! Begitu dia bosan dia akan membuang mu! Karena, bagaimanapun kau sama sekali jauh dari kriterianya. Kau tak pantas menjadi permaisurinya! Kau harus tahu dimana tempat mu!" sembur Bai Ning Wei kukuh juga garang. Bahkan sampai sanggup mengatai saudaranya sendiri sebagai pemain perempuan.


Reychu tak habis pikir dengan pemikiran tersebut. Datang dari mana pemikiran seperti itu.


Tapi, harus Reychu akui mulutnya Bai Ning Wei benar-benar mampu mengeluarkan omong kosong lava panas yang langsung melelehkan dan membakar lawan bicaranya.


"Heh! Rendah sekali pemikiran mu tentang kakak mu. Apa pendapatnya kalau dia tahu tentang ini, ya...?!" kata Reychu malah tersenyum mengejek. Lagi-lagi tidak terpengaruh.


Dada Bai Ning Wei naik-turun tersengal-sengal saking bencinya kepada Reychu.


"Sebenarnya, apa mau mu dengan datang menemui ku? Karena, tadi kau terlihat seperti jelmaan monster yang siap memakan ku kapan saja. Itu mengerikan." walau berkata begitu, ekspresi Reychu justru berbanding terbalik.


Geli-geli bagaimana gitu...


"..." mulut Bai Ning Wei beberapa kali terbuka dan tertutup, tapi dia sendiri tak tahu harus bagaimana membalas perkataan Reychu. Ini semakin membuatnya kesal dan marah sampai-sampai memelototi Reychu sedemikian rupa.

__ADS_1


Pada akhirnya, Bai Ning Wei hanya mendengus marah dengan muka memerah sebelum menghentakkan kakinya berbalik dan pergi meninggalkan Reychu yang menggelengkan kepalanya menatap punggung Bai Ning Wei.


"Dasar kurang kerjaan." culasnya.



Sepanjang jalan menuju kediaman lain, Bai Ning Wei tak henti-hentinya menggerutu dan mengumpati Reychu dengan segala kosakata kasar yang dia ketahui.


Saat ini dia sedang bergegas menuju ke kediaman Lim Qian Fei yang letaknya lumayan jauh dari lingkungan istana keluarga kerajaan. Karena itu, dia butuh kereta kuda agar cepat sampai. Meskipun jauh, kediaman Lim masih berada dalam ruang lingkup istana. Bagaimanapun dia adalah anak seorang Penasihat Kerajaan.


Setibanya disana, pelayan rumah Lim segera mengkonfirmasi kedatangan Bai Ning Wei begitu melihat gadis itu muncul. Cukup tahu, siapa yang dia cari.


Jadi, tanpa kesulitan apapun Bai Ning Wei segera diizinkan masuk langsung menuju tempat tinggal Lim Qian Fei.


"Kak Fei-fei!" serunya dengan segala macam perasaan yang ditampungnya untuk Reychu sehingga nadanya penuh keluhan.


"Oh, kau sudah sampai. Duduklah dimana pun kau suka. Buat dirimu nyaman. Aku masih harus melakukan sesuatu disini." katanya halus dan teratur, jelas adalah orang yang mampu menjaga perilakunya dimana pun ia berada. Saat ini dia tengah melakukan kegiatan menulis, meneruskannya dari sebelum Bai Ning Wei datang.


Melihat itu, Bai Ning Wei tidak bertanya sebab bukan ranahnya untuk bertindak ingin tahu urusan orang lain.


"Terimakasih, kak Fei-fei." tanpa basa-basi lagi, Bai Ning Wei segera menemukan tempat duduk yang nyaman untuknya tanpa canggung sedikitpun. Seperti sudah biasa melakukannya.


Tidak mengherankan kalau keduanya akrab. Sebab mereka tinggal di satu tempat yang sama sejak masih kanak-kanak. Bahkan mungkin dari sebelum mereka ada di dunia ini.


"Kakak, lanjutkan saja apa yang sedang kau lakukan. Tapi, biarkan aku mengatakan apapun yang ingin aku katakan padamu. Ini penting! Begitu tidak apa-apa?" tanyanya meminta pendapat.


Lim Qian Fei sendiri mendongak menatap Bai Ning Wei dengan lembut sebelum mengangguk mengerti dan tidak mempermasalahkan hal itu. Alhasil, kedua gadis dengan jarak usia yang tidak terlalu jauh itupun melakukan pekerjaan mereka masing-masing dengan ringan hati.


Saat inilah waktunya Bai Ning Wei mencurahkan isi hatinya yang penuh kebencian terhadap Reychu.


"Kak Fei-fei, tahukah kau?! Gadis itu semakin berani dan tidak tahu malu! Tadi, aku datang ke tempatnya untuk memberinya peringatan, tapi dia malah dengan angkuhnya menyerang balik sampai aku kehilangan kata-kata. Dia sangat picik dan licik. Aku masih tidak mengerti mengapa kakak Kaisar Agung Bai bisa jatuh cinta pada perempuan seperti itu." keluhnya sampai wajahnya memberengut jelek.


"Dia tidak menyerang fisikmu kan?" tanya Lim Qian Fei tanpa menghentikan kegiatan menulisnya.


"Sudah tak perlu dipusingkan. Bukankah semuanya sudah tahu sikap paling mencolok dari diri Nona Ahn itu apa?" kata Lim Qian Fei seperti memberi celah tanpa disadari siapapun.


"Maksud kak Fei-fei, sikap acuh dan gilanya itu?" ulang Bai Ning Wei memastikannya.


Mengangguk membenarkan. "Benar. Jadi, kalau hal seperti ini saja bisa dia acuhkan. Artinya, dia bukan orang yang mudah. Inilah mengapa seseorang butuh strategi." usul Lim Qian Fei sambil melipat kertas yang usai ditulisnya tadi dan memasukkannya kedalam amplop putih dan memberikannya langsung kepada pelayannya yang diterima dengan patuh.


Apalagi, pelayan tersebut tidak lagi bertanya tujuan kertas yang menyerupai surat itu dibuat. Dia tampaknya tahu harus diapakan.


Setelah itu, pelayan itu pergi saat Bai Ning Wei tengah mencerna kalimat Lim Qian Fei barusan.


"Kakak benar. Lalu, aku harus apa?" tanya Bai Ning Wei meminta saran.


"Bersikaplah lebih elegan. Biarpun kau membencinya, tidak benar kalau sampai menunjukannya. Kau harus bisa bersikap lebih tenang guna untuk mengingatnya secara tidak langsung bahwa kalian berada di level yang berbeda." sampai disini, Lim Qian Fei menatap Bai Ning Wei yang berpikir keras untuk mencerna kembali kalimatnya.



Usai jam makan siang, Reychu masih dalam kondisi malas untuk melakukan hal-hal yang biasanya ia lakukan. Seperti, berkeliaran dan melakukan hal gila lainnya yang tak akan pernah dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau Lu Xiu Chi datang tanpa diundang.


Padahal saat itu Reychu masih dalam keadaan menikmati waktunya bersama Chi-chi yang wujudnya dalam bentuk hewan kelinci.


Meski sudah siang, suasana juga tidak panas terik. Kerajaan Es selalu dingin. Matahari mungkin muncul, namun kenyataan itu tak merubah suhu dinginnya ke suhu panas hingga berkemungkinan menyebabkan bekuan es mencair.


Dingin tetaplah dingin. Jika, bukan karena kekuatan spiritual khusus tidak ada air yang dapat di gunakan sebab semuanya akan langsung menjadi beku.


Sayangnya, kondisi yang dingin seperti ini masih tak menghalangi seseorang terbakar oleh kebencian ataupun amarah.


Seperti gadis yang berkunjung saat ini.

__ADS_1


Reychu yang mendapatkan tamu tak diundang pun hanya melirik sekilas lalu tak mempedulikannya kemudian. Dia tak mau repot-repot bermain dengan seorang pengecut.


Lagipula, ini membuatnya berpikir. Sebenarnya, hari apa ini? Kenapa banyak pengganggu yang datang?


"Yooo... Siapa yang datang ketempat ini? Mengapa aku tak tahu kalau pernah mengundang seseorang kemari? Apakah aku sudah mulai pikun hingga tak ingat kalau sudah mengundang seseorang untuk datang?" kata Reychu dengan nada ogah-ogahan tanpa ekspresi yang berarti, dia hanya memilih untuk asik dengan buah-buahan dalam mangkuk besar di pangkuannya ini.


Tangan Lu Xiu Chi terkepal karena tak senang mendengar penuturan Reychu tentang kedatangannya.


"Ini bukan rumah mu! Jadi, aku tidak berpikir butuh izin darimu untuk datang kemari!" sergahnya.


Masih dengan ogah-ogahan Reychu mengangguk seolah setuju tanpa melihat langsung ke lawan bicaranya dan malah terus menjejalkan satu persatu buah kedalam mulutnya, lalu berkata dengan cukup santai namun menusuk. "Hm. Benar, ini memang bukan rumah ku. Tapi, ini juga bukan rumah mu. Jadi, aku juga bebas bila ingin menyebut mu seorang penyusup tidak tahu malu yang masuk tanpa izin."


"KAU...?!!" Lu Xiu Chi kehilangan kata-kata usai mendengar kalimat Reychu itu.


Baru kemudian, Reychu meliriknya dengan pandangan mengejek tentunya. "Hehe... Bagaimana rasanya bermain bumerang? Serukan?! Hehe... Aku tahu. Jadi, pergilah dan jangan buang waktuku untuk orang seperti mu. Aku sibuk!" tandas Reychu tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Hal ini membuat Lu Xiu Chi makin kesal. Sebab secara tidak langsung, Reychu menyamaratakan dirinya dengan camilan buah yang tengah dimakannya.


Bagaimana bisa kegiatan makan Reychu disebut kesibukan?


Ini penghinaan baginya.


"Cukup! Kau benar-benar sombong!" alis Reychu terangkat mendengarnya.


Dia jadi bingung sendiri. "Memangnya yang seperti ini bisa disebut sombong? Ada-ada saja!"


Ingi rasanya Lu Xiu Chi hancurkan wajah cantiknya Reychu hingga tak dapat dikenali. Dia benar-benar benci dengan gadis didepannya ini.


Tapi, dia juga tidak lupa tujuannya datang kemari. Memikirkan hal itu membuatnya tersenyum miring, merasa memiliki kartu As untuk membuat Reychu jatuh.


"Dengar ini baik-baik, Nona Ahn Reychu. Saya akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat Anda gelisah dan menjadi menyedihkan."


"Oh, ya?! Apa itu?" tanya Reychu tanpa kesungguhan. Gadis itu bahkan hanya melirik sekilas lawan bicaranya seolah-olah Lu Xiu Chi sama sekali tak pantas untuk dilihat.


Andai saja Lu Xiu Chi tahu apa yang Reychu pikirkan tentang dia. Maka, sudah dipastikan keponakan pensiunan Kaisar Agung Bai itu mengamuk.


"Buang jauh-jauh keinginan mu menikahi Yang Mulia Kaisar Agung Bai. Karena, dia sudah dijodohkan dengan ku. Kami adalah tunangan sejak kecil. Jadi, menyingkirlah. Jangan menjadi perusak hubungan kami!" jelasnya dengan arogan.


Mendengar itu Reychu malah tertawa keras. Ini cukup membuat jengkel lawannya.


"Hahahaha... Apa kata mu? Kau dan Gikwang tunangan sejak kecil? Saat kalian masih kecil, memangnya tahu apa. Aku yakin saat itu kau bahkan belum pandai memakai ****** ***** mu dengan benar dan harus berbicara cinta. Hahaha..."


"KAU...! Apa kau pikir aku bercanda?! Tunggu dan lihat saja, suatu hari nanti pengumuman itu akan di sebarkan. Dengan begitu, semua orang akan tahu siapa Permaisuri Negara Es sesungguhnya. Mereka pasti lega dan bersyukur bila bukan kau yang menjadi pendamping Yang Mulia." ungkap Lu Xiu Chi dengan bangga dan sombong.


Reychu disisi lain hanya mendengarnya sambil mengunyah anggur hijau satu persatu dengan khidmat. Bahkan, saat kabar yang harusnya mengejutkan sekaligus menyesakkan diucapkan Reychu tetap pada posisi dan kondisinya.


Dia tak terpengaruh sama sekali. Justru, Reychu malah menggelengkan kepalanya dengan sorot mata kasihan kepada gadis didepannya ini.


"Ckckck... Malangnya dirimu." celetuk Reychu yang sukses mengundang pelototan dari Lu Xiu Chi.


"Apa maksudmu?"


"Ya, kau gadis malang. Bagaimana bisa kau bangga menikah dengan pria yang tidak mencintai mu. Kau bod*h, ya?! Hah... Mungkin bila benar terjadi seperti yang kau inginkan. Aku ingin tahu, apa kau bisa menjamin Gikwang mau melirik mu? Aku bahkan ragu dia mau satu ruangan denganmu. Apa perlu ku ingatkan. Hatinya itu milikku. Kau dapat raganya pun tak akan merubah apapun. Pria yang bergerak dengan hati tak akan melakukan apapun atas nama nafsu. Yang artinya, sekalipun dia jadi milik mu. Itu hanya cangkang kosongnya. Itupun kau tak bisa menyentuhnya, sebab dia tak mau disentuh oleh yang bukan cintanya. Hahaha. Bukankah itu menghancurkan harga dirimu sebagai istri, karena tidak diakui. Astaga... Aku jadi ingin melihatnya secara nyata." Reychu benar-benar tak pandai menempatkan kata.


Ini menyinggung sekali, sampai-sampai wajah Lu Xiu Chi menghitam bak batu tinta. Bahkan seandainya dapat dilihat dengan kasat mata, sudah dipastikan telinga dan hidungnya pun turut mengeluarkan asap saking marahnya.


"Mulut mu benar-benar busuk! Kau hina! Dasar gila!" umpat Lu Xiu Chi yang sudah terpancing emosi. Dia marah bukan main.


Setelahnya, dia beranjak pergi dengan penuh kebencian seraya menghentak-hentakkan kakinya kuat-kuat sampai dia menghilang dari pandangan Reychu.


"Aduh. Ada-ada saja. Apa yang dia sukai dari si rambut merah itu. Pria itu hanya tampan dan punya banyak cinta untuk ku. Sudah tidak waras bisa sampai terobsesi padanya. Ckckck..." Reychu geleng-geleng kepala seolah-olah dia yang paling normal disana.

__ADS_1



Alhamdulillah, dapat up. hihi... tunggu next nya yaaa...


__ADS_2