
Cklek!
Suara pintu yang dikunci.
Sebuah ruangan yang diterangi cahaya matahari dari luar langsung terpampang. 10 meter persegi terlihat. Didalamnya terdapat ranjang besar, di samping kiri dan kanan kepala ranjang terdapat lemari nakas yang diatasnya ada lampu tidur, ada karpet bulu berbentuk kotak dengan corak harimau membentang dilantai selebar 2 meter persegi, ada juga meja rias sepanjang satu setengah meter yang di atasnya sudah penuh dengan produk kosmetik dan perawatan kulit, disebelahnya ada dua pintu dimana yang satu adalah pintu kamar mandi dan yang lainnya adalah pintu untuk ruang pakaian, jangan lupakan televisi dan AC yang menggantung diatas dinding.
Dari semua perabotan modern, hanya model ruangnya yang bergaya tradisional. Persis seperti kamar di zaman kuno.
Hanya saja, ruangan tersebut yang tak lain adalah kamar pribadi kali ini berubah menjadi kamar pengantin dengan hiasan kelopak bunga mawar yang ditebarkan dimana-mana berpadu dengan aroma manis yang memenuhi kamar.
Saat ini, keduanya undur diri dari pesta kecil-kecilan itu dan membiarkan para pelayan berpesta sendiri, semua itu tidak lepas dari alasan Shin Mo Lan yang ingin segera berduaan dengan istrinya.
Siapa diantara para pelayan yang keberatan?
Tentu saja tidak ada.
Akhirnya, pasangan pengantin baru itu pergi meninggalkan para pelayan menuju kamar pribadi mereka.
Begitu pintu dikunci, Shin Mo Lan langsung menyerang bibir mungil dan menggod* milik Rayan. Dia berlama-lama disana sepuasnya. Kedua tangannya juga tidak tinggal diam, melingkar di pinggang dan leher Rayan agar mudah menarik tubuh istrinya lebih melekat padanya.
Keagresifan Shin Mo Lan bak pria yang berbuka puasa dari nafs*nya. Rayan sampai kewalahan dibuatnya.
Untuk sesaat, Rayan tak bisa mengikuti ritme suaminya yang seperti ingin menelan seluruh dirinya, ditambah kekuatannya yang terus bergerak menekan tubuhnya mendekat. Rayan benar-benar bingung bagaimana mencari celah untuk mengimbangi.
"Astaga!!! Agresifnya suamiku...!" batin Rayan menjerit malu lantaran diserang sedemikian rupa.
Bila batin Rayan berkata begitu, maka lain dengan batin Shin Mo Lan. "Akhirnya! Setelah sekian lama aku menahannya! Akhirnya aku sampai pada akhir penantian! Rasanya tidak berubah! Selalu luar biasa! Istriku benar-benar milikku terlepas dari tubuh siapa yang dimilikinya! Dia memang ditakdirkan untukku!"
Shin Mo Lan mendorong tubuh keduanya agar melangkah mendekati ranjang penuh kelopak bunga. Rayan hanya bisa mengikuti sampai kakinya merasakan penghalang dibelakang. Karena kaget, Rayan berpikir dia akan jatuh saat tubuhnya di dorong terlentang. Untungnya, kelembutan dan keempukan lah yang dirasakan punggungnya.
Baru saat itu ci*man keduanya lepas. Dengan nafas tersengal-sengal, keduanya saling tatap. Rayan dengan tatapan protesnya karena membuatnya kaget dan Shin Mo Lan dengan mata berkabut ga*rahnya yang tak bisa ditutupi.
Hening, hanya ada suara helaan nafas yang saling beradu didalam ruangan tersebut.
Rayan yang menatap protes suaminya langsung menyadari adanya keanehan dari tatapannya. Tertegun dia. Ternyata sang suami sudah sangat menginginkannya.
Berpikir, karena ini bukan kali pertama mereka melakukan penyatuan. Rayan tak ragu untuk menggod* suaminya dengan kecentilannya yang manja.
Melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher dan bahu Shin Mo Lan dengan gerakan penuh perasaan, merambat ke belakang kepalanya yang dipenuhi rambut hitam legam bak mutiara malam lalu mer*masnya sambil menampilkan ekspresi yang paling disukai oleh Shin Mo Lan.
Yaitu, ekspresi memelas yang manja.
Tubuh Shin Mo Lan bergetar seketika. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, sengatan listrik dirasakannya yang membuat panas tubuhnya sebelumnya setelah terpancing semakin kuat. Matanya menjadi semakin gelap dan dalam, sorot matanya tak berpindah sedikitpun dari wajah istrinya.
"Rayan..." panggilnya dengan suara serak yang terdengar s*nsual, Rayan sampai bergidik geli di seluruh permukaan kulitnya hingga rambut-rambut halusnya berdiri. Tapi, dia suka.
__ADS_1
Tapi, Rayan masih berdehem sebagai jawaban.
"Kau cantik sekali..." pujinya sungguhan dengan nada yang sama. Tatapan Shin Mo Lan tak bisa bohong kalau dia tergila-gila kepada istrinya.
"Terimakasih." Rayan menjawab dengan suara rendah dengan menggod* sampai telinga Shin Mo Lan memerah seketika. Dia suka mendengar suara rendahnya terutama ketika mereka melakukan hal ini.
Punggung jari Shin Mo Lan bergerak merapikan helaian rambut Rayan yang menempel di pipi istrinya.
"Kau benar-benar cantik... Sampai aku tidak bisa menahannya lagi... Jadi, sekarang, oke?" saat kalimat itu diucapkan Shin Mo Lan sudah meletakkan dahinya ke dahi istrinya dengan ujung hidung yang saling menempel.
Ini adalah hal yang sering Shin Mo Lan lakukan, meskipun dia tahu Rayan tak akan pernah menolak. Tapi, dia cukup menghargai istrinya dengan meminta persetujuannya lebih dulu.
Rayan pun tahu itu.
Mendengar permintaan suaminya yang seperti merengek meminta sesuatu, Rayan tertawa jadinya. Melihat istrinya tertawa, Shin Mo Lan hendak protes, tapi di halang oleh serangan Rayan yang mendorongnya kesamping hingga terlentang menyebabkan Rayan menukar posisi keduanya.
Dengan berani Rayan menduduki perut sixpack suaminya sampai Shin Mo Lan meng*rang tak tertahankan.
"Sayang..." rengeknya benar-benar menginginkannya.
Tapi, Rayan tampaknya menyukai aksinya yang menggod* sang suami.
Tanpa banyak kata dia membuat gerakan s*nsual saat membuka gaun putihnya dan ikatan rambutnya, lalu mengacak-acak-nya dengan gerakan yang lebih menggod*.
Shin Mo Lan bukannya tidak suka, tapi tingkat kebucinannya pada Rayan malah semakin meningkat.
Kini istrinya tidak memiliki apapun yang menutupi tubuhnya selain p*kaian d*lam putihnya. Penampilannya yang begitu mengg*irahkan dengan rambut berantakan dan pakaian dalam sukses membuat otaknya mendidih. Adegan-adegan p*nasnya dengan Rayan dari masa lalu keluar semua bagaikan film.
Kesadarannya segera ditarik oleh Rayan dengan suaranya yang luar biasa mend*yu penuh god*an.
"Menginginkan ku, sayang?" dengan patuhnya Shin Mo Lan mengangguk mengiyakan. Dia saat ini benar-benar sudah diselimuti ga*rah.
Menurunkan tubuh bagian atasnya dengan gerakan lambat seraya menekan kedua tangan mungilnya di dada suaminya yang entah sejak kapan polos dengan kancing jas dan kemejanya terbuka semua.
Perilaku Rayan benar-benar menyiksa diri Shin Mo Lan.
Rayan mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami sampai menyentuh cuping panas suaminya.
Lalu, kata-kata yang mampu memancing keinginan suaminya meluncur. "Kali ini biar aku yang memimpin. Kau cukup menikmatinya saja. Oke?!" suaranya yang rendah dengan agak mend*sah benar-benar mengganggu kewarasan Shin Mo Lan.
Belum lagi kalimatnya yang tak terduga, mata Shin Mo Lan terbuka lebar dan langsung menatap mata istrinya begitu sang istri menjauhkan diri dari wajahnya.
"Rayan..." gumamnya seraya mencengkeram erat seprai dibawah telapak tangannya guna menyalurkan segala rasa yang ingin meledak.
Rayan yang mendengarnya malah mengibaskan rambutnya dan tanpa kata langsung bertindak membuat Shin Mo Lan terpaku sejenak sebelum merilekskan tubuhnya dan membiarkan Rayan bersenang-senang atasnya. Lagipula, dia juga ikut menikmatinya.
__ADS_1
Setelahnya, keduanya terjalin lebih dalam dan erat dengan Rayan yang memimpin dan Shin Mo Lan yang menikmati.
Aroma cinta segera memenuhi ruangan berpadu dengan suara-suara keduanya yang saling tumpang tindih dengan serasi.
Kedua pasangan itu menikmatinya hingga dunia bagai milik berdua tanpa tahu kalau di luar pintu sekumpulan pelayan sudah menempelkan telinga mereka disana hanya untuk tahu apakah siang ini majikan mereka benar-benar akan mulai mencetak calon Tuan Muda atau Nona Muda apa tidak.
Pelayan-pelayan itu begitu fokus mendengarnya meskipun suaranya tidak begitu terdengar sebab memiliki kedap suara walau tidak sepenuhnya kedap.
"Kau dengar tidak?"
"Sstt... Makanya, diam! Aku bisa mendengarnya walau samar-samar. Tapi, kalian harus diam. Ini tidak akan berhasil kalau berisik."
"Benar jangan sampai kita ketahuan oleh Tuan. Bahaya!"
"Hm. Kudengar, pria yang kegiatan int*mnya terganggu bisa memiliki emosi yang buruk."
Setelahnya sekumpulan pelayan itu diam dan mendengarkan dengan khidmat tanpa menyadari kalau dibelakang mereka Butler Yan sudah berkedut bibirnya dengan perasaan campur aduk melihat pelayan-pelayan ini bertindak demikian.
"Ehem!" dehemannya menarik atensi para pelayan sampai membuat mereka membeku takut.
"Eh! Butler Yan!" salah satunya berseru saking kagetnya. Tidak menyangka akan ketahuan secepat ini.
Dengan senyum yang bukan senyum, Butler Yan berkata penuh arti. "Sepertinya ada yang sudah tidak betah bekerja, ya..."
"Eh! Butler Yan! Tidak! Kami akan kembali bekerja!"
Seketika itu juga para pelayan menjadi panik dan berhamburan pergi detik berikutnya. Tinggallah Butler Yan Shen sendirian yang menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat kelakuan para pelayan yang tampaknya mulai mengendurkan kesadaran mereka sebagai pelayan hanya karena majikannya baik.
Saat akan beranjak pergi, Butler Yan menunda sejenak. Dengan ekspresi datar namun penasaran dia perlahan mendekat ke pintu guna mendengarkan. Siapa yang menduga kalau dia mendengar sepotong kalimat yang membuatnya tertegun bodoh.
"Oh! Sayang, lakukan lagi! Jangan berhenti!"
Mata Butler Yan terbelalak mendengar seruan Tuan-nya yang begitu... Eugh... Bagaimana mengatakannya!
Pokoknya, begitulah.
Yang pasti, wajah Butler Yan memerah tak wajar seketika. Lalu, berdehem sebelum bergegas pergi karena takut pikirannya akan terganggu. Bagaimanapun dia pernah berada diposisi Tuan-nya. Dia mengerti seperti apa perasaan itu.
Tapi, dia tak mau sampai ternoda setelah dia memutuskan untuk pensiun dari dunia percintaan. Jadi, selain trauma pernikahan dia juga harus sadar diri. Maka dari itu, no *** after old.
Haha... Dia sudah menganggap dirinya tua.
ini udah yang paling samar kok. lolos yaaa...🥺🥺
__ADS_1