
Interogasi sebelumnya telah membuat Shin Mo Lan mengambil sebuah keputusan. Karena, di sini adalah wilayah kekuasaannya maka Shin Mo Lan berniat untuk menyelesaikannya sendiri. Dia melarang kedua sahabatnya juga Rayan selaku kekasih barunya untuk terlibat lagi.
Walau sebenarnya keberadaan Rayan memang diperlukan, akan tetapi Shin Mo Lan yang tidak mengizinkannya. Melihat bagaimana Jiang Yu Na tidak menyukai kekasihnya, itu hanya akan mempersulit Rayan bila dibiarkan bertemu.
Oleh karena itu, disinilah dia -Shin Mo Lan- berada. Di Kediaman Jiang tepatnya di ruang pertemuan sebelum nantinya akan pergi menuju paviliun tempat tinggal Jiang Yu Na yang sudah dapat ditempati lagi setelah di bersihkan dari mayat dan darah yang sebelumnya telah menodai paviliun tersebut.
Itupun belum pasti.
"Guru Besar Jiang. Aku disini untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi secara pribadi. Aku berniat untuk tidak melibatkan banyak pihak dalam hal ini. Mungkin pernyataan ini akan membingungkan mu. Maka dari itu, dengarkan penjelasan ku baik-baik. Ini aku lakukan agar kau tidak kehilangan wajah di depan yang lainnya." tutur Shin Mo Lan lugas dan berwibawa. Dia pun cukup serius serta tak lupa mengeluarkan aura yang membuat orang lain tak berani bertindak diluar batas.
Merasakan hal itu membuat Guru besar Jiang merasa kalau tampaknya tuan muda dari keluarga Zhilli Shin ini ada hubungannya dengan masalah yang sedang menimpa anak gadisnya.
Sebagai pria yang bijak, Guru Besar Jiang pun memilih mendengarkannya.
"Baik. Akan aku dengarkan."
"Guru Besar Jiang, tahukan kau. Kalau Jiang Yu Na melakukan sesuatu yang buruk pada seseorang dengan meracuninya?" penjelasannya dibuka dengan sebuah pertanyaan.
Guru Besar Jiang hanya mengerutkan keningnya begitu mendengar hal yang menurutnya tidak mungkin itu. Sedikit tertegun kala pertama kali mendengarnya. Ada rasa tak percaya, saat tuan Muda Shin menanyakan hal itu padanya.
"Tuan Muda Shin, itu... Ku rasa tidak mungkin. Yu Na selama ini tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun. Banyak juga orang yang mengatakan kalau putriku adalah gadis yang baik. Jadi, sangat tidak mungkin bila dia sampai melakukan hal buruk itu. Lagipula, aku juga tidak pernah mengajarkannya hal-hal demikian." bantah Guru Besar Jiang karena merasa apa yang ditanyakan oleh Shin Mo Lan tidaklah benar adanya.
Sebagai ayah yang selama ini merasa sudah mengajarkan segala sesuatu yang bersifat baik, tentu sulit untuk percaya kalau buah dari hasil pendidikannya melenceng.
Sedikit menghela nafas berat. "Benar. Kau adalah seorang ayah yang patut untuk menjadi contoh bagi para ayah yang lain. Tapi, maaf Guru Besar Jiang. Sayangnya, itulah yang Jiang Yu Na lakukan sebelum akhirnya malah berujung gagal karena salah sasaran dan malah menjadi incaran oleh orang yang terkena racun itu." terangnya yang mana sukses membuat Guru Besar Jiang membatu di tempatnya.
Sorot matanya kosong. Benar-benar masih tidak percaya.
"Tuan Muda Shin..." dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
"Itulah kenyataannya, Guru Besar Jiang." iba Shin Mo Lan melihatnya.
Dia kenal betul orang seperti apa sosok Guru Besar Jiang itu. Karenanya, dia bisa merasa turut kasihan padanya atas masalah ini.
"Tapi, aku juga akan meminta maaf. Karena hal ini juga ada kaitannya dengan ku." mendengar itu Guru Besar Jiang menatap Shin Mo Lan dengan rasa ingin tahu. Penasaran kenapa Tuan Muda Shin berkata demikian.
"Jiang Yu Na ternyata selama ini menyimpan rasa padaku. Tapi, maaf... Aku sama sekali tidak memiliki rasa yang sama padanya. Justru, saat ini aku sudah memiliki tambatan hati sendiri... Dan dia adalah orang yang ingin Jiang Yu Na racuni. Rayan Mo. Gadis yang datang bersama Yang Mulia Kaisar Agung Bai beserta yang lainnya." lagi-lagi Guru Besar Jiang dibuat tertegun kaget karena kabar yang ia terima.
Sebagai orang tua yang selalu memperhatikan anak-anaknya meski tengah sibuk sekalipun, Guru Besar Jiang jelas tahu akan perasaan putrinya pada Tuan Muda dari keluarga Zhilli Shin. Tapi, kala itu dia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkannya saja. Karena bagaimanapun, perasaan tidak bisa di cegah pada siapa akan berlabuh.
Baginya, selama masih dalam batas wajar dia tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1
Namun, bukan berarti dia akan membiarkan hal itu membuat putrinya menghalalkan segala cara seperti yang kali ini terjadi hanya untuk memenuhi keinginan hatinya yang semu itu.
Tahu kalau kabar yang ia sampaikan kepada Guru Besar Jiang akan mengejutkannya, tetapi Shin Mo Lan tidak ingin berhenti sampai disini. Menurutnya, hal ini harus tuntas hari ini juga.
"Huuft... Aku mengerti, Tuan Muda Shin." menatap wajah tampan pimpinan Akademi Zhilli didepannya dengan ketabahan hati. "Setelah ini, aku sendiri yang akan memberikan putriku teguran. Terimakasih karena kau masih peduli untuk tidak membuat orang tua ini merasa malu, kalau sampai masalah ini diketahui oleh orang luar." katanya meyakinkan.
Shin Mo Lan menganggukkan kepalanya tanda puas dengan perkataan Guru Besar Jiang. "Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakan, Guru Besar Jiang." jedanya.
"Kuharap, ini selesai secepatnya dan tidak berbuntut pada hal-hal buruk lainnya. Pastikan Jiang Yu Na mengerti dan menerima kenyataan. Karena, perasaan ku saat ini akan sama bahkan sampai ribuan tahun yang akan datang." usai mengatakan itu, Shin Mo Lan menundukkan sedikit kepalanya sebagai rasa hormatnya pada pria paruh baya seusia ayahnya itu sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.
Isak tangis terdengar pilu di sebuah kamar mewah di kediaman Jiang.
Sosok yang tak lain adalah Jiang Yu Na tengah menangis sedih setelah mendengar kabar dari ayahnya kalau Tuan Muda Shin menolak perasaannya yang selama ini ia yakini akan terbalaskan.
"Huhuhuuuu... Hiks... Huuhuu... Hiks... Ayah... Huhuhu..."
"Sudah. Berhentilah menangis. Apa yang kau tangisi, hm?" dengan lembut sang ayah mencoba menenangkan putrinya yang tengah dilanda patah hati seraya mengelus kepala Putrinya sayang.
Saat ini keduanya tengah duduk berdampingan di pinggir peraduan dengan Jiang Yu Na yang menangis tanpa henti dan sang ayah yang sabar menghadapinya.
Sebelumnya, saat Guru Besar Jiang mendatangi paviliun tempat tinggal Jiang Yu Na. Dia sudah mendengar putrinya menangis.
"Ayah... Hiks... Kau tahu aku sangat mencintai Tuan Muda Shin. Kupikir kedekatan kami selama ini sudah memberiku peluang untuk bisa mendapatkan hatinya. Tapi, semuanya kacau setelah kedatangan perempuan itu. Kenapa dia harus muncul di tengah-tengah kami, ayah... Huhuhu..." Jiang Yu Na mengadu sambil tersedu-sedu.
Mata sembab, hidung merah dan berair, juga kedua pipinya yang tak luput dari basah karena air mata.
"Sayang, putriku. Kau tidak bisa berkata begitu. Tidak ada siapapun yang bisa disalahkan dalam hal ini. Bila Tuan Muda tidak bisa menyukaimu, itu berarti karena dia tidak ditakdirkan untuk mu, sayang. Seberapa lama pun kau mengenalnya itu tidak menjadi tolak ukur untuk meyakini kalau kalian adalah satu. Takdir yang terjadi diantara kalian hanyalah sebatas teman." jelas Guru Besar Jiang hati-hati agar tidak sampai salah dalam pengucapannya.
"Hiks... Hiks... Huhu... Lalu... Hiks... Kenapa... Hiks... Kenapa takdir membuat ku jatuh cinta padanya kalau nyatanya dia tidak bisa menjadi milikku, ayah... Kenapa? Huaaaa..." tangisnya tak kunjung mereda. Masih tidak terima dengan apa yang telah terjadi.
Dia terlalu merasa terluka akibat patah hati.
"Itu artinya, kau di berikan kesempatan untuk belajar, nak. Belajar mencintai dan mengikhlaskan bila pada akhirnya kau tidak bisa memilikinya." ditatapnya lembut penuh kasih wajah putrinya yang amat sembab itu.
Jiang Yu Na sesegukan lantaran menangis kejer.
"Kesempatan seperti ini, pada dasarnya diberikan pada semua orang. Hanya saja, tergantung pada orang itu sendiri bagaimana cara dia menyikapinya kala rasa sakit itu mendatanginya." jedanya. "Perlu kau tahu, nak. Tidak semua orang bisa dengan mudah mengikhlaskan perasaan mereka yang sudah terlanjur dalam. Tapi, mereka yang percaya pada takdir cinta mereka, akan tetap berusaha menerima semua itu dan membiarkan waktu mengikis habis rasa sakit tersebut dan menggantikannya dengan yang baru di kemudian hari." sambungnya.
Menarik kedua pundak putrinya agar menghadap kearahnya dan membalas tatapannya.
__ADS_1
"Jiang Yu Na, putriku sayang... Jangan jadikan cinta sebagai pedoman hidup mu. Karena, sewaktu-waktu kau bisa kehilangan pedoman mu kala luka hati menghampiri mu. Tapi, jadikanlah pelajaran hidup sebagai pedoman hidup mu. Dengan begitu, suka dan duka yang akan kau terima tak akan dengan mudah menghancurkan mu. Karena, kau tahu harus melakukan apa untuk mengatasinya." nasihatnya.
"Ini bukan akhir, nak. Cintamu hanya tidak berbalas, bukan berarti kau kehilangan jodoh mu. Tuan Muda Shin bukanlah jodoh mu, itulah mengapa cinta yang kau punya tidak mampu mengetuk pintu hatinya. Percayalah. Kelak akan ada pria yang memberi mu cinta lebih besar dari cinta yang saat ini kau berikan padanya. Apa kau mengerti, nak?" betapa lembutnya Guru Besar Jiang mencoba menenangkan hati putrinya yang tengah terluka.
"Hiks... Huhu... Hiks... Hiks... Tapi, apa salah kalau aku berusaha untuk mendapatkannya kembali? Bukankah cinta butuh usaha juga?!" tampaknya Jiang Yu Na masih belum mau menyerah.
Kening Guru Besar Jiang mengernyit mendengarnya. "Kenapa kau berkata begitu? Benar cinta butuh usaha. Tapi, bukan dengan cara memaksanya. Jika kau memaksa cinta yang tak pernah ada untukmu, kau malah tidak akan mendapatkannya, nak." jelas Guru Besar Jiang menegaskan, namun masih terdengar lembut.
"Huaaa... Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Seharusnya... Seharusnya yang di cintai Tuan Muda Shin adalah aku bukan dia yang baru beberapa hari dikenalnya. Ini tidak adil ayah. Tidak adil untuk ku..." pekik Jiang Yu Na kukuh dengan keinginannya yang mana malah membuat Guru Besar Jiang tidak senang sekaligus sedikit kecewa.
Dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir, ia bertanya. "Apa ini yang ku ajarkan padamu selama ini?" nadanya tak lagi lembut, tapi tegas dan tajam.
Jiang Yu Na yang mendengar perubahan nada suara ayahnya mendadak terdiam. Sepertinya dia mulai menyadari kalau baru saja dia melakukan pemberontakan.
Masih dengan sesegukan Jiang Yu Na memilih menundukkan kepalanya diam.
"Apa karena kau adalah anak kesayangan ku, maka kau menjadi manja dan egois seperti ini? Jiang Yu Na. Aku memanjakan mu bukan untuk mendidik mu menjadi orang yang semena-mena!" Guru Besar Jiang mulai marah. Tapi, dia masih berusaha menahannya agar tidak sampai benar-benar memarahi Putri kesayangannya.
Jiang Yu Na sendiri masih tak berani mengangkat kepalanya, apalagi untuk melihat wajah marah ayahnya.
"Apa sebenarnya yang kau pikirkan, hah?!" Guru Besar Jiang bingung sendiri dengan jalan pikiran putrinya yang tak bisa di tegur ini. Dia tak menyangka akan ada hari dimana putrinya menunjukkan arogansinya.
"Apa ini sifat asli Putri ku yang belum aku ketahui? Itulah mengapa kau begitu berani meracuni orang lain hanya karena cinta?" pertanyaan sang ayah membuat Jiang Yu Na tersentak.
Tak menyangka ayahnya akan mengetahui hal tersebut.
Sebelumnya saat Guru Besar Jiang mendatangi Jiang Yu Na, dia memang tak berniat membicarakan perihal racun yang di buat putrinya karena berpikir putrinya pasti bisa di tenangkan dengan nasehat dan teguran darinya. Tapi, siapa yang menyangka...
"Hah. Tidak bisa dipercaya!" dengusnya, akhirnya benar-benar marah. "Karena sepertinya kau tidak bisa di ingatkan dengan kata-kata ku, maka berdiam dirilah disini dan jangan keluar tanpa izin dariku, dan juga sebelum kau benar-benar menyadari kesalahan mu. Apa kau mengerti?!" kata Guru Besar Jiang menjatuhkan hukuman pada putrinya.
Jiang Yu Na yang terkejut karena perkataan sang ayah langsung mengangkat kepalanya guna melihat sang ayah yang kini sudah berdiri dari duduknya.
"Tapi, ayah..." kalimatnya belum usai tapi sudah di potong oleh sang ayah yang sudah marah padanya.
Sambil menunjuk ke arah Jiang Yu Na, Guru Besar Jiang berujar dengan nada marah. "Kalau kau masih belum bisa mengintropeksi dirimu dengan baik. Maka, jangan harap kau aku izinkan keluar dari sini. Ingat ini, nak!" tegasnya sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Jiang Yu Na sendiri dia kamarnya.
Marah? Tentu, masih. Itupun marahnya kepada 3Ry. Tapi, apa daya. Dia tak bisa bertindak apa-apa bila orang tuanya sudah memberinya peringatan.
Karena alasan itulah, Jiang Yu Na hanya bisa meluapkannya dalam amukan.
__ADS_1
maaf telat. ok silakan baca...
πππ