
Kini usia mereka sudah menginjak 30 tahun, sudah banyak yang mereka lalui di zaman modern ini. Hanya saja, satu yang kurang...
Pasangan hidup.
Tak ayal selama beberapa tahun ini pula banyak orang tua yang menyodorkan anak-anak gadis mereka untuk ketiganya, berharap ada yang mengena hati para pria tampan nan sukses itu dan berkenan untuk mempersuntingnya.
Sayangnya, baik Bai Gikwang, Ye Zi Xian, maupun Shin Mo Lan tak ada yang tertarik. Sebab, ketiganya sudah memiliki tambatan hati sendiri yang tak pernah pudar dari relung hati.
Bahkan sekretaris pribadi mereka, Chang Bin, Lai Zouji, dan Yi Feng pun mengetahuinya. Dikarenakan, 4 tahun belakangan salah satu tugas mereka adalah mencari keberadaan 3Ry yang belum ditemukan. Sampai-sampai ketiganya berteman baik layaknya Ahn Reychan, Dong Jia Zi, dan Min Hwan berteman di masa lalu.
Hingga detik ini...
"Halo. Sudah sampai disana? ... Baik, aku akan segera sampai." ujar seorang pria dewasa berusia 27-28 tahunan sambil berjalan menelusuri koridor sebuah bar menuju private room yang sudah ditetapkan olehnya juga orang yang ada di telpon barusan.
Jas yang melekat pada tubuhnya mampu memberikan aura karismatik yang mempesona hingga tak kalah bila di sandingkan dengan bosnya. Kini pemakai jas itu tengah dalam perjalanan untuk menemui yang lainnya.
Tak lama, setibanya dia di depan pintu ruangan, tanpa mengetuk lagi dia langsung masuk dan sudah disuguhi pemandangan dua pria yang sedang duduk saling berhadapan dengan dipisahkan oleh meja yang diatasnya sudah ada beberapa botol anggur dan gelasnya.
Klek!
Pintu kembali ditutup, lalu lanjut melangkah menghampiri dua pria lainnya.
Sambil mendudukkan bokongnya, pria yang baru datang langsung berseru. "Sudah ada kemajuan?"
"Cih!" decih pria yang dari wajahnya dapat langsung diketahui kalau dia adalah Yi Feng. Sambil mendelik kearah pria yang baru datang, dia mencibir. "Tidakkah seharusnya kau bertanya bagaimana kabar kami sebelum bertanya tentang itu? Tolong berbelas kasihanlah, Sekretaris Chang!" keluhnya.
Mata pria yang dipanggil Sekertaris Chang itu menyipit jijik. "Apa yang kau tahu selain mengeluh?! Mau aku adukan kelakuan mu ini pada Tuan Muda Shin?"
"CK! Dasar pengadu!" umpatnya jijik. Lalu, keduanya saling lempar pandangan tajam bak musuhan. Meski nyatanya itu tidak sungguh-sungguh.
Hal biasa sesama teman.
Pria terakhir yang sudah pasti menjadi Lai Zouji hanya melirik kedua temannya bergantian dengan tampang menikmati pertunjukan. Setelah dirasa cukup, barulah dia maju sebagai penengah.
"Sudah. Tunda dulu perseteruan kalian. Kita bahas dulu apa yang mau aku sampaikan saat aku meminta kalian untuk bertemu."
Mendengar itu, kedua pria lainnya segera masuk mode serius.
"Baik. Katakan sekarang apa itu?" kata Yi Feng agak mendesak.
__ADS_1
Ting...
Ting...
Dua kali nada suara pesan masuk terdengar begitu Yi Feng menyelesaikan kalimatnya. Ternyata, disaat bersamaan Lai Zouji juga menekan tombol kirim dari ponsel pintarnya.
"Aku sudah mengirimkannya melalui email. Lihatlah!" kata Lai Zouji sembari terus memainkan benda pipih di tangannya.
Dapat dilihat, bila layar kecil ponsel itu menampilkan data yang dimaksud.
Segera, yang lainnya juga turut membuka email yang mereka terima. Ketiganya menatap ponsel masing-masing dengan serius saat membaca isinya.
Chang Bin mengangkat kepalanya guna melihat Lai Zouji sambil bertanya. "Ini valid?"
Tanpa mengangkat kepalanya, yang ditanya menjawab agak sarkas. "Aku tidak punya cukup waktu untuk dibuang."
Chang Bin mendengus mendengarnya dan tidak lagi mempertanyakannya. Dia pun lanjut membaca.
Sedang Yi Feng terus membaca email yang dia terima. Lalu, bertanya dengan nada terkejut. "Jadi, gadis-gadis itu benar adanya?"
Lai Zouji hanya mengangguk membenarkan tanpa memecahkan fokusnya pada data yang ia baca di ponselnya. Meski ia tahu ini bukan pertama kalinya dia membaca isi data tersebut. Karena, sebagai orang yang banyak bekerja untuk mencarinya dia sudah pasti tahu lebih dulu.
"Tapi... Kenapa wajah mereka tidak mirip sama sekali? Kau yakin tidak salah orang?" tanya Chang Bin saat dia sampai pada gambar wajah orang yang bos mereka titah kan untuk mencarinya.
"Awalnya aku juga ragu. Tapi, deskripsi yang di berikan oleh Tuan Muda kita cocok dengan mereka. Jadi, kupikir biarkan hasil ini dilihat lebih dulu nanti kalau memang bukan ini, baru kemudian aku akan mencarinya lagi." jelas Lai Zouji.
Dia tahu yang dilakukannya mungkin terbilang buang-buang waktu dan juga melelahkan, hanya saja ini memang masalah yang agak aneh menurutnya. Bosnya meminta dia mencarinya sejak 4 tahun lalu menggunakan sumberdaya yang mereka punya sebagai orang yang mampu menjelajahi dunia digital. Namun, yang dicari hanya berbekal nama. Saat ditanya gambar yang pernah mereka lihat, bos mereka itu hanya mengatakan gambar itu tidak jelas.
Baru sekarang dia tahu kalau ada perbedaan besar antara gambar yang di pajang di ruang kerja tuan mereka dengan sosok asli gadis yang di maksud. Meski mereka sama-sama cantik.
"Huh... Kupikir kau benar. Kalau kita langsung mencari yang lain, ditakutkan ini bisa jadi adalah petunjuk. Akan sia-sia usaha kita untuk mencari lagi." kata-kata Chang Bin disetujuinya oleh dua temannya yang lain.
"Kalau begitu, mari kita serahkan hasil ini pada Tuan Muda kita. Baru kita bahas lagi tindakan selanjutnya setelah mendapatkan jawaban dari Tuan Muda." timpal Yi Feng.
Setelah semua itu, ketiganya tidak lagi berlama-lama di bar tersebut dan langsung bangkit untuk pergi.
Siapa yang menduga kalau akan ada penghalang ditengah jalan. Melihat siapa yang muncul saja sudah membuat wajah ketiga pria itu, terutama wajah Chang Bin terlihat buruk sekali.
"Mau apa dia?" gumam Yi Feng bertanya pada Lai Zouji yang berdiri ditengah-tengah antara dia dan Chang Bin.
__ADS_1
Lai Zouji menggeleng tak berdaya seraya menatap sosok tak diundang dan berkata dengan nada yang sama. Bergumam. "Apa lagi! Mukanya pasti cukup tebal untuk tidak lagi punya malu!"
Yi Feng menatap kagum pada Lai Zouji atas kalimat tajamnya sampai ingin mengacungkan jempol padanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Chang Bin saat melihat gadis didepannya yang 3 tahun terakhir mengusik ketenangan hidupnya.
"Sekretaris Chang, halo... Kebetulan sekali kita bertemu disini." cara gadis itu bicara manis sekali sampai Chang Bin dan lainnya bergidik ngeri mendengarnya.
Mata Chang Bin menyipit dengan tak sabar. "Langsung ke intinya saja, Nona. Saya tak bisa berlama-lama."
Mendengar Chang Bin berkata begitu yang berarti membongkar kedoknya, dalam hati gadis itu menggerutu kesal tapi tidak diperlihatkan dipermukaan.
Dia masih memasang topeng baiknya. "Maafkan saya karena telah mengganggu waktu anda ditengah jalan. Tapi, Sekretaris Chang..." dia menjeda kalimatnya sambil matanya mencari-cari sesuatu di sekitar tiga pria didepannya dengan gerakan samar. Berpikir kalau itu tak akan dapat dilihat.
Tapi, ketiganya jelas bukan amatiran untuk melihat gelagat seperti itu.
Hal itu membuat ketiganya hampir bersamaan memutar bola matanya jengah sekaligus muak.
"Anda mencari bos saya, Nona? Kalau begitu maaf sekali, jawaban saya harus mengecewakan anda. Bos saya pantang datang ketempat seperti ini karena beliau sangat menghargai hati gadisnya. Jadi, lain kali tolong jangan membuang waktu anda untuk mencari beliau disini." kata-kata pada dasarnya cukup jelas menyatakan bahwa gadis berpenampilan glamor didepannya ini harus menghilangkan minatnya pada bosnya.
Tapi, sepertinya dia terlalu gigih untuk begitu percaya diri.
Gadis itu mendesah kecewa. Dia pikir akan melihat pria pujaannya ditempat ini, saat mata-matanya memberitahukan bahwa sekretaris pria itu datang kemari. Bagaimanapun Sekretaris Chang selalu menjadi ekor Bai Liam yang pastinya tak pernah terpisahkan.
Siapa yang menyangka kalau begitu dia tiba, yang dicari tidak ada.
Namun, itu tak terlalu kentara selain saat dia mendengar Sekretaris Chang menyebutkan soal gadis bosnya. Dia marah namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukannya tak tahu soal itu. Bahkan setiap perempuan yang ingin berdekatan dengan tiga pria hebat nan tampan itu selalu ditepis dengan pernyataan bahwa ketiganya sudah memiliki tambatan hati dan tidak berniat berpaling apalagi mendua.
Jadi, selain kesal, marah, dan cemburu. Dia tak berdaya untuk mengatakan apapun lagi. Alhasil, dia sampai tidak sadar saat ketiga Sekretaris orang hebat itu berlalu meninggalkannya yang termangu ditempat.
Saat sadar, dia langsung menghentak-hentakkan kakinya kesal bukan kepalang.
Dia sampai bersumpah dalam hatinya kalau dia akan melihat orang seperti apa gadis yang disukai sampai sedemikian rupa oleh Bai Liam dan akan memikirkan cara untuk menyingkirkannya.
Dia tak akan pernah berpikir kalau orang yang menjadi saingan cintanya adalah orang gila dan dia tak pernah membayangkan bila orang yang ingin ia singkirkan akan menjadi sosok yang sulit dan mungkin tak ada harapan baginya untuk menang.
Tapi, itu akan dia ketahui nanti.
__ADS_1
dukung terus author ya...πππβ€οΈ