3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
HADIAH PERNIKAHAN 2


__ADS_3

"Kemana kita pergi?" tanya Ryura pada Ye Zi Xian yang tengah menuntunnya menuju suatu tempat setelah sebelumnya meminta Ryura agar menutup matanya menggunakan selembar kain. Katanya ada kejutan untuknya, sang istri.


Menurut Ryura jalan ini gak jauh dari rumah, tapi dia tahu kalau masih berada di kawasan rumah. Berhubung dia belum pernah berkeliling rumah barunya, Ryura tidak tahu seberapa luas rumah yang dibangun oleh suaminya hanya untuk menjadi tempat hunian mereka setelah menikah.


Sebenarnya, menikah dengan Ye Zi Xian rasanya sama saja dengan menikahinya dimasa lalu. Bedanya saat ini perasaan Ryura lebih jelas daripada masa lalu dimana dia hanya mengikuti instingnya yang mengatakan kalau Ye Zi Xian adalah orang yang tepat untuk mendampingi hidupnya hingga masa tua.


"Bersabarlah. Kita akan kesebuah tempat yang pastinya akan kau sukai. Aku sudah membuat tempat ini setelah melakukan pertimbangan berulang kali." terang Ye Zi Xian dari belakang istrinya sambil memegangi kedua lengan atas Ryura bertujuan untuk menuntunnya ke suatu tempat.


Keduanya berjalan melewati beberapa belokan yang dapat dirasakan oleh Ryura sebelum kemudian Ye Zi Xian memintanya untuk mengganti alas kakinya. Tanpa tahu apa yang ingin dilakukan Ye Zi Xian, Ryura hanya menebaknya seraya merasakan perubahan demi perubahan disekitarnya.


Tiba-tiba suhu ruangan berubah menjadi jernih dan segar. Ryura sendiri dapat mencium aroma rumput bercampur tanah dan udara yang lembab. Seketika dia tahu kalau suaminya telah membawanya keluar dari dalam rumah.


Dia masih diam mengikuti instruksi suaminya yang terus setia menuntunnya ke suatu tempat yang ingin suaminya tunjukkan padanya.


"Kita diluar, 'kan!" bukan pertanyaan. "Udara disini sangat segar." katanya sambil menghirup dalam-dalam udara segar disekelilingnya itu.


"Benar. Aku membeli tanah yang luas untuk kita tinggali. Tempat yang lumayan jauh dari hiruk-pikuk kota dan tenang dengan masih memiliki keasrian alamnya. Aku memilih tempat ini agak sulit. Bagaimanapun aku mau memiliki tempat seperti sebelumnya... Untuk mengingat bahwa dari sanalah kita bertemu." romantisme yang Ye Zi Xian tebarkan sangat mengena hati istrinya hingga Ryura tersenyum manis mendengarnya.


"Aku tersentuh." balas Ryura seraya mengelus salah satu punggung tangan suaminya yang masih memegang kedua lengan atasnya dengan penuh kasih sampai Ye Zi Xian sendiri dapat merasakan ketulusan itu.


Cup!


Kecupan melayang ke pipi sang istri dengan mesra. "Senang mendengarnya."


Kedua terus berjalan sampai suara seseorang terdengar.


"Tuan, Nyonya. Selamat datang." hormatnya menyapa kedua majikannya sebelum bergerak membuka pagar pendek yang hanya tinggi setengah dari tinggi pria dewasa.


Ye Zi Xian mengangguk menjawabnya, lalu bertanya. "Sudah kau siapkan yang ku minta?" merujuk pada waktu sebelumnya saat Ye Zi Xian diam-diam menghubungi bawahannya yang pekerjaannya dia tempatkan di sini, suatu tempat tak jauh dari rumah.


Sang bawahan mengangguk membenarkan masih dengan kehormatan yang sama. Tapi, dalam hati dia cukup beruntung dapat berkerja untuk Tuan Muda satu-satunya dari keluarga Ye cabang kedua ini. Meski dingin dan terasing, pada dasarnya dia -Tuannya- tak akan melakukan apapun selama orang lain tidak melewati batasnya.


Lagipula, yang paling penting dari semua itu adalah gajinya yang tidak pelit sama sekali. Selama kinerja bawahannya memuaskan, bonus tambahan pun tanpa ragu melayang masuk ke kantong.


Dan semua orang selalu ingin memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi dan majikan yang baik hati. Belum lagi dia masih bisa menikahi salah satu pelayan wanita dirumah tangga ini beberapa tahun yang lalu di tahun-tahun awal bekerja.


Yang artinya tidak ada syarat khusus yang melarang pekerja menikah dengan sesama pekerja.


Memiliki pekerjaan tetap, tempat tinggal yang nyaman, yang utama majikan yang nyaman untuk bekerja dibawahnya. Lengkap sudah.


Kembali ke topik.


Setelah berjalan melewati pintu pagar yang sudah dibuka, Ryura sejenak tertegun kala perasaan familiar melayang-layang di udara dan tercium olehnya. Sedikit banyak dia telah menebak apa yang ingin suaminya berikan padanya sebagai kejutan. Tapi, dia masih perlu untuk melihat langsung agar lebih jelas apakah itu sama seperti yang dia tebak atau tidak.


Walau dia yakin dengan tebakannya.


Setelah melangkah lebih dalam, suara Ye Zi Xian terdengar lagi. Tapi, saat ini dia berseru pada bawahannya tadi yang mengikuti dari belakang beserta 3 orang lainnya.


"Keluarkan mereka!" titah Ye Zi Xian.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" jawab keempatnya.


Segera suara yang amat akrab terdengar memasuki gendang telinga Ryura.


Fhuurrrbbb...


Ketak... Ketuk...


Mata Ryura belum dibuka tapi telinganya telah mendengarnya dengan jelas. "Xian... Ini..."


Mendengar seruan sang istri yang dia tahu kalau Ryura sudah menebaknya pun segera membuka penutup matanya seraya berkata. "Kejutan! Ini untukmu, sayang!"


Mata Ryura terlepas dari penghalangnya dan begitu dibuka langsung menubruk objek yang familiar.


Mata Ryura tidak bisa tidak terbelalak melihatnya.


Dua ekor kuda dengan dua warna berbeda berdiri 1 meter didepannya. Akan tetapi, pandangannya hanya jatuh pada seekor kuda hitam yang besar hingga mengingatkannya pada sahabat silumannya dimasa lalu meskipun kuda hitam yang ini sedikit lebih kecil. Beruntungnya, dia memiliki warna bulu yang berkilau nyaris sama seperti Furby.


Ryura langsung jatuh cinta pada hadiah yang suaminya berikan.


"Ini persis sama..." gumamnya yang masih didengar oleh Ye Zi Xian dengan jelas.


"Tentu. Aku tahu seberapa dekatnya kau dengan Furby. Jadi, aku berpikir untuk mencarinya yang sedikit banyaknya mirip dengan dia. Bagaimanapun Furby dan kuda disini tidak bisa disamakan. Paling tidak, dengan begini kau tidak akan terlalu merindukannya sehingga aku tidak perlu sampai cemburu." jelas Ye Zi Xian tanpa malu saat perkataannya didengar oleh 4 bawahannya yang masih disana.


Pasangan itu bahkan tidak peduli.


"Kau ini. Tidak masalah jika aku merindukannya. Toh, itu tidak akan mempengaruhi perasaan cinta ku padamu." balas Ryura menjelaskan tanpa melihat kearah Ye Zi Xian dan langsung melangkah mendekati kuda hitam didepannya yang seolah juga balas menatapnya.


Ryura pun tersenyum dibuatnya sambil terus membelai kuda hitam tersebut.


"Bisakah aku menungganginya?" tanya Ryura seraya menoleh kearah suaminya seperti meminta persetujuan.


Ye Zi Xian berjalan mendekat dan balik bertanya. "Apa tubuh mu sudah membaik? Jangan memaksakan diri. Aku tahu kau masih lelah." pertanyaannya merujuk pada hubungan suami istri keduanya yang nyaris tidak ada bosannya untuk dilakukan sesering mungkin.


Dua diantara 4 para pekerja kandang kuda pribadi keluarga Tuan Muda Ye nyatanya sudah berkeluarga. Jadi, begitu mendengar kalimat tersebut, keduanya lebih cepat tanggap dalam mengartikan maknanya ketimbang dua lainnya yang harus mencernanya lebih dulu sebelum memahaminya atau bahkan tidak terlalu memikirkannya sebab bukan ranah mereka untuk tahu.


Tapi, dua yang sudah terkoneksi tidak bisa tidak memerah telinganya mendengar hal itu. Karena mereka tahu kalau majikannya adalah pengantin baru.


"Sial!" umpat mereka dalam hati saking kenanya. Mereka tak bisa tidak merasa iri hingga rasanya ingin segera berlari ke istri masing-masing agar bisa dimanjakan.


"Tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik. Kau bisa menemani ku jika masih khawatir." kata Ryura tanpa ada perubahan ekspresi apapun mendengar kalimat suaminya sebelumnya.


"Tentu. Kapan aku berpikir untuk membiarkan mu sendiri?" celetuk Ye Zi Xian seraya tersenyum memanjakan.


Ryura mengangguk membenarkan. "Terimakasih, suamiku Xian... Aku menyukai hadiah mu. Tapi, aku tidak tahu bagaimana memberikan hadiah balasan untuk mu. Jadi, kau mau apa dariku?" tanya Ryura dengan menampilkan raut wajah menantikan jawaban dari suaminya.


Melihat wajah Ryura yang selalu membuat Ye Zi Xian jatuh cinta lagi dan lagi, akhirnya dengan menarik senyum licik dia berkata. "Cium aku. Itu akan jadi hadiah terimakasih yang lebih baik... Dan lain kali kau bisa memberikan ku jiwa serta ragamu untuk membalas semua yang kuberikan padamu, termasuk cintaku."


Ryura terkekeh seketika mendengarnya. Suara kekehannya terdengar merdu ditelinga Ye Zi Xian sampai jantungnya berpacu berkali-kali lipat cepatnya.

__ADS_1


Menatap mata hitam Ye Zi Xian dengan dalam, kemudian melangkah mendekat tanpa kata dibawah 4 pasang mata yang sudah was-was.


Saat para pekerja melihat Ryura mulai melilitkan kedua tangannya ke leher Ye Zi Xian, segera dua pekerja yang sudah menikah membalikkan badan dua lajang lainnya bersama mereka agar tidak melihat apa yang tidak seharusnya dilihat.


"Kenapa?" bisik lajang pertama.


"Iya, ada apa?" bisik lajang lainnya.


"Ikuti saja atau kau akan merana seorang diri!" bisikan sarkas dari pria pertama yang sudah menikah menjawabnya.


"Hm... Diam saja seperti ini sampai kita mendengar instruksi dari Tuan. Paham?" desak pria kedua yang sudah menikah pada ketiga rekannya.


"Paham!" balas dua lajang serempak. Mereka lebih baik patuh meski masih gagal paham daripada berakhir buruk seperti dipecat misalnya. Itu benar-benar buruk.


Dibelakang keempatnya, Ryura sudah mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya dan ciuman intens pun terjadi.


Ye Zi Xian tidak akan pernah bosan menerima cumbuan dari Ryura, bahkan kalau tidak ingat saat ini sedang ada di luar. Dia pasti sudah mendorong Ryura ke atas ranjang keduanya dan segera bercocok tanam agar Ye junior dapat secepatnya diproduksi.


Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya dengan enggan harus diakhiri oleh Ye Zi Xian setelah menerima tanda dari Ryura yang ingin mengakhirinya. Jujur saja, Ye Zi Xian belum puas hingga terlihat dari raut wajahnya.


Melihat itu Ryura tidak berdaya dibuatnya. Alhasil...


"Kau bisa melanjutkannya lagi setelah berkuda. Bagaimana?" usulan Ryura segera mencerahkan wajah Ye Zi Xian yang sempat lesu.


"Baik. Kalau begitu... Ayo, kita lakukan sekarang."


Ryura hanya terkekeh melihat respon suaminya yang sangat cepat itu.


Tak berkata apa-apa lagi dan langsung berbalik untuk menaiki kudanya. Tapi, Ryura tertegun sejenak saat merasakan pinggangnya di cengkram oleh dua tangan besar suaminya.


Merasakan reaksi tubuh istrinya, Ye Zi Xian segera berucap. "Naik saja. Aku hanya berjaga-jaga."


Sekali lagi, Ryura dibuat terkekeh. "Haha... Baik, baik..."


Hup!


Dengan bantuan Ye Zi Xian yang sebenarnya tidak perlu sebab Ryura cukup mampu untuk naik ke punggung kuda seorang diri, tapi akhirnya Ryura tetap mendaratkan bokongnya dengan akurat.


Setelah dirasa siap, Ryura baru melihat suaminya yang melompat naik ke kuda satunya yang berbulu putih. Keduanya pun saling melempar tersenyum sebelum menyentak kuda masing-masing agar segera berlari melaju.


Mendengar suara kaki kuda yang berlari, baru kemudian keempat petugas kandang kuda itupun kembali berbalik dan melihat punggung kedua majikan mereka yang kian menjauh bersama kuda yang mereka tunggangi.


"Haih... Romantisnya..." seru lajang pertama dengan iri sambil tersenyum miris sebab masih menjomblo.


"Benar. Tuan dan Nyonya sungguh pasangan yang romantis dengan cara mereka sendiri." lajang kedua menimpali, segera di angguki oleh lajang pertama dengan semangat menyetujui.


Dua lainnya hanya diam, namun otak mereka sudah bekerja dengan cepat. Dalam hati tidak ingin kalah dengan keromantisan majikan mereka sendiri.


Setelah ini mereka akan mencari istri mereka masing-masing dan beromantis ria juga.

__ADS_1



__ADS_2