
Tap...
Tap...
Tap...
Seorang utusan dari kediaman Permaisuri Agung datang saat Reychu baru saja bersantai setelah menemani Kaisar Agung Bai di ruang kerjanya. Sebutan lain untuk meluangkan waktu bersama. Hehe...
Pas sekali, saat hari sudah menjelang sore.
"Nona Ahn, anda di undang ke kediaman Yang Mulia Permaisuri sekarang juga." nadanya sama sekali tak ada sopannya. Jangan lupakan tatapan tak suka dan merendahkan darinya untuk Reychu.
"Kalau aku menolak, bagaimana?" tanya Reychu tak ada takutnya seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangan, ia berbaring miring diatas peraduan dengan khidmat.
Kilatan tak senang memancar dari mata utusan tersebut. "Nona Ahn, jangan menjadi tidak sopan. Anda bukan siapa-siapa di negeri ini. Jadi, tolong perhatikan tingkah laku anda." katanya menggurui dengan aura senioritas.
Reychu terkekeh geli mendengarnya. Berpikir, sejak kapan dia diatur?
Beranjak dari peraduan dan berjalan dengan gaya mencurigakan kearah utusan tersebut. Lalu, berhenti didepannya. Mendekatkan wajahnya hingga menyisakan jarak hanya setengah jengkal didepan wajah utusan permaisuri.
"Kurasa kau sudah tahu apa julukan ku. Sebagai orang yang selalu disebut gila. Menurutmu, kegilaan apa yang berani aku lakukan padamu?" tanya Reychu dengan suara rendah yang terdengar main-main sekaligus menakutkan.
Utusan permaisuri itu tak pelak merasakan remang di belakang lehernya saat diperlakukan seperti itu sampai-sampai sebuah ilusi melesak dipikirannya sendiri yang membayangkan bila Reychu berbuat hal gila pada dirinya.
Segera setelah itu, ketakutan menguasainya hingga dia tak berani lagi bersikap tak sopan pada Reychu. Padahal, dia bisa saja terus bersikap berani mengingat ini adalah negara Es dimana banyak bakat hebat lahir di tanah ini yang artinya dia seharusnya juga bukan sembarang utusan bila tak memiliki bakat. Sayangnya, dilihat dari auranya saja siapapun bisa langsung tahu siapa yang berada di urutan piramida kultivator teratas.
"M...mohon ma..maafkan saya, Nona Ahn. Saya tidak akan lancang lagi..." dia berkata dengan bergetar tanpa mau melihat mata Reychu yang benar-benar berbeda dari matanya orang normal.
Melihat utusan permaisuri langsung tunduk, ingin rasanya Reychu tertawa terbahak-bahak disaat itu juga. Tak percaya keusilannya bisa sampai seperti ini.
"Hahahaha... Semudah itukah menundukkan orang?! Hahahaha... Astaga... Lucunya... Anak siapa ini?! Hahaha..." hanya bisa tertawa dalam hati sampai puas.
Merasa seru, Reychu tak berniat membongkar keusilannya hingga ia terus melanjutkan sandiwaranya.
Menegakkan punggungnya, Reychu berkata dengan nada yang sama walau di balik itu tawa bahagia menggelegar di pikirannya atas penderitaan lawannya saat ini.
"Kalau begitu, tunjukkan jalannya. Kita tak bisa berlama-lama atau Permaisuri tidak akan senang." tuturnya membiarkan utusan permaisuri itu memimpin jalan. Bagaimanapun, ini akan menjadi pertama kalinya Reychu menginjakkan kakinya di kediaman Permaisuri Agung.
"Mari, Nona Ahn." ajaknya.
Keduanya pun pergi menuju tempat yang dimaksud.
Sebuah kuas yang dipegang oleh tangan lembut seorang perempuan bergerak halus diatas kertas. Mencorat-coret permukaan kertas yang perlahan mulai terlihat bentuknya.
Sebuah sketsa wajah seorang pria tampan terpampang disana. Tepatnya, wajah Kaisar Agung Bai. Meski hanya garis besar, tapi siapapun dapat melihat gambar apa itu.
Perempuan yang menjadi pelaku gambarnya tak bisa menahan senyum puas melihat hasil karyanya atau bisa dikatakan, kertas gambar itu adalah karya kesekian yang dimilikinya dengan objek gambar yang sama.
Bisa menduga apa namanya itu bila sudah demikian?
__ADS_1
Anggaplah kita satu pemikiran. Hehe...
Tak ada suara apapun yang menggema di ruangan tersebut selain suara goresan kuas dan tak ada nafas lain disana selain nafas perempuan itu. Pemilik ruang.
Seandainya ada orang lain disana, orang tersebut dapat melihat banyaknya kertas lukisan yang di pajang disana dalam berbagai ukuran. Mulai dari dinding hingga digantung ditengah-tengah ruangan dan membiarkan angin lembut yang masuk melalui ventilasi mengayunkannya.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati momen yang paling dia suka, sesuatu mengganggunya hingga gerakan tangannya terhenti mendadak. Kepalanya lantas berputar dengan pandangan mata waspada bergerak menjelajahi ruangannya.
Aneh adalah perasaan yang ia rasakan saat ini. Sebab, beberapa detik lalu sepertinya dia merasakan kehadiran sesuatu, tapi di detik berikutnya perasaan itu hilang. Membuatnya bingung apakah harus yakin atau tidak pada perasaan singkat itu.
Tanpa tahu apa yang ada dipikirannya, yang pasti dia memilih kembali melanjutkan kegiatannya hingga tidak sadar sesuatu hadir dalam bayang-bayang dibelakangnya.
Diam disana seperti tengah mengawasi.
Setibanya dia kediaman Permaisuri Agung, Reychu dibawa masuk menuju aula pertemuan yang ada dikediaman itu oleh seorang kepala pelayan yang menunggunya didepan pintu menggantikan utusan tadi.
Begitu melangkahkan kakinya kedalam, Reychu dapat melihat sebuah kursi yang sedikit mirip singgasana berada di ujung ruangan berhadapan langsung pada pintu masuk. Disisi kiri dan kanannya terdapat kursi kecil berjejer beberapa yang bisa dipastikan bahwa itu diperuntukkan bagi para tamu.
Lagipula, dia tak terlalu peduli pada penataan ruang. Jadi, abaikan saja. Reychu hanya ingin langsung ke pemilik kediaman ini.
"Silakan duduk, Nona Ahn. Yang Mulia akan datang sebentar lagi." pernyataan kepala pelayan itu sukses membuat Reychu tertawa tanpa malu.
Merasa salut dengan keangkuhan ibundanya sang kekasih. Kalau Reychu tak salah ingat, bukankah tadi dia memintanya datang? Namun kini begitu sampai, yang mengundangnya justru entah dimana.
"Hahaha... Apa maksudmu itu, aku harus menunggu lagi? Ouh, calon ibu mertua. Betapa sukanya anda bermain-main. Tak apa, menurut riset, orang tua yang semakin tua memang suka semaunya. Jadi, mari kita tunggu tuan rumahnya." perkataan blak-blakan Reychu sukses membuat punggung pelayan itu kaku total.
Tapi, Reychu ini... Haih... Tak tahu harus berkata apa.
"Nona Ahn, tolong jaga lisan anda kalau tak mau mendapatkan hukuman. Ini kediaman Permaisuri Agung. Mohon patuhi aturannya." lugas kepala pelayan itu merasa tersinggung untuk tuannya.
Reychu hanya melirik main-main kearah kepala pelayan tersebut, lalu menjawab. "Kau tidak lupakan, siapa aku? Jadi, kepala pelayan. Ancaman mu sama sekali tidak berpengaruh pada ku."
Reychu bergerak duduk dengan santainya. "Sebenarnya, aku cukup menghargai keluarganya Bai Gikwang. Hanya saja, tak ada dari mereka yang mau menghargai ku. Jadi, mari lupakan soal hubungan keluarga kekasihku. Biarkan ibu itu menganggap ini seperti menjalin kasih tanpa meminta restu. Apa sebutan yang lebih enak untuk itu, ya..." Reychu sempat-sempatnya memikirkan hal itu sampai tak sadar kalau sosok yang dibicarakan sudah berdiri membeku beberapa langkah didekatnya.
Wajah sang ibunda Permaisuri Kaisar Agung Bai merah padam. Kebencian pun terlihat jelas dimatanya kala dia menatap Reychu yang baru saja mengucapkan serentetan kalimat yang tak kuasa ia dengar. Atau tepatnya dia merasa terhina dan terinjak harga dirinya. Gadis pilihan putranya benar-benar seorang pemberontak!
"Ehem!" dehemnya menyela cerocosan Reychu.
Mendengar itu, Reychu malah masih bisa santai menoleh menatap ibunda Permaisuri seperti tak merasa kalau dia baru saja dipergoki mengutarakan hal-hal yang menyinggung.
"Oh, hai. Calon ibu mertua. Selamat sore!" sapanya tak lupa lambaian tangan dengan lagak sok akrabnya.
"Aku bukan calon ibu mertua mu!"
Ibunda Permaisuri mendengus benci lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju singgasananya atau tempat duduknya. Lalu, duduk dengan penuh martabat disana.
"Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada putra ku hingga dia bisa jatuh cinta pada perempuan seperti mu. Benar-benar tidak bermoral sama sekali!" sarkasnya namun masih menjaga kewibawaan. Nadanya tidak keras, namun tegas.
"Hehehe... Ayolah, berhenti menanyakan pertanyaan yang aku tak punya jawabannya. Itu seharusnya anda tanyakan pada Gikwang, bukan padaku..."
__ADS_1
"Lancang! Beraninya kau menyebut Yang Mulia Kaisar Agung Bai langsung dengan namanya!" marah ibunda Permaisuri mendengar panggilan Reychu pada putranya yang menurutnya tak ada sopannya.
"Hahaha... Astaga... Kenapa anda yang marah...? Putra anda sendiri saja tak mempermasalahkannya. Dia bahkan tak peduli panggilan apa yang aku sematkan padanya. Karena dia bilang, dia suka semua panggilan yang aku berikan." jawab Reychu dengan entengnya untuk kesekian kali. Benar-benar sudah tak punya rasa takut.
Ibunda Permaisuri sudah kehilangan kata-kata, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam guna menenangkan dirinya dari ketidakmampuannya dalam menekan Reychu yang tampaknya sangat sulit untuk di tekan itu.
"Cukup. Kita sisihkan itu terlebih dahulu. Karena, ada yang lebih penting untuk dibahas disini. Alasan aku memanggilmu kemari." Ibunda Permaisuri kembali berbicara dengan penuh wibawa dan keanggunan.
Sementara, Reychu masih tetap pada dirinya sendiri. "Kalau begitu, silakan dikatakan. Aku akan mendengarkan."
"Apa kau yang menyebabkan keributan pagi ini?" tanya ibunda Permaisuri langsung ke intinya.
Memutar bola matanya seolah berpikir sesaat. "Oh. Soal mayat yang digantung di taman istana itu?"
"Ya!"
"Hihi... Anda ingin jawaban apa dariku, calon ibu mertua?"
Meski tak senang dipanggil demikian, tapi saat ini ia tak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk memperdebatkan soal panggilan. Mengingat kegilaan Reychu, sudap bisa ia tebak kalau panggilannya akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Jadi, biarkan saja setidaknya dia sudah menyakini dirinya sendiri bahwa dia bukan calon ibu mertuanya gadis itu, Reychu.
"Huh! Berhenti bermain-main, Nona Ahn!" geram sang ibunda Permaisuri pada tingkah Reychu.
Pelakunya malah terbahak melihat kekesalan ibunda Permaisuri pada dirinya.
Setelah selesai tertawa, barulah Reychu mengakui dengan gampangnya. "Ya, siapa lagi yang bisa melakukannya selain aku!" dia bahkan masih bisa bangga saat mengatakannya.
"Kau sungguh punya nyali!" sarkas ibunda Permaisuri.
"Terimakasih atas pujiannya. Tentu, itu harus. Kalau tidak, bagaimana bisa aku duduk disini bersama anda." diakhiri dengan senyuman jail yang malah tampak seperti senyum hinaan di mata ibunda Permaisuri.
Dengan geram Ibunda Permaisuri berseru tajam penuh peringatan. "Jangan lupa, Nona Ahn. Ini adalah Kerajaan Es. Ini adalah istana kerajaan tempat kau dibiarkan tinggal. Jangan berbuat semau mu! Apa hanya karena putra ku mencintaimu, lantas kau lupa daratan?! Apa kau pikir aku tak berani menghukum mu atas semua kekacauan yang kau perbuat?!" tanyanya menantang.
"Aku mampu!" lanjutnya.
Usai mendengar itu, raut wajah Reychu segera berubah datar dan serius. Auranya seketika menjadi berbeda. "Kalau begitu, bilang pada mereka yang teramat membenci ku untuk berhenti membuat masalah denganku. Sekaligus, minta mereka untuk datang langsung bila sangat ingin aku enyah, tanpa perlu menabur sampah yang hanya bisa merusak nama baikku!"
Segera Reychu bangkit dan berbalik pergi tanpa pamit meninggalkan ibunda Permaisuri yang termangu tak menyangka akan melihat perubahan sikap dari Reychu dan bingung mencerna apa yang baru saja dikatakan Reychu seraya menatap punggung tegap yang memancarkan kepercayaan diri tinggi itu kian menjauh dan menghilang dari balik pintu.
"Apa... Yang sebenarnya dia katakan? Tidak mungkin, 'kan...?!"
Ibunda Permaisuri segera menemukan sebuah kecurigaan dalam kalimat yang Reychu ucapkan. Bukannya tidak ingin percaya, akan tetapi sebagai wanita yang sudah hidup lama. Cukup tahu, bagaimana cara kerja dunia ini dalam hal persaingan.
Diapun terdiam memikirkan semua ini.
πππ
Alhamdulillah Thor bisa terus up sampe sekarang.
LeoveRa's jangan lupa dukungannya yaaaa....πππ
__ADS_1