3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SIAPA YANG BO KANG PILIH?


__ADS_3

Segerombolan burung melintas di langit kala matahari mulai tenggelam di ufuk barat yang menandakan kalau waktu akan berganti malam. Namun, cahaya senja saat itu masih dapat menerangi tanah lapang tersebut dengan sempurna. Membiarkan bayangan panjang terbentuk bagi setiap objek benda yang berdiri tegak dan itu termasuk beberapa orang yang berdiri ditengah-tengah tanah lapang tersebut.


Mereka tak lain adalah 3Ry dan keenam bodyguardnya.


Kesembilan orang itu berdiri di antara sejumlah pria yang terbaring berserakan di tanah lapang tersebut dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


Pria-pria itu tergeletak begitu saja tanpa memiliki tenaga lagi untuk bangkit, apalagi rasa sakit seperti menyerang seluruh tubuh. Sejujurnya ini memalukan sebab yang menyebabkan mereka seperti ini tak lain adalah 3 orang wanita. Tapi, apalah daya jika itu kebenarannya.


Sekian lama mereka hidup, baru kali ini mereka tahu kalau wanita juga bisa menjadi ganas dan kejam.


Mata mereka benar-benar dibuka lebar tentang tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


Akan tetapi, setidaknya ada yang mereka syukuri. Yaitu, ketiga wanita itu tidak membuat mereka mati. Saat ini selain terluka, mereka masih memiliki nafas dan detak jantung serta kesadaran dan rasa sakit sehingga mereka benar-benar yakin bila mereka masih hidup. Andaikan bisa menangis bahagia, saat ini juga mereka akan menangis bahagia. Karena bagaimanapun, sebrutal apapun mereka. Mereka masih takut untuk mati cepat.


Tak tahu saja mereka, di saat rasa syukur memenuhi hati mereka diluar itu hanya Reychu yang merasa tidak puas hingga membuat suasana hatinya amat buruk.


Beberapa saat sebelumnya, kala sepatu Rayan menyadarkannya dari haus darah, dia sempat linglung sebelum kembali sumringah melihat ada mangsa didepan mata. Sayangnya, baru sepersekian detik merasa senang Rayan langsung memberikan ultimatum yang mengerikan bagi Reychu, yaitu larangan membunuh. Apalagi kalau sudah bawa-bawa nama Ryura. Berakhir sudah semuanya, tidak ada peluang untuk membantah.


Dari sanalah kekesalan timbul dan berakhir melampiaskannya ke sekelompok gangster itu. Reychu buat semuanya babak belur tingkat ekstrim sampai semuanya terkapar tak berdaya. Itupun masih belum bisa membuat Reychu lega, dia masih tidak puas dan marah. Persis seperti seorang pria yang dipaksa untuk menahan gair*hnya kala dia benar-benar menginginkannya.


Plak! Plak! Plak!


Duk! Duk! Duk!


Tak! Tak! Tak!


Menghampiri satu persatu pria yang sudah tergeletak lemah dan dengan tak berperasaannya Reychu masih kembali memberikan mereka pukulan yang menghasilkan ringisan kesakitan namun diabaikan oleh Reychu. Perempuan itu malah mengomel.


"Masih hidup kau! Masih hidup! Kenapa tidak mati saja, sih! Mati sana! Mati! Biar aku senang! Kenapa pula masih hidup! Lihat kau sudah mengenaskan begini, lebih baik mati saja! Ayo, matilah! Kenapa malah melihat ku seperti itu! Mau ku cabut matamu! Kalian tahu, aku sedang kesal saat ini! Semua gara-gara pemerintah! Kenapa juga pembunuhan di ilegalkan?! Apa mereka tidak tahu kalau membunuh itu bisa memuaskan dahaga ku?! Kalian... Aku benar-benar gatal ingin membunuh kalian!"


Glek!


Kalimat panjang lebar dari Reychu yang disempurnakan dengan berbagai ekspresi protesnya mencengangkan semuanya, kecuali Rayan dan Ryura tentunya.


Tak bisa lagi dikatakan seperti apa respon mereka. Bahkan Bo Kang sekalipun yang selama ini merasa sudah cukup hebat. Tak pernah terbayangkan olehnya kalau kali ini dia akan sungguhan berhadapan langsung dengan sekelompok psikopat. Kenapa dia mengklaim semuanya sekaligus? Itu karena, dia merasa jika Reychu saja bisa dengan bebas mengutarakan keluh kesahnya tentang kegagalannya membunuh dan di tanggapi biasa saja oleh dua lainnya. Itu cukup untuk membuatnya berpikir kalau tidak menutup kemungkinan dua lainnya sama seperti Reychu.


Dan, tebakannya benar sekali.


Meskipun dia tidak bisa menebak siapa yang paling mengerikan dari ketiga wanita itu.

__ADS_1


Perasaan terkejut juga tidak luput dari keenam bodyguard yang ikut tercengang disana. Tak hanya tercengang oleh aksi Nyonya majikannya, tapi kini juga tercengang dengan rentetan kalimat yang diucapkan Reychu dengan gamblangnya dan tanpa takut ada yang mendengarnya. Mana pemerintah dibawa-bawa lagi.


Disamping ekspresi tercengang para pria, Rayan yang berdiri bersebelahan dengan Ryura dengan santainya memilin rambut sendiri sambil menunjukkan ekspresi jengah dan bosan. Ditatapnya Reychu yang terus mengomel karena aksi haus darahnya dihentikan. Sedang Ryura disebelahnya diam bak patung tanpa menunjukkan tanda-tanda apapun.


"Rey, bisa kau hentikan sekarang?! Mataku mau terbalik jika terus-terusan melihat tingkah mu itu dan jangan pura-pura bodoh. Kau nya saja yang gila, kenapa orang lain yang kena!" timpal Rayan mengomeli Reychu yang dibalas dengusan malas seolah membiarkan semua barisan kata itu melayang masuk melalui telinga kanan dan keluar dari telinga kirinya.


Melihat hari kian gelap, Ryura pun mengabaikan dua sahabatnya dan memilih langsung ke inti dari pertarungan ini.


Ryura menunduk mengarahkan matanya langsung ke Bo Kang yang sudah berada di posisi duduk meski tampaknya tidak berarti dia dalam keadaan baik. Terlihat dari bagaimana Bo Kang terengah-engah seraya sesekali meringis kesakitan.


"Beritahu dia, kalau kau berhasil melakukannya." kalimat yang tanpa diawali pembukaan itu menyentak Bo Kang hingga mendongak guna balas menatap Ryura yang ekspresinya datar.


"...?..." Bo Kang bingung dan was-was. Dia memilih diam meski mulai paham kearah mana kalimat singkat itu di ucapkan.


Akan tetapi, dia tak tahu kalau saat ini Ryura juga mulai menunjukkan rasa tak sabarnya, terlihat dari kernyitan yang terbentuk meski samar. Yang pasti, mereka yang mengenal ekspresi datarnya akan mudah menangkap perubahan itu.


Tanpa peduli apakah Bo Kang paham atau tidak dan patuh atau tidak, Ryura masih memiliki cara untuk membuat pria gangster ini patuh padanya.


Jadilah, Ryura melanjutkan lagi kalimatnya yang tersisa. "Bawa dia ke gedung terbengkalai yang tidak jauh dari sini. Pastikan dia datang... Jangan melawan disaat nyawa kalian menjadi taruhannya." setelah mengatakan kalimat tersebut dengan hawa mengancam yang jelas. Tak lupa sengaja menyebut kata 'kalian' guna menegaskan kalau yang nyawanya terancam tidak hanya Bo Kang, tapi juga anak buahnya.


Dan seperti yang diharapkan, kening Bo Kang berkerut memikirkan tingkat keburukan dari kemungkinan yang akan terjadi jika dia memilih kabur atau melaksanakan perintah.


Disaat itu, Ryura berbalik dan pergi meninggalkan kekacauan yang mereka buat tanpa ragu serta tidak takut kalau Bo Kang akan menyeleweng dari perintahnya.


Para bodyguard juga, melihat majikannya satu persatu beranjak pergi. Keenam bodyguard itu juga pergi mengikuti.


Hingga akhirnya, tanah lapang itu hanya menyisakan Bo Kang dan anak buahnya saja. Bo Kang terdiam seraya memandangi senja yang perlahan menghilang.


Tapi, paling tidak telinganya tidak ia tutup karena perlu mendengar satu persatu pendapat bawahannya.


Bukankah dia sudah bisa menjadi atasan yang baik dengan kebiasaannya mendengarkan masukan dari orang lain meskipun itu hanyalah bawahan. Setidaknya dia sadar kalau tidak akan ada atasan kalau bawahannya tidak ada.


"Bos, dengarkan saja maunya dia. Kami bukan bermaksud apa-apa. Tapi, setidaknya lihatlah keadaan kami. Biaya pengobatannya pasti tidak sedikit. Apalagi, perempuan satunya tampaknya rada gila. Bos tidak tahu seperti apa rasanya di hajar olehnya. Sangat menyakitkan, Bos...!" salah satu anak buahnya memberanikan diri untuk membujuk Bo Kang agar lebih mengasihani anak buahnya daripada mengutamakan permintaan Meng Ruona.


Bo Kang masih diam seraya menatap mobil 3Ry yang kian menjauh. Benar-benar mobil mahal-hal-hal, suara mesinnya bahkan nyaris tak terdengar. Sangat halus.


"Benar, Bos! Tolonglah kami!"


"Iya, Bos! Tolong kami!"

__ADS_1


"Iya, Bos!"


"...!!!" dan seterusnya.


Semua anak buahnya bersatu untuk membujuk Bo Kang. Pria itu sendiri bukannya tidak mempertimbangkan, hanya saja sedang berpikir.


Bila pria itu bekerjasama, akankah dia bisa lepas dari kengerian 3 wanita itu? Atau bila dia kukuh membantu Meng Ruona yang sebenarnya dia tak berniat membantu dan hanya ingin bersenang-senang saja dengan mantan wanita yang pernah dia sukai itu, apakah akan sepadan dengan keganasan para istri dari pria berkedudukan tinggi itu yang mungkin akan dia dapatkan?


Bo Kang diam-diam mengambil keputusan.



Dirumah Meng Ruona, tepatnya didalam kamar.


Meng Ruona tampak mondar-mandir dengan tidak sabar seraya beberapa kali melihat ponsel pintar yang dipegangnya, berharap ada telpon yang sudah dia nanti-nantikan masuk.


Tentunya, telpon dari Bo Kang.


Malam telah datang, akan tetapi berita terbaru dari Bo Kang belum juga tiba. Meng Ruona sampai merasakan telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdetak tak karuan karena gugup, dan ekspresinya terlihat jelas bila dia sangat gelisah dan tak sabar menanti kabar dari Bo Kang.


"Kemana dia...!" gregetnya. "Masa iya, sampai sekarang tidak ada perkembangan apapun! Seharusnya, Bo Kang sudah selesai menangani wanita itu. Tapi, kenapa belum ada kabar juga?! Dia tidak melarikan diri karena tadi aku sempat terlalu menuntutnya 'kan? Semoga tidak! Ini harus berhasil! Atau aku tidak akan memiliki kesempatan lain lagi!" otak Meng Ruona penuh dengan rencana dan cara-cara mendapatkan Ye Huan sampai dia tidak menyadari betapa mengerikannya dia saat ini.


Mirip seperti seseorang yang sedang terobsesi akan sesuatu hingga mencari segala macam cara untuk mendapatkannya.


"Aku juga tidak bisa lagi mengikuti jadwal kerjanya. Tidak ada celah untuk aku masuki. Dia benar-benar seorang workaholic. Tapi, bukankah itu pesonanya?" tiba-tiba dia tersenyum aneh.


"Rambut putihnya yang panjang... Auranya yang dingin... Sorot matanya yang tajam dan terasing... Suaranya yang terdengar seksi... Tubuhnya yang tinggi dan menggoda... Aaaaahhh!"


Bruk!


Dia tiba-tiba membanting tubuhnya sendiri ke ranjang dalam posisi tengkurap. Lalu, menarik bantal untuk menjadi penyangga dagunya. Kelakuannya persis seperti gadis remaja yang sedang kasmaran. Bahkan nafasnya sampai terengah-engah tidak jelas.


"Ye Huan... Sebentar lagi... Sebentar lagi... Aku akan memberikan mu cinta yang sebenarnya. Karena hanya aku yang bisa memberikan cinta sempurna itu padamu! Hanya aku!" gumamnya penuh makna.


Sinar di matanya penuh tekad. Jelas, ia tidak akan melepaskan Ye Huan begitu saja. Perilakunya yang seperti ini membuatnya tampak seolah telah lupa kalau Ye Huan tidak akan mencintai wanita lain selain Ryura.


Segera fantasinya buyar begitu dering telepon berbunyi nyaring sampai menyentak lamunannya. Seketika, Meng Ruona tersadar dan koneksi otaknya langsung mengingatkan dia tentang telpon yang ditunggunya.


Tanpa melihat siapa yang menelepon, Meng Ruona langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo!"



__ADS_2