
Pasangan kekasih -Reychu dan Kaisar Agung Bai- sedang berjalan beriringan meninggalkan tempat yang riuh itu bersama antek-anteknya Kaisar Agung Bai mengikuti dari belakang.
Sebenarnya masih tampak jelas kalau orang-orang dibelakang pasangan itu belum bisa menerima Reychu sebagai calon junjungan mereka. Bisa dikatakan, mereka keberatan bila Reychu sampai menduduki tahta disisi Yang Mulia mereka dengan sosoknya yang seperti itu.
Akan tetapi, mereka tahu suara mereka tak akan didengar. Jadi, mereka hanya bisa menelan keengganan itu mau tidak mau.
Dalam perjalanan kembali ke tempat kerja Kaisar Agung Bai, pasangan itu bertemu para pangeran dan putri ditengah jalan. Yang mana mereka hendak menuju ketempat keributan pagi ini terjadi.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Kaisar Agung Bai dan Nona Ahn." sapa beberapa dari mereka dengan nada berat kala menyebutkan nama terakhir.
Reychu yang mendengar kelainan itu terkekeh pelan, seru melihat ketidakberdayaan dan kepura-puraan orang-orang ini.
Kaisar Agung Bai mengangguk menerima sapaan mereka. "Ada apa kalian ramai-ramai disini?" tanyanya basa-basi dengan nada datar yang berbeda bila berbicara dengan Reychu.
"Yang Mulia kakak Kaisar Agung, kami disini sedang menuju taman istana. Kudengar, ada keributan yang terjadi disana. Apa kakak Kaisar Agung baru saja dari sana?" tanya pangeran paling muda, Bai Yi Wang dengan nada kekanak-kanakannya.
Sambil mengusap puncak kepala adik kecilnya, Kaisar Agung Bai menjawab santai. "Hm. Aku habis dari sana dan akan segera kembali."
Bai Yi Wang mengangguk paham dengan ekspresi menggemaskannya. "Begitu..."
"Kakak Kaisar Agung, aku mendengar kalau keributan itu terjadi sebab ada mayat yang digantung di pohon tua yang ada disana. Apa kakak Kaisar Agung tidak berniat mengusutnya? Hal seperti ini baru pertama kali terjadi." kini Bai Fuwang yang bertanya.
"Aku sudah membiarkan Reychan menyelidikinya." jawab sang kakak tanpa perubahan suara.
"Menurut kakak Kaisar Agung, apa yang membuat hal ini terjadi?" dia bertanya pada Kaisar Agung Bai namun ekor matanya mengarah pada Reychu. Seolah-olah bisa menebak siapa penyebab sebenarnya.
Bai Min Wang terkekeh kecil mendengar itu. Cukup tahu, apa yang sedang kakak keduanya tengah lakukan. Ternyata, kekehannya berhasil mendatangkan peringatan dari sang istri yang berdiri disebelahnya. Sebuah senggolan dilayangkan Wen Shiming pada lengan kokoh suaminya agar tidak memulai keributan baru.
"Iya, istriku." bisik Bai Min Wang pada istrinya. Sepertinya tahu, kalau Wen Shiming tidak suka dia menimbulkan ketidaknyamanan seperti sebelumnya. Karena, tahu kalau dia memihak pada pasangan itu.
"Hanya permainan anak-anak yang iri hati." jawabannya singkat dan tak terduga. Membuat yang mendengarnya -kecuali Reychu- bungkam dan salah seorang dibarisan paling belakang tanpa sadar mengepalkan tangannya dari balik lengan hanfunya.
"Kakak Kaisar Agung pasti bercanda. Ini terlihat cukup serius." dia berbicara seperti ingin memancing kakaknya agar dapat tersadarkan bahwa siapa yang harus disalahkan dalam hal ini.
Baru saja Kaisar Agung Bai akan menjawab, Reychu sudah lebih dulu menyela. Alhasil, Kaisar Agung Bai diam dan memilih mendengarkan apa yang ingin kekasihnya katakan.
"Yang Mulia Pangeran kedua Bai. Jangan mendesak pria ku. Lagipula dia sudah mengatakan yang sebenarnya." delikan langsung Reychu terima begitu kalimatnya selesai.
"Maaf Nona Ahn, tapi aku tidak sedang berbicara denganmu." kata Bai Fu Wang jelas menahan diri agar tidak kasar sebab ada kakaknya disana.
__ADS_1
"Benar! Nona Ahn, tolong bersikaplah dengan benar!" timpal Bai Ning Wei saat ketidaksukaannya terpancing oleh kelakuan Reychu.
"Hehehe... Aku tahu. Hanya saja, aku lelah bermain petak umpet dengan kalian yang tidak menyukaiku. Bermodalkan pertahanan diri, kalian rela menggunakan topeng hanya agar tidak menyinggung kakak kalian ini atau bisa jadi, kalian merasa tidak mau kehilangan harga diri kalau ketahuan oleh ku karena membenci ku. Padahal, aku sudah bilang padanya -Kaisar Agung Bai- untuk menyerahkan semuanya padaku. Kalian tidak perlu takut untuk menunjukkan permusuhan kalian padaku. Sekalipun dia..." sambil menepuk-nepuk santai dada bidang Kaisar Agung Bai dengan punggung tangannya. "... Tidak senang atau bahkan marah. Aku jamin dia tak akan melakukan apapun. Sebab, kalian yang memusuhi ku artinya siap menjadi objek mainan ku. Hehehe..." kekehnya sama sekali tak peduli dengan perubahan ekspresi di wajah-wajah didepannya ini.
Kaisar Agung Bai hanya menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya sudah mulai berulah. Namun, tak berniat menghentikannya. Keduanya sudah membahas hal ini sebelumnya dan diantara mereka sudah saling menguatkan kepercayaan. Jadi, Kaisar Agung Bai hanya akan bersiaga di belakang kekasihnya. Bagaimanapun, Reychu itu termasuk gadis yang kuat. Bukan tipikal lemah dan bergantung pada orang lain.
Jadi, serahkan saja padanya.
Hal ini dia lakukan juga bukan karena tidak menyayangi saudara dan saudarinya, hanya saja dia ingin adik-adiknya dapat melihat bahwa pilihannya tidak salah. Lagipula, membiarkan Reychu melakukan yang mau dia lakukan kepada adik-adiknya juga karena dia yakin Reychu tak akan menyakiti keluarganya.
Sudah terbukti dari selama ini dia tidak mengusik keluarga kerajaannya.
Sedang, Bai Min Wang si Pangeran ketiga malah menunjukkan ekspresi tertarik hingga sebelah alisnya terangkat. Kegamblangan kekasih kakak Kaisar Agung Bai-nya dalam berbicara benar-benar membuat dia ingin memberikan semua jempol yang dia punya. Dia kagum pada gadis yang berkemungkinan akan kakaknya jadikan permaisurinya itu.
Begitu berani dan pantang mundur.
Selain Bai Min Wang beserta istri dan Bai Ning Xia, yang lainnya langsung menggerakkan gigi mereka karena kesal dengan Reychu. Belum lagi ketidakmampuan mereka untuk membalas kata-kata Reychu yang memuakkan itu.
"Mohon maaf, kakak Kaisar Agung dan Nona Ahn. Kami telah mengganggu perjalanan kalian. Kami mohon izin untuk melanjutkan kembali tujuan kami." sela Bai Ning Xia bermaksud memadamkan percikan api yang disulut oleh Reychu.
Mendengar itu, Kaisar Agung Bai setuju tanpa pikir panjang. Menurutnya, begitu lebih baik.
"Hm... Silahkan!"
Dalam perjalanan menuju taman istana, Bai Ning Wei mulai menggerutu melampiaskan kebencian yang tak kesampaian terhadap Reychu disepanjang jalan.
"Kakak Kaisar Agung sudah berubah! Lihat saja! Dia membiarkan gadis itu berkata seenaknya! Apa yang sebenarnya disukai kakak Kaisar pada perempuan seperti itu?! Huh!"
"Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri. Kenapa kau tidak menyukainya? Menurut ku, dia tidak buruk. Dia hanya bersikap bebas dan apa adanya. Sama sekali tidak membuat kerusuhan seperti yang kalian selalu katakan. Justru, ketidaksukaan orang-orang padanya yang membuatnya harus membereskan hal-hal itu." tutur Bai Min Wang.
"Kakak ketiga! Berhenti membelanya! Sudah cukup kau berpihak padanya sejak awal. Tapi, jangan lupa... Dia bukan siapa-siapa mu daripada kami yang jelas saudara mu!" sembur Bai Ning Wei tak terima.
"Haih. Susah bicara dengan anak kecil. Ayo, istri ku. Kita tinggalkan saja mereka. Permisi semuanya. Aku akan pergi lebih dulu." lalu ia menarik istrinya pergi tanpa menoleh lagi.
Tidak ada lagi perbincangan usai itu. Yang lainnya pun memilih menyusul saudara ketiga mereka daripada memperkeruh suasana dengan membahas orang yang tidak mereka sukai itu. Dibelakang, Bai Ning Xia hanya menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat situasi ini.
Kabar itu dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga kedua orang tua Kaisar Agung Bai. Tak hanya kabar mayat yang digantung di pohon tua, tapi desas-desus yang mengatakan kalau mayat itu ada kaitannya dengan Reychu pun tak terelakkan untuk sampai di pendengarannya.
__ADS_1
Mereka yang sudah tidak senang dengan sosok Reychu menjadi semakin tidak senang mendengar kabar itu. Oleh sebab itu, keduanya sepakat untuk memanggil Reychu agar segera menghadap mereka tanpa memberitahukan kepada Kaisar Agung Bai. Sebab, mereka tahu posisi Reychu dihati putranya.
Di sisi lain istana, ditaman Harem tepatnya. Sekumpulan wanita paruh baya yang sebenarnya belum terbilang tua, karena kisaran usianya yang masih di putaran 30an keatas.
Mereka adalah para selir dari Kaisar Agung Bai sebelumnya.
"Situasi belakangan ini tidak begitu baik." ujar selir pertama.
Selir kedua menyesap teh sejenak sebelum ikut menimpali. "Itu hal yang wajar. Seorang gadis tiba-tiba muncul dan diakui sebagai kekasih Yang Mulia. Dia bahkan memiliki jaminan kebebasan lebih dari siapapun yang ada di istana ini. Siapa yang bisa menyukainya?!"
"Kau salah. Alasan itu bukan yang utama. Menurut yang kudengar. Gadis itu memiliki latar belakang yang tidak menyenangkan. Sebagai seorang ibu. Permaisuri tentu tak mungkin tinggal diam." sahut Selir ketiga.
"Ya, benar. Aku juga pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan Yang Mulia pensiunan Kaisar Agung dan Permaisuri, kalau sebenarnya mereka sudah berniat menjodohkan Yang Mulia dengan keponakan kesayangannya Yang Mulia pensiunan Kaisar Agung." seru Selir pertama kala sesuatu terlintas dibenaknya.
"Lu Xiu Chu maksud mu? Benarkah?" tanya Selir ketiga ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
Selir pertama mengangguk membenarkan. "Kuharap aku tidak salah dengar. Jadi, kalian jangan asal bicara kedepannya. Bagaimanapun ini belum diumumkan."
"Kami mengerti. Jadi, tak perlu khawatir. Kami tahu apa yang harus dan tidak untuk dilakukan." kata Selir ketiga yang diangguki oleh Selir kedua.
"Oh ya. Kabar menggemparkan pagi ini sudah kalian dengar?" tanya Selir kedua menarik topik baru yang tersebar beberapa jam sebelumnya.
"Sudah. Pelayan ku bilang. Seseorang menggantung mayat orang itu karena sudah berani mengganggunya." terang Selir pertama tidak begitu tertarik.
"Benar. Aku juga ada mendengar tentang itu. Tapi, yang paling banyak dirumorkan adalah kalau mayat yang digantung itu ada kaitannya dengan gadis bermarga Ahn itu." jelas Selir ketiga.
"Benarkah?" dua selir lainnya serempak yang diangguki oleh Selir ketiga.
"Hm. Karena itu, kabarnya Permaisuri mengundang gadis itu ke kediamannya disebabkan oleh hal ini." kata Selir ketiga lagi.
"Sepertinya situasi akan semakin memanas. Soalnya, menurut rumor... Gadis itu bukan tipikal gadis yang patuh. Dia memiliki mulut yang tajam saat berbicara. Tak punya tata krama dan... Gila! Tapi, aku belum pernah bertemu dengannya secara pribadi. Jadi, tidak tahu apakah rumor itu benar atau tidak." kata Selir kedua.
"Berdoa saja. Semoga kita memiliki kesempatan untuk melihatnya nanti di kediaman permaisuri." harap Selir pertama.
"Semoga saja." kompak dua lainnya.
Kemudian pembicaraan mereka lanjut kebanyak topik sembari mengisi waktu kosong.
__ADS_1
maaf lama say.
silahkan membaca...