
Hari ini semuanya tampak sibuk. Para pelayan terlihat berlalu-lalang kesana kemari tanpa henti bahkan jauh lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya.
Sejak matahari belum menampakkan diri, kesibukan telah terjadi. Lebih tepatnya, semua kesibukan itu tengah meramaikan suasana di lapangan Pengadilan Kerajaan Huoli.
Tempat tersebut adalah tempat dimana hukuman berat yang di turunkan Pengadilan Kerajaan dilaksanakan. Salah satunya eksekusi mati.
Tak hanya ditempat itu saja yang sibuk, di luar Istana Kerajaan Huoli pun tak kalah sibuk. Para rakyat tengah disibukkan dengan kehebohan yang terjadi. Faktanya, kemarin siang menjelang sore beberapa prajurit utusan kerajaan mendatangi jalanan ibukota. Mereka datang membawa pesan yang tertulis di selebaran, dimana selebaran tersebut langsung ditempelkan di papan pengumuman yang bertebaran di jalanan ibukota. Begitu selebaran pengumuman itu terpasang, segera seluruh rakyat mengerumuninya untuk melihat ada pengumuman apa yang ingin disampaikan oleh Kaisar mereka.
Siapa yang menduga isinya akan begitu mengejutkan. Didalamnya tertulis bahwa akan ada eksekusi mati berlangsung esok hari, tepatnya pada awal siang hari.
Pengumuman itu tidak menyebutkan siapa yang hendak di jatuhi hukuman mati, tapi seperti yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Bahwa setiap hukuman yang di lakukan adalah hukuman mati, maka sudah dipastikan kalau orang yang bersalah telah melakukan kesalahan yang amat fatal.
Dan sebagai rakyat, mendapati hal tersebut bukanlah menjadikan mereka mengalami rasa takut. Justru, mereka merasa penasaran... Siapa yang telah melakukan kesalahan fatal itu hingga harus di eksekusi mati dan siapa dia sehingga Kaisar membuka acara eksekusi itu secara umum dan terbuka?!
Karena itulah, rakyat tentu tak ingin ketinggalan.
"Aneh! Kita tidak pernah mendengar ada masalah. Lalu, kenapa tiba-tiba ada yang akan di eksekusi?"
"Bod*h! Kenapa repot-repot berpikir... Siapapun bisa menebak, yang artinya pelaku itu melakukan kesalahan didalam benteng Istana Kerajaan. Kita semua tentu tahu, apa yang terjadi di dalam istana tak pernah terdengar keluar. Kecuali, itu cukup penting untuk dijadikan pembelajaran."
"Aku penasaran... Kira-kira siapa yang akan di hukum mati?"
"Apa kesalahannya, sampai harus di hukum mati, ya?"
"Daripada penasaran, kita datang saja besok. Kita akan melihatnya secara langsung, siapa yang akan di hukum mati."
"Benar-benar malang orang itu!"
Begitulah sekiranya yang di katakan segelintir orang di ibukota setelah membaca pengumuman tersebut.
Kini, tepatnya hari ini. Rakyat-rakyat itu mulai mempersiapkan diri untuk mendatangi istana, tepatnya mendatangi lapangan Pengadilan Kerajaan Huoli yang akan dibuka saat waktunya tiba.
Disebuah kamar megah yang berbalut warna emas bercampur merah sebagai simbol dari warna bara api yang menyala. Di dekat jendela yang terbuka, ada sesosok yang gagah dan berparas rupawan tengah berdiri tegap sambil memandang keluar jendela dalam keheningan. Tak sedikitpun ia mengeluarkan suara selain deru nafasnya yang teratur.
Tidak ada kesedihan, tidak ada kegelisahan, tidak ada kekecewaan, juga tidak ada perasaan kacau dari dirinya yang mungkin akan mengusik ketenangan jiwa sosok pria tampan itu.
Tapi, perlu diketahui bahwasanya itu tak bisa dikatakan kalau ia benar-benar tenang. Tepatnya, ia begitu karena terlalu terluka.
Sorot matanya dingin tak terbaca, begitu pula dengan hawa yang berasal dari sekelilingnya. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukan pria tampan itu di detik berikutnya, karena kini dia menjadi sangat sulit ditebak.
"Salam hormat hamba kepada Yang Mulia Kaisar Li! Hamba datang untuk melapor!" tiba-tiba seseorang berseru dari belakang tubuh pria yang dipanggil Kaisar Li.
Benar! Dia memang Kaisar Li Hanzue yang kemarin baru saja patah hati. Bukan hanya patah sekali, melainkan dua kali.
Patah hati, karena selirnya dan patah hati, karena adiknya. Dua orang yang amat ia cintai selain Permaisuri Ahn Reychu.
Melirik sekilas walau tak tepat pada sosok pengawal bayangannya, karena ia membelakanginya.
"Hm." dehemnya dingin tanpa mau repot-repot memerintahkan agar bawahannya mengatakan apa yang ingin dilaporkan.
Sebagai seorang yang paling dekat, tentu sang pengawal bayangan itu mengetahui apa yang diinginkan tuannya tanpa perlu diperintah.
Masih dengan menunduk hormat. "Segala sesuatu yang di butuhkan untuk acara siang ini telah selesai di siapkan. Mereka tinggal menunggu perintah dari anda, Yang Mulia!" lugasnya tanpa bertele-tele.
Menghela nafas ringan. "Apa yang dilakukan Ahn Reychu?" bukannya menjawab, Kaisar Li justru mengajukan pertanyaan lain. Tampaknya, ia tak perlu mengurusi persiapan tersebut. Karena sesungguhnya, tanpa persiapan pun ia tetap akan mengakhiri mereka yang mengkhianatinya.
Dan ya, pria tampan itu merindukan Permaisurinya. Akan tetapi...
"Nona Ahn telah selesai berkemas, Yang Mulia..." jeda pengawal bayangan itu seperti tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Kaisar Li yang menyadarinya pun memberi izin. "Katakanlah!"
"Nona Ahn mengetahui keberadaan kami. Pengawal bayangan yang Yang Mulia utus untuk mengawasi Nona Ahn mengatakan kalau Nona mengetahui keberadaan dirinya, sehingga Nona Ahn meminta pengawal bayangan itu menyampaikan pesannya secara lisan." tuturnya segera setelah mendapat izin.
Kilat matanya bereaksi. Tampak ada harapan didalamnya. "Apa isi pesannya?"
"Beliau mengatakan bahwa, Nona Ahn akan menyaksikan eksekusi tersebut sekaligus ingin mendengar Yang Mulia mengumumkan dekrit yang beliau minta usai eksekusi selesai dilakukan. Karena setelahnya, Nona Ahn akan langsung pergi meninggalkan Kerajaan Huoli Negara Api ini. Beliau bilang, ia tak ingin perubahan apapun." tuntasnya dengan sedikit bergetar. Bagaimanapun, ini bukanlah pesan yang mudah untuk disampaikan terlebih secara lisan. Dia sebagai bawahan harus sangat hati-hati menyampaikan pesan lisan itu dengan memastikan agar setiap kata yang ia dengar dari si pengirim pesan tidak berubah sedikitpun.
Apalagi, mengingat pesan itu bahkan tidak ia dengar langsung dari Permaisuri Ahn. Ouh... Tidak lagi Permaisuri...
Kaisar Li hanya diam usai mendengar pesan lisan yang disampaikan bawahannya. Perlahan iapun menoleh kearah meja di sisi kirinya, dimana tepat diatas meja tersebut terdapat gulungan merah seperti gulungan upeti. Dan pada gulungan itu pula ia menatap dalam.
Gulungan yang akan merubah segalanya...
"Haah... Kau sungguh tak ingin memberiku kesempatan, Ahn Reychu... Haruskah aku benar-benar mengumumkannya di hadapan rakyat ku... Kemudian, aku akan di anggap Kaisar yang bodoh karena gagal menjaga apa yang seharusnya ia jaga?" gumam batinnya tersiksa pada pilihan yang sulit menurutnya.
Ya, gulungan merah itu adalah dekrit perceraian yang telah pria itu buat tadi malam. Tentunya, dengan segala pertimbangan dan kebimbangan. Itu pula yang menjadikan alasan mengapa pengawal pribadi bayangannya tidak lagi menyebutnya Permaisuri melainkan hanya Nona.
Meski jujur saja, Kaisar Li tidak mau mendengar perubahan panggilan tersebut. Akan tetapi, ia tak punya pilihan.
"Akhirnya..." ujaran bernada lega itu keluar dari bibir Reychu yang tampak jelas rona wajahnya yang sangat tidak sabaran lagi untuk segera bergegas pergi dari Istana Kerajaan Huoli.
Yang lainnya -Ryura, Rayan, Ruobin, dan Chi-chi- hanya diam tak menanggapi keantuasme nya Reychu akan keberangkatan mereka yang tidak lama lagi itu.
"Kau yakin Kaisar Li akan mengabulkan permintaan mu?" tanya Rayan agak ragu pada Reychu sambil memandang Ruobin mengambil alih bungkusan barang mereka yang akan dibawa.
"He'em. Kenapa tidak?! Dia juga tak punya pilihan. Lagipula, Ibu Suri juga pasti akan membantu. Wanita itu tak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang ia ketahui tentang menantunya ini." jawabnya seraya bersantai di kursinya usai berkemas.
"Baguslah kalau begitu." angguk Rayan menanggapinya. "Kalau semuanya berjalan lancar. Sesuai kesepakatan bersama... Kita akan langsung meninggalkan negara ini setelah dekrit itu di bacakan." tukas Rayan mengingatkan.
"Haaah... Aku sudah sangat tidak sabar!" semangat Reychu dengan ketidaksabarannya.
Reychu hanya terkekeh seraya melirik Rayan dengan tatapan mengejek. "Lantas, apa masalahnya?! Ryura atau bukan yang diajak, kita tetap akan pergi! Hanya saja, dengan ajakan pria tua itu kita jadi punya tujuan untuk pergi." menoleh ke arah Ryura yang diam dalam ketenangannya. "Benarkan, Ryu?"
Yang ditanya hanya mengangguk sekali. Entah itu menjadi sebuah jawaban atau hanya karena malas menanggapi. Yang pasti begitulah penampakannya.
"Lihat Ryura saja setuju!" bangganya.
"Huh!" dengus Rayan kesal, kemudian membuang mukanya lantaran tak ingin melihat wajah Reychu yang sukses membuat dirinya kesal tak tertahankan.
Ruobin yang berada tepat di sampingnya, mengulas senyum tipis dibalik topengnya seraya mengelus punggung sahabat manusianya agar kembali tenang.
"Abaikan dia. Kalian tidak akan selesai kalau tidak ada yang mau mengalah." bijak Ruobin yang dirajuki oleh Rayan akibat masih tersisa kekesalannya terhadap Reychu.
Suasana di sekeliling mereka cukup baik. Berbeda dengan diluar sana yang meski cuacanya cerah dan sangat mendukung hawa yang tersebar tidak secerah cuacanya. Aura di istana kian memanas seiring waktu mendekati saat-saat yang paling dinantikan.
Prak!
Sebuah nampan berisi empat mangkuk nasi tanpa lauk yang tiga diantaranya di serahkan dengan agak kasar hingga menimbulkan bunyi.
Bunyi itu juga yang menyentak ketiga orang yang ada di sel tahanan, siapa lagi kalau bukan ketiga Gong. Ayah, anak laki-laki, dan anak perempuannya.
Menatap sinis kearah penjaga yang melakukan hal itu. "Apa kau tidak bisa lebih sopan lagi? Kau tahu siapa yang tengah berada dihadapan mu? Lancang sekali kau ini!" marah Gong Duyoung tak terima diperlakukan tidak sopan seperti itu. Sedang penjaga yang melakukannya hanya mendengus jijik melihat ayah dan dua anak itu.
"Masih bisa sombong? Cih! Lucu sekali!" jijiknya.
"'Ah... Kau seperti tidak paham saja. Wajar kalau mereka masih bisa sombong, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini. Kenapa kau harus repot-repot berdebat dengan mereka?! Buang-buang waktu saja!" celetuk penjaga lainnnya yang baru saja lewat dan tidak sengaja mendengar percakapan penjaga pembawa makanan itu dengan Gong Duyoung.
__ADS_1
"Ya, kau benar!" kata penjaga satunya membenarkan.
"Apa-apaan ini?" pekik Gong Dahye kaget saat melihat makanan yang disajikan hanya berupa nasi tanpa ada lauk-pauknya. Kemudian menatap marah pada penjaga yang membawa makanan itu untuk mereka. "Ambil kembali! Kau pikir kami ini apa sampai makanan pun hanya nasi tanpa pendampingnya? Jangan lupa! Aku masihlah Selir Agung kesayangan Kaisar Li!" maki Gong Dahye yang sepertinya mulai jadi gila hingga tidak sadar bahwa kesalahan yang ia lakukan bisa melenyapkan semua yang dimilikinya.
Kedua penjaga itu saling pandang sebelum akhirnya tertawa keras bersama. Setelah dirasa puas, mereka kembali menatap jijik sekaligus geli kearah Gong Dahye. Cukup tahu siapa yang ada di hadapan mereka.
"Kau masih cukup punya nyali untuk mengaku kesayangannya Kaisar Li? Lalu, apa yang sedang kau lakukan disini, hah? Mencoba suasana baru?" usai berkata dengan nada meledek kedua penjaga itu kembali tertawa, menertawakan kemalangan wanita yang ada didalam sel tahanan itu.
"Diam, kalian! Atau akan aku robek mulut kotor kalian! Beraninya menghina adikku!" marah Gong Dahee pada akhirnya. Jelas ia tak terima adik dan ayahnya dihina seperti itu.
"Hahaha... Cuih! Kotor?! Siapa yang kotor, hah?!" sarkas penjaga yang sebelumnya membawa makanan.
"Apa yang kau katakan... Kenapa perlu bertanya... Sudah jelas bukan siapa yang kotor?!" hina penjaga yang akan lewat tadi. Mereka kembali tertawa. Entah apa yang terjadi sampai mereka cukup punya nyali untuk menghina Keluarga Gong dihadapan mereka. Mungkin karena mereka mengetahui apa yang sudah terjadi kemarin.
"Akan aku bunuh kalian!" desis Gong Dahee tak terima, ia sudah marah besar.
"Huh! Sebelum kau berpikir untuk membunuh kami... Kenapa tidak memikirkan tentang nyawamu, hah?! Apa kau tahu kenapa kami memberimu makanan walau hanya nasi?!" tanya penjaga itu dengan sinisnya, tatapan matanya jelas sekali merendahkan lawan bicaranya. "Itu karena, ini akan menjadi makanan terakhir kalian sebelum dijemput oleh Dewa Kematian. Apa kalian mengerti!" terangnya singkat. Lalu, penjaga itu pun segera beranjak untuk melakukan pekerjaannya yang membawa makanan terakhir kepada seorang pria yang sendirian di sel seberang.
Penjaga berbalik dan mengabaikan wajah pias dan pucat ayah dan dua anak itu begitu mendengar tentang kehidupan mereka yang sebentar lagi akan berakhir.
Tentu mereka paham maksudnya.
Prak!
Hal yang sama dilakukan oleh penjaga itu kala memberikan Pangeran Kedua Li Fang Ye makanan.
Pria itu segera mendongak tersentak kala bunyi benturan itu masuk kedalam telinganya. Dilihatnya sekilas mangkuk berisi nasi itu lalu beralih ke penjaga yang masih setia menunggu didepannya, dibalik jeruji kayu sebagai pembatas.
"Makanlah! Saya masih menghormati anda, Yang Mulia Pangeran Kedua. Meski jujur saja, saya terkejut mendengar anda sanggup melakukan hal hina itu dengan selir Kaisar dibelakang Kaisar Li. Padahal kita semua tahu apa yang paling Yang Mulia Kaisar Li benci." jujur penjaga itu mengungkapkan isi hatinya. Ia masih lebih sopan daripada saat berbicara dengan Keluarga Gong tadi.
Pangeran Kedua Li Fang Ye tersenyum miring menghina dirinya sendiri. "Kau benar! Tapi, terimakasih karena masih mau menghormati orang hina ini." katanya dengan sendu, tak lupa senyum tipis tak berdayanya terpatri.
Kedua penjaga itu hanya bisa menghela nafas, karena mereka tak bisa membantu apa-apa.
"Em... Apa... Apakah ini juga menjadi hari terakhir ku?" tanya Pangeran Kedua Li Fang Ye takut-takut saat ia ikut mendengar percakapan penjaga dan para Gong itu. Bagaimanapun yang paling ia takutkan bukan kematian, melainkan nasib istrinya seandainya ia harus dihukum mati.
"Kemungkinannya iya, Yang Mulia!" lugas penjaga itu memberikan informasi. Mereka tentu tahu tentang acara eksekusi mati yang akan berlangsung beberapa waktu lagi dan tentunya juga tahu siapa yang akan menjadi korban eksekusi nantinya.
Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian, ditatapnya wajah sang penjaga dengan raut memohon. "Bila benar begitu. Bisakah kalian membantu ku melakukan sesuatu?"
Kedua penjaga itu saling pandang mendengar permintaan Pangeran Kedua. Ragu melanda, takut mereka melakukan kesalahan.
Paham dengan keraguan hati mereka, Pangeran Kedua Li Fang Ye pun memperjelas maksudnya. "Jangan khawatir! Aku tidak meminta yang akan menyusahkan kalian. Aku hanya ingin kalian membawa istriku kesini. Aku sangat merindukannya. Aku ingin melihatnya, mendengar suaranya, memeluknya, menciumnya untuk terakhir kalinya. Bisakah?" senyum miris dan tak berdaya tak pudar dari bibirnya yang tampak pecah-pecah dan pucat. Permintaannya sungguh tulus dan amat memelas, seolah menyiratkan kalau tidak sekarang maka tidak akan ada lain waktu.
Bagaimana tidak?! Semalam hawanya sangat dingin hingga menusuk tulang. Tidak ada penghangat ruangan juga tidak ada pakaian hangat. Mungkin kalau ada istrinya ia masih bisa menghangatkan tubuh dengan memeluknya.
Lagi, kedua penjaga itu saling pandang. Kemudian, salah satunya angkat bicara. "Yang Mulia, Anda tahu ini akan sulit. Yang Mulia Kaisar, memerintahkan untuk tidak mengizinkan siapapun datang mengunjungi kalian. Tapi..." ada keraguan dalam nada terakhirnya, sambil melirik rekan kerjanya yang dibalas mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Saya akan mencobanya. Hanya saja, saya tidak janji bisa melakukannya." tukas penjaga itu yang sebenarnya ragu, namun disisi lain ia pun tak tega melihat betapa tersiksanya Pangeran Kedua Li Fang Ye atas rindunya pada sang istri. Ia sangat tahu seperti apa perasaan seperti itu, karena diapun sudah memiliki istri tercinta yang tidak bisa ia temui sesering mungkin dikarenakan pekerjaannya yang mengabdikan diri kepada negara.
Mendengar itu Pangeran Kedua Li Fang Ye tidak bisa menahan senyum bahagianya. Meski tahu kemungkinannya sangat kecil, tapi dia tidak akan melewatkan kesempatan kecil itu.
Dengan senyum merekah hingga bibir keringnya tampak seperti akan robek, ia berkata senang. "Terimakasih... Aku sangat berterimakasih pada mu..." sang penjaga hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, setelah itu ia dan rekannya pun pergi beranjak dari sana setelah memberi salam undur diri kepada Pangeran Kedua Li Fang Ye.
Hatinya membuncah akan rasa bahagia, membayangkan istrinya datang dan memeluknya hangat. Karena suasana hatinya yang menjadi baik, walau ia tahu peluangnya sangatlah kecil. Tanpa mau berpikir lebih jauh, di ambilnya mangkuk nasi itu dan langsung memakannya. Berpikir bahwa, ia butuh tenaga untuk bermesraan dengan sang istri nanti sebagai salam perpisahan darinya.
Memikirkan itu ia merasa sedih, tapi tak ingin memikirkannya lebih lanjut. Ia harus tampak baik-baik saja demi tidak membuat istrinya khawatir.
__ADS_1
tak lama lagi...
πππ