3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TATAPAN RINDU


__ADS_3

Kraus...


Kraus...


Kraus...


Seorang gadis dewasa berusia 27 tahun tengah duduk di sofa sambil menonton televisi, tak lupa ditangannya memiliki sekantong camilan yang selalu tersedia di salah satu lemari di dapur. Meski mulutnya tak henti-hentinya mengunyah, mata gadis itu tak berpindah sedikitpun dari layar televisi.


Saat ini ia tengah menonton serial kartun kesukaannya, Spongebob Squarepants. Sepertinya sebagian kegilaan Reychu dicontoh dari sana?


Dari arah lain, seorang gadis dewasa yang berbeda datang mendekat. Dia sudah berpenampilan rapi dan cantik. Saat matanya menatap gadis yang duduk di sofa dia tak bisa menahan kernyitan jijik di wajahnya. Itu semua tak lepas karena penampilan gadis di sofa tersebut. Kemudian sebuah sandal putih berbulu melayang mengenai belakang kepala gadis yang duduk di sofa sampai terkejut dan menoleh.


"Si*l! Kaget aku!" mengusap-usap kepalanya yang kena timpuk sambil menatap si pelaku. "Jangan galak-galak, Ray. Kau tak akan laku nanti." ujarnya santai yang malah memanaskan suasana.


Mendengar itu gadis yang di panggil 'Ray' berjalan lebih dekat dengan gelagat siap untuk membalas. "Kau bilang apa?"


Bruk!


Mendudukkan dirinya disebelah sahabatnya, lalu bersedekap dada dengan dagu terangkat jengkel pada sahabatnya ini. "Justru aku yang yakin kalau kau tak akan laku bila begini kelakukan mu. Bangun tidur bukannya bersihkan diri dulu, kau malah duduk disini dan makan. Dasar jorok! Ku tebak, kau bahkan tidak sikat gigi, kan?" sungutnya.


Mendengar pertanyaan yang lebih ke pernyataan itu, tanpa enggan gadis disofa menjawab dengan santai. "Tak apa. Biar sekalian kotornya."


Gadis 'Ray' alias Rayan mendengus jijik. "Dasar jorok! Ini juga..." jedanya sambil bergerak menunjuk-nunjuk kearah kacaunya penampilan sahabatnya.


"Ini! Ini! Ini! Apa ini?! Rambut tidak disisir! Piyama tidak di ganti sejak 4 hari yang lalu! Tunggu! Bukankah ini piyama yang kau pakai untuk pergi ke supermarket membeli camilan kemarin?! Si*lan! REYCHUUUUUUU...!!! KAU JOROK!!!" segera setelahnya Rayan bangkit dan menjauh dari Reychu sahabatnya dengan ekspresi jijik yang luar biasa.


Seperti belum terbiasa, Reychu yang melihatnya justru menjadi gatal untuk mengganggu sahabatnya itu.


Dia bangkit dengan ekspresi jailnya. "Begitu kah... Kalau begitu, mari kita jorok bersama." kemudian, terjadilah kejar-kejaran di sekitar ruangan.


Bahkan ada aksi lempar melempar bantal oleh Rayan yang tak mau didekati dan Reychu yang memaksa untuk menangkap Rayan. Suara makian dan umpatan tak pelak juga turut terdengar keluar dari bibir manis Rayan yang tak tahan dengan gangguan Reychu yang tampak sekali menikmati penderitaannya.


"Menjauh dariku!"


"Tidak. Kemarilah. Tak perlu takut aku tak akan melakukan apapun selain mengajakmu berjorok ria. Ayolah...!"


"Tidak! Reychu! Pergi kau! Dasar gila! Jijik tahu!"


Entah disadari keduanya atau tidak, dari arah pintu masuk ruang keluarga gadis yang pastinya menjadi Ryura berdiri diam menyaksikan kelakuan dua sahabatnya yang tak pernah absen membuat ricuh rumah mereka.


Karena sudah biasa, Ryura hanya berlalu begitu saja melewati dua lainnya untuk menuju dapur. Sama sekali tidak terganggu.


Reychu yang asik berusaha menangkap Rayan tak sadar kakinya menginjak salah satu tombol di remot tv hingga membuat channel TV nya berpindah dari tayangan kartun ke program berita.


Seketika ketiganya berhenti dan langsung menoleh serempak menatap televisi saat suara pembawa acara menyebutkan sesuatu yang menarik untuk mereka.


"... Kamera amatir warga menangkap tiga sosok yang beberapa tahun belakangan ini sering menghebohkan jagad dunia beberapa hari lalu. Dalam rekaman tersebut mereka tidak melakukan apapun selain mengunjungi salah satu restoran China yang ada di pinggir jalan xxx. Kabarnya, restoran lama itu menjadi favorit tiga pria yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya negeri kita. Itulah mengapa, ketiganya yang dijuluki 'Three Royal Nobles' tak pernah berhenti menjadi pusat perhatian. Dan berkat mereka juga, restoran lama tersebut kembali ramai oleh pengunjung..." seterusnya pembawa acara mengatakan apapun untuk tiga pria dalam rekaman tersebut sambil sesekali rekaman diputar ulang pada bagian ketiganya memasuki restoran China tersebut dan pada bagian mereka duduk diantara masyarakat biasa tanpa beban.


"Ckckck... Betapa kaya dan tampannya mereka!" kata Reychu dengan gaya khasnya, tampaknya dia tidak berfokus pada betapa pria-pria itu merakyat. "Kira-kira jika aku datang dan mengemis beberapa persen saham perusahaan tersebut, di kasih tidak?" lanturnya asal lagi.


Plak!


Ouch!


"Rayan kau memukulku lagi!" Rayan yang ditegur hanya mendengus.


"Tanyakan dirimu sendiri, kenapa suka sekali aku melayangkan pukulan padamu, hah? Dasar gila!" Rayan selalu kesal bila sudah menyangkut Reychu.


"Huh! Dasar galak!" ledek Reychu tak mengena dihatinya sama sekali atas umpatan yang sahabatnya berikan.


"Huh! Dasar gila!"


Merasa mati kata, Rayan hanya menggerakkan tangannya guna mengacak-acak lebih parah lagi rambut pendek sahabatnya itu lalu berpaling dan pergi. Meninggalkan Reychu yang tengah merapikan rambutnya yang kusut parah serta Ryura yang tetap diam sambil menatap televisi.


Tidak sengaja, Reychu melihat itu dan bertanya. "Apa yang kau lihat?" ikut menonton kembali apa yang disiarkan di televisi.


Ternyata, beritanya masih sama.

__ADS_1


"Kau suka salah satu dari mereka? Coba beritahu aku yang mana. Nanti aku akan membantumu menculiknya untuk kau simpan sendiri. Kudengar pasangan yang akan mendampingi mereka mendapat julukan 'Three Noble Consorts'! Keren bukan?! Kita tak perlu bekerja lagi kalau sampai menjadi pasangan mereka. Setiap hari kita bisa mandi dengan uangnya sampai badan kita bau uang!" kata-katanya terdengar persis sama dengan yang Bai Gikwang katakan di episode sebelumnya. Hehe...


Jika orang normal yang diajak bicara, mereka pasti sudah lama kehilangan suara. Sebab, kemampuan bicara mereka tak semencengangkan saat Reychu bicara.


Susunan kalimatnya benar-benar lain dari yang lain.


Ryura hanya melirik sekilas wajah sahabatnya yang tersenyum aneh sebelum berbalik dan lanjut ke dapur. Melihat itu, Reychu tak ambil pusing selain mengangkat bahunya tak peduli lalu kembali duduk setelah merapikan bantal yang berserakan dan lanjut menonton televisi.


Ketiganya tidak merasakan apapun saat melihat tiga pria itu. Mungkin. Bagaimanapun ini adalah saat sebelum mereka melintasi ruang dan waktu terjadi.


Mereka masih menjadi orang asing satu sama lain.



Pada pukul 7 malam, 3Ry sudah meluncur ke mall. Menurut kabar yang Reychu dengar, ada banyak diskon disana lantaran beberapa hari lagi mall tersebut akan merayakan hari ulang tahunnya. Jadi, bentuk perayaan tersebut salah satunya sudah pasti adalah diskon besar-besaran.


Ketiganya tak akan ketinggalan sekalipun sebenarnya mereka tidak miskin uang.


Saat ini mereka asik berkeliling mall guna mencari barang diskonan. Reychu dan Rayan lebih terlihat normal untuk ukuran gadis-gadis yang suka belanja, tapi Ryura justru lebih terlihat seperti pengawal perempuan yang membawa belanjaan tuannya.


Begitulah pemandangan sekarang. Ryura hanya mengekori dua sahabatnya belanja, meskipun begitu ada satu-dua barang yang dibelinya juga. Tapi, masih tidak sebanyak Reychu dan Rayan.


2 jam penuh ketiganya berbelanja hingga rasa lapar menyerang. Alhasil, mereka memilih memasuki salah satu rumah makan junk food guna memesan pizza, burger, dan minuman soda. Bagaimanapun ini sudah lewat jam makan malam.


Saat ini Reychu menggerutu sambil mengunyah potongan pizza ditangannya, karena matanya tak lepas dari layar ponsel pintar ditangannya yang lain.


"Si*l! Masih hidup saja dia! Kapan aku dapat kesempatan untuk membunuhnya! Aku benar-benar tidak sabar! Baj*ngan ini tak bisa dibiarkan hidup lebih lama!" ternyata dia tengah memata-matai akun media sosial milik Martin Gong. Menggulir foto demi foto yang di-posting oleh pria itu.


Sebagian besar postingan itu menunjukkan betapa bahagianya hidup pria di foto tersebut. Reychu benci melihatnya.


Sruuut...


Rayan menyedot soda dari sedotannya, baru menimpali. "Bersabarlah. Nanti akan ada kesempatan untuk mu melakukannya. Mengingat perilaku buruk pria itu, aku yakin tidak akan lama lagi dia pasti kena batunya."


"Hm.. kuharap begitu. Sulit sekali menjadi warga negara yang baik."


Rayan menoleh kearah Ryura yang bangkit dari duduknya hingga kursi yang diduduki berderit saat di geser.


"Mau kemana?" tanyanya biasa.


"Toilet." Rayan mengangguk dan Ryura berlalu begitu saja.


Kini tinggal Reychu dan Rayan yang ada disana.


Tiba-tiba, Reychu menunjukkan sebuah foto dari ponselnya untuk dilihat oleh Rayan sambil berkata.


"Bukankah dia tampan?"


Rayan pun melihatnya. "Ya, sangat tampan." lalu matanya menyipit sebelum melirik Reychu dan berkata. "Bukankah ini pria yang paling banyak diidolakan itu? Siapa namanya? Kalau tidak salah dia dari keluarga Shin?" Rayan memejamkan matanya berpikir, bersamaan dengan Reychu menarik kembali ponselnya dan membiarkan Rayan dengan pikirannya.


"Aha... Aku ingat. Shin Da Ming, namanya!" cetus Rayan dengan pipi bersemu merah.


"Apa dia termasuk pria tampan yang kau suka?" tanya Reychu yang sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi.


"Tentu, karena dia tampan sudah pasti." jawaban dari pengagum pria tampan.


"Tidak berniat untuk menyimpannya sendiri?" Rayan linglung sejenak mendengar pertanyaan ambigu Reychu, sebelum sesaat kemudian wajah berseri-serinya hilang seketika kala tahu maksud dari ucapan Reychu.


"Kau semakin gila! Harus berapa kali aku bilang. Aku suka pria tampan tapi bukan berarti aku akan menculik mereka dan menyimpannya. Kau pikir aku dirimu yang gila ini? Si*l! Aku selalu kehilangan kendali kalau berhadapan denganmu. Tunggu saja. Akan aku racuni kau!" kesal Rayan yang langsung ditertawakan oleh Reychu yang senang dengan respon sahabatnya.


"Seolah-olah kau sanggup meracuniku." sindir Reychu yang membuat Rayan panas dingin karena kesal.


Berbeda dengan dua gadis itu, Ryura justru dihadapkan pada situasi yang mengganggunya.


Dimana dia baru saja akan menuju ke toilet saat di lorong tersebut malah mendapati dua orang berlawanan jenis sedang bersitegang.


Satu pria tampan dengan rambut putihnya yang panjang dan seorang gadis berpakaian seksi yang bila dilihat tampak seusia Ryura.

__ADS_1


Dua orang itu benar-benar menghalangi jalannya.


"Bisa kalian menyingkir dari jalan umum?" tanya Ryura datar tanpa peduli kalau dua orang itu tengah adu mulut. Lagipula, itu bukan urusannya.


Kecuali, tatapan pria berambut putih yang begitu dia menoleh setelah di instruksikan oleh suaranya menjadi aneh. Ada rasa rindu didalamnya. Tapi, Ryura tak mempedulikannya. Apa yang dilihatnya, dipantulkan kembali.


Menoleh kembali kearah gadis seksi didepannya yang benar-benar merusak pemandangan itu, pria tersebut segera mengusirnya. "Kau dengar. Enyahlah!"


Tak tahu apakah ini perasaannya saja atau bukan, tapi Ryura merasakan nada patuh dalam kata-kata pria berambut putih nan panjang itu.


Tapi, lagi-lagi bukan urusannya hingga Ryura langsung menerobos ditengah-tengah kedua orang itu yang sukses memancing amarah gadis dewasa disana.


"Hei, kau. Apa kau tidak lihat aku sedang melakukan apa? Beraninya kau mengganggu!" nadanya sungguh tak mengenakkan. Bahkan pria didepannya mengernyit tak suka.


Ryura berhenti ketika mendengar itu dan menoleh tanpa berbalik. "Berkacalah lain kali." Ryura melempar kembali kata-katanya, lalu melanjutkan langkahnya ke toilet.


Tapi, tampaknya gadis asing itu sudah tersinggung duluan.


"Kau... Berani kau bersikap angkuh padaku! Apa kau tak tahu siapa aku?! Ye Huan... Kau harus membantuku. Beri dia pelajaran!"


Ryura menghentikan langkahnya saat gadis itu berniat tak melepaskan masalah sepele ini. Sedang pria yang tak lain adalah Ye Zi Xian dalam tubuh Ye Huan menunjukkan wajah dinginnya segera setelah mendengar gadis menjijikkan didepannya ini berani menyuruhnya untuk membalas istrinya.


Ya, itu Ryura istrinya. Tapi, bila dilihat dari gelagat Ryura yang asing. Sepertinya, Ryura tak ingat dia adalah istrinya. Itu pemikiran awalnya. Jujur, dia sedih memikirkan kemungkinan itu.


Meski begitu, tak akan pernah terlintas dalam benaknya untuk menyakiti istrinya sekalipun sang istri tidak mengingatnya.


Ye Zi Xian tak tahu kalau sebenarnya, bukan Ryura yang tak ingat dia. Tapi, permainan waktu yang belum menyatukan keduanya kembali.


"Itu bukan urusan ku. Aku juga sudah menyuruh mu enyah dari hadapan ku berulang kali. Memang pada dasarnya kau yang tak punya malu. Masih punya muka untuk muncul dihadapan ku!" kata-kata sarkasnya Ye Zi Xian membuat wajah gadis itu memerah malu karena dipermalukan didepan Ryura yang dianggapnya mengganggu waktu berdua dirinya dengan Ye Huan.


"Ye Huan... Kau tak bisa memperlakukan aku seperti itu." Beralih kembali kearah Ryura yang masih membelakangi dua lainnya. "Ini semua salah mu. Kau mengganggu aktivitas kami. Aku tak akan biarkan kau lepas begitu saja!" amuknya.


"Berani kau menyentuhnya, kau akan..." belum selesai Ye Zi Xian membentak, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Bruk!


Ukh!


"Nona... Jangan menguji kesabaran ku. Perempuan manja seperti mu bukan lawan yang sepadan untuk ku." kata Ryura dengan nada rendah dan datarnya tanpa ekspresi apapun diwajahnya. Ryura pun hanya menekan lengannya pada leher gadis tak dikenal itu saking mengganggunya dia menurut Ryura.


Alhasil, gadis itu tercekik dan sempat kesulitan bernapas. Dia bisa saja mati bila Ryura tidak melepaskannya.


Tanpa memandang dua kali, Ryura berlalu memasuki toilet sebagaimana tujuan awalnya. Ye Zi Xian yang melihatnya tak bisa menahan senyum bahagia bisa melihat langsung istrinya walau dalam situasi yang tidak mengenakkan.


Senyum pria itu segera surut saat kembali harus berhadapan dengan perempuan tak tahu malu yang tengah menstabilkan nafasnya itu.


"Ini terakhir kalinya aku mengingatkan mu. Jangan muncul dan jangan menggangguku lagi mulai sekarang dan selamanya atau jangan salahkan aku bila seluruh keluarga mu terkena imbasnya atas perbuatan bodoh mu yang ingin menggodaku. Ku ingatkan sekali lagi, disini..." menunjuk area dadanya. "Hanya ada satu nama yang seorang pun tak akan bisa menggantikannya!"


Usai mengatakan itu, Ye Zi Xian pun berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan gadis itu yang marah dan cemburu pada gadis yang dimaksud oleh pria yang disukainya itu. Bersamaan dengan itu, Ryura keluar dari toilet. Sepertinya dia sudah selesai melakukan kegiatannya.


Mata keduanya saling bertubrukan. Melihat sepasang mata kosong tak terbaca itu, gadis asing tersebut tak bisa menahan menggigil dan hanya bisa mendengus sebelum berbalik pergi.


Sedang Ryura tak merespon sedikitpun seperti semua itu tak ada hubungannya dengan dia dan langsung kembali ke mejanya.


Begitulah pertemuan tak sengaja diantara keduanya...


Sederhana...



😘😘😘




(by pinterest)

__ADS_1


__ADS_2