3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
LEMBAH BERDARAH 5


__ADS_3

Tang!


Pedang pendek Reychu yang tersisa beradu dengan pedang milik kakak tertua Meng saat pria itu gelap mata menyerangnya dan ingin segera membunuh dia dan dua sahabatnya. Adik dan ayahnya mati karena mereka -3Ry-, bagaimana dia bisa diam saja.


"MATI KAU!" katanya dengan amarah yang meluap-luap.


Tring!


Reychu kembali berhasil menahan serangan lawannya dan membalas. "Kau saja yang mati!" kalimat yang dilempar balik itu bernada santai. Sama sekali tidak ada takutnya.


Tidak berbeda jauh dengan Rayan, dia juga sedang melawan yang lain.


Tidak hanya serangan fisik semata, tapi juga serangan menggunakan energi spiritual pun dikerahkan.


Hal itu berhasil membuat cemas Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan. Mereka sangat ingin membantu, tapi tidak bisa. Ini mengesalkan.


Rayan didorong mundur dengan kuat oleh lawannya hingga ia terpaksa harus melakukan salto kebelakang guna menghindari bahaya yang datang. Kala orang-orang berpikir dia hampir berhasil dikalahkan, ternyata disela gerakan saltonya Rayan sempat melemparkan sebuah pil yang langsung pecah menjadi serbuk begitu terkena objek keras dan saat ini objek tersebut adalah tubuh lawannya.


Cha...!


Seketika itu juga reaksinya terlihat. Pil itu ibarat bentuk lain dari air keras. Maka, dapat dibayangkan seperti apa akibat yang akan ditimbulkan darinya.


"AARRGHH...!" sang lawan lantas berteriak dengan kerasnya sembari meronta kesakitan tak karuan bersamaan dengan tubuhnya yang mulai melepuh dan meleleh. Bajunya bahkan ikut terkena imbasnya.


Melihat itu Rayan malah dengan anggun membuka kipas tangannya dan dibawanya menutup sebagian wajahnya seperti pemalu sambil menarik sudut bibirnya manis, lalu berkata. "Aku masih punya banyak. Ada yang mau?"


Semua orang yang menyaksikan kengerian itu sampai menatap Rayan dengan tidak percaya. Sama sekali tak menduga kalau gadis berparas cantik, imut nan menggemaskan itu bisa memiliki sisi ganasnya juga.


Dan melihat dari apa yang dilakukan Rayan, orang-orang sudah bisa menebak bahwa Rayan berkemungkinan adalah seorang ahli alkimia yang sama seperti Tuan Muda Shin. Bila demikian, bukankah itu mengerikan sekaligus mengejutkan?


Pasalnya, pil yang Rayan keluarkan tidak ada yang mengetahui pil apakah itu. Begitulah cara mereka menebak identitas Rayan.


Rayan, si alkimia imut yang mematikan.


Reychu, si petarung gila.


Ryura, si pembasmi kejam.


Kombinasi ini membuat semua orang yang hadir disana mulai mengatur pengaturan baru di benak mereka guna agar tidak sampai menjadi salah satu yang bernasib sama yaitu, mati ditangan mereka bertiga.


Jika yang lain merespon dengan ketakutan, maka lain dengan Shin Mo Lan. Pria itu malah menarik sudut bibirnya untuk tersenyum kagum dan bangga kearah Rayan yang semakin memperkuat keinginannya untuk segera memiliki gadisnya itu. Terlebih, saat Rayan sempat-sempatnya melirik kearahnya lalu mengerlingkan sebelah matanya kepada Shin Mo Lan.


Tak bisa dipungkiri, bunga-bunga langsung bermekaran di dalam hatinya. Hanya Rayan yang paling bisa membuatnya berenang di kolam cinta.


Srak!


Suara pedang yang dicabut dari tempatnya menancap terdengar bagi segelintir orang yang jaraknya terbilang dekat dan itu sukses memberikan rasa ngilu bagi mereka yang melihatnya.


Sebab, cara Reychu menariknya terlalu kasar.

__ADS_1


Ya, mereka melihat Reychu mencabut sisa pedang pendek lainnya yang sedari tadi masih bersemayam di dada ayah Meng dengan begitu santainya seperti mencabut rumput dari tanah setelah dia membawa dirinya mendekati mayat pria paruh baya itu. Ditambah dengan dia yang tersenyum senang seraya memandangi pedang kesayangannya yang berlumuran darah hingga sesekali menetes.


Sejujurnya, bila Reychu tidak ingat dimana dia berada saat ini. Sudah dipastikan kalau dia akan menjilati permukaan mata pedang pendeknya yang terlihat sangat lezat dengan darah yang sudah seperti selai baginya.


"Sial! Lain kali aku harus merasakannya!" batinnya agak kesal.


Karena tak bisa menikmatinya, Reychu memilih mengibaskan pedangnya guna menyingkirkan darah segar yang masih ada. Kalau tidak dia akan semakin tergoda untuk menjilatinya. Setelahnya, di pandangi lawannya yang sudah terengah-engah akibat beberapa luka sayatan yang Reychu berikan. Sementara, Reychu sendiri hanya memiliki debu dan beberapa sobekan kecil di pakaiannya tanpa luka.


"Itu pasti sakit..." kata Reychu dengan nada prihatin yang dibuat-buat, tapi dimatanya jelas memiliki kilatan senang melihat hasil karyanya.


"Iblis!" alis Reychu terangkat sebelah begitu mendengar umpatan lawannya yang tak lain adalah kakak tertua Meng, kemudian tertawa renyah.


"Tidakkah kau berpikir itu terlalu kejam?" Reychu bertanya dengan nada menyebalkan tanpa mau ambil pusing bila kalimat itu tidak cocok diucapkan olehnya yang jelas kejamnya.


Dan itu cukup untuk kembali membangkitkan amarah kakak tertua Meng.


Mereka kembali bertarung, tapi tidak hanya satu lawan satu. Total ada 8 orang dari pihak keluarga Meng dengan dua diantaranya telah mati lebih dulu yaitu, Ayah Meng dan orang kepercayaannya. Tersisa 6 lagi yang saat ini sedang berusaha untuk mengenyahkan 3Ry.


Reychu melawan 3 sekaligus, kakak tertua Meng, sepupu laki-lakinya, dan orang kepercayaannya atau kerap kali disebut pengawal atau bisa juga disebut pelayan pribadi. Begitupun dengan Rayan. Ada paman, bibi, dan orang kepercayaannya.


Sedang Ryura, masih berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya yang tengah bertarung.


Bukan tak ingin membantu, tapi belum saatnya.


Ditempat para keluarga kerajaan berada, mereka masih dibuat tercengang oleh fakta bahwa 3Ry ternyata cukup ganas dan kejam dalam bertarung. Mereka bisa melihat sendiri kalau Rayan dan Reychu bahkan tidak terlihat mendapatkan luka selama pertarungan.


Alhasil, beberapa hal sudah mulai menjadi bahan pemikiran mereka.


"Apa kau berbicara tentang gadis bernama Ahn Reychu itu?" tanya Wen Shiming memastikan.


"Hm... Kalau bukan dia, siapa lagi?" jawabnya sambil melirik sang istri sesaat.


"Apa menurutmu mereka akan berhasil?" sang istri balik bertanya mengenai hubungan antara Kaisar Agung Bai dan Reychu. Dia agak ragu sebenarnya.


Sambil tersenyum, Bai Min Wang menjawab. "Kakak Kaisar bukanlah laki-laki pada umumnya. Jadi, berhasil tidaknya. Kakak Kaisar akan tetap membuatnya berhasil. Karena dari yang ku lihat dan ku amati... Nona Ahn adalah satu-satunya perempuan yang masuk ke mata dan hatinya kakak Kaisar ku. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan kakak Kaisar akan memperjuangkan posisi berharga itu untuk Nona Ahn. Karena, dia hanya ingin Nona Ahn." Pangeran ketiga itu sangat yakin dengan pernyataannya, apalagi ketika membicarakan tentang posisi berharga sang kakak Kaisar yang dimaksudnya, yang tak lain adalah berarti pendamping hidup.


Sang istri yang mendengar itu hanya bisa melirik sang suami tanpa bisa berkata-kata lagi. Akan tetapi, tanpa keduanya ketahui di belakang mereka seseorang sedang mengepalkan kedua tangannya kuat usai mendengar pernyataan Bai Min Wang.


"Hanya ingin Nona Ahn?!" batinnya tak senang dan meremehkan.


Beberapa waktu kemudian, kala pertarungan mulai terasa membosankan dan buang-buang waktu, barulah Ryura bergerak.


"Menyingkirlah!" katanya kepada kedua sahabatnya.


Reychu yang mendengar itu dibuat mengeluh tak terima sebab merasa belum puas. Tapi, tak bisa berbuat apa-apa. Sedang Rayan, justru sebaliknya. Dia dengan senang hati akan menyerahkan sisanya kepada Ryura sebab Rayan sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang kotor. Dia ingin lekas mandi.


"CK! Padahal aku belum puas!" gerutu Reychu bersamaan dengan saat tangannya ditarik paksa oleh Rayan yang mau membawanya menepi.


"Banyak mulut mu, ya?!" timpal Rayan malas.

__ADS_1


Kini hanya tersisa 4 orang lagi dengan satu diantaranya sudah diambang kematian. Tanpa membuang waktu lagi, Ryura segera berlari cepat kearah lawannya dengan pedang pusaka putih ditangan kirinya.


Dan kemudian, tanpa lawan sempat menghindar...


Srak!


Srek!


Shak!


Sruk!


Hening.


Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi dalam kurun waktu kurang dari 1 menit. Keempat lawan yang tersisa tak ada yang lolos dari serangan cepat nan ganas Ryura hingga berakhir mati tanpa perlawanan.


Tak ada yang tidak membelalakkan matanya, bahkan dari pihak petinggi sekalipun. Sosok Ryura yang aura kehidupannya tidak bisa di deteksi membuat mereka mau tak mau harus percaya kalau dia sungguh mampu dan kini sosoknya sedang berdiri ditengah-tengah tumpukan mayat yang berserakan dengan cukup mengenaskan bersama tampilannya yang penuh cipratan darah.


Saat khalayak ramai berpikir kalau kekacauan sudah berakhir, mereka malah melihat Ryura yang melangkahkan kakinya mendekati A-Shi yang wajahnya sudah tak bisa lagi dijelaskan betapa pias, pucat, syok, dan lain sebagainya. Kemudian, berdiri tepat dihadapannya.


Tak banyak kata yang diucapkan oleh Ryura selain. "Hidup atau mati?" tanyanya memberikan A-Shi sebuah pilihan untuk keberlangsungan hidupnya.


Pertanyaan itu sukses membuat semua orang menahan nafas.


A-Shi yang mendapat pertanyaan itu, apakah masih perlu memilih? Pikirnya.


Pengabdian dirinya kepada mendiang ibu kandung Meng Pei Yun tidak bisa dibandingkan dengan nyawanya sendiri. Maka kini, ia pikir tugasnya telah selesai walaupun akhir yang dipilih bukanlah akhir yang diinginkan. Tapi, dia sudah bisa menganggap telah menjalankan tugasnya.


Maka, dengan senyum tipis yang menunjukkan kelapangan hatinya A-Shi mendongak guna menatap wajah manis yang tak berekspresi itu. Ketika dia melihatnya, A-Shi pikir dia mulai mengerti akan sosok Ryura seperti apa. Menurutnya, Ryura adalah sosok yang tidak akan memberikan orang lain kematian bila orang lain itu tidak memintanya.


Seperti situasinya saat ini. Caranya memberikan kesempatan hidup mungkin terdengar arogan, tapi bagi mereka yang merasakannya langsung -seperti dia- tidak akan berpikir begitu.


Dia juga mulai memahami satu hal lagi, bahwa sosok Ryura bukan juga sosok yang suka berbasa-basi. Itulah mengapa caranya bersikap sulit untuk orang lain terima.


Jadi...


"Mati!" itulah jawaban yang A-Shi pilih.


Dan detik berikutnya...


Jleb!


Kelopak matanya sempat tersentak sesaat sebelum menutup perlahan bersamaan dengan rasa sakit di dadanya dan kesadaran yang mulai menghilang. Saat itu pula, air matanya menetes melalui sudut matanya. Tidak lupa dengan senyuman tipis yang terukir menjadi tanda perpisahan hidupnya untuk mati dalam kelegaan.


Banyak dari mereka yang menyaksikan itu menutup mulut mereka dengan tangan masing-masing yang tak mampu lagi untuk menafsirkan peristiwa macam apa ini.


Ryura -si pelaku- justru sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi maupun emosi. Matanya tetap kosong, wajahnya tetap datar. Bahkan Ryura masih bisa dengan mudahnya mencabut kembali tusukan pedangnya dari dada A-Shi tanpa berkedip.


Dan semua selesai disana...

__ADS_1



huuuuhhhh.... dh sejauh ini... gimana3... maaf kalo pendek. hehehe ๐Ÿ˜‹


__ADS_2