3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PRIORITAS


__ADS_3

Mata Reychu berkedip beberapa kali dengan polosnya. Ia sedikit terkagum-kagum atas kecepatan sebuah gosip di lingkungan istana tempat ia saat ini berada. Tak menyangka, padahal baru tadi ia berencana untuk melakukan sebuah pertunjukan dengan Rayan tapi sepertinya tidak akan lagi menyenangkan karena terlalu cepat menyebar. Malah ia jadi tak merasakan sensasinya.


Beberapa saat lalu, saat Rayan membisikkan sesuatu padanya. "Ideku ini adalah... Buat orang-orang berpikir kalau aku ini ada untuk dijadikan hadiah Kaisar. Setelah itu biar kita lihat, seberapa besar kecemburuan wanita-wanitanya Kaisar dari Harem." mendengar itu, sulit untuk Reychu menolak. Karena pada dasarnya, ia sangat tertarik untuk melakukannya. Tapi, siapa yang menduga kalau di tengah jalan menuju kediaman Kaisar, dia dan Rayan harus bertemu dengan Selir Agung Gong Dahye. Hal ini menyebabkan percepatan pada rencana bermain mereka berdua.


Sepertinya, saat percakapan itu terjadi beberapa pasang telinga yang tidak terduga telah mencuri dengar percakapan itu. Alhasil, kegagalan adalah yang diraih saat ini.


Hanya saja, tak pernah terpikirkan olehnya kalau akan benar-benar secepat ini. Apa yang membuat mulut mereka begitu besar? Sehingga dengan mudah melempar dari satu mulut ke mulut yang lain sampai seluruh istana mengetahuinya dalam waktu singkat! Cukup mengesankan, menurutnya.


"Apa... Yang harus aku jelaskan?!" tanya Reychu agak lesu ketika merasa permainannya menjadi tidak seru sama sekali. Kaisar bahkan sudah mengetahuinya lebih cepat dari dugaannya. Terlebih, dia belum sampai ke ruang kerja Kaisar. bukankah itu menyebalkan?!


Kesal rasanya kalau mengingat itu. Karena, seharusnya tidak seperti ini jalan rencananya...


"Ck! Apa ini?! Tidak menyenangkan sama sekali!" gerutunya dalam hati, tak jauh berbeda dengan Rayan.


"Untuk pertama kalinya, aku merasa sia-sia memberikan sebuah ide! Kasihan!" batin Rayan datar tanpa minat lagi.


"Tentang dia!" tunjuk Kaisar Li Hanzue kepada Rayan yang berdiri tepat di samping Reychu. Melihat kearah yang ditunjuk, secara otomatis Reychu pun menatap Rayan.


"Huh! Yang Mulia! Kau sudah salah sangka! Dia ini adalah tamu ku! Aku kesini hanya untuk memperkenalkan dia padamu sekaligus untuk meminta izinmu membiarkannya menginap di kediaman ku!" memutar bola matanya malas tanpa sadar. "Aku tidak sebod*h itu memberikanmu gadis cantik lagi setelah kau bahkan memiliki Selir-selir yang tak kalah cantik. Tak hanya cantik, mereka bahkan lebih mampu membuat suamiku mengabaikan ku dan mencampakkan ku. Kenapa aku harus memberikannya gadis lagi?! Apa aku sudah kehilangan kewarasan ku?!" Reychu menggelengkan kepalanya mengejek. Terlalu malas untuk mengungkit hal yang sama sekali tak penting untuknya. Tapi, tanpa sadar ia baru saja mengungkitnya.


Mendengar penjelasan permaisurinya yang sangat terbuka membuat Kaisar Li tersedak ludahnya sendiri. Dia juga merasa sesuatu menusuk hatinya dengan telak kala istrinya mengatakan kalimatnya. Sejenak, ia merasa seperti bumerang. Apa yang telah ia lakukan dulu seolah-olah kini berbalik padanya.


"Ehem! Baik! Kalau begitu! Lakukanlah apapun yang kau mau! Dia tamumu, Permaisuri..." dengan kikuk Kaisar Li berkata, menyerahkan segala yang diinginkan Ahn Reychu pada dirinya sendiri. Membiarkan istrinya itu melakukan apapun yang ia mau, semua itu ia lakukan sekaligus untuk menebus dosa yang telah ia lakukan pada istrinya yang kini ia cintai.


Walaupun cintainya pada Selir Agung Gong Dahye belum juga pudar.


"Baiklah. Karena, Yang Mulia sudah mengatakannya. Maka, kami akan mengundurkan diri sekarang. Permisi!" begitu Reychu selesai dengan kata-katanya dan melakukan penghormatan sebelum beranjak pergi. Pria yang berkuasa di negara api itu sudah lebih dulu menghentikannya.


"Permaisuri Ahn!" mata keduanya saling berpandangan. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." beralih ke Rayan yang masih berdiri di sebelah Reychu. "Kau sudah bisa meninggalkan kami berdua." katanya tegas.


Reychu menoleh kearah Rayan. "Tunggulah aku di depan atau kau bisa berjalan-jalan dulu. Aku yakin kau ingat jalan pulang, bukan?" ujar Reychu tanpa melupakan untuk meninggalkan jejak ledekannya yang sukses membuat Rayan berdecak jengkel.


"Baik, Yang Mulia!" hormat Rayan sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan ruang kerja sang Kaisar.



Ruang kerja Kaisar kini hanya di isi oleh Reychu dan Li Hanzue. Keduanya tampak diam seperti tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Hal ini membuat Reychu kesal, terlalu malas dan buang-buang waktu menurutnya kalau hanya untuk memandangi wajah tampan Kaisar Li Hanzue yang tak setitik pun mampu meluluhkan hatinya.


Sejenak ia membatin. "Heh. Apa yang dilihat Ahn Reychu dari pria ini. Tampan? Bolehlah. Tapi, kalau yang lainnya? Apa yang bisa di banggakan. Tak ada yang menarik sedikitpun." sambil mata mengamati Li Hanzue secara langsung.


Pria itu merasakannya dan itu membuat ia sedikit salah tingkah. Telinganya bahkan sampai memerah tanpa ada yang tahu. Bingung harus bersikap seperti apa. Takut-takut kalau ia salah bersikap permaisurinya akan benar-benar meninggalkannya.


"Ehem. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu!" kata Kaisar Li dengan nada tegas yang mana malah membuat Reychu memutar bola matanya jengah, tak lupa menghela nafas malas.


"Kau sudah memberitahu ku soal itu. Aku ingin langsung ke intinya. Kau membuat tamuku lama menunggu!" sembur Reychu santai, tanpa melihat perubahan raut wajah Kaisar yang mendadak jelek karena merasa tidak dianggap penting melebihi tamu istrinya sendiri.


Menarik nafas sabar dan mulai mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.


"Aku berencana untuk membuat makan malam bersama malam ini." tandas Kaisar Li.


Menaikkan sebelah alisnya. "Hanya itu?"

__ADS_1


"Tidak. Aku bermaksud untuk mengumumkan sesuatu pada yang lainnya. Tapi, aku berpikir akan memberitahu mu lebih dulu." Kaisar berkata demikian hanya agar bisa memberikan kesan baik pada permaisurinya. Kaisar ingin istrinya itu bisa melihat kalau ia di prioritaskan dari yang lainnya. Semua itu bertujuan untuk memulai kembali dari awal. Memperbaiki hubungan mereka yang sejak awal sudah merenggang. Setidaknya, ini bisa menjadi cara untuk menyatukan kembali dua hati yang sudah berjarak.


"Apa itu?" tanya Reychu acuh tak acuh, dia bahkan tak merasakan niat Kaisar yang bersikap demikian. Yang ada dipikirannya hanya, kapan ia bisa keluar dari ruangan ini.


"Makan malam, malam ini. Aku ingin mengajak semuanya untuk melakukan ritual doa di kuil kerajaan Huoli esok hari. Aku ingin mengajak semuanya meminta berkat dari Dewa agar memberikan kelancaran pada proses kelahiran penerus kerajaan ini sebulan lagi." jelasnya tanpa ragu namun sangat berhati-hati, takut kalau permaisurinya merasa sedih karena hal ini.


Tapi, sayangnya. Kaisar tak melihat jejak kesedihan itu diwajah istrinya. Melihat itu, hatinya yang malah menjadi sedih. Pikirannya kembali berkelana ke masa dimana dia tak memperhatikannya sedikitpun. Bahkan Kaisar Li sangat acuh tak acuh pada istrinya dulu.


Pria penguasa negara api itu hanya bisa menghela nafas berat, karena tiba-tiba merasa sesuatu menyesakkan dadanya.


"Oh. Itu terserah padamu. Kau tak perlu memberitahu ku apa yang ingin kau lakukan pada siapapun itu." santainya. "Kuharap kau tak lupa soal apa yang pernah ku katakan dulu. Mengenai aku yang takkan lagi berurusan dengan segala hal tentang mu ataupun yang berkaitan dengan mu." jelasnya tak peduli kalau wajah Kaisar sudah menjadi suram karena mendengar kalimat yang ia ucapkan.


"Kau juga jangan lupa. Aku tak berniat menduduki posisi permaisuri lebih lama lagi. Jadi, cepat atau lambat. Kau harus siap untuk mengeluarkan dekrit perceraian kita." lugasnya, Kaisar menggelap seketika.


"Kau pikir aku akan mengabulkannya?! Itu tak akan terjadi!" tajamnya karena marah. Kaisar Li tak terima mendengar itu.


Meski ia sudah sering mendengar permaisurinya mengajukan gugatan cerai. Tetap saja, itu selalu mampu memancing amarahnya. Ia terkadang tak tahu apa yang dipikirkan istrinya itu, sehingga sangat ingin berpisah dengannya. Walaupun ia paham akan rasa sakit yang pernah ia torehkan di hatinya.


"Jadi, berhentilah mengatakan itu setiap kali kita sedang berbicara!" tegasnya tak ingin di bantah. Sayangnya, yang di ajak bicara adalah Reychu Velicia bukan Ahn Reychu.


Mengangkat tangannya untuk bersedekap dada. "Aku tak akan berhenti. Aku akan terus mengingatkan mu kalau aku ingin kita sesegera mungkin berpisah. Kau tak bisa menganggap segalanya mudah. Hanya karena sekarang kau sudah mulai membuka hatimu untukku. Sebelumnya, kau kemana saja?" tampaknya perdebatan mulai kembali terjadi.


"Ahn Reychu! Kenapa sekarang kau jadi lebih sering membangkang!" marah Kaisar Li.


"Kau tak terima?! Lucu sekali! Haha... Bagaimana bisa kau bersikap angkuh didepan ku seperti ini?! Apa kau berpikir aku akan takut?! Dengar baik-baik! Permaisuri mu yang dulu telah tiada dan itu semua karena mu. Jadi, permaisuri yang sekarang ada dihadapan mu adalah seorang gadis yang sebentar lagi akan menyandang status mantan permaisuri mu! Aku ingin kau mengingat itu untuk selamanya! Apa kau mengerti?!" tekan Reychu pada setiap kata yang ia ucapkan. Tanpa membuat Kaisar Li curiga kalau Reychu sempat mengatakan fakta mengenai dirinya secara tidak langsung.


Kaisar membisu usai kalimat panjang istrinya lolos begitu saja dari mulutnya. Itu benar-benar menghujam telak tepat di jantungnya. Ia tahu kesalahannya di masa lalu, karena itu ia berniat untuk memperbaikinya. Tapi, sepertinya sang istri tak berniat memberikan ia kesempatan kedua.


Matanya menatap nanar dan sedih kearah Reychu yang acuh.


"Bisa saja! Asal pada saat waktunya tiba. Dekrit itu sudah harus kau serahkan padaku!" Kaisar tak punya kata-kata lagi untuk ia katakan. Ia merasa benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi. Padahal dialah Kaisar-nya, tapi mengapa ia justru tak berdaya.


"Akan aku pertimbangan!" tukasnya yang langsung disambar dengan penolakan Reychu.


"Tidak! Itu mutlak permintaanku! Jadi, kau mau tak mau harus menuruti keinginan ku! Kau pasti masih ingat bukan, kontribusi apa yang sudah aku lakukan untuk kerajaan mu dan kelapangan dadaku yang membiarkan kau menginjak-injak perasaan ku bersama Selir kesayangan mu itu! Ini permintaan pertama dan terakhir ku!" dengan dramatis Reychu mengungkapkannya. "Kau tidak mungkin mengabaikannya, kan?!" lanjutnya yang secara tidak langsung mampu menekan ketidakberdayaan Kaisar Li Hanzue yang semakin lesu saja di singgasananya.


Mata Kaisar Li terpejam seraya menghela nafas berat dan panjang. Ia sudah tak lagi bisa menolak.


"Untuk rencana yang kau maksudkan. Aku tidak punya pendapat apapun tentang itu. Itu semua terserah padamu. Aku hanya ingin bertanya... Apa masalah mengenai dua Selir mu yang tewas itu sudah selesai? Saran ku, jangan menambah masalah lagi. Keluarga mereka akan sangat tidak senang kalau kau mengadakan ritual doa untuk penerus kerajaan ini sementara keadaan masih berkabung. Meski mereka Selir, dukungan keluarga mereka masih kau perlukan sebagai pemimpin." terang Reychu mengutarakan yang seharusnya ia katakan. Meski sebenarnya ia tak benar-benar bermaksud mengatakannya layaknya orang bijak. Karena, itu bukan gayanya. Itu ia lakukan hanya ingin sedikit meniru gaya pemilik tubuh sebelumnya.


Kepala Kaisar mengangguk paham. "Aku sudah memikirkan itu!"


"Baguslah! Kalau begitu aku akan pergi sekarang! Berlama-lama bersamamu hanya akan membuatku malas!" ceplosnya tak peduli. Sedang Kaisar hanya bisa menghela nafas mendengarnya.


"Permisi!"


Usai mengucapkan itu, Reychu pun berbalik dan beranjak pergi tanpa menoleh lagi. Membiarkan Kaisar menatap dalam punggung istrinya yang kian menjauh dan kemudian menghilang bersamaan dengan pintu yang ditutup kembali.


Menunduk menatap meja kerjanya dan mendengus menertawakan dirinya sendiri.


"Bodoh!"

__ADS_1



Kedua telinga Rayan ditutup dengan kedua telapak tangannya. Memasang raut wajah datar dan malas. Berjalan beriringan tanpa mau mempedulikan sosok yang tengah tertawa lepas dengan tidak anggunnya di sampingnya. Meski tidak tahu apa yang terjadi, tapi Rayan bisa menebak kalau didalam ruang kerja Kaisar Li tadi telah terjadi sesuatu yang membuat sahabatnya kesulitan menghentikan tawanya. Ingin berkata bahwa ia malu berjalan disamping sahabatnya itu, karena selalu menjadi bahan cibiran para penghuni istana dari yang berkasta tinggi hingga rendah. Namun, tidak bisa. Setidaknya, ia bukan tergolong orang yang tidak setia kawan.


Lihatlah dari bagaimana Reychu masih tertawa yang entah menertawakan apa, hanya gadis itu yang tahu.


Dikarenakan tingkahnya itu, tak sedikit yang mengatainya gila dan mulai kehilangan kewarasannya. Akan tetapi, bukan Reychu namanya kalau ia mempedulikan hal sepele seperti itu. Untungnya, Rayan kenal betul orang seperti apa gadis disampingnya ini. Sehingga tak perlu diambil pusing. Tetapi, tetap saja. Tingkah Reychu tak pernah mendapatkan nilai bagus dimata Rayan, mengingat Rayan selalu mengutamakan penampilan baik dalam berpakaian maupun bersikap. Walaupun, tidak se-formal dan se-anggun para bangsawan bersikap.


"Berhentilah, Rey!" kesal Rayan akhirnya ia angkat suara dengan sedikit menggeram. Tangannya belum ia turunkan karena Reychu belum menampakkan tanda-tanda akan tenang.


"Hahaha... Sulit... Hahaha... Astaga... Hahaha..." mengusap air mata yang sempat keluar dari sudut matanya. Reychu kelihatan bahagia sekali.


"Huh! Rey, wibawa mu. Jangan lupa kau masih di kerajaan Huoli. Kita belum pergi dari sini. Yang berarti kau belum bisa bersikap asal-asalan begitu." tegur Rayan mengingatkan Reychu akan perannya di istana ini.


"Uhuk... Ehem... Kau benar. Aku masihlah seorang Permaisuri." Reychu membenarkan perkataan Rayan sekaligus membenarkan sikapnya. "Ray, kau mau tahu apa yang terjadi didalam?" tawarnya tanpa diminta.


Melirik sekilas sebelum akhirnya menggeleng tanda menolak. "Tidak, terima kasih!"


Namun sepertinya, penolakan itu tak berarti apa-apa bagi Reychu. Faktanya, gadis itu tetap mengatakan apa yang ingin ia katakan.


"Baik. Aku beritahukan padamu. Tadi, didalam aku kembali berdebat dengannya. Dia berbicara denganku mengenai ritual doa untuk kelancaran proses kelahiran penerus kerajaan ini. Heran... Apa yang dia pikirkan sampai berinisiatif mengatakannya padaku. Sungguh tidak seperti dirinya saja." Rayan memutar bola matanya mendengar penuturan Reychu yang terkesan seolah dia adalah gadis polos yang tak memahami apapun.


Rayan yang mendengarnya saja sudah bisa menarik garis besar pada maksud Kaisar Li atas sikapnya pada Reychu.


"Hah. Kau ini bod*oh atau polos, heh?!" dengan malas Rayan menjelaskan. "Kalau Kaisar bertindak begitu, artinya kau mulai menjadi prioritasnya. Secara, dia tidak ingin kau menjadi salah paham. Bila, diberitahukan di waktu yang sama seperti yang lainnya. Jadi, Kaisar mengambil langkah untuk memberitahukan kepada mu lebih dulu. Selain karena kau adalah Permaisuri di kerajaan ini, itu juga karena kau adalah perempuan yang saat ini menjadi dambaan Kaisar Li. Dengan begini dia berpikir kalau dia akan mendapatkan kesempatan untuk kembali mengulang hubungan kalian menjadi lebih baik." terang Rayan.


"Begitu 'kah?" dia terkekeh lucu. "Sayang sekali... Aku bukan Ahn Reychu yang sesungguhnya. Jadi, seberapa keras ia mencoba tampil baik dihadapan ku. Itu tak akan mengubah apapun. Hehehe..." tandasnya tanpa ragu. Ia meyakininya tanpa koreksi, seolah-olah ia seperti bisa melihat kalau takdirnya bukan di negara api ini.


Rayan tak lagi berkata apapun dan hanya berjalan beriringan dengan para pelayan yang masih mengekor di belakang mereka.


Seperti yang sudah dikatakan oleh Reychu. Gadis itu berniat mengajak Rayan berkeliling istana dengan berjalan santai, sekaligus kembali kekediaman usai berkeliling.


Sepanjang jalan, Reychu memperkenalkan apa yang sudah ia ketahui di istana ini. Tak ingin membuang kesempatan untuk berperan sebagai tour guide.


Saat sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan indah di lingkungan istana. Tiba-tiba sekitar 3 orang yang berjalan dari arah berlawanan berhenti sejenak untuk memberi hormat kepada Sang Permaisuri Ahn Reychu dan dibalas sekilas oleh Reychu. Kemudian, mereka pun kembali melanjutkan langkahnya sama seperti Reychu dan rombongan.


Sejenak Rayan berhenti untuk menoleh menatap ke arah tiga orang yang tampak berpakaian putih-putih itu pergi.


"Rayan. Ayo!" panggil Reychu saat tahu sahabatnya tidak mengikutinya.


"Oh... Ya!" sambil melihat sekilas untuk terakhir kalinya, barulah ia melanjutkan langkahnya untuk kembali mengikuti Reychu.



selamat membaca gaess...


mohon dukungannya yaaa


kalian bisa mengatakan apapun yang mau kalian katakan. author membuka ruang komentar dengan bebas.


negatif, positif. Thor terima semuanya.

__ADS_1


tapi tetap jangan lupa vote, like, dan tips nya yaaa...


see you๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


__ADS_2